Senin, 20 Oktober 2014

Nur

Aku mengingatnya dengan tertegun. Dia...

Banyak orang yang hadir dalam hidupku datang dan pergi begitu saja. Sebagian meninggalkan bekas yang mendalam. Sebagian lagi meninggalkan jejak yang samar samar untuk diingat. Sementara sebagian yang lain meninggalkanku tanpa bisa aku ingat lagi tentang mereka. Mereka hanyalah sebaris bayangan semu yang pernah hadir dalam hidupku. Tak lebih.

Tapi dia...

Dia ini siapa? Aku bahkan ingin melupakannya. Menganggapnya hanya sebagai kepingan tak diinginkan dari masa laluku. Kalau aku pernah mengaguminya, itu hanya sebatas fisiknya saja. Tak pernah lebih dan aku berharap tak pernah ada selain itu.

***

"Nur," sapanya. Delapan tahun yang lalu, dan aku tersenyum. 

Aku bunga saat itu. Aku bunga yang ingin dipetik setiap kumbang yang lewat. Dan dia, sama saja. Berbaik padaku cuma untuk mendapatkan kecantikan ini. Kemolekan ini. Tapi maaf, walau dia sebenarnya menarik, aku bukan untuknya.

"Dia kere..." bisikku pada mbak Rus. "Mau makan apa aku sama dia?"

"Makan nasilah, masak makan cinta aja..." jawab  mbak Rus dan tawa kamipun pecah. "Dia lho tadi sempat ngobrol sama kau Nur." Imbuh mbak Rus.

"Bicarain aku?"

"Ya ialah, apa lagi?"

"Wedew... Apa katanya mbak?"

"Dia bilang kalau dia suka kamu itu bukan cuma karena kamu itu cantik Nur." 

"Wah..., Dia bilang begitu mbak? Dia bilang suka sama aku katanya?"

"Ya..., Sumpah Nur dia bilang begitu."

"Terus... Terus?"

"Katanya dia suka kamu itu karena kamu juga rajin ibadahnya. Rajin simpen uangnya. Urusan wajah kamu, itu nomor sekiannya."

"Hmmm.... gitu ya mbak. Tapi ogah ah. Aku mau cari yang kaya aja. Bosen aku mbak hidup kere gini."

***

Air mataku meleleh mengenang delapan tahun yang lalu itu. Aku tahu sekarang senja sudah turun, dan aku di sini sendiri dalam kesendirianku. Aku yang sekarang bukanlah aku yang delapan tahun yang lalu. Aku yang sekarang bukanlah bunga seperti dulu lagi. Sekarang aku hanyalah sampah. Sampah yang bahkan orang terdekatku dulupun tak mau lagi mengenalku.

Kututup telingaku rapat-rapat terkadang. Teriakan-teriakan penghinaan itu, pengusiran itu, terkadang masih saja terdengar menggema di telinga ini saat aku sendiri begini. Sekarang aku hanya bisa menangis. Mengutuki segalanya.

"Nur." Untuk sekali lagi suara itu memanggil namaku sore ini. Masih dengan cara yang sama. Dengan nada yang sama, Tapi dengan irama yang lebih berat. Irama yang menandakan kemapanan dan kedewasaaannya.

Aku tak berani memandangnya. Aku hanya bisa menundukkan mata di tempat pembaringan ini.

"Sudah diminum obatnya?" tanyanya. Dan aku hanya bisa menggeleng.

"Kenapa?" cecarnya. Aku menjawabnya dengan diam dan sedikit air mata yang menetes.

"Jangan diam saja Nur. Bicaralah. Aku harus menghubungi siapa? Suamimu? Beri aku nama dan alamatnya biar aku bisa menghubunginya."

Aku kembali menggeleng. Suami? Siapa yang mau beristrikan orang seperti aku? yang menjual tubuhnya demi sekerat emas dan sebotol minuman setiap malam? Mereka bahkan meludah di tubuhku!

"Nur," dia menggenggam tanganku. Aku beringsut menarik tanganku dari genggamannya.

"Maaf dok," lirihku. "Saya pasien anda. Anda tidak berhak kurang ajar pada saya."

"Maaf Nur. Aku hanya ingin menolongmmu. Maaf juga kalau selama ini aku selalu mencari tahu tentangmu. Aku, maaf... aku tahu jalan hidupmu..."

Hatiku tertohok begitu kerasnya. Ngilu terasa dengan sangat. Itu aib yang tak ingin aku ceritakan pada siapapun. Aib yang ingin aku bawa pergi sendiri.

"Aku juga tahu kamu masih sendiri. Aku tahu kamu tak bersuami."

"Kalau begitu kenapa dokter tanyakan dimana suami saya?"

"Maaf..." lirih suaranya terdengar. "Aku tak seharusnya berkata seperti itu."

Sunyi kemudian menggantung, beberapa saat. Memberi kesempatan kepada kami untuk saling bermain dengan pikiran masing-masing. Aku dengan pikiranku yang terasa sakit dan dia dengan entah apa yang dia pikirkan.

"Nur, maukah kamu menjadi istriku?"

Kalimat itu sederhana. Telah aku dengar dari ribuan mulut yang berbeda. Kalimat yang dulu aku jawab dengan candaan, bahkan hinaan. Sekarang, di ruang rumah sakit yang serba putih ini, dalam keadaan terbaring hina seperti ini, baru kali ini kalimat itu terdengar seperti bom yang meledak di telingaku. Sakit sampai ke ulu hati.

"Jangan permainkan saya dok." jawabku. Sekali ini aku tatap matanya. Mata bening yang masih sama seperti dulu.

"Aku tidak sedang mempermainkanmu Nur. Aku jujur dan aku ingin memperistrimu. Aku tahu masa lalumu, aku tahu kehidupanmu...

"Dan aku akan hidup tak lama lagi dok!"

"Maka itu biarkan aku membahagiakanmu disisa hidupmu itu. Rasa ini adalah rasa yang aku pendam delapan tahun Nur. Tidak pernah berubah. Itu mengapa aku membujang. Nur, jadilah istriku. Aku ingin mengangkat namamu. Aku tak ingin kamu mati sebagai pelacur kelas kakap, aku ingin kamu meninggalkan dunia ini dengan menyandang namaku di dalam namamu. Sebagai wanita terhormat yang bersuami orang baik-baik. Seperti namamu, Nur yang berarti cahaya. Aku ingin kamu tetap becahaya seperti Nur yang dulu aku kenal."

