Kamis, 08 Oktober 2015

Dalam pada itu, aku masih menyebut nama Tuhan

Dalam pada itu, aku masih menyebut nama Tuhan. Dalam sebuah keheningan malam yang pada sorenya aku berbuat dosa. Pada malam itu, semua kenangan kembali. Berputar di dalam hening malamku seakan ribuan suara yang memintaku untuk kembali.

Kembali....

“Kembali ke mana?” tanyaku.

Dia hanya diam. Tangannya terlipat di depan mulutnya. Padangannya hampa memandang hamparan aspal hitam tak jauh dari tempatnya duduk. Entah itu padangan sesal, mengenang atau sebuah kehilangan yang mendalam.

Beberapa mobil melaju dengan lambat. Menebarkan butiran air hujan yang sore tadi membasahi jalan ini ke udara di belakangnya. Pada ruang kosong yang melukiskan hatinya. Hatiku?

“Kemana?” tanyaku lagi.

Dia diam.

“Hei....”

Dia menggeleng.

“Kamu mau pulang kemana?”

“Entahlah....,” desahnya kemudian. Ada hembusan nafas yang mendalam. Sekarang dia beringsut. Meluruskan kakinya, meletakkan tangannya diatas pahanya. Kepalanya terkulai. Sekaakan laskar yang kalah perang. “Aku ingin pulang, Kenangan, pada masa kecilku.” Imbuhnya kemudian. Sekarang pandangannya dia buang jauh kedepan. Seolah dengan itu dia mampu melihat pada masa lalunya yang indah.

Aku tersenyum sinis mendengarnya. Senyum simpul yang hanya tergores pada satu sudut mulutku. “Kamu menyesal?” tanyaku. Dia diam, tak menjawab. Hanya perlahan tangannya yang bergerak mundur. Menopang tubuhnya yang tegap tapi renta itu dari belakang. Padangannya tengadah. Memandang langit yang penuh dengan asap hitam. “Setelah semua yang terjadi, akhirnya kamu bilan g kamu menyesal? Untuk apa? Untuk bagian yang mana?”

Hening....

Angin sepoi melintas sekilas, lalu sepi lagi.

“Dan sekarang kamu ingin berlari dari kenyataan?” tanyaku lagi.

Angin datang lagi. Kali ini dia membawa sayup-sayup suara dari jauh. Suara panggilan bagi umatNya untuk meninggalkan selimut dan tempat pembaringannya yang nyaman. Untuk menyambut ibadah yang lebih dari seisi alam semesta. Angin itu, suara itu, seakan kesejukan yang tiada duanya. Mereka bersatu, saling menguatkan satu sama lainnya.

Keduanya kemudian menyentuhku. Anginnya membelai lebut kulit kumalku. Suara-suara itu merasuk kedalam hatiku. Medamaikan apa saja yang bergemuruh di sana. Mengembalikan semua kenangan kelam itu kedalam tempatnya yang gelap. Menggantinya dengan kenangan lain yang berwarna keperakan. Kenangan yang berpendar indah.

Dia beringsut. Duduk memeluk lututnya dengan erat. Seolah dengan itu, dia ingin mengembalikan hatinya utuh lagi. Hati dan perasaannya yang tadi berhambur keluar dari rongga dadanya. Hancur seakan tak pernah punya rupa dan wujud lagi. Dagunya dia sandarkan pada lututnya. Ada setetes bening air matanya yang jatuh. Menetes melewati pipinya yang angkuh.

“Tabukah aku menangis?” tanyanya dengan kemarahan dan penyesalan yang tertahan. “Dulu aku selalu menyebut namaNya dalam suara paling indah yang aku mampu ucapkan. Aku menyembahnya tanpa ‘tapi’. Aku hafalkan segala firmanNya. Aku amalkan segala ajaranNya.” Sekarang dia menoleh padaku. Matanya merah. Tangisnya bukan buatan. Aku tahu dia sungguh menyesal.

“Jadi salahkah aku kalau kemudan aku kecewa saat Dia tak mengabulkan pintaku yang paling sederhana? Hal paling sederhana yang sangat aku inginkan? Salahkah? Salahkah kalau kemudian aku berpaling? Kecewa padaNya, tak mau lagi menyebut namanya?”

“Dia mengujimu, wahai Diri. Tak sadarkah kamu?”

“Diam!” dia membentakku.

“Dia mengujimu. Bukankah kamu sebenarnya tahu? Bukankah sebenarnya kamu mengerti kalau tak ada seorangpun yang akan dibiarkan tanpa diuji setelah mereka menyatakan keimanan mereka?”

“Diam! Diam...! diam...!!!”

