Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 April 2012

Surabaya Bloofmeet 1 (Part 1)

Dengan langkah tergesa gesa aku menuruni tangga menuju lantai satu rumah kontrakan. Jam di hapeku sudah menunjukan pukul 9.41, sembilan belas menit sebelum tepat pukul sepuluh pagi. Aku pasti terlambat, batinku. Sedikit rasa sesal tiba tiba saja muncul di hatiku tanpa permisi. Andai tadi aku bisa bangun lebih pagi, atau tidak menarik selimut lagi selepas subuh tadi, pasti aku bisa datang ke acara Surabaya BloofMeet (SBm) yang pertama ini dengan lebih santai. Apa lagi aku baru ingat kalau aku belum membeli makanan kecil apapun yang akan aku bawa ke acara SBm ini. Waduh, pagiku kali ini benar benar sedikit kacau. Padahal, seharusnya ini menjadi pagi yang menyenangkan.
Setelah mengecek semua perlangkapan yang harusnya di bawa, kupacu motorku dengan kecepatan tidak lebih dari lima puluh kilometer perjam dengan harapan aku masih bisa menemukan penjual makanan kecil seperti gorengan atau makanan kecil sejenisnya di sepanjang jalan yang aku lintasi. Tapi sampai akhirnya aku berhenti di lampu merah dekat kampus A Unair, aku belum juga membeli apapun. Bersembunyi di makanakah kalian, wahai para penjual? Aku membatin, mengapa serasa sulit sekali menemukan kalian di pagi menjelang siang seperti ini. Untuk itu sekali lagi aku diliputi rasa sesal dan bersalah. Andai semalam aku menyempatkan diri untuk keluar dari kontrakan dan mencari makanan kecil pasti pagi ini aku bisa berangkat ke SBm dengan lebih ceria dan santai. Hm….
Lampu lalu lintas menyala hijau dan aku sekali lagi ‘terpaksa’ menyusuri jalan sambil menoleh ke kanan dan kekiri, berharap bisa menemukan satu saja penjual makanan ringan yang bisa aku beli untuk aku bawa ke SBm. Tapi lagi lagi nihil. Mereka sedang mengejekku mungkin, batinku setengah dongkol pada diri sendiri.
Tapi kedongkolan itu tiba tiba berubah menjadi perasaan penuh surprise saat aku belok kanan di pertigaan terakhir menuju rumah kang Insan Robbani. Ada seorang pengendara sepeda motor dengan kaos putih khas Bloofers yang melambaikan tangannya padaku. Sontak aku menghentikan laju motorku. Itu pasti kang Insan. Di kota pahlawan ini, siapa lagi yang punya kaos itu selain dia.
“Assalamualaikum…” seruku seraya nyengir saat motor kami bertemu di pinggir jalan.
“Waalaikum salam,” jawabnya.
“Nang endi, langsung tah?(mau kemana, langsung tah?),” tanyaku.
“Yo, langsung ae, wes jam sepuluh lewat iki. (ya, langsung saja, sudah jam sepuluh lewat ini).” Jawab kang Insan seraya memutar balik motornya. “Tapi mampir dulu di minimarket ya.” Imbuhnya.
“Ngapain?” tanyaku, setengah bego.
“Aku belum beli camilan, cari di sana saja.” Jawab kang Insan yang membuatku seperti sekali lagi di cubit oleh akang yang satu ini. Mengapa aku tidak berfikir sama sekali untuk membeli makanan ringan di minimarket saja. Padahal sepanjang jalan yang aku lalui, ada beberapa minimarket yang dengan senang hati sedang menungguku.
Aku sekali lagi nyengir, tapi kali ini lebih tepatnya menertawakan diriku sendiri.