Aku sekali lagi membuang muka, entah jawaban apa yang harus aku katakan.





READ MORE - Nur

Minggu, 07 Juli 2013

Andai Dia Masih di Bawah Lembayung Senja Ini





Dulu, kakek dan nenekmu waktu masih muda, kami sering duduk-duduk di sini, di tepi pantai ini, Man. Nenekmu itu, suka sekali memandangi langit yang berwarna lembayung. Ya, ya ya… lembayung senja, Man. Indah dan mesrah sekali. Kakek gak akan pernah lupa saat-saat itu. Andai saja nenekmu masih ada di sini, Man, sore inipun bisa menjadi satu lagi sore kami di bawah lembayung senja


READ MORE - Andai Dia Masih di Bawah Lembayung Senja Ini

Jumat, 01 Februari 2013

Salahkah Kalau Aku Juga Selingkuh 2



(Bagian sebelumnya bisa dibaca di sini)


Detak jantungku berpacu kencang seiring ketukan sepatu Hest di lantai hotel menuju lift. Keringat dingin mulai menjalari sekujur tubuhku. Perutku sekarang terasa begitu melilit. Semua seakan serba salah. Aku harus apa? Putar badan dan pulang? Atau lanjut terus dan menodai pernikahanku sendiri?

Aku seperti tidak dalam diriku malam ini. Setan apa ini yang begitu kuat mencengkram jantungku dan membutakan otakku? Aku benar-benar seperti sapi yang sudah di cocok hidungnya. Tanpa daya! Kemanapun majikannya pergi, kesanalah aku melangkah.

Bahkan koridor hotel ini terasa begitu panjang. Lift yang membawa kami naik dua lantaipun serasa teror waktu yang menggelayuti pikiranku. Nadiku mendidih begitu pintu kamar terbuka. Haruskah aku masuk?

"Kenapa bengong di sana?" Suara Hest membuyarkan lamunanku. Aku melempar senyum sambil mengedikkan bahuku.

***

"Aku lelah sekali," Hest mendesah seraya menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Matanya terpejam, berusaha dipejamkan tepatnya.

Aku melangkah ke arah kursi beberapa meter dari ranjang king size itu. Pergolakan dalam hatiku ini masih terus saja berlanjut. Rasa bersalah dan hasrat kelaki-lakianku kini sampai pada puncak pergulatannya. Lelaki mana yang tidak akan tergerak melihat seorang yang selama ini diidam-idamkan tergeletak pasrah di depannya. Setiap lelaki normal akan bergejolak dadanya. Begitupun aku!

Aku berdiri mematung memandang apa yang ada di depanku. Selangkah aku melangkah maju kearah kearah Hest yang terlihat begitu lelap. Aku tahu dia belum tertidur sepenuhnya, tapi rasa lelah yang menderanya, memaksanya untuk sejenak mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Saat kakiku akan membuat langkah yang kedua, ada satu warning halus namun tegas di kepalaku. Sekali lagi, wajah setia istriku melintas sekilas di pelupuk mata.

Aku melangkah mundur dengan limbung. Saat kakiku serasa tidak lagi mampu menyanggah beban tubuhku, aku jatuh terhempas kebelakang, tepat pada kursi kayu bergaya abad pertengahan yang lembut itu. Sekali lagi aku merasakan kebuntuan. Aku mendesah, kali ini aku ingin benar-benar berteriak. Kupejamkan mataku, kutekan kuat keningku, sedapat mungkin kuhempaskan segala rasa ini.

"Kamu kenapa?" Suara lembut Hest membuyarkan lamunanku. Aku tergagap dibuatnya.

"Ah..., ti..., tidak. Aku, aku baik baik saja."

"Aku ingin memejamkan mataku sebentar. Kamu bisa menunggu bukan?"

"Ok, gak masalah," kegugupan yang menderaku tak bisa aku sembunyikan dari nada bicaraku. Hest pasti bisa merasakan apa yang terjadi padaku saat ini, ataukah dia sudah salah mengartikan keresahan ini dengan gejolak hasrat yang terlarang? Dia melempar senyum dari bibir merah ranumnya kearahku. Hatiku berdesir sakit, sekali lagi. "Kalau begitu, aku mau mandi dulu. Tidurlah."

"Bangunkan aku satu jam lagi ya."

"Ya...."

***

Satu jam sudah berlalu ketika ketukan lembut di pintu terdengar. Nasi goreng pesananku tadi sudah datang rupanya.

Seorang petugas hotel berpakaian seragam krem tersenyum lembut ketika pintu kubukakan. "Selamat malam, pak," sapanya beramah tamah.

"Selamat malam."

"Nasi goreng pesanan bapak."

"Oh, silahkan. Terimakasih ya."

"Mau diletakkan dimana pak?"

"Di atas meja saja."

"Boleh saya masuk kalau begitu, pak?"

"Silahkan...."

Petugas hotel itu bergegas masuk, meletakkan sepiring nasi goreng dan jus jeruk diatas meja, lalu melangkah keluar kamar. Dengan ramah, dia berpamitan sebelum keluar dari kamar.

"Tolong tutup pintunya lagi ya," seruku sebelum dia benar-benar keluar dari kamar.

Petugas hotel itu membalikkan badannya tepat diambang pintu. Tangan kanannya meraih anak kunci manual yang tadi aku tinggalkan tergantung di pintu, lalu menggenggamnya erat-erat. "Pak, maaf, ada seseorang yang ingin bertemu bapak."

Keningku berkerut. "Tamu?" Tanyaku bingung.

"Ya, pak."

Siapa yang ingin bertemu denganku malam-malam begini? Di sebuah hotel? Rasanya tidak ada seorangpun yang tahu kalau malam ini aku bermalam di sini bersama Hest.

"Siapa?"

Pintu kamar perlahan terbuka melebar sebelum pertanyaanku dijawab dan rasa heranku belum juga pergi sedikitpun. Sesaat kemudian, masuk sesosok wanita berpakaian serba hitam ke dalam kamar ini.

"Selamat malam," sapa tamu tengah malam itu lembut. Tatapannyapun lembut menatap kedua mataku. Senyumnya merekah dari bibir merah ranumnya, tapi rona kesedihan yang menggelayuti wajah cantiknya tidak bisa dia sembunyikan.

