Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 November 2012

Marlin Konyol


Hari ini untuk pertama kalinya Marlin datang ke sekolah dengan seragam barunya. Seragam lama yang sudah tiga tahun tidak pernah di ganti, sekarang sudah resmi menjadi penghuni tetap lemari bajunya yang sudah tua itu, menunggu kesempatan untuk bisa dilihkan hak kepemilikannya kepada yang lebih membutuhkan. Yah, karena begitulah, Marlin adalah anak yang memang rajin, suka menabung, suka berbagi dan tidak sombong (kalau yang ini sih, versi Marlin sendiri tentang dirinya sendiri, entah bagaimana versi mak terhadap anaknya yang satu ini).

Marlin sekarang bukan anak sekolah berseragam putih-biru lagi. Hari ini seragam sekolahnya sudah berganti dengan seragam putih-abu-abu. Sekolahnya juga sudah ganti, bukan lagi dijalan dekat balai RW itu, tapi sekarang sekolahnya jauh di pusat kota sana. Wah, gaya ya si Marlin sekarang. Tiap hari dia harus naik bus ke sekolahnya. Pak Ajang sopir becak langganannya kemarin sudah di-PHK dengan cara seksama yang mengharu biru, berlinang air mata dan kata-kata perpisahan yang pahit #lebay.

Bus yang ditumpangi Marlin berhenti tepat di halte depan sekolahnya yang baru. Dada Marlin berdebar-debar. Sejauh mata memandang, tidak ada satupun siswa yang dia kenal di sekolah ini. Setidaknya, masih belum ada. Marlin berjalan mengendap-endap sambil tolah toleh ke kanan dan kekiri masuk ke dalam sekolah. Mengamati hampir setiap wajah yang dia temui pagi itu. Kabarnya, sekolah ini adalah sekolah favorit yang isinya anak anak orang kaya semua. Kabarnya juga, cowok-cowok di sekolah ini ganteng-ganteng. Tapi kok, Marlin dari tadi tidak melihat seorang cowokpun melintas di depannya ya? Marlin mulai bingung dan ragu-ragu. Ini yang salah memang keadaan di depannya atau…. Marlin sejenak menghentikan langkahnya, membuka kaca mata minusnya, lalu mengucek-ngucek matanya. Ketika matanya perlahan lahan di buka, Marlin hampir pinsan rasanya. Jantungnya seakan berhenti berdegup.

“Selamat pagi ….” Sapaan itu tepat terlontar di depan hidungnya. Marlin hanya bisa menganngguk kaku, dengan mata yang membengkak dan mulut yang berbetuk huruf ‘O’ sempurna. Dalam keremangan mata minusnya, mata Marlin menangkap seraut wajah yang nonjok di hatinya. Cowok di depannya itu, yang baru saja menyapanya dengan lembut, aduhai, ganteng banget sepertinya. Perlahan lahan Marlin memasang kaca matanya lagi. Lalu, setelah keremangan itu berakhir dan terbitlah kejelasan, mendadak Marlin merasa oleng, dunia berputar-putar, dan terakhir dia pingsan dengan suksesnya.

***

Marlin mengejap-gejapkan matanya. Cahaya putih dari lampu diatasnya membuat mata Marlin silau. Marlin berusaha bangkit dari tidurnya, mencari cari kaca matanya sambil mengamati keadaan sekelilingnya. Kalau menurut pengamatan Marlin. Ruang ini mungkin saja ruang UKS.

Seorang cowok datang menghampiri Marlin yang sedang duduk kebingungan di tepi ranjang. Cowok itu, bukankah itu cowok yang tadi menyapanya dengan suara lembut? Sekarang Marlin bisa memperhatikan sosoknya dengan lebih jelas. Cowok di depannya itu ganteng sekali. Wajahnya, kulitnya, oh, Marlin bergidik. Baru kali ini rasanya dia melihat cowok ganteng jelas di depan matanya. Biasanya dia hanya bisa melihat cowok ganteng dari siaran tv saja. Cowok cowok di kampungya mana ada yang seperti ini tampilanya?

“Sudah baikan?” tanyanya. Masih dengan suara surgawinya. Marlin hanya bisa memberikan anggukan kecil sebagai jawabannya.

“Tadi kenapa?” cowok itu bertanya lagi.

“Tadi aku pingsan ya?” tanya Marlin polos.

“Ya, tadi saya yang bawa kamu kesini.”

“Kamu?”

“Ya.”

“Pakai apa?”

“Aku gendong….”

Hah? Mendengar itu Marlin pingsan lagi. Oh tidak , tidak itu salah. Marlin tidak pingsan lagi, dia hanya merasakan jantungnya berdebar lebih kencang seperti genderang mau peran (itu lagu bukan?). Tadi dia di gendong cowok keren itu ke dalam UKS ini? Waduh, mengapa dia tidak menggendong dirinya saat sadar saja ya? Kenapa mesti saat pingsan? Marlin memukul mukul kepalanya. Sudahlah Marlin, itu impian yang terlalu untuk seorang Upik Abu.

“Ma, makasih ….” Akhirnya kata kta itu yang keluar dari mulut Marlin.

“Sama sama. Tadi kenapa bisa pingsan?”