“Dan sekarang kamu ingin kembali? Kamu menyesal? Mengapa tidak menyegerakan diri? pintuNya terbuka lebar di depanmu. Pintu taubat dan penyesalan. Kenapa kamu tidak menyegerakan diri. Apa yang kamu tunggu? Ajal tak pernah menunggu taubatmu, wahai Diri.”

“Aku bilang diam....!!!”

Aku bangkit dari posisi dudukku. Kuulurkan tanganku ke arahnya. Menawarhakan bantuan untuk berdiri. “Ayo, bersegeralah, Dengarkanlah panggilanNya. Datangi pintu pengampunanNya. Apa lagi yang kau tunggu? Esok belum tentu ada untukmu.”

Dia memandangku dengan mata merahnya yang terus berusai air mata. Mulutnya, hidungnya, kembang kepis menahan sesak di dadanya. Aku tahu dia marah, aku tahu dia kecewa. Marah dan kecewa pada keadaan, pada dirinya sendiri.

“Masih marahkah kamu pada Tuhan? Bukankah pada keadaan tersulitpun kamu masih menyebut namaNya?”  aku berusaha memberinya senyum penuh persahabatan yang aku punya, dan dia masih berperang melawan dirinya sendiri. Angin malam berhenti berhembus, sebentar lagi fajar akan menggantikan malam dengan siang.

“Sampai kapan kamu akan di sana? Ayo! Pintu ampunanNya terbuka lebar. Tidakkah kamu mau menyambutnya...? berseralah....”


2:22
READ MORE - Dalam pada itu, aku masih menyebut nama Tuhan

Senin, 20 Oktober 2014

Nur

Aku mengingatnya dengan tertegun. Dia...

Banyak orang yang hadir dalam hidupku datang dan pergi begitu saja. Sebagian meninggalkan bekas yang mendalam. Sebagian lagi meninggalkan jejak yang samar samar untuk diingat. Sementara sebagian yang lain meninggalkanku tanpa bisa aku ingat lagi tentang mereka. Mereka hanyalah sebaris bayangan semu yang pernah hadir dalam hidupku. Tak lebih.

Tapi dia...

Dia ini siapa? Aku bahkan ingin melupakannya. Menganggapnya hanya sebagai kepingan tak diinginkan dari masa laluku. Kalau aku pernah mengaguminya, itu hanya sebatas fisiknya saja. Tak pernah lebih dan aku berharap tak pernah ada selain itu.

***

"Nur," sapanya. Delapan tahun yang lalu, dan aku tersenyum. 

Aku bunga saat itu. Aku bunga yang ingin dipetik setiap kumbang yang lewat. Dan dia, sama saja. Berbaik padaku cuma untuk mendapatkan kecantikan ini. Kemolekan ini. Tapi maaf, walau dia sebenarnya menarik, aku bukan untuknya.

"Dia kere..." bisikku pada mbak Rus. "Mau makan apa aku sama dia?"

"Makan nasilah, masak makan cinta aja..." jawab  mbak Rus dan tawa kamipun pecah. "Dia lho tadi sempat ngobrol sama kau Nur." Imbuh mbak Rus.

"Bicarain aku?"

"Ya ialah, apa lagi?"

"Wedew... Apa katanya mbak?"

"Dia bilang kalau dia suka kamu itu bukan cuma karena kamu itu cantik Nur." 

"Wah..., Dia bilang begitu mbak? Dia bilang suka sama aku katanya?"

"Ya..., Sumpah Nur dia bilang begitu."

"Terus... Terus?"

"Katanya dia suka kamu itu karena kamu juga rajin ibadahnya. Rajin simpen uangnya. Urusan wajah kamu, itu nomor sekiannya."

"Hmmm.... gitu ya mbak. Tapi ogah ah. Aku mau cari yang kaya aja. Bosen aku mbak hidup kere gini."

***

Air mataku meleleh mengenang delapan tahun yang lalu itu. Aku tahu sekarang senja sudah turun, dan aku di sini sendiri dalam kesendirianku. Aku yang sekarang bukanlah aku yang delapan tahun yang lalu. Aku yang sekarang bukanlah bunga seperti dulu lagi. Sekarang aku hanyalah sampah. Sampah yang bahkan orang terdekatku dulupun tak mau lagi mengenalku.

Kututup telingaku rapat-rapat terkadang. Teriakan-teriakan penghinaan itu, pengusiran itu, terkadang masih saja terdengar menggema di telinga ini saat aku sendiri begini. Sekarang aku hanya bisa menangis. Mengutuki segalanya.

"Nur." Untuk sekali lagi suara itu memanggil namaku sore ini. Masih dengan cara yang sama. Dengan nada yang sama, Tapi dengan irama yang lebih berat. Irama yang menandakan kemapanan dan kedewasaaannya.