Tamu tengah malam itu memang cantik. Dia menawan dengan gaya berjalannya yang sangat aku kenal. Rambut hitamnya yang panjang terurai dan cincin ditangannya itu, adalah rambut dan cincin yang setiap hari aku lihat di rumah. Aku hafal betul bagaimana sejarah rambut hitam itu memanjang dengan perlahan dari pangkalnya yang kokoh. Begitupun dengan cincin itu. Aku masih ingat betul bagaimana cincin itu bisa dia dapatkan. Cincin pernikahan yang mahal harganya. Bahkan bagaimana perasaan dan debaran jantung dari lelaki yang menyematkannyapun aku tahu, masih aku ingat sampai sekarang. Aku tahu semua itu, hafal setiap detik sejarahnya, karena akulah lelaki yang menyematkannya di sana. Aku adalah suaminya, ayah dari anak-anaknya!

"Gladis...?"

"Bagaimana pesta malam ini sayang?" Tanyanya seraya mendekat kearahku. "Menyenangkan?"

Aku tak tahu harus berkata apa. Aku cuma berdiri mematung di tempatku. Aku serasa buntu, tak bisa berfikir, bahkan bergerak kecil sekalipun. Tubuhku serasa di strum listrik ribuan volt saat jemari istriku menyentuh lembut dadaku.

Di tempat tidur Hest menggeliat. Aku reflek menoleh padanya. Aku berharap Hest tidak membuka matanya sebelum aku bisa menyelesaikan masalahku dengan istriku. Aku berharap dengan sangat, tapi kenyataan berkata lain. Hest membuka mata indahnya perlahan, dan saat matanya terbuka sempurna, bayanganku dan istrikulah yang pertama kali jatuh di retina matanya.

Hest bangun dengan terburu buru. "Si, siapa dia?" Tanya Hest setengah menjerit.

"Halo, mbak." Gladis sudah melangkah mendekati Hest sebelum aku sempat menyadarinya. Gladis mengulurkan tangannya kearah Hest. Mengajaknya bersalaman. "Aku Gladis, istri mas Kems. Nama mbak siapa?"

"Istri?" Hest nanar mendesis. "Istri...?" Tanyanya lagi, semakin histeris. Matanya tajam menatap mataku. Ada bara api membara di sana. Siap membakar apapun yang dia pandang.

Hest menjelma singa betina yanng terluka kulitnya. Diraihnya tas coklat yang dia bawa tadi dari atas ranjang. Hest kemudian bergegas bangkit. Dengan nafasnya yang memburu akibat kemarahan yang memuncak, di tunjuknya wajahku dengan tangan kirinya. "Teganya kau....!!!" Hest meraung.

"B*@?#'...!!!" Hets mengumpatiku. Tanpa aba-aba, Hest berhambur ke arah pintu, tapi pintu dengan cepat menutup. Petugas hotel berseragam coklat itu menjegal langkah Hest. Dikuncinya pintu itu sebelum Hest bisa meraih pegangannya. Hest berhenti saat menabrak tubuh petugas hotel itu. Hest sekali lagi meraung.

"Buka pintu itu...!!!" Hest meraung di depan wajah si petugas hotel. Bukannya menyerahkan kunci pintu pada Hest, si petugas hotel justru mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar Hest tidak bisa meraihnya. Bersamaan dengan itu, si petugas hotel membuka wig yang dia kenakan. Wig itu memang sedikit aneh menurutku sejak awal aku melihatnya tadi. Wig dengan bentuk poni panjang itu menutupi seluruh dahi si petugas hotel sampai hampir menutupi matanya juga.

Begitu wig itu terbuka, giliran akulah yang kembali terperanjat. "Rania...??!!" Seruku. Suaraku hanya berupa desis. Tertahan di tenggorokanku. Rania, dia adalah kisah cintaku yang lain sebelum aku menikahi Gladis. Belakangan aku baru tahu kalau dulunya Rania adalah sahabat karib Gladis. Aku tak pernah menyangka kalau malam ini akan berakhir sedemikian dramatisnya.

"Kau kenal dia juga?" Hest kembali meraung. "Kau memang benar-benar ba*#@¤#...!!!" Hest mengumpat kearahku. "Berikan kunci itu! Berikan!! Aku muak, aku mau pergi...!!!" Hest berusaha merebut kunci dari tangan Rania. Usaha Hest sia-sia. Rania lebih tinggi dari Hest. Dia mulai brutal. Hest mulai menendang dan mendorong Rania. Sesaat kemudian, mereka mulai bergelut.

Aku berhambur kearah mereka. Kupeluk tubuh Hest dari belakang untuk memisahkannya dari Rania. Diakhir usahaku, tubuh kami terpental kebelakang. Hest jatuh terjelebab dalam pelukanku, tapi dia masih terus berusaha memberontak. Hest meronta dan terus berteriak. Dia baru berhenti saat dia menyadari kalau usahanya sia-sia saja.

Malam itu semua kecamuk berakhir di sana. Hest tertunduk lemah dalam pelukanku. Gladis menangis sesenggukan di kursi bergaya abad pertengahan tadi, sedangkan Rania terlihat kuyu bersandar pada tembok di dekat pintu.

Aku?

Jangan lagi tanya bagaimana aku. Malam itu, aku seperti seonggok daging tanpa jiwa. Mati disaat aku masih bernafas!

***

Hembusan angin siang yang terik ini terasa begitu menyiksa kulitku. Panas dan perih menyentuh setiap pori-pori tubuhku yang terisi berabad kepedihan. Aku akhirnya takluk pada kenyataan. Seluruh kebanggaan akan keperkasaan sebagai seorang lelaki sekarang sudah luruh. Tunduk takluk di depan kelembutan hati seorang wanita.

Setelah malam itu, aku tidak pernah lagi menghubungi Hest. Hest menghilang begitu saja dari hidupku. Begitu menyiksa sebenarnya hari-hari yang aku lalui setelahnya. Bayangan kebahagiaan bertemu dengan seorang pujaan hati di masa lalu melebur dalam kubangan penyesalan yang tiada tara. Apakah aku pengecut karena tidak bernyali menghadapi Hest setelah semua sakit yang aku tancapkan kehatinya lagi ini? Aku tak berani membela diri.

