Sabtu, 06 Agustus 2011

Ide, di manakah kamu berada

Sudah sepuluh menit aku duduk di depan si lapie di dalam kamarku. Tapi belum ada satu paragrafpun yang tercipta. Sejak tadi, belum juga ada ide yang melintas di kepalaku walaupun aku sudah mencoba untuk berfikir, berhayal, berimajinasi sebisaku.

Tapi semua terasa buntu. Tidak ada ide, tidak ada tema, tidak ada gambaran sedikitpun tentang apa yang harus aku tulis di sini. Padahal dalam otakku ini, aku sudah berangan angan untuk menjadi penulis besar yang bisa menghasilkan karya fenomenal sekelas Gibran, atau setidaknya sebuah seri novel spektakuler sekelas Harry Potter-nya JK Rowling. Aku ingin itu. Setidak tidaknya, aku bisa menyamai Mira W atau Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya. Tapi mulai dari mana? Dari huruf apa? Aku tetap termangu.

Aku membayangkan otak seroang penulis sejati seperti O Solihin atau keluarga Asma Nadia. O Solihin sudah menelurkan berbagai macam tulisan dan buku buku yang mengispirasi banyak orang. Seperti Asma Nadia yang hanya perlu menulis sebuah cerita pendek berjudul Emak Ingin Naik haji saja sudah laku untuk di jadikan film layar lebar. Aku berfikir bagaimana otak mereka berkerja. Mungkin, di setiap sudut otak mereka ide bertebaran. Ide ide besembunyi di sana, tidur di sana, bahkan setiap saat menari dan bernyanyi di setiap relung otaknya. Sehingga setiap saat sang pemilik otak itu memerlukan ide untuk tulisan mereka, ide itu sendiri yang menawarkan diri untuk diwujudkan kedalam tulisan tulisan indah mereka.

Lalu aku bagiamana ya…..

Bagaimana memulai cerita dengan baik? dengan kata apa? Dengan pembukaan apa? Heh…., tidak ada sama sekali gambaran tentang itu.

“ Tulisan itu bebas, dia bebas sebebas bebasnya.” Kata seorang penulis kenamaan dalam bukunya tentang kiat menulis yang baik. Tapi mungkin itulah yang jadi masalah bagi aku. Ide dalam otakku ini, tulisan tulisanku ini juga tulisan bebas. Sebebas burung di angkasa, sehingga saking begitu bebasnya, semua itu beterbangan di angkasa tanpa bisa aku tangkap lagi….. TT

Tapi menyerah bukan tipeku. Aku tidak akan pernah menyerah untuk menulis, aku akan terus berusaha sampai aku bisa mewujudkan apa yang aku inginkan.

“ Bagus!” kata penulis handal itu, masih dalam bukunya yang sama. “Seorang penulis itu pantang menyerah, dia itu akan menulis, sampai kapanpun, sampai sebuah tulisan yang dia garap selesai dan bisa di baca sebagai satu kesatuan yang utuh. Tak perlu bagus, tak perlu panjang lebar untuk pemula. Hanya tulis saja apa yang ingin kamu tuliskan”

Bagus juga kata kata ini, cukup membantu aku untuk lebih bersemangat untuk menulis. Tapi menulis tanpa ide, apa jadinya? Menulis tanpa tahu apa yang harus di tulis bagaimana bisa untuk menulis? Aku menggeram geram sendrian.

“ Beralihlah dari tempat di mana kamu berada ketika kebuntuan menyerang otakmu. Sebenarnya pada saat itu, otakmu itu butuh ruang untuk menenangkan diri.” Tertulis begitu juga di buku itu selanjutnya. Nah ini ide yang cemerlang. Sepertinya memang aku harus keluar dari kamarku dulu, mungkin di luar kamar nanti, aku bisa menemukan ide-ide itu. Mungkin si ide sedang ingin bermain petak umpet denganku. Hmmmm…., harus aku temukan dia.

Aku melangkah keluar kamar. Ada adikku sedang nonton tv bersama ayah. Tapi tidak aku dapatkan si ide sedang duduk bersama ayah dan adikku nonton tv bersama. Aku mendensah, meneruskan perjalananku ke …., hmmmm, kemana enaknya? Kedapur saja. Mungkin dengan mengisi sedikit perutku ini, ide akan menghampiri otakku.