Marlin ingin berkata kalau tadi dia pingsan gara gara tadi dia ketemu sama cowok itu pagi pagi. Marlin juga ingin bilang kalau cowok di depannya itu ganteng banget. Ah, pasti dia sudah tau kalau dirinya ganteng. Marlin ingin bilang kalau dia begitu terpesona padanya saat pandangan pertama. Hmmm, semua cewek normal juga sepertinya akan terpesona pada sosoknya. Marlin ingin bilang kalau suaranya itu seperti suara surgawi, berharap dia akan terkesan dan menyatakan cintanya pada Marlin saat itu juga. Marlin, pils deh ….

Marlin ingin mengatakan itu semua dan berharap ada keajaiban di pagi ini. Tapi jangankan deretan kata panjang yang sudah di persiapkannya itu yang keluar dari mulutnya, yang terjadi kemudian adalah perutnya yang mulai bernyanyi lagi.

“Aku, aku lapar….” Desisnya kemudian.

“Tadi belum sarapan?”

“Gak sempat sarapan, tadi aku bangun kesiangan lagi.”

“Kalua begitu, saya ambilkan makanan dulu di kantin ya.”

“Apa tidak merepotkan?”

“Gak kok. Kamu tunggu di sini dulu ya.”

Marlin mengangguk senang. Cowok itu kemudian berlalu kearah pintu UKS, hendak keluar. Tapi sebelum benar benar keluar, Marlin memanggilnya.

“Hai, bisa aku pesan sesuatu?”

“Ya?” cowok itu berpaling kearah Malin.

“Kalau tidak merepotkan dan ada uang, bisakah aku pagi ini makan dengan lauk rendang dan ayam goreng? Sambelnya jangan terllau pedes ya, aku suka gak tahan pedes, jangan lupa jus jeruknya yang dingin juga.”

Cowok itu diam sejenak, berfikir, lalu tersenyum kecut. Wajah Malin jadi pias. Apa apaan ini? Marlin, sudahlah. Sadarlah.

“Gak jadi ….” Ralat marlin kemudian.

***

Tidak lama kemudian, cowok itu datang lagi ke dalam UKS dengan sepiring nasi di tangannya dan jeruk hangat di tangan yang lain. “Maaf menunggu lama.” Katanya, seraya meletakkan jeruk hangat di meja dan menyerahkan nasinya kepada Marlin.

Marlin lagi lagi membalasnya dengan senyuman. “eh, maaf, ada kotoran di dekat bibir kamu.” Kata Marlin seraya menyapu kotoran yang menempel di sebelah kiri bibir cowok itu. Dengan refleks yang baik, cowok itu juga mengarahkan tangannya kearah bibirnya. Bukan kotoran kemudian yang di tangkap oleh tangan cowok itu. Tapi tangan Malin!

Marlin ingin pingsan lagi untuk kedua kalinya pagi ini. Cowok ganteng itu menggenggam tangannya! Tapi Marlin tidak benar-benar ingin pinsan. Dia ingin bertahan walau sekarang badannya langsung lemas dan jantungnya berdebar lebih kencang lagi.


“Kamu kenapa?” tanya cowok itu penuh kekhawatiran melihat kondisi Marlin yang langsung lemas tanpa aba-aba. Marlin hanya bisa menjawab dengan menggelengkan kepalanya. “Kamu lemes banget, ayo ini di makan dulu nasinya.” Marlin lagi-lagi menggeleng.

“Aku suapin ya.” Kali ini Marlin mengangguk, hatinya girang bukan main. Mimpi apa dia semalam sampai-sampai pagi-pagi begini dia bisa mendapatkan anugrah luar biasa ini?

Baru beberapa sendok nasi masuk kemulutnya, sebuah ketukan terdengar di pintu. Sesaat kemudian, seorang ibu-ibu masuk kedalam UKS. Marlin menduga, itu pasti salah satu guru di sekolah ini.

“Pak Mardian, sekarang jam bapak untuk memberikan materi bahasa Indonesia di kelas XII A. biar saya yang meggantikan bapak mengurusi anak ini.” Itulah kata-kata tanpa aba-aba yang keluar dari mulut yang bersangkutan.

Cowok itu di panggil bapak? Memberikan materi Bahasa Indonesia? Berarti dia guru? Sejenak kemudian Marlin memperhatikan cowok itu dari atas kebawah. Kali ini Marlin baru sadar kalau cowok itu memang menggunakan baju putih, tapi dengan celana hitam, bukan celana seragam abu-abu seperti yang seharusnya di pakai para siswa. Menghadapi kenyataan itu, Marlin pingsan dengan suksesnya untuk kedua kalinya pagi ini.


sumber gambar dari sini

READ MORE - Marlin Konyol

Rabu, 10 Oktober 2012

Salahkah Kalau Aku Juga Selingkuh





PING !! BB di dekatku bergetar, lampunya berkedip merah. Satu ping dari Hest.

Ya, Kubalas panggilannya.

Aku lagi kesel banget.  Balasnya.

Kenapa lagi? Tanyaku.

Siang ini aku mergokin adikku lagi selingkuh di YM!. Wew, ada masalah lagi kayaknya.

Adik yang mana?

Yang baru punya anak lagi.

Heri?

Ya, sapa lagi.

Hmmm….

Aku benci lelaki yang sukanya selingkuh! Kenapa sekarang adikku yang selingkuh. Aku maki-maki dia tadi.

Sabar….

Gak ada kata sabar buat cowok yang doyang selingkuh.!! Gak ada!!

Nah sekarang gimana? Heri adikmu, bukan?

Ya itu, aku lebih sakit lagi karena yang selingkuh adikku. Istrinya sampe nangis-nangis tadi. Dasar lelaki!!!