***

Saat tengah asik memilih camilan di minimarket, sebuah pesan singkat masuk di handphoneku. Dari Haf Sari.
Aku sudah di Bungurasih, trus naik apa? Kemana?”
“Naik bus kota jurusan terminal Bratang, turun di terminal Bratang.” Jawabku singkat.
“Mau camilan apa?”
“Apa saja terserah.”
“Krupuk mau?”
“Bolehlah, yang penting ada.”
Dalam hati aku salut akan sosok Bloofers yang satu ini. Untuk bisa hadiri di acara SBm ini, dia harus melintasi perjalanan yang tidak simple. Dengan berbekal tekad dan keinginan kuat untuk bertemu dengan sesama anggota Bloofers, dia harus pergi meninggalkan rumah seorang diri dengan beberapa kali harus berpindah dari satu transportasi umum ke transprotasi umum yang lain. Tapi semangatnya yang membara, membuatnya berhasil juga sampai di kota Pahlawan ini untuk pertama kalinya.
“Sms dari siapa?” tanya kang Insan yang tiba tiba nongol di sebelahku di depan kasir minimarket.
Haf Sari kang.”
“Oh, sudah dimana dia?”
“Di Bungurasih sekarang. Yang dateng cuma kita bertiga nih kang? Tadi pagi Tisya sms aku katanya gak bisa dateng.”
“Sepertinya Ratri bisa dateng kok, jadi minimal ada empat orang.” Aku tersenyum kecut mendengarnya. Kopdar dengan peserta yang hadir hanya empat orang saja. Jauh dari pikiranku selama ini. Tapi so what lah. Yang penting kebersamaannya.
Segera setelah membayar barang barang yang kami beli, kami meluncur ke Taman Flora atau Kebun Bibit Bratang. Setelah parkir motor, kami mencari tempat yang kira kira mudah untuk di datangi oleh semua orang. Keputusan akhirnya jatuh pada kursi beton melingkar yang ada tak jauh dari air mancur.
“Nomor siapa ini?” tanya kang Insan seraya memperhatikan handphonenya.
“Nomor baru kang?”
“Ya, tanya posisi kita. Anggota Bloof juga sepertinya.”
Tak lama setelah kang Insan mengirimkan beberapa pesan singkat balasan, seorang cowok datang menghampiri kami dengan senyum simpulnya yang malu malu. Serta merta pula dia menjabat tanganku.
“Ini mas Ridwan, bukan?” tanyanya, “Yang ini mas Insan, kan?” membuat aku dan kang Insan saling pandang kebingungan. Berasa aneh ada orang yang mengenal kami, padahal kami yakin kalau kami bertemu dengan cowok yang satu ini baru pada pertemuan yang pertama.
“Ya bener.” Jawabku dan kang Insan nyaris bersamaan.
“Maaf ini dengan siapa?”
“Adi mas.”
“Adi? Nama facebooknya?”
Jalaluddin El' Qassam, itu saya pake facebook adik saya mas, kalau nama asli saya Adi.”
“Oalah… ya ya ya….”
Adi yang murah senyum itu tampak tambah tersipu mendengar koor kang Insan dan aku. Pada waktu yang bersamaan sebuah pesan singkat masuk di handphoneku. Dari Haf Sari lagi.
keren,baru pertama naik bus kayak ginie. Dalam bus berasa di tengah pasar. Amburadul sampe lagu Ebiet gak kedengeran.”
“Gegegegegege, welcome to the jungle, Haf.” Balasku.

***

(apa yang terjadi setelah cewek satu satunya dalam SBm ini hadir di kebun bibit? nantikan posting selanjutnya di Surabaya Bloofmeet part 2 )
READ MORE - Surabaya Bloofmeet 1 (Part 1)

Senin, 02 April 2012

The Last Seconds



( Cerita pendek ini terinspirasi dari film Deep Impact)

Allah mengabarkan, kiamat itu adalah hal yang pasti. Tak bisa di sangkal, seperti kematian dan kelahiran itu sendiri. Di hari itu, diberitakan adalah hari yang penuh huru hara. Di mana setiap manusia berlarian mencari keselamatannya masing masing tanpa memikirkan yang lain selain dirinya sendiri. Allah juga berfirman dalam kitab suciNya, kalau hari itu adalah hari yang datangnya tak terduga, tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang bisa memprediksinya.

“ Benar sayang, itulah kiamat besar.” Tuturku pada Fathir, anak semata wayang kami yang masih empat tahun tapi sudah sangat kritis pemikirannya. “ Yang akan terjadi sebentar lagi itu adalah kiamat kecil, anakku, kiamat yang tidak mematikan semuanya, kiamat yang tidak memusnahkan semuanya, tapi kiamat yang terjadi untuk sebagian kecil saja dari alam ini. Untuk sebagian dari kita dan bukan sebagian dari yang lain. Fathir tahu? Bahkan kematian seseorang itupun bisa dianggap kiamat kecil. Yaitu berakhirnya suatu bagian dari kehidupan, rusaknya satu bagian dari kehidupan, tapi tidak untuk bentuk kehidupan yang lain.”

Aku memandang wajah polosnya yang saat ini diliputi oleh rasa takut yang amat sangat. Aku coba memberinya kehangatan di sisa akhir kehidupan yang tinggal beberapa saat lagi ini. Aku ingin, di detik detik terakhir kehidupan keluarga kecil kami yang berbahagia dan begitu berharga ini, fathir masih bisa merasakan betapa kami menyayanginya.

“ Tapi ayah, kenapa mereka tidak mengajak kita pergi ke tempat aman itu? Kenapa kita yang ditinggalkan? Bukankah kita juga manusia ayah? Bahkan mereka mengajak ternak serta di sana. Tapi mereka tidak mengajak Moli.” Raut wajahnya kian sedih saat mengucapkannya. Di dalam pelukannya, duduk dengan tenang kucing kesayangannya yang berbulu putih bersih, Moli.