Hest....

Hari ini aku mengenangnya lagi. Hampir utuh semua kisahku bersamanya. Sejak awal aku menatapnya untuk pertama kali, kemudian harapan yang kami bangun sampai pada rasa sakit tentang perpisahan kami. Semuanya! Semua rasa itu saat ini bertemu pada suatu siang yang terik. Aku mendesah. Air mataku menetes, menyesal. Pelukan terakhirku untuknya di kamar hotel itu menyisakan seribu jarum yang menancap di relung-relung dadaku.

Aku sebenarnya ingin membantunya keluar dari semua derita pada awalnya. Derita yang dia ceritakan dalam rintikan air mata di wajah sendunya, tapi tanpa sadar aku sudah menikamnya dengan kejam. Melumpuhkannya sampai tak berdaya sungguh.

"Aku lelah," katanya saat itu. Dia bercerita padaku tentang suaminya yang mulai bertingkah. Tentang pernikahan mereka yang sudah dalam tanda-tanda tidak dapat dipertahankan lagi. Hidupnya dihadapkan pada pilihan yang sulit. Melanjutkan hidup bersama orang yang tidak lagi dia cintai demi anak-anaknya, atau memilih pergi untuk mencari kebahagiaan dirinya. Egoiskah dia bila dia kemudian pergi meninggalkan semua masalah dibelakangnya?

Ada harapan besar padaku saat pertama kali kami bertemu. Harapan besar akan kebahagiaan hidupnya dan untuk tidak melepas tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Sekarang kebahagiaan yang kami rancang itu hilang lenyap menyisakan seribu sembilu pada hidup kami masing-masing. Begitu bodohnya aku. Begitu nistanya tangan yang telah dengan sengaja memeluk tubuh yang seharusnya tidak dijamahnya itu. Tubuh yang harusnya di jaganya dengan sepenuh hati, beserta seluruh jiwa raganya.

Disisi lain Gladis berkata sudah sepenuhnya memaafkan segala khilafku. "Setiap orang punya salah, punya nafsu, tapi juga harus punya fikiran dan hati yang jernih untuk memaafkan," ujarnya suatu hari. Semudah itukah? Setegar itukah? Wanita.... Mereka memang selalu sulit untuk dimengerti. Mereka tegar dan kuat dalam kelembutannya yang tiada tara. Mereka bisa memaafkan lebih dari apa yang bisa dilakukan lelaki. Mereka adalah mahluk paling misterius yang pernah Tuhan ciptakan.

"Mas...," suara Gladis membuyarkan lamunanku siang ini.

"Ya...."

"Bagaimana kabar Hest?" Hatiku mencelos mendengar pertanyaanya. Hest? Kenapa dia justru bertanya tentang wanita yang karenanya hatinya telah terluka?

"Bagaimanapun dia seorang wanita, mas. Dia rapuh dalam ketegarannya sekalipun. Carilah dia, mas. Selesaikan apa yang sudah mas mulai ini."

Aku menatapnya tanpa berkedip. Wanita! Sampai detik inipun aku belum bisa benar-benar memahami mereka ternyata.


sumber gambar dari sini :


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
READ MORE - Salahkah Kalau Aku Juga Selingkuh 2

Jumat, 25 Januari 2013

Who Are You, Master

Sudah berjam-jam aku duduk di pinggir jalan ini. Dua puluh meter dari kerumunan orang yang sedang asyik menonton sebuah pertunjukan jalanan. Apa yang istimewa dari pertunjukan kali ini? Entahlah, aku tak tahu pasti.

Pertunjukan jalanan seperti ini memang bukan hal yang tak biasa di negeri ini. Lumrah. Di musim seperti ini, dimana matahari bersinar cerah dengan sinarnya yang lembut, di sepanjang jalan di pusat kota ini berderet orang-orang dengan segala pertunjukannya. Banyak diantara mereka yang cuma diam berjam-jam dengan kostum yang membuatku berdecak kagum. Bayangkan, Berjam-jam! Aku heran ada orang yang mampu tidak mengubah posisinya selama itu. Apalah mereka tidak merasakan badan mereka pegal-pegal setelahnya? Aku lebih heran lagi ketika orang yang sama terlihat lagi keesokan harinya. Masih dengan kostum yang sama, dan kembali tidak bergerak selama berjam-jam.

Waktu kecil dulu, aku pernah ngotot pada ibu untuk didandani seperti orang yang aku temui di pinggir jalan suatu sore. Gagah sekali, dengan seluruh tubuh dicat warna coklat tanah, pedang buatan yang tampak sungguhan, dan dengan badan berotot besar hanya terbalut kain berwarna kuning emas di pinggannya. Tampak gagah sekali. Mengingatkanku pada karakter-karakter jagoan dari abad pertengahan yang sering aku lihat di tv. Ibu mengabulkan keinginanku dengan sarat aku harus sungguh-sungguh dan tidak boleh menangis. Aku sanggupi syarat yang ibu berikan dengan penuh pasti. Dengan bangga, aku berkoar bahwa aku bisa bertahan sehari penuh tanpa bergerak sekalipun. Hmmmm, apa yang kemudian terjadi? Belum satu jam kemudian aku pulang dengan tangis berderai menahan sakit di pinggangku. Selalu ada senyum tersungging di bibirku kalau aku ingat kejadian itu saat ini. 

Manusia tanah yang gagah berotot itu adalah kejadian yang tak bisa aku lupakan. Karakter pengamen jalanan pertama yang pernah aku kagumi. Aku masih menyimpan fotonya sampai sekarang. Fotonya berdua denganku.

Setelahnya, bertahun-tahun kemudian, aku masih bisa menyaksikan begitu banyak pertunjukan lain yang serupa. Semua indah. Penuh dengan karakter masing-masing, tapi tak satupun yang aku kagumi melebihi karakter manusia tanah itu. Apa bedanya? Sering kali aku berfikir keras tentang hal itu, tapi sampai sekarangpun aku tidak pernah menemukan jawabannya. Unik dan beda saja yang aku rasa tentang dia. Sayangnya, aku tak sempat bertanya siapa dia sebenarnya sebelum dia benar-benar pergi.