Aku tak berani memandangnya. Aku hanya bisa menundukkan mata di tempat pembaringan ini.

"Sudah diminum obatnya?" tanyanya. Dan aku hanya bisa menggeleng.

"Kenapa?" cecarnya. Aku menjawabnya dengan diam dan sedikit air mata yang menetes.

"Jangan diam saja Nur. Bicaralah. Aku harus menghubungi siapa? Suamimu? Beri aku nama dan alamatnya biar aku bisa menghubunginya."

Aku kembali menggeleng. Suami? Siapa yang mau beristrikan orang seperti aku? yang menjual tubuhnya demi sekerat emas dan sebotol minuman setiap malam? Mereka bahkan meludah di tubuhku!

"Nur," dia menggenggam tanganku. Aku beringsut menarik tanganku dari genggamannya.

"Maaf dok," lirihku. "Saya pasien anda. Anda tidak berhak kurang ajar pada saya."

"Maaf Nur. Aku hanya ingin menolongmmu. Maaf juga kalau selama ini aku selalu mencari tahu tentangmu. Aku, maaf... aku tahu jalan hidupmu..."

Hatiku tertohok begitu kerasnya. Ngilu terasa dengan sangat. Itu aib yang tak ingin aku ceritakan pada siapapun. Aib yang ingin aku bawa pergi sendiri.

"Aku juga tahu kamu masih sendiri. Aku tahu kamu tak bersuami."

"Kalau begitu kenapa dokter tanyakan dimana suami saya?"

"Maaf..." lirih suaranya terdengar. "Aku tak seharusnya berkata seperti itu."

Sunyi kemudian menggantung, beberapa saat. Memberi kesempatan kepada kami untuk saling bermain dengan pikiran masing-masing. Aku dengan pikiranku yang terasa sakit dan dia dengan entah apa yang dia pikirkan.

"Nur, maukah kamu menjadi istriku?"

Kalimat itu sederhana. Telah aku dengar dari ribuan mulut yang berbeda. Kalimat yang dulu aku jawab dengan candaan, bahkan hinaan. Sekarang, di ruang rumah sakit yang serba putih ini, dalam keadaan terbaring hina seperti ini, baru kali ini kalimat itu terdengar seperti bom yang meledak di telingaku. Sakit sampai ke ulu hati.

"Jangan permainkan saya dok." jawabku. Sekali ini aku tatap matanya. Mata bening yang masih sama seperti dulu.

"Aku tidak sedang mempermainkanmu Nur. Aku jujur dan aku ingin memperistrimu. Aku tahu masa lalumu, aku tahu kehidupanmu...

"Dan aku akan hidup tak lama lagi dok!"

"Maka itu biarkan aku membahagiakanmu disisa hidupmu itu. Rasa ini adalah rasa yang aku pendam delapan tahun Nur. Tidak pernah berubah. Itu mengapa aku membujang. Nur, jadilah istriku. Aku ingin mengangkat namamu. Aku tak ingin kamu mati sebagai pelacur kelas kakap, aku ingin kamu meninggalkan dunia ini dengan menyandang namaku di dalam namamu. Sebagai wanita terhormat yang bersuami orang baik-baik. Seperti namamu, Nur yang berarti cahaya. Aku ingin kamu tetap becahaya seperti Nur yang dulu aku kenal."

Aku sekali lagi membuang muka, entah jawaban apa yang harus aku katakan.





READ MORE - Nur

Minggu, 07 Juli 2013

Andai Dia Masih di Bawah Lembayung Senja Ini





Dulu, kakek dan nenekmu waktu masih muda, kami sering duduk-duduk di sini, di tepi pantai ini, Man. Nenekmu itu, suka sekali memandangi langit yang berwarna lembayung. Ya, ya ya… lembayung senja, Man. Indah dan mesrah sekali. Kakek gak akan pernah lupa saat-saat itu. Andai saja nenekmu masih ada di sini, Man, sore inipun bisa menjadi satu lagi sore kami di bawah lembayung senja


READ MORE - Andai Dia Masih di Bawah Lembayung Senja Ini

Jumat, 01 Februari 2013

Salahkah Kalau Aku Juga Selingkuh 2



(Bagian sebelumnya bisa dibaca di sini)


Detak jantungku berpacu kencang seiring ketukan sepatu Hest di lantai hotel menuju lift. Keringat dingin mulai menjalari sekujur tubuhku. Perutku sekarang terasa begitu melilit. Semua seakan serba salah. Aku harus apa? Putar badan dan pulang? Atau lanjut terus dan menodai pernikahanku sendiri?