Jangan samakan setiap lelaki.

Bah!! Sama semua!!

Lagian apa bukti dia selingkuh? Mungkin saja itu hanya teman chatting di YM!-nya

Tadi dia chating lewat YM! Di komputer, tapi lupa sign out waktu di panggil bapak. Istrinya yang gantiin chating bareng aku. Gak taunya, ya Tuhan… mereka janjian ketemu malam ini. Katanya di tempat biasa.

Hmmm, lelaki…

Kalau dia sebut tempat biasa, berarti mereka sudah sering ketemu bukan?

Bisa aja itu teman kantor, ketemu di kantor.

Bah!! Adikku tadi  sudah ngaku kalau mereka sering ketemuan di penginapan.

Hmmm,

Aku ingin bunuh dia!

Sudahlah, sabar. Btw, bagaimana rencana kita?

….

….

Ping!!

 
***


Malam telah sempurna gelapnya. Jam di tanganku rasanya berdetak-detak jauh lebih kencang dari biasanya. Ataukah detakan jam itu hanya sebuah kamuflase dari detakan jantungku? Aku sangsi. Aku hampir tak bisa membedakan, mana yang detakan jarum jam, mana yang detakan jantungku. Keduanya seolah berpacu, berlomba memompakan darah dan adrenalin keujung-ujung kepalaku. Mereka membuatku gelisah setengah mati.

“Hest…,” desahku. Berjuta bayang, kenangan dan pikiran melintas di depanku tentang dia. Hest, seorang wanita muda yang dulu aku kenal masih berseragam putih abu-abu di kelas sebelah. Gadis kembang desa dan dambaan hati setiap siswa normal di sekolahku. Apa yang kurang darinya? Aku rasa tidak ada. Dia sempurna bila ukurannya adalah ragawi.

Aku dulu pernah menciumnya sekali di belakang kantin sekolah. Aroma wangi bedaknya yang masih baru di taburkan di pipinya yang lembut itu, seakan terus menempel di ujung hidungku selama berhari-hari. Bahkan kalau boleh aku bilang, sampai sekarangpun rasanya rasa itu tetap ada di ujung hidungku ini kalau aku mengenangnya. Yah…, walau kejadian itu, sudah lewat hampir sepuluh tahun lamanya. Begitu pula setiap kali mengenangnya, rasanya ada kerinduan yang begitu dalam di lubuk hati ini akan aroma dan rasa yang sama. Rasa yang terus mengusik kehidupanku selama bertahun-tahun lamanya. Rasa dan aroma yang tidak pernah sama aku dapati dari istriku, walaupun dia sudah memberiku dua orang buah hati yang menawan. Tidak, mereka tidak sama. Aku tidak pernah merindukan wanita lain seperti aku merindukan dia.

Hest pernah memberiku hari-hari yang penuh warna, hari-hari indah yang sampai sekarang masih aku kenang. Bahkan mungkin sampai akhirnya aku tidak bisa mengenangnya lagi nanti. Dia adalah pacarku di masa masa SMA dulu. Masa  dimana semua gejolak muda itu masih mengeilingi kami berdua. Indahnya ….

Tapi maaf kalau ada yang membayangkan masa-masa pacaran itu kami lewati dengan nafsu yang penuh kubangan kotor. Aku bukan tipe lelaki seperti itu. Bagiku, cinta itu suci, cinta yang suci tidak pernah akan melukai orang yang dicintainya. cinta yang suci akan menjaga pula kesucian pasangannya, tidak malah mengotorinya dengan nafsu yang bejat. Cinta yang suci, akan menjaga pasangannya dengan segenap kemampuannya. 

Hmmm, indahnya masa-masa itu. Kadang aku berfikir, bisakah masa-masa itu akan kembali lagi? Terulang lagi? Bisakah kami berdua lagi seperti dulu? Menjalin hari hari indah penuh warna pelangi seperti itu lagi walau sekarang kami sudah memiliki pasangan masing-masing? Walaupun bisa, sungguh aku juga masih takut. Takut bila masa itu terulang, sakit yang sama juga akan terulang. Sakit oleh cinta yang harus terpisah oleh perbedaan bangsa.

PING!!

Satu ping mengagetkanku dari lamunan. Dari Hest.

Ya….

Kamu di mana?

Aku di lobi.

Sudah lama?

Hampir setengah jam.

Kenapa tidak menunggu di kamar saja?

Hatiku berdesir, ada kebimbangan yang mendalam yang aku rasakan membaca pertanyaan itu di tujukan padaku.

PING!!

Ya….

Lagi apa? Kenapa gak jawab?

Aku tunggu di lobi saja. Kamu di mana?

Otw.

Masih jauh?

Lima belas menit lagi.

Ok, aku tunggu.

Darahku makin deras berdesir-desir. Mengalir panas dari ujung kaki ke ujung kepalaku. Hest. Apa yang ada padamu sehingga kamu mampu membuatku begini? Membuatku seperti boneka yang tak berdaya yang bisa kamu mainkan hanya dengan satu jari telunjukmu?

Ini memang bukan pertemuan kami pertama sejak kami berpisah dan berjumpa lagi di kota baru ini. Tapi ini adalah pertemuan yang mampu memuatku panas dingin tak karuan. Bukan hanya dia sebenarnya yang membenci perselingkuhan. Akupun sama. Aku benci sekali melihat pasangan selingkuh itu. Tapi sekarang mengapa aku sendiri yang melakukannya? Mengapa sekarang justru aku sendiri yang selingkuh? Bahkan otakkupun seolah tak tahu harus berdalih apa.