Sampai hari ini ketika tiba-tiba aku menemukan lagi satu pertunjukan yang mampu membuatku terpaku, aku masih belum tahu siapa manusia tanah itu sebenarnya. Pertunjukan kali ini bukan pertunjukan tunggal seperti pertunjukan manusia tanah itu. Mereka bertiga. Yang dilakukannyapun aku rasa bisa dilakukan oleh banyak orang yang lain, tapi yang ini berbeda. Ada hal yang unik yang tidak bisa aku jelaskan dari cara mereka membawakan pertunjukannya.

Satu yang hari ini berpakain putih tulang itu adalah seorang mc aku kira. Dia sibuk bicara saja dalam bahasa inggris yang fasih sejak tadi. Dari bentuk wajahnya dia pasti bukan orang lokal atau orang dari negara-negara dekat sini. Sekali pandang saja setiap orang akan langsung terbayang wajah-wajah orang asia. Asia jauh. Mungkin tenggara atau timur, entahlah. Dia enerjik, dengan mimik wajah yang selalu pas dengan suasana. Unik, enerjik.

Satu lagi seorang penari. Aku ragu dia lelaki atau wanita. Tubuhnya yang gemulai dengan gerakan yang halus, lembut, lalu berubah kasar dan beringas dengan seketika mengingatkan aku pada karakter tari tradisional dari bali. Aku pernah nonton tarian serupa di Youtube sewaktu aku mencari referensi liburan keluar negeri. Bali. Aku tahu nama itu, tapi aku tidak tahu dimana tempatnya. Negeri yang indah dengan ombak dan pantai yang mengagumkan, katanya. Tarian dan adat yang masih terjaga kelestariannya. Bali, warna tradisonal dengan nama yang mendunia. 

Ah..., penari itu! Dia mengingatkanku pada impian mendalamku untuk mengunjungi tanah para dewa. Hatiku semakin menggebu untuk menabung lebih banyak lagi uang untuk secepatnya bisa terbang ke sana. Bali!

Perlahan aku turun meninggalkan balkon tempat dimana sejak berjam-jam yang lalu aku menyaksikan atraksi mereka. Aku ingin menontonnya dari jarak yang lebih dekat. Rasanya ada detail-detail kecil dari sang penari yang aku lewatkan sejak tadi. Aku yakin pasti akan lebih mengagumkan kalau aku menyaksikannya dari dekat.

Benar saja, ketika aku duduk bersimpuh tepat di depan mereka, dugaanku itu benar. Bukan saja gerakan kasar-lembut-gemulai-rancak yang bisa memanjakan mataku, tapi gerakan jemari, leher, bahkan mata dari penari itu sungguh memikat. Baru kali ini dalam hidupku aku menyaksikan secara langsung mata yang bisa berputar dengan indah seperti itu.

Tak lama kemudian pertunjukan digantikan oleh satu anggota mereka yang lain. Satu orang yang berpakaian hitam dengan kepala plontos itu aku yakin adalah pesulap, magician. Bisa aku tahu langsung dari apa yang dia lakukan. Sama seperti yang seperti magician yang lain, pertunjukan trik sulapnya mengagumkan. Tapi yang ini beda. Dimana bedanya? Aku tak tahu. Ada satu daya tarik sendiri yang terpancar dari caranya membawakan trik-trik sulapnya. Caranya berinteraksi dengan penonton juga unik. Bagaimana bisa dijelaskan? Entahlah. Yang aku tahu, ini adalah kolaborasi pertunjukan yang 'beda'.
Begitu terpukaunya aku sampai-sampai aku aku tidak menyadari saat mc mereka mengumumkan kalau pertunjukan hari ini sudah usai. Aku sibuk dengan khayalanku sendiri bahwa aku adalah salah satu dari mereka, orang-orang unik yang mengagumkan itu. Betapa membahagiakan dan membanggakan rasanya bisa menjadi seperti mereka. Unik dengan cara mereka sendiri.

Mereka segera berkemas dengan cepat, dan mulai meninggalkan tempat pertunjukan mereka dengan menyeret tas besar tempat aksesoris pertunjukan mereka ditempatkan. Aku berlarian mengejar mereka sebelum sang magician benar-benar melangkahkan kakinya keatas bus yang akan membawa mereka entah kemana. Sang mc dan penari sudah lebih dulu masuk ke dalam bus.

"Hai, master..., who are you?" Aku berteriak sambil berlari mengejar bus yang sudah mulai menderu. Sang magician sempat menoleh kearahku. Dia tak menjawab, hanya tersenyum sebelum kemudian menghilang ditelan pintu bus. "What's your name....!!!?"

Aku melambatkan gerakan lariku dengan nafas yang terengah-engah. Sudah terlambat, pikirku. Mereka sudah pergi. Besok masihkah mereka akan kembali ke sini lagi? Ada harap dan putus asa yang merebak bersamaan di dadaku. Aku pasrah.

Aku terpaku di pinggir jalan. Berdiri sendiri menatap bus merah itu membawa mereka pergi. Siapa mereka? Mereka mengagumkan. Sungguh! Aku akan menyesal kalau aku sampai kehilangan jejak orang-orang hebat itu. Tapi kemana harus aku cari? Aku ingin bertanya lebih tentang Bali pada penari itu. Negeri para dewa. Aku ingin bertanya dari mana mc itu belajar berkomunikasi. Aku juga ingin tahu bagaimana magician itu membangun pesonanya.

Belum jauh bus merah itu melaju, sang magician menjulurkan kepalanya keluar jendela. Dengan senyumnya yang khas, dia menatapku lembut. Sedetik kemudian, dia melempatkan selembar kertas kearahku. Kertas itu melayang tersapu angin mendekat kepadaku. Detik berikutnya, hatiku terlonjak membaca apa yang tertulis di sana. 

"I'm Deddy Corbuzier, a magician."

Deddy Corbuzier. Aku tersenyum tanpa sadar. Semoga ini bisa menjadi pintu jalan bagiku untuk tahu siapa dua orang hebat yang lain itu. Who are you, master?


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
READ MORE - Who Are You, Master

Minggu, 11 November 2012

Marlin Konyol


Hari ini untuk pertama kalinya Marlin datang ke sekolah dengan seragam barunya. Seragam lama yang sudah tiga tahun tidak pernah di ganti, sekarang sudah resmi menjadi penghuni tetap lemari bajunya yang sudah tua itu, menunggu kesempatan untuk bisa dilihkan hak kepemilikannya kepada yang lebih membutuhkan. Yah, karena begitulah, Marlin adalah anak yang memang rajin, suka menabung, suka berbagi dan tidak sombong (kalau yang ini sih, versi Marlin sendiri tentang dirinya sendiri, entah bagaimana versi mak terhadap anaknya yang satu ini).