Aku seperti tidak dalam diriku malam ini. Setan apa ini yang begitu kuat mencengkram jantungku dan membutakan otakku? Aku benar-benar seperti sapi yang sudah di cocok hidungnya. Tanpa daya! Kemanapun majikannya pergi, kesanalah aku melangkah.

Bahkan koridor hotel ini terasa begitu panjang. Lift yang membawa kami naik dua lantaipun serasa teror waktu yang menggelayuti pikiranku. Nadiku mendidih begitu pintu kamar terbuka. Haruskah aku masuk?

"Kenapa bengong di sana?" Suara Hest membuyarkan lamunanku. Aku melempar senyum sambil mengedikkan bahuku.

***

"Aku lelah sekali," Hest mendesah seraya menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Matanya terpejam, berusaha dipejamkan tepatnya.

Aku melangkah ke arah kursi beberapa meter dari ranjang king size itu. Pergolakan dalam hatiku ini masih terus saja berlanjut. Rasa bersalah dan hasrat kelaki-lakianku kini sampai pada puncak pergulatannya. Lelaki mana yang tidak akan tergerak melihat seorang yang selama ini diidam-idamkan tergeletak pasrah di depannya. Setiap lelaki normal akan bergejolak dadanya. Begitupun aku!

Aku berdiri mematung memandang apa yang ada di depanku. Selangkah aku melangkah maju kearah kearah Hest yang terlihat begitu lelap. Aku tahu dia belum tertidur sepenuhnya, tapi rasa lelah yang menderanya, memaksanya untuk sejenak mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Saat kakiku akan membuat langkah yang kedua, ada satu warning halus namun tegas di kepalaku. Sekali lagi, wajah setia istriku melintas sekilas di pelupuk mata.

Aku melangkah mundur dengan limbung. Saat kakiku serasa tidak lagi mampu menyanggah beban tubuhku, aku jatuh terhempas kebelakang, tepat pada kursi kayu bergaya abad pertengahan yang lembut itu. Sekali lagi aku merasakan kebuntuan. Aku mendesah, kali ini aku ingin benar-benar berteriak. Kupejamkan mataku, kutekan kuat keningku, sedapat mungkin kuhempaskan segala rasa ini.

"Kamu kenapa?" Suara lembut Hest membuyarkan lamunanku. Aku tergagap dibuatnya.

"Ah..., ti..., tidak. Aku, aku baik baik saja."

"Aku ingin memejamkan mataku sebentar. Kamu bisa menunggu bukan?"

"Ok, gak masalah," kegugupan yang menderaku tak bisa aku sembunyikan dari nada bicaraku. Hest pasti bisa merasakan apa yang terjadi padaku saat ini, ataukah dia sudah salah mengartikan keresahan ini dengan gejolak hasrat yang terlarang? Dia melempar senyum dari bibir merah ranumnya kearahku. Hatiku berdesir sakit, sekali lagi. "Kalau begitu, aku mau mandi dulu. Tidurlah."

"Bangunkan aku satu jam lagi ya."

"Ya...."

***

Satu jam sudah berlalu ketika ketukan lembut di pintu terdengar. Nasi goreng pesananku tadi sudah datang rupanya.

Seorang petugas hotel berpakaian seragam krem tersenyum lembut ketika pintu kubukakan. "Selamat malam, pak," sapanya beramah tamah.

"Selamat malam."

"Nasi goreng pesanan bapak."

"Oh, silahkan. Terimakasih ya."

"Mau diletakkan dimana pak?"

"Di atas meja saja."

"Boleh saya masuk kalau begitu, pak?"

"Silahkan...."

Petugas hotel itu bergegas masuk, meletakkan sepiring nasi goreng dan jus jeruk diatas meja, lalu melangkah keluar kamar. Dengan ramah, dia berpamitan sebelum keluar dari kamar.

"Tolong tutup pintunya lagi ya," seruku sebelum dia benar-benar keluar dari kamar.

Petugas hotel itu membalikkan badannya tepat diambang pintu. Tangan kanannya meraih anak kunci manual yang tadi aku tinggalkan tergantung di pintu, lalu menggenggamnya erat-erat. "Pak, maaf, ada seseorang yang ingin bertemu bapak."

Keningku berkerut. "Tamu?" Tanyaku bingung.

"Ya, pak."

Siapa yang ingin bertemu denganku malam-malam begini? Di sebuah hotel? Rasanya tidak ada seorangpun yang tahu kalau malam ini aku bermalam di sini bersama Hest.

"Siapa?"

Pintu kamar perlahan terbuka melebar sebelum pertanyaanku dijawab dan rasa heranku belum juga pergi sedikitpun. Sesaat kemudian, masuk sesosok wanita berpakaian serba hitam ke dalam kamar ini.