“ Kita tidak bisa protes masalah itu, Fathir, semua itu sudah kehendak Allah. Allah-lah yang menentukan, kita masuk ke dalam undian orang orang yang pergi ketempat aman itu atau tidak. Dialah yang sudah menggariskan takdir untuk kita, tugas kita adalah bagaimana untuk menjalani semua ini dengan lapang dada, dengan ikhlas. Bukankah Fathir yang sering mengingatkan ayah dan bunda untuk terus sabar dan ikhlas? Fathir lupa ya….?”

Ada sesungging senyum yang tercipta di sudut bibirnya saat mendengar candaanku itu. Tapi rona kekhawatiran dan rasa ketakutan yang kental tidak juga hilang dari wajahnya. Aku tahu, walaupun dia masih seorang bocah yang bau kencur, tapi dia sudah tahu apa kematian itu. Kematian yang akan kita sambut bersama dalam rumah kami yang kecil ini sebentar lagi.

“ Masih ada waktu setidaknya lima belas menit sebelum benturan pertama terjadi.” Ucapku memecah kesunyian yang terjadi. “ Mari kita laksanakan solat sunnah mutlak dua rokaat saja, setelah itu kita berdoa dan bermunajat kepada Allah, semoga nantinya kita di beri tempat kembali yang indah di sana. Ayo bunda, ayo Fathir.”

Kami berdiri untuk melakukan solat sunnah di kesempatan terakhir ini untuk yang terakhir kalinya. Ada kekhusukan yang sangat yang aku rasakan mengiringi solat kali ini, jauh lebih dalam dari solat solat yang aku lakukan sebelumnya. Apakah ini efek kalau kita tahu bahwa solat yang kita kerjakan itu adalah solat yang terakhir dalam hidup kita? Dari dulu aku ingin merasakan kekhusukan seperti ini. Tapi aku tak pernah bisa. Baru kali ini, di saat saat waktu sudah memasuki waktu waktu kematian seperti ini ternyata aku baru bisa merasakannya dengan sungguh sungguh.

Tak lama setelah solat selesai, saat kami tengah bermunajat padaNya, sebuah guncangan keras sampai ke rumah kami. Benturan pertama sudah terjadi!

Fathir dan istriku berteriak histeris. Mereka berhambur kearahku lalu memelukku erat erat. Tangan mereka bergetar hebat, tangis mereka pecah, tapi aku terus membimbing mereka untuk terus bersahadat dan bersolawat.

“ Jangan putus bersolawat, jangan putus bersahadat…. Ashaduallailahaillallah waashaduannamuhammadorasulullah….. baca terus baca terus….. ya Allah…. Ya Allah….”

Guncangan guncangan keras gempa gempa susulan terus terjadi, kami terus bersolawat. Rumah kami bergetar, langit langit rumah kami seakan hendak runtuh saat itu juga. Lampu gantung berayun ayun, dan semua benda yang ada di atas ketinggian mulai berjatuhan. Fathir makin histeris, tapi lafal lafal solawat dan sahadat tidak pernah putus terucap dari mulutnya. Kupeluk dan kucium kening mereka untuk yang terakhir kalinya.

Tak lama kemudian, suara gemuruh air laut yang pasang mulai terdengar. Mulanya pelan, tapi semakin lama semakin keras terdengar. Aku makin erat memeluk mereka. aku ingin, saat badai pasang air laut itu menyapu rumah kami, kami tetap dalam posisi ini. Dalam keadaan berpelukan dan bermunajat kepadaNya.

Suara gemuruh makin keras, bercampur antar suara air pasang dan suara gempa susulan yang datang bertubi tubi. Makin lama makin memekakkan telinga. Fathir histeris menyebut nama sang pencipta, sendang istriku lirih melantunkan sahadat.

“ Ya Allah, segerakanlah ini, dan segerakanlah juga Engkau pertemukan kami di alam berikutnya, kembali sebagai sebuah keluarga yang utuh.” Sebuah doa terakhir kupanjatkan tepat sedetik sebelum tubuh kami tersapu gelombang maha dahsyat itu.
READ MORE - The Last Seconds

Senin, 26 Maret 2012

But-Chi


 
“ Anas…”

“ Ya,…”

“ Apa benar kamu mencintaiku?”

Hm…., akhirnya pertanyaan itu terlontar juga malam ini. Aku mendesah. Seperti berat sekali harus aku katakan apa yang sebenarnya aku rasakan dan yang sedang terjadi selama ini. Pertanyaan tentang cinta, pertanyaan tentang kesungguhan akan sebuah hubungan seperti ini, sudah kerap kali membuatku gamang. Apakah aku memang benar benar mencintainya? Lebih dari sekedar perasaan seorang kakak kepada adik perempuannya? Lebih dari sekedar perasaan seorang sahabat yang ingin selalu bersama dengan seorang sahabat wanitanya? Aku bahkan masih sering ragu. Seriuskah aku? Nyatakah ini?

Aku bangkit dari posisi membungkukku dan menegakkan posisi dudukku. Kualihkan pandangaku padanya dan kuberikan senyum setulus yang aku bisa. Kuraih kepalanya yang berambut pedek itu, lalu kutarik agar merabah di dadaku. Dia diam saja. Seperti yang sudah sudah selama ini.