Perlahan bayangan masa masa SMA dulu berganti dengan bayangan-bayangan istri dan anakku. Keluarga kecilku yang bahagia. Satu pertanyaan yang dulu sering aku lontarkan pada teman teman yang selingkuh, sekarang pertanyaan itu seperti kembali telak memukulku. “Apa salah istri dan anak-anakmu sehingga kamu pantas menyakiti mereka?”

Setiap kali pertanyaan itu di tujukan balik kepadaku, setiap kali itu pula aku tidak bisa menemukan jawaban selain karena keegoisanku. Apa kurang istriku? Apa salah besarnya sehingga dia pantas untuk diduakan? apa hanya kerena seorang istri harus mengerti suaminya? Lalu dimana letak pengertianku kepadanya sebagai suami?

Beribu petanyaan dan tudingan menghujani kepalaku. Aku ingin meledak rasanya. Aku ingin berteriak dan menumpahkan segala kesalahan ini pada lautan. Membiarkannya dibawa samudra entah kemana.

Mengapa semua seperti ini? Mengapa mereka tidak membiarkan dulu aku memilih? Aku mencintai Hest bukan? Lalu kenapa cinta kami harus di tentang hanya kerena perbedaan bangsa dan adat istiadat? Mereka seharusnya tahu, uang bisa membeli segalanya, kecuali cinta dan kebahagiaan yang sejati. Tidak, uang tidak bisa membeli keduanya secara utuh seperti daging ayam di meja makan mereka itu. Tidak, sekali lagi tidak!

Jadi apakah itu alasan paling tepat buatku untuk membela diri atas perselingkuhan ini? Arrrggg…. Otakkku menegang memikirkkan semuanya. Kami seperti orang yang membenci pencuri tapi sekarang kami sendiri mencuri, atau seperti orang yang membenci para koruptor, tapi sekarang kamilah koruptor itu sendiri. Aku hampir saja bangkit dan berhambur pulang ketika seorang wanita memasuki ruang lobi hotel ini. Hest datang dengan gaun merah menyalanya. Hatiku luruh melihat wujudnya nyata di depanku.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya begitu sampai di depanku. Malam ini wajahnya sayu. Tergambar jelas letih dan penat di sana. Cahaya indah yang selama ini menghiasi wajah itu, malam ini hilang entah kemana. Aku hanya bisa menjawabnya dengan sesungging senyum. Suaraku seolah tercekat rapat di tenggorokanku.

“Kamar  kita nomor berapa? Aku penat sekali rasanya, aku ingin segera beristirahat”

Aku luruh mendengar pertanyaan itu. Wujudku seolah salju yang tiba tiba terpapar sinar matahari siang, hilang tak berbekas.

“Nomor kamar kita berapa?”

“Eh…, nomor 221.”

“Ayo ke sana sekarang, aku penat sekali.”



gambar dari sini






READ MORE - Salahkah Kalau Aku Juga Selingkuh

Senin, 11 Juni 2012

Setelah Lampu Hijau Padam


            Dia adalah sahabat baikku sejak kami belum bisa mengeja abc dan melantunkan ayat ayat suci di surau dekat rumah kami. Dina namanya. Seorang gadis keturunan Jawa-Ambon yang berwajah manis. Banyak orang bilang, dia lebih pantas terlahir sebagai keturunan Minang daripada suku manapun yang ada di negeri ini. Tapi apapun kata mereka, apapun dan darimanapun Dina berasal, yang aku tahu hanyalah kalau dia itu orang yang benar benar pantas untuk aku jadikan sahabat. Orang yang tidak hanya bisa mengerti aku, tapi lebih dari itu, dia sangat pantas untuk aku sebut sebagai seorang kakak.


             Tapi hari ini Dina tergolek lemas di sampingku. Kepalanya terkulai lemah di atas pangkuanku. Darah tak henti hentinya mengalir dari setiap bagian tubuhnya. Bibirnya yang kemarin merah ranum dengan senyum cerianya yang khas, hari ini berganti menjadi bibir yang merah karena darah yang tak henti hentinya tersembur dari dalam rongga mulutnya. Bibir itu bergetar hebat, menandakan betapa sakit yang dia rasakan. Hidungnya tak lagi menghembuskan udara seperti yang setiap saat dilakukannya, tapi dari sana, mengalir darah segar yang tak kunjung henti. Matanya tertutup dengan kelopak mata yang terus saja bekedut.


             Satu kali, tiba tiba saja bibirnya berhenti bergetar, dan lehernya yang semula kejang, tiba tiba saja terkulai dengan tanpa daya. Aku tersentak melihatnya, aku tak ingin kehilangan dia secepat ini. Sebuah tamparan keras, sekeras yang aku bisa kulayangkan ke pipinya yang kini hancur terparut aspal hitam.


             “Plak…”


             “Hei, jangan tampar dia…” Seorang dalam ambulan yang mengantarkan kami ke ICU ini berseru keras padaku. Tapi apa perduli mereka? Aku hanya tidak rela kehilangan Dina secepat ini.


             “Plak…!” satu tamparan lagi aku layangkan ke pipinya yang lain saat tidak ada respon darinya dari tamparanku yang semula.