"Selamat malam," sapa tamu tengah malam itu lembut. Tatapannyapun lembut menatap kedua mataku. Senyumnya merekah dari bibir merah ranumnya, tapi rona kesedihan yang menggelayuti wajah cantiknya tidak bisa dia sembunyikan.

Tamu tengah malam itu memang cantik. Dia menawan dengan gaya berjalannya yang sangat aku kenal. Rambut hitamnya yang panjang terurai dan cincin ditangannya itu, adalah rambut dan cincin yang setiap hari aku lihat di rumah. Aku hafal betul bagaimana sejarah rambut hitam itu memanjang dengan perlahan dari pangkalnya yang kokoh. Begitupun dengan cincin itu. Aku masih ingat betul bagaimana cincin itu bisa dia dapatkan. Cincin pernikahan yang mahal harganya. Bahkan bagaimana perasaan dan debaran jantung dari lelaki yang menyematkannyapun aku tahu, masih aku ingat sampai sekarang. Aku tahu semua itu, hafal setiap detik sejarahnya, karena akulah lelaki yang menyematkannya di sana. Aku adalah suaminya, ayah dari anak-anaknya!

"Gladis...?"

"Bagaimana pesta malam ini sayang?" Tanyanya seraya mendekat kearahku. "Menyenangkan?"

Aku tak tahu harus berkata apa. Aku cuma berdiri mematung di tempatku. Aku serasa buntu, tak bisa berfikir, bahkan bergerak kecil sekalipun. Tubuhku serasa di strum listrik ribuan volt saat jemari istriku menyentuh lembut dadaku.

Di tempat tidur Hest menggeliat. Aku reflek menoleh padanya. Aku berharap Hest tidak membuka matanya sebelum aku bisa menyelesaikan masalahku dengan istriku. Aku berharap dengan sangat, tapi kenyataan berkata lain. Hest membuka mata indahnya perlahan, dan saat matanya terbuka sempurna, bayanganku dan istrikulah yang pertama kali jatuh di retina matanya.

Hest bangun dengan terburu buru. "Si, siapa dia?" Tanya Hest setengah menjerit.

"Halo, mbak." Gladis sudah melangkah mendekati Hest sebelum aku sempat menyadarinya. Gladis mengulurkan tangannya kearah Hest. Mengajaknya bersalaman. "Aku Gladis, istri mas Kems. Nama mbak siapa?"

"Istri?" Hest nanar mendesis. "Istri...?" Tanyanya lagi, semakin histeris. Matanya tajam menatap mataku. Ada bara api membara di sana. Siap membakar apapun yang dia pandang.

Hest menjelma singa betina yanng terluka kulitnya. Diraihnya tas coklat yang dia bawa tadi dari atas ranjang. Hest kemudian bergegas bangkit. Dengan nafasnya yang memburu akibat kemarahan yang memuncak, di tunjuknya wajahku dengan tangan kirinya. "Teganya kau....!!!" Hest meraung.

"B*@?#'...!!!" Hets mengumpatiku. Tanpa aba-aba, Hest berhambur ke arah pintu, tapi pintu dengan cepat menutup. Petugas hotel berseragam coklat itu menjegal langkah Hest. Dikuncinya pintu itu sebelum Hest bisa meraih pegangannya. Hest berhenti saat menabrak tubuh petugas hotel itu. Hest sekali lagi meraung.

"Buka pintu itu...!!!" Hest meraung di depan wajah si petugas hotel. Bukannya menyerahkan kunci pintu pada Hest, si petugas hotel justru mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar Hest tidak bisa meraihnya. Bersamaan dengan itu, si petugas hotel membuka wig yang dia kenakan. Wig itu memang sedikit aneh menurutku sejak awal aku melihatnya tadi. Wig dengan bentuk poni panjang itu menutupi seluruh dahi si petugas hotel sampai hampir menutupi matanya juga.

Begitu wig itu terbuka, giliran akulah yang kembali terperanjat. "Rania...??!!" Seruku. Suaraku hanya berupa desis. Tertahan di tenggorokanku. Rania, dia adalah kisah cintaku yang lain sebelum aku menikahi Gladis. Belakangan aku baru tahu kalau dulunya Rania adalah sahabat karib Gladis. Aku tak pernah menyangka kalau malam ini akan berakhir sedemikian dramatisnya.

"Kau kenal dia juga?" Hest kembali meraung. "Kau memang benar-benar ba*#@¤#...!!!" Hest mengumpat kearahku. "Berikan kunci itu! Berikan!! Aku muak, aku mau pergi...!!!" Hest berusaha merebut kunci dari tangan Rania. Usaha Hest sia-sia. Rania lebih tinggi dari Hest. Dia mulai brutal. Hest mulai menendang dan mendorong Rania. Sesaat kemudian, mereka mulai bergelut.