“ Apakah itu penting, Dyan?” tanyaku.

“ Entahlah, Nas, aku juga tak tahu itu penting atau tidak. Aku hanya mendengar dari teman teman selama ini, kalau sebenarnya kamu itu mengganggapku lebih dari seorang sahabat.”

“ Hm…, Kadang mereka itu terlalu ikut campur melebihi kapasitas mereka sebagai teman, Dyan. Mungkin saja mereka itu cemburu melihat kedekatan kita selama ini. Biarlah mereka dengan pikiran mereka sendiri, kita jalani aja kehidupan kita seperti ini, sebagai sahabat.”

Mendengar ucapanku, perlahan Dyan bangkit dari dadaku. Di tatapnya aku dalam dalam dengan pandangan yang langsung tertuju pada mataku. “ Tapi sahabat tidak ada yang berpelukan seperti kita, Nas. Sahabat tidak bergandengan tangan berjam jam saat berjalan di keramaian. Sahabat tidak seperti itu.. Tidak merasakah suasana mesrah seperti yang kamu rasakan malam ini. Sahabat itu seperti Eka dan Maya yang selalu having fun, selalu ada untuk satu sama lainnya, seperti Bayu, Nina dan Angga. Mereka selalu bersama tapi mereka tidak pernah terlihat mesrah seperti yang kamu lakukan kepadaku. Yang aku tahu, seorang sahabat tidak ada yang memeluk sahabatnya dalam diam, juga tidak berusaha menciumnya…”

“ Lalu apakah penting untuk tahu apakah aku mencintaimu?” potongku.

“ Penting Nas, penting sekali. Agar aku tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kita. Apakah kamu menganggapku sahabat, atau seorang kekasih…”

“ Lalu kamu sendiri mengganggapku apa?” sergahku, sekali lagi.

Dyan terdiam, tapi pandangannya nanar. Bibirnya bergetar perlahan menandakan gejolak hatinya yang mulai gusar. Aku jadi seperti tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, mengapa malam ini tiba tiba dia bertingkah seperti ini?. Malam ini, dia seolah olah bukan Dyan yang selama ini aku kenal. Dyan yang lembut dan selalu berhati hati. Apakah urusan cinta dan hati seperti ini bisa membuat seorang wanita berubah drastis?

“ Anas, sebenarnya aku ingin kamu tahu malam ini… ka, kalau, Kalau aku sedang jatuh cinta..”

Deg…! Jantungku seolah berhenti berdetak. Tiba tiba saja seperti puluhan ribu volt telah menyengat jantungku detik itu juga. Ada rasa curiga yang menghantui, ada rasa khawatir yang sangat yang aku rasakan. Benarkah itu? Benarkah Dyan jatuh cinta? Pada siapa? Padakukah? Atau ada orang lain? Tiba tiba malam ini aku rasa menjadi malam yang sangat penting dalam hidupku. Tiba tiba saja udara malam ini aku rasa begitu panas. Panas dan menipis, membuatku serasa sulit untuk bernafas.

Kucoba untuk menahan diri untuk tidak bertindak bodoh di luar apa yang seharusnya aku lakukan. Tapi dari rona wajahku, dari helaan nafasku, aku yakin Dyan sudah membaca apa yang sedang terjadi padaku.

“ Apakah kamu mencintaiku, Dyan?” tanyaku tiba tiba, yang membuatku merasa begitu bodoh sudah menanyakan hal itu secepat ini. Seharusnya aku bisa lebih tenang, tidak tergesa gesa seperti ini. Aku menggerutu dalam hatiku, membuatku semakin merasakan perasaan bersalah dan kesal yang amat sangat pada diriku sendiri.

 “ Kamu mencintaiku bukan, Nas…, Jawab pertanyaanku dengan jujur, Nas.” Kali ini nada yang keluar dari kata katanya lebih terasa seperti sebuah desakan dari pada sebuah pertanyaan biasa.

“ Tadi aku yang bertanya lebih dulu, Dyan. Apakah aku orang yang kamu cintai?”

“ Dalam hal ini seharusnya pria punya kesempatan lebih dulu untuk bicara, Nas.”

Mendengarnya membuatku diam. Aku cuma bisa memandangnya dan membiarkan angin yang semilir di taman Bungkul malam ini membelai hati yang sedang terombang ambing. Aku tahu aku ragu. Ragu untuk mengartikan perasaanku sendiri. Cintakah ini? Atau hanya perasaan kedekatan seorang sahabat? Aku juga ragu, apakah aku orang yang di cintai Dyan? Kalau ya, bagaimana selanjutnya? Apakah ketika nanti aku menjadi pacarnya semua akan berjalan seperti ketika aku menjadi sahabatnya?