Marlin sekarang bukan anak sekolah berseragam putih-biru lagi. Hari ini seragam sekolahnya sudah berganti dengan seragam putih-abu-abu. Sekolahnya juga sudah ganti, bukan lagi dijalan dekat balai RW itu, tapi sekarang sekolahnya jauh di pusat kota sana. Wah, gaya ya si Marlin sekarang. Tiap hari dia harus naik bus ke sekolahnya. Pak Ajang sopir becak langganannya kemarin sudah di-PHK dengan cara seksama yang mengharu biru, berlinang air mata dan kata-kata perpisahan yang pahit #lebay.

Bus yang ditumpangi Marlin berhenti tepat di halte depan sekolahnya yang baru. Dada Marlin berdebar-debar. Sejauh mata memandang, tidak ada satupun siswa yang dia kenal di sekolah ini. Setidaknya, masih belum ada. Marlin berjalan mengendap-endap sambil tolah toleh ke kanan dan kekiri masuk ke dalam sekolah. Mengamati hampir setiap wajah yang dia temui pagi itu. Kabarnya, sekolah ini adalah sekolah favorit yang isinya anak anak orang kaya semua. Kabarnya juga, cowok-cowok di sekolah ini ganteng-ganteng. Tapi kok, Marlin dari tadi tidak melihat seorang cowokpun melintas di depannya ya? Marlin mulai bingung dan ragu-ragu. Ini yang salah memang keadaan di depannya atau…. Marlin sejenak menghentikan langkahnya, membuka kaca mata minusnya, lalu mengucek-ngucek matanya. Ketika matanya perlahan lahan di buka, Marlin hampir pinsan rasanya. Jantungnya seakan berhenti berdegup.

“Selamat pagi ….” Sapaan itu tepat terlontar di depan hidungnya. Marlin hanya bisa menganngguk kaku, dengan mata yang membengkak dan mulut yang berbetuk huruf ‘O’ sempurna. Dalam keremangan mata minusnya, mata Marlin menangkap seraut wajah yang nonjok di hatinya. Cowok di depannya itu, yang baru saja menyapanya dengan lembut, aduhai, ganteng banget sepertinya. Perlahan lahan Marlin memasang kaca matanya lagi. Lalu, setelah keremangan itu berakhir dan terbitlah kejelasan, mendadak Marlin merasa oleng, dunia berputar-putar, dan terakhir dia pingsan dengan suksesnya.

***

Marlin mengejap-gejapkan matanya. Cahaya putih dari lampu diatasnya membuat mata Marlin silau. Marlin berusaha bangkit dari tidurnya, mencari cari kaca matanya sambil mengamati keadaan sekelilingnya. Kalau menurut pengamatan Marlin. Ruang ini mungkin saja ruang UKS.

Seorang cowok datang menghampiri Marlin yang sedang duduk kebingungan di tepi ranjang. Cowok itu, bukankah itu cowok yang tadi menyapanya dengan suara lembut? Sekarang Marlin bisa memperhatikan sosoknya dengan lebih jelas. Cowok di depannya itu ganteng sekali. Wajahnya, kulitnya, oh, Marlin bergidik. Baru kali ini rasanya dia melihat cowok ganteng jelas di depan matanya. Biasanya dia hanya bisa melihat cowok ganteng dari siaran tv saja. Cowok cowok di kampungya mana ada yang seperti ini tampilanya?

“Sudah baikan?” tanyanya. Masih dengan suara surgawinya. Marlin hanya bisa memberikan anggukan kecil sebagai jawabannya.

“Tadi kenapa?” cowok itu bertanya lagi.

“Tadi aku pingsan ya?” tanya Marlin polos.

“Ya, tadi saya yang bawa kamu kesini.”

“Kamu?”

“Ya.”

“Pakai apa?”

“Aku gendong….”

Hah? Mendengar itu Marlin pingsan lagi. Oh tidak , tidak itu salah. Marlin tidak pingsan lagi, dia hanya merasakan jantungnya berdebar lebih kencang seperti genderang mau peran (itu lagu bukan?). Tadi dia di gendong cowok keren itu ke dalam UKS ini? Waduh, mengapa dia tidak menggendong dirinya saat sadar saja ya? Kenapa mesti saat pingsan? Marlin memukul mukul kepalanya. Sudahlah Marlin, itu impian yang terlalu untuk seorang Upik Abu.

“Ma, makasih ….” Akhirnya kata kta itu yang keluar dari mulut Marlin.

“Sama sama. Tadi kenapa bisa pingsan?”

Marlin ingin berkata kalau tadi dia pingsan gara gara tadi dia ketemu sama cowok itu pagi pagi. Marlin juga ingin bilang kalau cowok di depannya itu ganteng banget. Ah, pasti dia sudah tau kalau dirinya ganteng. Marlin ingin bilang kalau dia begitu terpesona padanya saat pandangan pertama. Hmmm, semua cewek normal juga sepertinya akan terpesona pada sosoknya. Marlin ingin bilang kalau suaranya itu seperti suara surgawi, berharap dia akan terkesan dan menyatakan cintanya pada Marlin saat itu juga. Marlin, pils deh ….

Marlin ingin mengatakan itu semua dan berharap ada keajaiban di pagi ini. Tapi jangankan deretan kata panjang yang sudah di persiapkannya itu yang keluar dari mulutnya, yang terjadi kemudian adalah perutnya yang mulai bernyanyi lagi.

“Aku, aku lapar….” Desisnya kemudian.

“Tadi belum sarapan?”

“Gak sempat sarapan, tadi aku bangun kesiangan lagi.”

“Kalua begitu, saya ambilkan makanan dulu di kantin ya.”

“Apa tidak merepotkan?”

“Gak kok. Kamu tunggu di sini dulu ya.”

Marlin mengangguk senang. Cowok itu kemudian berlalu kearah pintu UKS, hendak keluar. Tapi sebelum benar benar keluar, Marlin memanggilnya.

“Hai, bisa aku pesan sesuatu?”

“Ya?” cowok itu berpaling kearah Malin.