             “Hentikan… jangan tampar dia, sabarlah, tenang…” yang lain lagi berusaha menghalangiku. Tapi aku tetap tidak perduli. Aku lebih membutuhkan Dina daripada ocehan mereka padaku.
Ketika masih belum ada reaksi juga darinya, aku mulai dirasuki perasaan takut yang amat sangat. Aku benar benar takut kehilangan dia. Kugoncang goncangkan tubuhnya sekeras mungkin, tapi belum juga ada reaksi.


             “Din, Dina, bangun Din ..., Dina …, buka mata Din, jangan pergi …. Aku di sini Din …. Dina…., Diiinnn … “ Aku histeris memanggil namanya. Aku ingin berteriak, tapi yang keluar dari dalam kerongkonganku, hanyalah sebuah desis aneh tanpa daya dari pada sebuah teriakan yang kuat. Air mataku mulai membuncah keluar.  Deras mengalir tanpa bisa terbendung. Kurangkul kepalanya yang kini tanpa daya itu dalam pelukanku.


             “DINAAA….!!!”


***


             “Kamu bisa lebih cepat gak sih Din, tumben banget sih kamu bawa motornya kayak keong begini. Ini sudah keburu nih, nanti keretanya keburu berangkat tahu.” Protesku pada Dina saat kami berhenti menunggu lampu lalu lintas menyala hijau.


             “Ya non, bawel…, gak tahu apa kalau lagi rame kayak gini.”


“Biasanya juga gak kayak gini. Noh, ada celah noh, masuk sana, cepetan”


“Ya, iya, bawel banget sih kamu hari ini. Lampu masih merah tuh, mau maen trobos aja.”


“Aku gak minta kamu nerobos lampu merah non, maju aja kedepan, kedekat garis putihnya itu lo, biar gak ada yang menghalangi.”



“Bisa diem gak sih, bawel amat kamu hari ini, kayak mau mati aja.”


“Keburu telat non…”


“Salahmu, bukan salahku kalau sampe telat!”


“Hijau. Cepet kebut!”


Tanpa berkata kata lagi Dina menarik tuas gas penuh penuh. Motor yang kami tumpangi melaju kencang seketika. Tapi bersamaan dengan itu, sebuah sepeda motor menerobos lampu merah dari arah kiri kami. Tak bisa dihindarkan, sepeda yang kami tumpangi membenturnya dengan keras. Aku merasakan tubuhku melayang di udara, berputar putar seperti batu yang dilemparkan dari pelontar dengan kuat. Aku kira aku sudah akan menemui ajalku saat itu juga, tapi Tuhan masih berkata lain. Tubuhku jatuh ke aspal yang keras, dengan bagian punggungku yang sedang menyandang tas besar berisi baju baju yang mendarat terlebih dahulu. Aku mendarat dengan selamat walau dengan berberapa luka lecet yang tak serius dan punggung yang serasa retak. Tapi aku selamat, tidak ada luka fatal yang aku derita.


Aku segera berusaha bangkit walau punggungku terasa sakit sekali. Kulihat sekelilingku, dimana Dina? Aku nanar mencarinya dari posisi dudukku. Dan saat pandanganku terpaku padanya, aku tak percaya dengan apa yang aku lihat.


Dia berada di sana, lebih dari sepuluh meter dari tempatku sekarang. Tubuhnya merah oleh darah yang membentuk garis yang hampir lurus di sepanjang jalan. Aku histeris memanggil namanya, aku ingin dia menoleh kearahku, dan berkata semua baik baik saja. Tapi Dina tetap diam, tak bergeming!


***


Ini adalah hari kelima Dina koma ketika sebuah pertanda baik terlihat darinya. Saat aku sedang menungguinya di ruang ICU seorang diri, ketika tiba tiba jemarinya yang sedang kugenggam bergerak gerak lemah. Kualihkan pandanganku ke arah wajahnya. Matanya sedikit terbuka dengan gerakan yang begitu lemah dan lambat.


Hatiku berdesir bahagia melihatnya. Kuberikan senyum tulus setulus yang aku bisa untuknya. Tak aku sangka, Dina membalas senyumku! Tapi setelah itu, senyum itu memudar, mata itu tertutup dan seluruh tanda fital dalam tubuhnya juga ikut sirna.


“Dina…” panggilku lirih. Dina diam saja, tak lagi menjawab seruanku.


“Dina…” panggilku lagi, tapi tetap tak ada reaksi darinya, walau aku menunggunya sampai sepuluh tahun kemudian.
READ MORE - Setelah Lampu Hijau Padam