Begitu banyak pertanyaan yang tiba tiba muncul. Pertanyaan pertanyaan yang kemudian membuatku ragu. Keraguan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ketakutan : aku takut kehilangan dia. Baik sebagai sahabat maupun sebagai…

“ A.., A… ah, aku tak sanggup mengatakannya. Tolong jangan desak aku.”

“ Berati benar apa yang aku dengar selama ini?” air matanya mulai tumpah, suaranya mulai serak, “ Berarti benar kalau kamu memang mencintaiku Nas?”

“ Dyan, kenapa menangis…” aku berusaha merangkulnya. Tapi Dyan malah menepiskan tanganku.

“ Akhirnya…, akhirnya apa yang aku takutkan… terjadi juga…” tangisnya kini benar benar pecah. Membuatku semakin bingung harus berbuat apa.

“ Dyan, sudahlah, tidak seharusnya seperti ini. Tidak seharusnya kamu menangis. Kita bisa bicara baik baik bukan…” aku berusaha membujuknya. Aku benar benar tidak tahu harus berbuat apa. Ini untuk pertama kalinya dalam hidupku harus menghadapi seorang wanita menangis di depanku karena cintanya padaku.

“ Tapi aku mencintai orang lain, Nas….”

Deg! Dunia seakan sekarang berhenti berputar, angin seolah berhenti berhembus dan orang orang yang bising di sana, seolah olah sekarang seperti film bisu yang sedang diputar. Bahkan darahkupun seperti berhenti mengalir.

“ Aku sebenarnya tidak ingin kamu tahu tentang ini, Nas. Tapi semua sekarang sudah terlanjur… aku, aku .. aku harus mengatakan kebenarannya…”

“ Siapa orang itu, Dyan?” tanyaku, dengan berusaha keras untuk menyembunyikan seluruh gejolak di hatiku.

“ Mi… Mitha….” Jawabnya di tengah isak tangisnya.

“ Mitha? Dia… dia wanita bukan? Mitha itu mantanku?” tanyaku tak habis mengerti.

“ Ya benar, Nas. Mitha mantanmu itu. Dia kekasihku. Kami sepasang kekasih. Dan karena akulah dia memutuskanmu waktu itu. Anas, temaku yang baik, sabahabatku yang terbaik, aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini….aku harap kamu bisa memahami keadaanku, dan kita…., kita masih bisa bersahabat seperti sedia kala bukan….?”

Dunia sekarang menjadi gelap di mataku. Otakku, tiba tiba terasa sangat sakit dan tersayat sayat. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan? Tiba bita aku ingin sekali berlari dan berteriak. Hingga hilang pedih dan perih yang begitu kejam dengan tiba tiba merenggut segalanya dariku ini.


READ MORE - But-Chi

Selasa, 06 Maret 2012

Tikus

“ AAAAAAAAAAAAA....... Tolong....... Tolong.......” Aku berlari berhambur keluar dari kamar mandi. “ Ayah..... Ayah.....”
“ Ada apa Naila.... ada apa.... Hei hei tenang ayah di sini  .... tenang tenang.... Naila, Naila .....ada apa?”  Ayah mendekapku dalam pelukannya, berusaha menenangkanku yang mulai menangis keras keras.
“ Ayah......  Ayah..... “ aku masih meraung raung ketakutan, sementara ayah terus mendekapku dalam dalam.
“ Cup cup...  ayo sini.. sini,,, duduk dulu di sini.” Ayah membimbingku kearah kursi di ruang tengah. “ ini minum.” Ayah menyodorkan segelas air putih kearahku.
Aku minum banyak banyak dari gelas yang ayah sodorkan kearahku. Perlahan, tangisanku mulai mereda.
“ Ada apa?” Tanya ayah mendesakku.
“ Ti... Tikus...” Jawabku terbata bata. “ A... Ada tikus di kamar mandi...”
Ayah mendesah seraya menghembuskan nafas panjang. “ Hanya tikus?” tanyanya setengah kecewa.
Hah? Kok ayah bilang ‘hanya’ tikus? “ Tikus ayah.. Tikus, tikusnya besar! Besar, hitam, lewat di dikaki Nai!” jawabku histeris sambil menghentak hentakkan kakiku ke lantai.
“ Ok.., Ok... Nai mau apa di kamar mandi?”
“ Nai mau wudu.” Aku masih merajuk. Masih kesal melihat tangagapan ayah yang sepertinya menganggap ini hal biasa saja.
“ Nai belum solat isya’?”
“ Belum...”
“ Kalau begitu, nai  bisa ke kamar mandi sekarang.”
“ gak...”
“ Lo, kenapa? Tikusnya sudah pergi bukan?’
“ Nai takut! Kalau tikusnya kembali gimana?”
“ Ayo sini ayah antar”
“ Gak....!”
“ Terus?”
“ Nai gak mau kekamar mandi..., Nai takut...!”
“ Nai gak mau wudu?” Aku terdiam, hatiku gundah. “ Nai gak mau solat?”
“ Nai takut ayah..., di kamar mandi ada tikus!”
“ Nai lebih takut tikus atau ALLAH?”
Aku terdiam. Pertanyaan ayah seperti sebuah pertanyaan pinalti yang langsung menerobos ke hati dan otakku. Pertanyaan itu seperti mengusik hal kecil yang selama ini sering aku abaikan. Bukan hanya kali ini. Tapi rasanya sudah berkali kali aku mengabaikan perintah untuk solat dengan alasan alasan yang sunguh konyol. Kadang hanya karena sedang asyik ngobrol dan kumpul sama teman teman, aku meninggalkan solat dengan seolah tanpa beban. Kadang karena  sibuk mengerjakan tugas dan pekerjaan waktu solat seakan berlalu begitu saja tanpa aku sadari. Atau ketika akan solat isya’ seperti ini. kadang aku tidak solat isya’ hanya karena tekut ke kamar mandi. Takut kalau ada tikus, ada kecoa ata takut pada bayangan dan gambaran hantu hantu yang tidak jelas keberadaanya.
Pertanyaan ayah malam ini, menyadarkanku dengan telak. Lebih takut pada tikus, pada kecoa pada mahluk sejenis setan dan teman temannya itu atau pada ALLAH? Sang pemilik dan pencipta semua itu? Hatiku bergetar.
“ Ayah berdiri di sini saja.” Rajukku didepan kamar mandi.
“ Ya, sana wudu’, ayah tunggui kamu di sini.”
Tapi belum saja aku selesai berwudu’ sebuah teriakan keras mengema dari pintu kamar mandi.
“ TIKUUUUUSSSSS......!”
Seekor tikus hitam besar melintas tepat di depan kamar mandi. Tikus itu melintas tepat pada jari jari ayah yang sedang berdiri tegap di sana. Tak ayal, ayah yang terkejut melompat lompat menjauh dari kamar mandi sambil berteriak teriak histeris.
“ Ayaaahhhh, tunggu aku...!”
READ MORE - Tikus