Kubuka kulkas, kulihat isinya, tapi tidak ada seonggok ide yang sedang nongkrong di sana. Tidak ada, ide tidak ada disana. Mungkin di dalam sana terlalu dingin buat si ide nongkrong. Kuraih sebotol minuman ringan, kuamati, munkin saja ide sendang berenang renang di dalam minuman di dalamnya. Kalau memang ada, akan aku tegak sampai habis biar si ide ikut ke dalam perutku. Tapi ide tidak ada disana. Ide tidak suka berenang di dalam minuman dingin juga rupanya.

Di rumah penulis, mungkin ide itu berada di mana saja. Di dalam kulkas, di lemari baju, di meja makan, di kebun belakang, di ruang tamu, bahkan mungkin di dalam kotak P3K. Begitu sang penulis membutuhkan ide, dia tinggal comot saja. Tinggal ambil ide mana yang dia inginkan untuk dia tuangkan di dalam tulisannya. Tapi mengapa ide tidak mau berdiam di rumahku ini? Aku mendesah.

Aku melangkah ke meja makan, dan si ide tidak sedang makan malam di sana. Rupanya di ide tidak sedang lapar malam ini. Aku buka tudung makanan, hanya ada tempe dan tahu yang tersenyum padaku. “ Kalian tahu di mana ide bersembunyi?” tanyaku pada mereka. Tapi mereka tidak bergeming. Mereka diam. Bahkan tadi yang kusangka mereka sedang tersenyum, sekarang tidak lagi, aku baru menyadari, kalau mungkin otakkulah yang mulai gila. Heh….

Malam semakin larut saja, aku semakin lelah rasanya. Sebelum aku masuk kekamar lagi dan berhadapan dengan si lapie yang menuntutku untuk mengetikkan sesuatu diatas lembaran MS Word yang terbuka dengan kursornya yang terus berkedip kedip, aku ingn duduk duduk dulu saja di sini. Membuka buka majalah lama mungkin bisa jadi jalan bagiku untuk menemukan di mana ide itu berada. Atau mungkin si ide sudah memasang iklan di salah satu halamannya, untuk mengabarkan di mana dia berada.

***

Tok tok tok…..
Ada ketukan di pintu depan.

“ ada tamu sepertinya, coba lihat siapa yang datang.” Kata ayah padaku.

Aku bangkit dari tempat dudukku menuju ruang depan. Begitu pintu di buka, nampak seorang dengan pakaian yang rapi berdiri di depan pintu. Aneh, kenapa ada tamu dengan pakaian kantor hampir tengah malam seperti ini?

“ permisi” katanya.

“ ya,” jawabku. “ ada yang bisa saya bantu?”

“ apa benar ini rumah bapak Author?” aku sedikit kaget. Itu namaku. Ada apa orang ini mencariku hampir tengah malam begini.

“ ya benar, ada apa ya….” Tanyaku penasaran.

“ pak Author ada dirumah malam ini?” tanyanya lembut.

“ ya, saya sendiri” jawabku setengah mengambang.

“ wah kebetulan sekali. Perkenalkan, nama saya ide” aku tersentak. Tak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Salahkah apa yang aku dengar barusan?

“ maaf, siapa …?” tanyaku untuk menghilangkan keraguan.

“ saya ide pak, bukankah bapak sedang mencari saya akhir akhir ini?” aku mengangguk hampir tak percaya dengan apa yang sedang terjadi di depanku. Benarkah ini wujud dari si ide itu?

“ be,,….. benar….” Jawabku tergagap.

“ tenang pak, saya datang ke sini hanya mau menyerahkan cetakan pertama dari karya pertama bapak…….” Bla bla bla…..Si ide itu kemudian berbicara lebih panjang lagi. Tapi aku tidak mendengar apa yang sedang dia jelaskan. Aku lebih direpotkan untuk mencari pengertian dari apa yang sebenarnya terjadi. Apa ini nyata? Apa memang ada ide yang berwujud seperti ini? Apa ide bisa hadir dalam bentuk seorang manusia? Aku menggeleng geleng mengusir pusing yang tiba tiba menyergap keningku.

Si ide menyerahkan sebuah buku ber-cover hitam kearahku. Di halaman sampulnya, tertulis sebuah judul yang di cetak dengan warna emas diatas latar hitam. Benar benar sebuah desain yang mengagumkan. Dan yang lebih mencengangkan lagi, tertulis jelas di sana namaku sebagai pengarangnya.