Jumat, 04 Mei 2012

Fase


Orang bilang, hidup ini berjalan seperti fase metamorfosis kupu kupu. Berawal dari telur, kemudian menetas jadi ulat, menjelma kepompong, untuk kemudian sempurna sebagai kupu kupu yang indah. Aku juga ingin bilang begitu saat ini, walau itu bukan berarti aku setuju bahwa setiap manusia akhirnya akan menjadi kupu kupu yang indah. Menurutku, kehidupan kita bisa beranjak dan berakhir pada salah satu fase, tanpa bisa lagi mencapai fase selanjutnya. Ada kalanya kehidupan seseorang di mataku berakhir pada fase kempompong, pada sebuah tahap dimana kesempurnaan nyaris dicapainya. Bahkan sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah menyadari kalau sebenarnya kita ini adalah umpama ulat, atau mungkin telur yang tidak pernah menetas sama sekali.
“Mengapa begitu?” tanyanya pada suatu ketika. Saat hujan turun dan secangkir teh hangat menemani kami di depan jendela yang basah.
“Bisa saja,” jawabku sambil tersenyum kecil menggodanya. Dia diam tak bergeming. Tatapannya tajam kearahku. Seakan dengan itu, dia berkata kalau dia siap menjadi pendengar yang baik.
“Aku pernah berfikir, kalau manusia itu lahir umpama telur kupu kupu yang kecil, lucu, halus, dan terlindungi. Dia berada pada suatu tempat yang tidak semua orang tahu, tak ada satu mahlukpun yang benar benar tahu di mana telur telur itu diletakkan tanpa mengamati dengan seksama terlebih dahulu. Seperti itulah. Suci.
Tapi mirisnya, ada sebagian dari manusia, kita ini, yang tidak pernah terlepas dari kungkungan cangkang telur kita sendiri. Akibatnya, yaaah, seperti itulah. Mereka menjadi seperti katak dalam tempurung. Yang mereka tahu hanyalah dunia mereka yang nyaman, yang indah menurut mereka, yang selalu melindungi mereka, tanpa mereka pernah sadar kalau sebenarnya cangkang telur yang melindungi mereka itu begitu rapuh, begitu tipis, sehingga dengan sentuhan kecil saja, cangkangnya bisa hancur dan tak bersisa.
Hmmm…
Dan kemudian mereka mati. Tamat. Mereka tidak pernah menjadi apa apa sama sekali.”
“Miris…,” sahutnya sambil menatap hampa ke dalam gelas tehnya yang sekarang setengah berisi.
“Ya…, memang. Tapi tidak semuanya seperti itu. Karena ada kemudian sebagian dari mereka yang berhasil keluar dari cangkangnya dengan segala upaya dan masuk pada tahap selanjutnya : ulat.”
“Ulat? Membayangkannya saja sudah membuatku merinding,” keluhnya.
“Kamu gak suka ulat?” tanyaku setengah menyelidik. Pertanyaan yang mungkin cuma sekedar basa basi saja, karena aku tahu, hanya ada sedikit sekali wanita di dunia ini yang tidak takut pada seekor ulat, dan dia, aku yakin sekali bukan wanita yang seperti itu.
“Menakutkan, menjijikkan. Aku tidak suka sama sekali. Aku bisa lari terbirit birit kalau ada ulat di dekatku.” Aku tertawa terkekeh mendengarnya, membuat wajahnya yang putih bersemu merah.
“Kenapa harus menertawakanku?” protesnya.
“Yah begitulah wanita, terlalu penakut untuk hal hal yang gak mereka mengerti terkadang. Tapi kamu pernah berfikir gak sih kalau sebenarnya kamu, aku, dan banyak orang yang lain di sini pernah menjadi ulat dalam bayanganku? Atau bahkan sampai saat inipun masih menjadi ulat ulat itu tanpa kita sadari.”
“Maksud kamu?”
“Pada fase ini menurutku, adalah fase dimana orang orang sudah berada pada posisi yang baik, mapan dan telah melalui proses perjuangan yang berat. Pada fase ini aku kelompokkan orang orang yang memiliki karir yang baik, masa depan yang baik, orang orang biasa sampai konglomerat, atau mereka yang berada di rumah rumah susun sampai penghuni istana presiden. Golongan ini besar sekali, mencakup hampir semua orang.
Mereka makan, mereka beraktifitas, mereka melakukan apapun untuk mencapai tujuan hidup mereka. Sampai terkadang mereka lupa kalau mereka sudah terlalu banyak melangkah, terlalu banyak berbuat, dan tidak pernah berfikir tentang akibatnya.” Aku gantungkan kalimatku di sini untuk sejenak menatap lurus ke wajahnya yang kini seperti anak kambing yang melihat induknya di tempat yang tak terjangkau. Membiarkan sedetik dua detik berlalu tanpa ada yang mengisi.
“Terus?” desaknya. Dia sekarang benar benar penasaran akan isi otakku rupanya.
“Ya begitulah, orang orang yang rakus, orang orang yang berbuat selalu untuk kepentingan dirinya sendiri, saling sikut, saling senggol yang penting dapet daun muda untuk dimakan. Kalau gak ada yang muda, daun tuapun mereka embat juga.
Kamu tahu, dalam pikiranku, kamu termasuk dalam golongan ini. Golongan ulat ulat.”
“Waduh, buset dah kamu. Masak aku di samain sama ulat ulat rakus….” Sekali lagi dia protes. Tapi kali ini dengan nada yang lebih ekstrim. Aku juga tersenyum nakal kearahnya untuk sekali lagi. Waktu berdetak pelan, dan aku menikmatinya. Menikmati suasana seperti ini.
“Kamu gak terima aku samain dengan ulat?”
“Ya jelaslah…!”
“Kamu tahu gak, kalau akupun, dulunya pernah dalam golongan ini. Aku ulat, dulu.”