Rabu, 29 Februari 2012

Telling

“ Dan inilah juara 1 kita kali ini adalah...” Guru bahasa Indonesia kami diam sesaat, menatap kami satu persatu, dari ujung ke ujung. “ Siapa dia kira kira?” Beliau tersenyum simpul, membuat kami penasaran dan bertanya tanya. Karya siapakah kira kira yang layak dinobatkan sebagai yang terbaik kali ini?
“ Roni!” Seorang dari kami berusaha menebak.
“ Yani, Si ratu puisi...” Yang lain menerka.
“ Sayangnya bukan...” Bu Meli, Guru Bahasa Indonesia kami berseru.
“ Agnes...”
“ Maya...”
Bu Meli masih menggeleng.
Kami diam, semakin penasaran. Bu Meli memang jago membuat suasana mencekam dan sedikit menegangkan. Mirip acara kuis kuis di televisi.
“ Irma...” hei, itu namaku.
“ S.. Saya...?” tanyaku tergagap.
“ Ya irma, kamu ...” Bu Meli tersenyum kearahku, diikuti seisi kelas yang ikut-ikutan menoleh kearahku. Pandangan mereka seolah menembus kepalaku, menusuk langsung tepat pada jantungku. “ Silahkan maju ke depan Irma, kita akan membahas cerpenmu...”
What? Benarkah itu? Aku? Cerpenku?
“ Irma, ayo bergegas, teman teman yang lain ingin tahu apa yang kamu tuliskan dalam cerpenmu” Bu Meli setengah mendesak.
Aku segera maju ke depan kelas dengan langkah yang ragu ragu. Aku masih  seakan tidak percaya, bagaimana cerpen yang aku buat dalam keadaan yang galau itu bisa di nilai baik, bahkan yang terbaik oleh Bu Meli?
Aku mulai membacakan cerpenku dengan perasaan yang campur aduk. Sebenarnya cerita yang aku tuliskan itu sederhana saja. Mirip sebuah surat terakhir dari seorang anak penderita kanker ganas stadium akhir. Dalam cerpenku itu, aku ingin berusaha mengungkapkan bagaimana kira kira perasaan tokoh utamaku itu menghadapi hari hari terakhir hidupnya. Harapan harapannya dan segala yang ingin dia ungkapkan untuk terakhir kalinya sebelum semuanya benar benar diluar kendali dan berakhir.
“ Tak ada yang tahu kapan saat terakhir kita bertemu dengan seseorang.” Tulisku di akhir cerpen yang aku buat. “Ajal adalah sebuah misteri Ilahi. Maka itu, aku ingin berbuat baik kepada semua orang, karena aku tak tahu apakah aku bisa meminta maaf untuk setiap kesalahanku ketika perjumpaan yang terakhir yang misterus itu terjadi.
Tapi menurutku, penderita kanker adalah orang yang dipilih oleh Tuhan untuk tahu kapan dia akan mati, sehingga dia tahu kapan waktunya akan berakhir dan berusaha memperbaiki diri serta meminta maaf kepada setiap orang.”
Aku menyelesaikan tugas membaca cerpenku sendiri di depan kelas dengan air mata yang berderai derai membasahi pipiku. Butuh beberapa saat untuk bisa mengendalikan diriku sendiri dan berhenti dari sesenggukan yang mengguncang tubuhku keras keras.
“ Tulisanmu sangat emosional, Irma. Itu yang ibu suka dari cerpenmu.” Kata Bu Meli setelah aku bisa menguasai diri dan emosiku, “ Kalau boleh tahu, dari mana inspirasi cerpenmu itu Irma?”
Butuh lebih banyak waktu lagi buatku untuk bisa menjawab pertanyaan yang berat itu. Kuhela nafas panjang sebelum akhirnya aku menjawabnya dengan sebuah kalimat singkat.
“ Sebenarnya, saya menulis perasaan saya sendiri, Bu.”
Aku berusaha tersenyum dan menatap dengan tegar seluruh isi kelas sebelum aku menegaskan kepada meraka tentang keadaan yang sebenarnya. “ Saya menderita kanker payudara  stadium akhir, dan cerpen ini adalah perasaan saya sendiri,”
READ MORE - Telling