Aku berhambur kearah mereka. Kupeluk tubuh Hest dari belakang untuk memisahkannya dari Rania. Diakhir usahaku, tubuh kami terpental kebelakang. Hest jatuh terjelebab dalam pelukanku, tapi dia masih terus berusaha memberontak. Hest meronta dan terus berteriak. Dia baru berhenti saat dia menyadari kalau usahanya sia-sia saja.

Malam itu semua kecamuk berakhir di sana. Hest tertunduk lemah dalam pelukanku. Gladis menangis sesenggukan di kursi bergaya abad pertengahan tadi, sedangkan Rania terlihat kuyu bersandar pada tembok di dekat pintu.

Aku?

Jangan lagi tanya bagaimana aku. Malam itu, aku seperti seonggok daging tanpa jiwa. Mati disaat aku masih bernafas!

***

Hembusan angin siang yang terik ini terasa begitu menyiksa kulitku. Panas dan perih menyentuh setiap pori-pori tubuhku yang terisi berabad kepedihan. Aku akhirnya takluk pada kenyataan. Seluruh kebanggaan akan keperkasaan sebagai seorang lelaki sekarang sudah luruh. Tunduk takluk di depan kelembutan hati seorang wanita.

Setelah malam itu, aku tidak pernah lagi menghubungi Hest. Hest menghilang begitu saja dari hidupku. Begitu menyiksa sebenarnya hari-hari yang aku lalui setelahnya. Bayangan kebahagiaan bertemu dengan seorang pujaan hati di masa lalu melebur dalam kubangan penyesalan yang tiada tara. Apakah aku pengecut karena tidak bernyali menghadapi Hest setelah semua sakit yang aku tancapkan kehatinya lagi ini? Aku tak berani membela diri.

Hest....

Hari ini aku mengenangnya lagi. Hampir utuh semua kisahku bersamanya. Sejak awal aku menatapnya untuk pertama kali, kemudian harapan yang kami bangun sampai pada rasa sakit tentang perpisahan kami. Semuanya! Semua rasa itu saat ini bertemu pada suatu siang yang terik. Aku mendesah. Air mataku menetes, menyesal. Pelukan terakhirku untuknya di kamar hotel itu menyisakan seribu jarum yang menancap di relung-relung dadaku.

Aku sebenarnya ingin membantunya keluar dari semua derita pada awalnya. Derita yang dia ceritakan dalam rintikan air mata di wajah sendunya, tapi tanpa sadar aku sudah menikamnya dengan kejam. Melumpuhkannya sampai tak berdaya sungguh.

"Aku lelah," katanya saat itu. Dia bercerita padaku tentang suaminya yang mulai bertingkah. Tentang pernikahan mereka yang sudah dalam tanda-tanda tidak dapat dipertahankan lagi. Hidupnya dihadapkan pada pilihan yang sulit. Melanjutkan hidup bersama orang yang tidak lagi dia cintai demi anak-anaknya, atau memilih pergi untuk mencari kebahagiaan dirinya. Egoiskah dia bila dia kemudian pergi meninggalkan semua masalah dibelakangnya?

Ada harapan besar padaku saat pertama kali kami bertemu. Harapan besar akan kebahagiaan hidupnya dan untuk tidak melepas tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Sekarang kebahagiaan yang kami rancang itu hilang lenyap menyisakan seribu sembilu pada hidup kami masing-masing. Begitu bodohnya aku. Begitu nistanya tangan yang telah dengan sengaja memeluk tubuh yang seharusnya tidak dijamahnya itu. Tubuh yang harusnya di jaganya dengan sepenuh hati, beserta seluruh jiwa raganya.

Disisi lain Gladis berkata sudah sepenuhnya memaafkan segala khilafku. "Setiap orang punya salah, punya nafsu, tapi juga harus punya fikiran dan hati yang jernih untuk memaafkan," ujarnya suatu hari. Semudah itukah? Setegar itukah? Wanita.... Mereka memang selalu sulit untuk dimengerti. Mereka tegar dan kuat dalam kelembutannya yang tiada tara. Mereka bisa memaafkan lebih dari apa yang bisa dilakukan lelaki. Mereka adalah mahluk paling misterius yang pernah Tuhan ciptakan.

"Mas...," suara Gladis membuyarkan lamunanku siang ini.

"Ya...."

"Bagaimana kabar Hest?" Hatiku mencelos mendengar pertanyaanya. Hest? Kenapa dia justru bertanya tentang wanita yang karenanya hatinya telah terluka?

"Bagaimanapun dia seorang wanita, mas. Dia rapuh dalam ketegarannya sekalipun. Carilah dia, mas. Selesaikan apa yang sudah mas mulai ini."