“Kalau tidak merepotkan dan ada uang, bisakah aku pagi ini makan dengan lauk rendang dan ayam goreng? Sambelnya jangan terllau pedes ya, aku suka gak tahan pedes, jangan lupa jus jeruknya yang dingin juga.”

Cowok itu diam sejenak, berfikir, lalu tersenyum kecut. Wajah Malin jadi pias. Apa apaan ini? Marlin, sudahlah. Sadarlah.

“Gak jadi ….” Ralat marlin kemudian.

***

Tidak lama kemudian, cowok itu datang lagi ke dalam UKS dengan sepiring nasi di tangannya dan jeruk hangat di tangan yang lain. “Maaf menunggu lama.” Katanya, seraya meletakkan jeruk hangat di meja dan menyerahkan nasinya kepada Marlin.

Marlin lagi lagi membalasnya dengan senyuman. “eh, maaf, ada kotoran di dekat bibir kamu.” Kata Marlin seraya menyapu kotoran yang menempel di sebelah kiri bibir cowok itu. Dengan refleks yang baik, cowok itu juga mengarahkan tangannya kearah bibirnya. Bukan kotoran kemudian yang di tangkap oleh tangan cowok itu. Tapi tangan Malin!

Marlin ingin pingsan lagi untuk kedua kalinya pagi ini. Cowok ganteng itu menggenggam tangannya! Tapi Marlin tidak benar-benar ingin pinsan. Dia ingin bertahan walau sekarang badannya langsung lemas dan jantungnya berdebar lebih kencang lagi.


“Kamu kenapa?” tanya cowok itu penuh kekhawatiran melihat kondisi Marlin yang langsung lemas tanpa aba-aba. Marlin hanya bisa menjawab dengan menggelengkan kepalanya. “Kamu lemes banget, ayo ini di makan dulu nasinya.” Marlin lagi-lagi menggeleng.

“Aku suapin ya.” Kali ini Marlin mengangguk, hatinya girang bukan main. Mimpi apa dia semalam sampai-sampai pagi-pagi begini dia bisa mendapatkan anugrah luar biasa ini?

Baru beberapa sendok nasi masuk kemulutnya, sebuah ketukan terdengar di pintu. Sesaat kemudian, seorang ibu-ibu masuk kedalam UKS. Marlin menduga, itu pasti salah satu guru di sekolah ini.

“Pak Mardian, sekarang jam bapak untuk memberikan materi bahasa Indonesia di kelas XII A. biar saya yang meggantikan bapak mengurusi anak ini.” Itulah kata-kata tanpa aba-aba yang keluar dari mulut yang bersangkutan.

Cowok itu di panggil bapak? Memberikan materi Bahasa Indonesia? Berarti dia guru? Sejenak kemudian Marlin memperhatikan cowok itu dari atas kebawah. Kali ini Marlin baru sadar kalau cowok itu memang menggunakan baju putih, tapi dengan celana hitam, bukan celana seragam abu-abu seperti yang seharusnya di pakai para siswa. Menghadapi kenyataan itu, Marlin pingsan dengan suksesnya untuk kedua kalinya pagi ini.


sumber gambar dari sini

READ MORE - Marlin Konyol

Rabu, 10 Oktober 2012

Salahkah Kalau Aku Juga Selingkuh





PING !! BB di dekatku bergetar, lampunya berkedip merah. Satu ping dari Hest.

Ya, Kubalas panggilannya.

Aku lagi kesel banget.  Balasnya.

Kenapa lagi? Tanyaku.

Siang ini aku mergokin adikku lagi selingkuh di YM!. Wew, ada masalah lagi kayaknya.

Adik yang mana?

Yang baru punya anak lagi.

Heri?

Ya, sapa lagi.

Hmmm….

Aku benci lelaki yang sukanya selingkuh! Kenapa sekarang adikku yang selingkuh. Aku maki-maki dia tadi.

Sabar….

Gak ada kata sabar buat cowok yang doyang selingkuh.!! Gak ada!!

Nah sekarang gimana? Heri adikmu, bukan?

Ya itu, aku lebih sakit lagi karena yang selingkuh adikku. Istrinya sampe nangis-nangis tadi. Dasar lelaki!!!

Jangan samakan setiap lelaki.

Bah!! Sama semua!!

Lagian apa bukti dia selingkuh? Mungkin saja itu hanya teman chatting di YM!-nya

Tadi dia chating lewat YM! Di komputer, tapi lupa sign out waktu di panggil bapak. Istrinya yang gantiin chating bareng aku. Gak taunya, ya Tuhan… mereka janjian ketemu malam ini. Katanya di tempat biasa.

Hmmm, lelaki…

Kalau dia sebut tempat biasa, berarti mereka sudah sering ketemu bukan?

Bisa aja itu teman kantor, ketemu di kantor.

Bah!! Adikku tadi  sudah ngaku kalau mereka sering ketemuan di penginapan.

Hmmm,

Aku ingin bunuh dia!

Sudahlah, sabar. Btw, bagaimana rencana kita?

….

….

Ping!!

 
***


Malam telah sempurna gelapnya. Jam di tanganku rasanya berdetak-detak jauh lebih kencang dari biasanya. Ataukah detakan jam itu hanya sebuah kamuflase dari detakan jantungku? Aku sangsi. Aku hampir tak bisa membedakan, mana yang detakan jarum jam, mana yang detakan jantungku. Keduanya seolah berpacu, berlomba memompakan darah dan adrenalin keujung-ujung kepalaku. Mereka membuatku gelisah setengah mati.

“Hest…,” desahku. Berjuta bayang, kenangan dan pikiran melintas di depanku tentang dia. Hest, seorang wanita muda yang dulu aku kenal masih berseragam putih abu-abu di kelas sebelah. Gadis kembang desa dan dambaan hati setiap siswa normal di sekolahku. Apa yang kurang darinya? Aku rasa tidak ada. Dia sempurna bila ukurannya adalah ragawi.