Rabu, 22 Februari 2012

Usir Dia!

Aku tereranjat sambil memekik, “ Astaghfirullah .....”

Tapi semua yang hadir di sana rupanya sudah mengetahui hal itu. Mereka tetap pada tempat berdiri masing masing dengan ekspresi penuh curiga dan rasa jijik yang tidak juga berubah.

“ Tuduhan apa yang kamu tuduhkan padaku itu bu, aku tidak serendah yang kamu katakan, astaghfirullah..., astaghfirullah.....” aku beristighfar berkali kali. Sakit sekali rasanya dada ini dituduh denngan tuduhan yang begitu kejam itu.

Bu RT berdiri dan segera berjalan kearahku. Beliau duduk di tangan kursi yang sedang aku duduki. Di peluknya tubuhku yang rasanya sudah sempoyongan ini. “ Sabar bu, sabar.....,” lirihnya.  “tarik nafas dalam dalam, Istighfar.....”

“ Halah, jangan sok suci sampean bu, la wong saya lihat sendiri. Dengan mata kepala sendiri. Beberapa malam ini ada lelaki yang masuk ke sini kalau malam malam. apa yang kalian lakukan malam malam kemarin? Apa yang dilakukan seorang janda seperti sampean sama lelaki muda kalau bukan mengotori kampung kita. Bener gak bapak bapak ibu ibu.....”

“ Bener.....”

“Usir....”

“ Ya usir aja... memalukan.....”

Aku makin terhuyung di teras rumahku sendiri ini. Udara seakan menipis, membuatku semakin kesulitan untuk bernafas. Aku terus beristighfar. Tidak tahu apa yang harus aku katakan. Otakkku ini, seolah menengang dan tidak bisa berfikir dengan jernih.

“ Sabar bapak bapak, sabar ibu ibu... biarkan bu Salimah menjelaskan dulu... tenang tenang....” Pak RT berusaha menenangkan warga yang sudah terhasut oleh fitnah wanita keji itu.

“ Nah itu dia....” Tiba tiba wanita keji itu berteriak lantang sambil menunjuk sesosok lelaki yang baru saja keluar dari pintu rumahku.

“ Dia? “ tanya pak RT ingin meyakinkan tuduhan itu.

“ Ya dia....” wanita keji itu berkoar sambil melotot kearah lelaki muda yang hanya mengenakan handuk di ambang pintu rumahku.

“ Dia? “ tanya yang lain seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“ Astaghfirullahhaladzim.....” Pak RT dan beberapa yang hadir beristighfar hampir serempak.

“ Dia itu Salim bu, anaknya bu Salimah...” jelas Bu RT.

“ Anaknya?” tanyanya setengah terperanjat. “ Bohong...!!!” protesnya.

“ Kenapa kami harus berbohong bu, itu adalah anak dari bu Salimah. Memang Salim itu kerjanya pergi pagi pulangnya malam malam. maka itu mungkin kita jarang melihat Salim di rumah kalau siang hari...” Pak RT berusaha mejelaskan dengan bijak.

“ Tapi...” wanita itu masih saja ingin berkilah. Wajahnya sekarang memerah, malu tak tertahankan.

“ Maka dari itu bu, kalau ada apa apa, di tanyakan dulu sampai jelas, baru di utarakan. Jangan seperti ini lagi. Bukankah di kampung lama sampean di usir gara gara prasangka sampean dan fitnah fitnah sampean yang meresahkan warga? Berapa lama sampean di kampung ini bu?”

“ Lima hari...” lirihnya, wajahnya tertunduk dalam dalam.

“ Maka benarlah, kalau ada yang bilang, mulutmu harimaumu. Maka jagalah mulutmu baik baik...”
READ MORE - Usir Dia!