Aku menatapnya tanpa berkedip. Wanita! Sampai detik inipun aku belum bisa benar-benar memahami mereka ternyata.


sumber gambar dari sini :


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
READ MORE - Salahkah Kalau Aku Juga Selingkuh 2

Jumat, 25 Januari 2013

Who Are You, Master

Sudah berjam-jam aku duduk di pinggir jalan ini. Dua puluh meter dari kerumunan orang yang sedang asyik menonton sebuah pertunjukan jalanan. Apa yang istimewa dari pertunjukan kali ini? Entahlah, aku tak tahu pasti.

Pertunjukan jalanan seperti ini memang bukan hal yang tak biasa di negeri ini. Lumrah. Di musim seperti ini, dimana matahari bersinar cerah dengan sinarnya yang lembut, di sepanjang jalan di pusat kota ini berderet orang-orang dengan segala pertunjukannya. Banyak diantara mereka yang cuma diam berjam-jam dengan kostum yang membuatku berdecak kagum. Bayangkan, Berjam-jam! Aku heran ada orang yang mampu tidak mengubah posisinya selama itu. Apalah mereka tidak merasakan badan mereka pegal-pegal setelahnya? Aku lebih heran lagi ketika orang yang sama terlihat lagi keesokan harinya. Masih dengan kostum yang sama, dan kembali tidak bergerak selama berjam-jam.

Waktu kecil dulu, aku pernah ngotot pada ibu untuk didandani seperti orang yang aku temui di pinggir jalan suatu sore. Gagah sekali, dengan seluruh tubuh dicat warna coklat tanah, pedang buatan yang tampak sungguhan, dan dengan badan berotot besar hanya terbalut kain berwarna kuning emas di pinggannya. Tampak gagah sekali. Mengingatkanku pada karakter-karakter jagoan dari abad pertengahan yang sering aku lihat di tv. Ibu mengabulkan keinginanku dengan sarat aku harus sungguh-sungguh dan tidak boleh menangis. Aku sanggupi syarat yang ibu berikan dengan penuh pasti. Dengan bangga, aku berkoar bahwa aku bisa bertahan sehari penuh tanpa bergerak sekalipun. Hmmmm, apa yang kemudian terjadi? Belum satu jam kemudian aku pulang dengan tangis berderai menahan sakit di pinggangku. Selalu ada senyum tersungging di bibirku kalau aku ingat kejadian itu saat ini. 

Manusia tanah yang gagah berotot itu adalah kejadian yang tak bisa aku lupakan. Karakter pengamen jalanan pertama yang pernah aku kagumi. Aku masih menyimpan fotonya sampai sekarang. Fotonya berdua denganku.

Setelahnya, bertahun-tahun kemudian, aku masih bisa menyaksikan begitu banyak pertunjukan lain yang serupa. Semua indah. Penuh dengan karakter masing-masing, tapi tak satupun yang aku kagumi melebihi karakter manusia tanah itu. Apa bedanya? Sering kali aku berfikir keras tentang hal itu, tapi sampai sekarangpun aku tidak pernah menemukan jawabannya. Unik dan beda saja yang aku rasa tentang dia. Sayangnya, aku tak sempat bertanya siapa dia sebenarnya sebelum dia benar-benar pergi.

Sampai hari ini ketika tiba-tiba aku menemukan lagi satu pertunjukan yang mampu membuatku terpaku, aku masih belum tahu siapa manusia tanah itu sebenarnya. Pertunjukan kali ini bukan pertunjukan tunggal seperti pertunjukan manusia tanah itu. Mereka bertiga. Yang dilakukannyapun aku rasa bisa dilakukan oleh banyak orang yang lain, tapi yang ini berbeda. Ada hal yang unik yang tidak bisa aku jelaskan dari cara mereka membawakan pertunjukannya.

Satu yang hari ini berpakain putih tulang itu adalah seorang mc aku kira. Dia sibuk bicara saja dalam bahasa inggris yang fasih sejak tadi. Dari bentuk wajahnya dia pasti bukan orang lokal atau orang dari negara-negara dekat sini. Sekali pandang saja setiap orang akan langsung terbayang wajah-wajah orang asia. Asia jauh. Mungkin tenggara atau timur, entahlah. Dia enerjik, dengan mimik wajah yang selalu pas dengan suasana. Unik, enerjik.

Satu lagi seorang penari. Aku ragu dia lelaki atau wanita. Tubuhnya yang gemulai dengan gerakan yang halus, lembut, lalu berubah kasar dan beringas dengan seketika mengingatkan aku pada karakter tari tradisional dari bali. Aku pernah nonton tarian serupa di Youtube sewaktu aku mencari referensi liburan keluar negeri. Bali. Aku tahu nama itu, tapi aku tidak tahu dimana tempatnya. Negeri yang indah dengan ombak dan pantai yang mengagumkan, katanya. Tarian dan adat yang masih terjaga kelestariannya. Bali, warna tradisonal dengan nama yang mendunia. 