“Terus sekarang? Kamu apa?”
“Aku kupu kupu…,” jawabku menang. Dia mendengus kesal. Wajahnya sekarang benar benar memerah. Kalau tidak aku dahului bicara,mungkin sekarang dia sudah meledak di depanku.
“Aku dulu ulat, dan sekarang aku kupu kupu. Aku kupu kupu setelah aku melalu masa masa menjadi seekor kepompong. Kalau kamu mau aku masukkan dalam katagori kupu kupu, maka duduklah, akan aku jelaskan bagaimana caranya.” Sampai pada kalimat ini aku berusaha serius untuk menekankan padanya kalau sebenarnya aku tidak ingin basa basi lagi seperti tadi.
“Dalam pikiranku, setiap orang itu adalah ulat, dan banyak yang mati sebagai ulat. Pecundang yang bangga dengan apa yang mereka kerjakan dan mereka hasilkan tapi gak pernah pakai ini,” ku tunjuk kepalaku, “dan gak pakai ini,” sekarang aku turunkan telunjukku ke dadaku, “meraka cuma pakai ini dan ini sebagai ukuran.” Terakhir kualihkan telunjukku kearah perutku, lalu kukeluarkan selembar uang kertas seribu rupiah dari dalam saku bajuku. Dia mendesah pelan, seperti orang yang sedang menahan nafas karena suatu ganjalan di hatinya. Mungkin dia sedikit tegang untuk mendengarkan kata kataku selanjutnya.
“Terus?” tanyanya. “Semua orang butuh uang bukan, butuh makan juga, apa salahnya?”
“Nafsu, itu yang mereka dewakan dan mereka tuhankan. Tanpa sadar mereka sudah menduakan Tuhan mereka sendiri, menggantikannya dengan nafsu dan dengan uang. Maka itu, hanya sedikit orang yang kemudian benar benar masuk kedalam tahap metamorfosis selanjutnya : fase kepompong, fase berfikir dan mencari kebenaran.
Dulu aku sama seperti yang lain. Tapi apa yang aku dapatkan? Gak ada. Hanya hampa. Okelah saat itu aku mendapatkan segala secara materi. Mau apa apa aku bisa, mau apa saja semua ada, tapi apa yang aku rasakan di sini?  Di batin dan jiwaku?
Kosong!
Kosong… gak ada, gak ada yang aku dapatkan. Aku merasakan hidupku ini hampa tanpa tujuan. Semakin lama aku semakin merasakan dan mempertanyakan apa arti aku hidup ini. Setiap hari aku berkutat dengan hal hal yang sama, mendapatkan hal hal yang aku inginkan dengan mudah, ya, lama lama hidupku terasa membosankan. Terasa monoton.
Pada tahap itulah aku mulai berusaha mencari apa sebenarnya arti hidup yang aku jalani. Aku mulai banyak merenung, aku mulai banyak berfikir, banyak membaca. Aku ingin menemukan jawaban atas semua pertanyaan pertanyaan yang selama ini menumpuk di otakku. Pertanyaan pertanyaan yang setiap hari semakin menggunung dan semakin mendesak untuk ditemukan jawabannya. Aku mulai mencari orang orang yang mampu menjelaskan. Aku mulai mendatangi tempat tempat yang mereka bilang itu tempat suci, mendatangi orang orang suci, pemuka agama agama mereka. bahkan gilanya, kamu tahu? Aku datang kekuburan.”
Mendengar kalimat terkhriku dia mendesah, bergumam tidak jelas.
“Tapi rupanya Tuhan tidak membuatku menunggu terlalu lama untuk menunjukkan padaku tempat untuk mengajukan semua pertanyaanku sekaligus tempat untuk mendapatkan jawaban semua pertanyaanku secara tuntas. Tuhan membayarnya lunas.
Pada hari itu, hari dimana aku tengah bersiap siap untuk melepas fase metamorfosisku, aku merasakan perasaan yang bercampur aduk di hatiku ini. Perasaan yang jauh lebih dahsyat, kalau boleh aku bilang begitu, dari pada saat saat paling medebarkan saat di terima lamaranku oleh camer dan saat ijab kabul pernikahanku. Hari itu, adalah hari yang lebih dari hari hari yang lain. Bahkan sampai sekarangpun aku masih suka merinding kalau aku ingat saat saat mendebarkan itu.
Hari itu, dia menjabat tanganku dan memintaku untuk mengikuti apa yang dia ucapkan. Kata kata pembuka faseku dari face kepompong menjadi kupu kupu sederhana saja. Itu cuma semacam kesaksian yang aku ucapkan tulus dan ikhlas dari dalam hatiku. kata kata itu diucapkan dalam bahasa Arab, dalam bahasa Indonesia kurang lebih ‘Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain ALLAH, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan ALLAH’”
Sekarang dia memekik tertahan. Wajahnya mengisaratkan rasa ketidak percayaan yang amat sangat. “Sekarang kamu muslim? Kamu muallaf?”
“Ya,” jawabku. “Aku memilih Islam, karena agama ini telah memberiku jawaban singkat yang pasti akan semua pertanyaanku selama ini.”
“Apa itu?” tanyanya penasaran.
“Allah berfirman : ‘… Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKU…’ itu terlulis dalam firmanNya, QS Adz Dzariat  ayat 56. Itu adalah jawaban dari semua yang aku pertanyakan selama ini. Lunas terbayar sejak aku mulai mendalami isi dari kitab suci. Al Quran, selalu akan menjadi sebuah mukzizat dan jawaban atas segala pertanyaan.
Sekarang aku adalah muslim, aku adalah kupu kupu itu, dan aku bangga memperkenalkan diri sebagai muslim.Aku berharap, aku gak hanya bisa jadi kupu kupu yang indah, tapi kupu kupu yang juga bisa berbagi keindahan itu dan mempengaruhi segalanya agar juga menjadi indah....”