Aku dulu pernah menciumnya sekali di belakang kantin sekolah. Aroma wangi bedaknya yang masih baru di taburkan di pipinya yang lembut itu, seakan terus menempel di ujung hidungku selama berhari-hari. Bahkan kalau boleh aku bilang, sampai sekarangpun rasanya rasa itu tetap ada di ujung hidungku ini kalau aku mengenangnya. Yah…, walau kejadian itu, sudah lewat hampir sepuluh tahun lamanya. Begitu pula setiap kali mengenangnya, rasanya ada kerinduan yang begitu dalam di lubuk hati ini akan aroma dan rasa yang sama. Rasa yang terus mengusik kehidupanku selama bertahun-tahun lamanya. Rasa dan aroma yang tidak pernah sama aku dapati dari istriku, walaupun dia sudah memberiku dua orang buah hati yang menawan. Tidak, mereka tidak sama. Aku tidak pernah merindukan wanita lain seperti aku merindukan dia.

Hest pernah memberiku hari-hari yang penuh warna, hari-hari indah yang sampai sekarang masih aku kenang. Bahkan mungkin sampai akhirnya aku tidak bisa mengenangnya lagi nanti. Dia adalah pacarku di masa masa SMA dulu. Masa  dimana semua gejolak muda itu masih mengeilingi kami berdua. Indahnya ….

Tapi maaf kalau ada yang membayangkan masa-masa pacaran itu kami lewati dengan nafsu yang penuh kubangan kotor. Aku bukan tipe lelaki seperti itu. Bagiku, cinta itu suci, cinta yang suci tidak pernah akan melukai orang yang dicintainya. cinta yang suci akan menjaga pula kesucian pasangannya, tidak malah mengotorinya dengan nafsu yang bejat. Cinta yang suci, akan menjaga pasangannya dengan segenap kemampuannya. 

Hmmm, indahnya masa-masa itu. Kadang aku berfikir, bisakah masa-masa itu akan kembali lagi? Terulang lagi? Bisakah kami berdua lagi seperti dulu? Menjalin hari hari indah penuh warna pelangi seperti itu lagi walau sekarang kami sudah memiliki pasangan masing-masing? Walaupun bisa, sungguh aku juga masih takut. Takut bila masa itu terulang, sakit yang sama juga akan terulang. Sakit oleh cinta yang harus terpisah oleh perbedaan bangsa.

PING!!

Satu ping mengagetkanku dari lamunan. Dari Hest.

Ya….

Kamu di mana?

Aku di lobi.

Sudah lama?

Hampir setengah jam.

Kenapa tidak menunggu di kamar saja?

Hatiku berdesir, ada kebimbangan yang mendalam yang aku rasakan membaca pertanyaan itu di tujukan padaku.

PING!!

Ya….

Lagi apa? Kenapa gak jawab?

Aku tunggu di lobi saja. Kamu di mana?

Otw.

Masih jauh?

Lima belas menit lagi.

Ok, aku tunggu.

Darahku makin deras berdesir-desir. Mengalir panas dari ujung kaki ke ujung kepalaku. Hest. Apa yang ada padamu sehingga kamu mampu membuatku begini? Membuatku seperti boneka yang tak berdaya yang bisa kamu mainkan hanya dengan satu jari telunjukmu?

Ini memang bukan pertemuan kami pertama sejak kami berpisah dan berjumpa lagi di kota baru ini. Tapi ini adalah pertemuan yang mampu memuatku panas dingin tak karuan. Bukan hanya dia sebenarnya yang membenci perselingkuhan. Akupun sama. Aku benci sekali melihat pasangan selingkuh itu. Tapi sekarang mengapa aku sendiri yang melakukannya? Mengapa sekarang justru aku sendiri yang selingkuh? Bahkan otakkupun seolah tak tahu harus berdalih apa.

Perlahan bayangan masa masa SMA dulu berganti dengan bayangan-bayangan istri dan anakku. Keluarga kecilku yang bahagia. Satu pertanyaan yang dulu sering aku lontarkan pada teman teman yang selingkuh, sekarang pertanyaan itu seperti kembali telak memukulku. “Apa salah istri dan anak-anakmu sehingga kamu pantas menyakiti mereka?”

Setiap kali pertanyaan itu di tujukan balik kepadaku, setiap kali itu pula aku tidak bisa menemukan jawaban selain karena keegoisanku. Apa kurang istriku? Apa salah besarnya sehingga dia pantas untuk diduakan? apa hanya kerena seorang istri harus mengerti suaminya? Lalu dimana letak pengertianku kepadanya sebagai suami?

Beribu petanyaan dan tudingan menghujani kepalaku. Aku ingin meledak rasanya. Aku ingin berteriak dan menumpahkan segala kesalahan ini pada lautan. Membiarkannya dibawa samudra entah kemana.

Mengapa semua seperti ini? Mengapa mereka tidak membiarkan dulu aku memilih? Aku mencintai Hest bukan? Lalu kenapa cinta kami harus di tentang hanya kerena perbedaan bangsa dan adat istiadat? Mereka seharusnya tahu, uang bisa membeli segalanya, kecuali cinta dan kebahagiaan yang sejati. Tidak, uang tidak bisa membeli keduanya secara utuh seperti daging ayam di meja makan mereka itu. Tidak, sekali lagi tidak!

Jadi apakah itu alasan paling tepat buatku untuk membela diri atas perselingkuhan ini? Arrrggg…. Otakkku menegang memikirkkan semuanya. Kami seperti orang yang membenci pencuri tapi sekarang kami sendiri mencuri, atau seperti orang yang membenci para koruptor, tapi sekarang kamilah koruptor itu sendiri. Aku hampir saja bangkit dan berhambur pulang ketika seorang wanita memasuki ruang lobi hotel ini. Hest datang dengan gaun merah menyalanya. Hatiku luruh melihat wujudnya nyata di depanku.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya begitu sampai di depanku. Malam ini wajahnya sayu. Tergambar jelas letih dan penat di sana. Cahaya indah yang selama ini menghiasi wajah itu, malam ini hilang entah kemana. Aku hanya bisa menjawabnya dengan sesungging senyum. Suaraku seolah tercekat rapat di tenggorokanku.

“Kamar  kita nomor berapa? Aku penat sekali rasanya, aku ingin segera beristirahat”

Aku luruh mendengar pertanyaan itu. Wujudku seolah salju yang tiba tiba terpapar sinar matahari siang, hilang tak berbekas.

“Nomor kamar kita berapa?”

“Eh…, nomor 221.”

“Ayo ke sana sekarang, aku penat sekali.”



gambar dari sini






READ MORE - Salahkah Kalau Aku Juga Selingkuh

Baca juga yang ini