Ah..., penari itu! Dia mengingatkanku pada impian mendalamku untuk mengunjungi tanah para dewa. Hatiku semakin menggebu untuk menabung lebih banyak lagi uang untuk secepatnya bisa terbang ke sana. Bali!

Perlahan aku turun meninggalkan balkon tempat dimana sejak berjam-jam yang lalu aku menyaksikan atraksi mereka. Aku ingin menontonnya dari jarak yang lebih dekat. Rasanya ada detail-detail kecil dari sang penari yang aku lewatkan sejak tadi. Aku yakin pasti akan lebih mengagumkan kalau aku menyaksikannya dari dekat.

Benar saja, ketika aku duduk bersimpuh tepat di depan mereka, dugaanku itu benar. Bukan saja gerakan kasar-lembut-gemulai-rancak yang bisa memanjakan mataku, tapi gerakan jemari, leher, bahkan mata dari penari itu sungguh memikat. Baru kali ini dalam hidupku aku menyaksikan secara langsung mata yang bisa berputar dengan indah seperti itu.

Tak lama kemudian pertunjukan digantikan oleh satu anggota mereka yang lain. Satu orang yang berpakaian hitam dengan kepala plontos itu aku yakin adalah pesulap, magician. Bisa aku tahu langsung dari apa yang dia lakukan. Sama seperti yang seperti magician yang lain, pertunjukan trik sulapnya mengagumkan. Tapi yang ini beda. Dimana bedanya? Aku tak tahu. Ada satu daya tarik sendiri yang terpancar dari caranya membawakan trik-trik sulapnya. Caranya berinteraksi dengan penonton juga unik. Bagaimana bisa dijelaskan? Entahlah. Yang aku tahu, ini adalah kolaborasi pertunjukan yang 'beda'.
Begitu terpukaunya aku sampai-sampai aku aku tidak menyadari saat mc mereka mengumumkan kalau pertunjukan hari ini sudah usai. Aku sibuk dengan khayalanku sendiri bahwa aku adalah salah satu dari mereka, orang-orang unik yang mengagumkan itu. Betapa membahagiakan dan membanggakan rasanya bisa menjadi seperti mereka. Unik dengan cara mereka sendiri.

Mereka segera berkemas dengan cepat, dan mulai meninggalkan tempat pertunjukan mereka dengan menyeret tas besar tempat aksesoris pertunjukan mereka ditempatkan. Aku berlarian mengejar mereka sebelum sang magician benar-benar melangkahkan kakinya keatas bus yang akan membawa mereka entah kemana. Sang mc dan penari sudah lebih dulu masuk ke dalam bus.

"Hai, master..., who are you?" Aku berteriak sambil berlari mengejar bus yang sudah mulai menderu. Sang magician sempat menoleh kearahku. Dia tak menjawab, hanya tersenyum sebelum kemudian menghilang ditelan pintu bus. "What's your name....!!!?"

Aku melambatkan gerakan lariku dengan nafas yang terengah-engah. Sudah terlambat, pikirku. Mereka sudah pergi. Besok masihkah mereka akan kembali ke sini lagi? Ada harap dan putus asa yang merebak bersamaan di dadaku. Aku pasrah.

Aku terpaku di pinggir jalan. Berdiri sendiri menatap bus merah itu membawa mereka pergi. Siapa mereka? Mereka mengagumkan. Sungguh! Aku akan menyesal kalau aku sampai kehilangan jejak orang-orang hebat itu. Tapi kemana harus aku cari? Aku ingin bertanya lebih tentang Bali pada penari itu. Negeri para dewa. Aku ingin bertanya dari mana mc itu belajar berkomunikasi. Aku juga ingin tahu bagaimana magician itu membangun pesonanya.

Belum jauh bus merah itu melaju, sang magician menjulurkan kepalanya keluar jendela. Dengan senyumnya yang khas, dia menatapku lembut. Sedetik kemudian, dia melempatkan selembar kertas kearahku. Kertas itu melayang tersapu angin mendekat kepadaku. Detik berikutnya, hatiku terlonjak membaca apa yang tertulis di sana. 

"I'm Deddy Corbuzier, a magician."

Deddy Corbuzier. Aku tersenyum tanpa sadar. Semoga ini bisa menjadi pintu jalan bagiku untuk tahu siapa dua orang hebat yang lain itu. Who are you, master?


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
READ MORE - Who Are You, Master

Baca juga yang ini