Di dedikasikan untuk seorang sabahat yang selalu menginspirasi :
kang Insan, sang kupu kupu.

Lanjutkan baca bagian 2 di sini
READ MORE - Fase

Selasa, 10 April 2012

Kuukir Pelangi Untukmu




Haruskah aku ceritakan padamu sudah berapa jauh jarak yang kutempuh untuk kembali berdiri di sini, tempat kita dulu berkumpul menyaksikan pelangi? Atau haruskah aku ceritakan padamu sudah berapa dermaga, berapa lembah dan lautan pasir yang kuarungi untuk mencari tempat yang sama indahnya dengan tempat dulu kita mengukir pelangi persahabatan kita? Aku rasa sekarang itu tidaklah lagi penting kawan. Karena telah kuceritakan kepada seluruh dunia, betapa indahnya pelangi persahabatan kita. Ya, pelangi persahabatan indah yang pernah alam ukir hanya untuk kita. Spesial untuk kita, bukan yang lain.

“Hei lihatlah itu…!” Ani, yang termuda dari kita berseru di sore yang telah layu waktu itu.

“Pelangi…” aku bergumam, dan yang lain setengah berteriak bersamaan.

“Indahnya….!!!”

“Diam diam, aku ingin mengabadikannya…, minggir semua…” Aisyah yang paling heboh diantara kita menyeruak ke depan, menyibakkkan gerombolan kita yang tak memperdulikan gerimis untuk melihat pelangi itu lebih jelas. Kita seperti kumpulan anak TK yang sudah kadaluarsa waktu itu bukan? Tapi itu menyenangkan kawan. Julukan yang diumpatkan pada kita oleh mereka yang sirik akan kebersamaan kita.

“Tunggu Aisyah, fotomu tidak lengkap tanpa aku ada di sana…” Ani berteriak seraya berlari kecil ke depan, menembus gerimis yang turun malu malu pada kita.


“Minggir Ani, jelek tau…”

“Fotoin aku sama pelangi itu…!”

“Wajahmu gak akan jelas, jadi siluet saja ntar kalau udah jadi…”

“Itu keren Aisyah, cepetan…”

Aku masih ingat betul bagaimana Aisyah mendengus dengan wajah penuh kesal waktu itu. Wajah yang lucu, yang selalu aku kenang sampai sekarang. Aku jadi penasaran, bagaimana wajah itu sekarang? Apakah sudah mejadi wajah keibuan yang meneduhkan? Atau masih sama imutnya dengan wajahnya saat mengantarkanku ke bandara saat terakhir kita bertemu?. Wajah imut yang berurai air mata.

“Hei lihat, itu keren…”

“Ya… ya … fotonya jadi keren… aku juga mau Aisyah…. Fotoin aku juga…..”

“Gak, enak aja, sana pake punya sendiri sendiri…” Aisyah masih saja sewot.

“Tapi punyaku kameranya jelek Aisyah, ya ya… pake  punya kamu, Aisyah baik deh….”

“Kalau ada maunya, di baik baikin, coba kalau gak….”

“wehehehehhehehe….. hihihiihihihi…. Aisyah baik deh….”

“Udah cepetan sana, udah udah jangan berebut, satu satu,”

“Aku duluan…”

Tak Cuma yang cewek saja yang narsis berfoto waktu itu, bahkan aku, dan semoa orang yang cowokpun ikutan narsis nampang di depan kamera Aisyah. Ada keceriaan yang terukir waktu itu, ada tawa yang membahana, ada hati yang lapang yang tercipta. Bahkan kalian tahu kawan, tawa kalian itu telah menggema dan terus menggaung sampai sekarang dalam relung relung terdalam ingatanku. Tawa yang begitu menyejukkan, yang saat aku mendengarnya untuk sekali lagi, dan lagi, seolah sirna semua beban yang pernah ada di hati ini.

“Hei lihat, fotonya kok sama semua posenya? Ini foto siapa? Yang ini siapa?” Nick tiba tiba histeris kebingungan saat memperhatikan hasil foto yang diambil Aisyah. Dan kalian mulai ribut, mulai mengingat ngingat urutan yang di potret Aisyah tadi, Uni, Selvi, Pipi, Awa, Tia, Budhi, Amin, Aulia, aku dan kita semua mulai ribut seperti anak TK yang meributkan sekawanan semut yang lewat di depan mereka.

“Bagaimana membedakannya?”
“Gak tahu, yang pasti cuma yang jelas, ini cowok, yang itu cewek. Yang cowok semua jadi sama, yang cewek semua juga jadi sama. Kita seolah satu, kita seolah melebur dalam satu bayangan yang sama dalam foto itu.”

“Benar.”

“Bukankah kita memang satu? Bukankah kita memang sesama blogger?”

“Ya benar, karena kita memang tiada beda, tiada senior atau junior, kita dalah sahabat, kita adalah BLOOFERS bukan…”

Ah…, masih aku rasakan keharuan yang tiba tiba menyeruak diantara kita waktu itu. Keharuan yang juga masih bisa aku rasakan sampai sekarang, kawan. Keharuan yang sampai sekarang masih mampu untuk membuat mataku berkaca kaca…

Selembar foto itu sekarang masih kusimpan, kawan. Di sini, tak jauh dari jantung dan hatiku. Selembar foto yang kita beri judul “Kuukir pelangi Untukmu”. Selembar foto yang entah itu foto siapa, hanya yang aku tahu, pastinya dia adalah salah satu dari penggemar lambang etawah berwarna ungu : BLOOFERS





Ditulis secara khusus atas pemintaan dari kang Muhaimmin Tawwa, di persembahkan untuk seluruh BLOOFERS



READ MORE - Kuukir Pelangi Untukmu

Baca juga yang ini