Selasa, 31 Januari 2012

Mereka Bertanya Tentang Arti Namaku




Malam semakin larut ketika mereka satu persatu memperkenalkan nama asli mereka. Lo, kok nama asli? Memangnya selama ini mereka memakai nama samaran? Seperti mata mata saja. <smile>

“ Kalau kamu Wan, Ridwan itu nama asli kamu?” Tanya Bunda Ti sambil memasukkan KTPnya kembali ke dalam dompet.

Aku tersenyum “ Tunggu ya, ini lihat KTPku..” kusodorkan KTPku pada Bunda Ti.

“ Jadi ini nama asli kamu Wan?” tanyanya sambil memperhatikan tulisan tulisan di KTPku.

“ Ya bund,”

“ Coba lihat.” Mas Anto meraih KTPku dari tangan Bunda Ti.

“ Lalu kalau Ridwan?” 

“ Itu nama kecilku Bund,”

“ Maksudnya?”

“ Kalau yang di KTP itu nama lahirku Bund, kalau Ridwan itu nama kecilku. Muhammad Ridwan”

“ Kok mbulet sih Wan, apa bedanya nama kecil sama nama lahir perasaan sama deh”

“ Gak sama Bund,”

“ Bedanya? Persaan nama lahir sama nama kecilku sama “ mas Anto menimpali.

“ Kalau aku gak sama mas. Ceritanya Bund, wedeh, kayak mau mendongeng aja…” aku nyengir kuda, Bunda Ti dan mas Anto ikutan nyengir kuda juga melihat ekspresiku. Mungkin aku ini lucu ya, aku nyengir aja semua juga ikut nyengir. Gegegegegegeg…..

“ Waktu aku lahir dulu, aku di kasi nama kayak yang tertulis di KTP itu. Tapi karena setiap malam aku suka nangis dan minta ke jalan besar, akhirnya ibu sama bapak bawa aku ke orang pinter. Orang pinternya itu yang bilang kalau aku gak cocok pake nama itu, maka itu harus di ubah. Nama Muhammad Ridwan itu pemberian orang pinter itu. Begitu ceritanya.”

“ Oalah, gitu, “ 

“ Ya, mas, tapi sampe sekarang, yang di tulis di dokumen resmi ya nama yang ada di KTP itu mas, walau nama M. Ridwan juga di akui…”

“ Kayak status sekolah aja ‘diakui’…”

Wagggagagagagagaga….. kami tertawa serempak.

“ Artinya namamu itu apa sih Wan. Kan katanya setiap nama itu punya arti.”

“ Yang mana Bund?”

“ Yang mana aja, nama tua juga boleh..”

Wagagagagagagagag…..

“ Kalau yang di KTP itu Edy Purnomo kan. Kalau Edi sendiri artinya ‘sangat baik, indah, sedap dipandang’,….”

“ Cie…… muji diri sendiri ne ceritanya….” Bunda protes.

“ Lo, gak Bund, asli itu artinya, lihat aku baik kan orangnya, enak di lihat, indah, sedap di pandang, ganteng….”

“ Woooooo…… “

Wagagagagagagagaga…..

“ Kalau Purnomo itu berasal dari kata purnama. Yang berarti ‘bulan purnama’ atau ‘terang’. Jadi kalau di gabungin kira kira artinya ‘orang yang sangat baik, indah, dan sedap di pandang seperti bulan purnama yang terang’”

Yang hadir disana tertawa terkekeh. “ Sak karepmu Wan…” ujar Bunda Ti sambil tertawa lepas.

“ Lo bener lo itu. Namaku itu sangat bagus artinya. Semacam doa dari orang tuaku yang selalu melekat untuk aku.” Ah, berbangga sedikit punya nama yang bagus tidak dilarang bukan… :)

“ Nah kalau Muhammad Ridwan?” yang lain nyeletuk.

“ Kalau Muhammad-nya artinya ‘Yang terpuji, di rahmati’, seperti nama Nabi. Kalau Ridwan itu artinya ‘keridhaan’. Ridwan juga nama malaikat penjaga pintu surga dalam ajaran islam bukan? Jadi kalau di gabungin, Muhammad Ridwan itu kurang lebih artinya ‘orang yang terpuji dan diridhai’”

Aku memandang semua yang hadir di sana. “ Namaku indah bukan? Dan semoga aku bisa menjaga keindahan namaku dengan tingkah laku yang baik juga”

“ Amin….” Yang lain menjawab serentak.

“ Nah itu arti namaku, kalau kalian, apa arti nama kalian?”


catatan :
nama yang aku sebutkan disini masih belum termasuk nama panggilanku di beberapa tempat.

Arti kata :
Mbulet                 :    jawa; rumit
Sak karepmu        :    jawa ; (kurang lebih) semaumu saja
Nyeletuk               :    jawa ; menyela pembicaraan

Bagi yang ingin tahu arti namanya silahakan berkunjung ke
http://www.nama.web.id/           


READ MORE - Mereka Bertanya Tentang Arti Namaku

Baca juga yang ini