“ ini adalah buku pertama bapak yang tadi saya ceritakan. File aslinya pasti masih ada di laptop bapak bukan?”

File asli? Laptop?

Aku langsung berlari kekamar. Memeriksa lapieku yang masih terbuka dengan kursor yang berkedip kedip. Tapi halamannya sekarang tidak lagi kosong, tapi penuh dengan deretan kata kata membantuk sebuah cerita. Ini tulisanku? Ini buku pertamaku? Wah….., betapa mengagumkannya!

Aku segera kembali keruang tamu. Tadi aku tinggalkan si ide di sana. Tapi, kemana dia? Kenapa pergi tanpa berpamitan padaku? Bukankah pembicaraan kami belum selesai?

Aku segera berlari ke dalamkamarku lagi. Aku ingin segera membaca apa yang sudah aku tulis di lapie-ku. Benarkah itu benar benar tulisanku?

Tapi alangkah terkejutnya aku ketika aku dapati adikku sendang nongkrong di depan lapieku. Tangannya menekan nekan keyboard lapieku. Astaga……!!! Aku menjerit menyadari apa yang sudah terjadi. Adikku sudah menambahkan huruf huruf secara acak di antara tulisan tulisan yang sudah aku buat. Dia rupanya sudah menekan tombol delete berkali kali, menekan backspace berkali kali juga. Yang ada sekarang, tulisan itu sudah tidak dapat di baca secara utuh lagi.

Aku mengeram marah sekali. Tulisan pertamaku yang berharga ini sudah di rusak oleh anak kecil tidak tahu malu ini. Aku berusaha meraih adikku, anak kecil ini perlu di beri pelajaran…!!!!

Sebuah guncangan mengguncang bahuku keras keras membuat aku membuka mataku dan bangun dari tidurku. Ah…., rupanya aku sudah tertidur waktu membaca majalah tadi.

“ mimpi apa kamu?” tanya ayahku. Beliau memegang bahuku erat erat. Butuh waktu beberapa menit untukku untuk mengumpulkan kesadaranku lagi. Dengan desahan kecil aku berusaha duduk di kursi dengan posisi yang benar.

Mimpi rupanya. Cukup mengagetkan dan sekaligus mengecewakan sewaktu aku sadari kalau halaman MS Word di lapieku masih putih bersih…..

Ide, di manakah kamu berada….
READ MORE - Ide, di manakah kamu berada

Jumat, 22 Juli 2011

Cicak di Dinding : Awal Kegagalanku


Aku adalah sang juara, tak ada yang meragukan itu! Di lintasan hitam di malam yang pekat seperti ini, dari tiga tahun yang lalu, akulah rajanya. Dan belum ada yang bisa membantah dengan bukti yang nyata akan hal ini. Tidak! Tentu saja, sampai seokor cicak di langit langit kamarku yang sedang menggoda pasangannya malam itu mengubah arah hidupku seratus delapan puluh derajat tepat. Dari sang raja, sang juara, menjadi pecundang yang meninggalkan arena perang untuk selamanya. Aku meninggalkan gelanggang ini hanya dengan satu kekalahan yang sangat sangat memalukan (sekaligus membanggakan).

Untuk kalian para sahabat mudaku, kutulis ini agar menjadi ilham buat kita semua. Kisah ini terjadi sembilan tahun lalu, ketika aku beru saja lepas dari bangku SMU.

***

“ Tidak ada kebut kebutan lagi malam ini!!!” ibuku berteriak tepat di mukaku malam itu. Ayah berkacak pinggang dua meter di belakang ibuku. Wajahnya yang mengeras, tak bisa aku lawan lagi.

“ Sekarang masuk ke dalam kamar. Tidur!” ultimatum itu masih terus berlanjut. “ Ibu akan mengunci kamar kamu sampai besok pagi. Dan ingat, kalau kamu gak mau juga berubah dari kebiasaanmu ini, setiap malam kamu akan tidur dengan kamar terkunci dari luar…!!!”

“ Bu, aku…..” aku mencoba membela diriku, tapi satu suara keras dari ibuku, menutup mulutku lagi sebelum aku sempat mengucapkan sepatah katapun juga.

“ Tidak ada pembelaan diri malam ini. Kita akan membicarakannya besok pagi, dengan kepala dingin….” Suara ibu masih saja meninggi. Tapi tak pernah aku sadari, bahwa itulah suara ibu yang terakhir aku dengar.

“ Tapi bu…..”

“ Arif…. !” itu suara ayah, pelan, datar, tapi penuh tenaga dan wibawa. Suara yang belum pernah aku bantah selama ini. Bukan karena aku takut pada ayahku. Tapi lebih dari itu, sikap ayah yang tegas dengan sedikit kata katalah yang membuat jiwaku tunduk setunduk tunduknya pada setiap perkataannya. Dan janjinya untuk memblokir seluruh fasilitas yang di berikannya tadi siang kalau aku gak bisa bersikap baik di depan mereka aku sadari betul bukanlah janji yang sekedar diucapkan saja. Ayah selalu melakukan apa yang beliau ucapkan.

“ Arif, masuk kamar kamu sekarang. Besok kita akan bicara hal ini setelah sarapan.” Kata ayah.

Aku menghela nafas berat. Tidak ada celah aku rasa untuk malam ini. Aku berusaha menurunkan egoku sambil berfikir keras bagaimana caranya aku bisa keluar malam ini tanpa harus ayah dan ibuku tahu. Aku dalah sang juara. Dan aku tidak akan terkalahkan oleh siapapun hanya dengan alasan bodoh seperti ini. Aku harus hadir  di sana. Harus!

***

Aku menghempaskan badan di kasur kingsize-ku begitu pintu di kunci dari luar. Otakku berputar putar memikirkan rencana apa dan bagaimana caranya aku bisa keluar dari kamar ini.

Hal pertama yang aku pikirkan adalah menghubungi teman temanku di luar sana. Setidaknya aku harus mengulur waktu agar aku bisa berfikir cara untuk bisa keluar.

“ Dua jam lagi, “ janjiku pada mereka. Dan sukurlah mereka setuju pertandingan malam ini diundur dua jam.

Tapi apa yang harus aku lakukan selama dua jam waktu yang tesisa ini. Aku berputar putar didalam kamar. Mencari setiap celah dan kemungkinan yang bisa aku lakukan untuk kabur. Jendela bukanlah jalan yang bisa diandalkan. Walaupun aku bisa membuka daun jendelanya, tapi aku tidak mungkin bisa untuk menjebol teralis besi yang terpasang kokoh di bagian dalamnya.

Sh***t……!!!

Aku mengumpat dalam perasaanku yang bercampur baur. Benci, gelisah, marah, dengan adrenalin jiwa mudaku yang terus membuncah. Tangan ini rasanya gatal untuk mencenkram pedal gas dalam dalam. Badan ini rasanya meriang tak karuan. Hanya angin malam yang dingin yang bisa membuat jiwaku tenang malam ini. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana…….

Aku terus berpikir, terus berputar putar. Melolong dan mengiba agar diizinkan keluar malam ini pada ayah dan ibuku sungguh adalah hal bodoh yang bisa aku lakukan. Tapi itu tidak mungkin. Mereka tidak akan bergeming dari keputusannya.

Telapak tanganku mulai mengeluarkan keringat dingin saat waktu menunjukkan pukul 23.16 menit, itu artinya, hanya ada 44 menit sebelum pertandingan dimulai. Ini adalah pertandingan penentuan bagiku. Seorang jagoan lapangan trek dari kota lawan datang malam  ini untuk menentukan aku atau dia yang benar benar pantas untuk menyandang gelar sang raja, sang juara!.

Kuhempaskan sekali lagi badanku ke atas ranjangku. Pukul 23.21 ketika itu, dan pikiranku makin buntu, makin mustahil rasanya aku bisa kabur. Kupejamkan mataku, tapi pikiranku tetap buntu. Tatap tidak ada jalam keluar. Jiwaku mendidih rasanya, badanku panas dan dingin secara bersamaan. Tak terasa, ada setetes air mata yang menggenangi sudut sudut mataku.

Hah…..!!!

Apa ini? Mana ada sang juara sepertiku menangis! Memalukan sekali. Perlahan kubuka mataku. Dengan napas yang berdengus, kucengkram sprai yang menutupi kasurku ini, ingin rasanya kulampiaskan seluruh kemarahanku malam ini.

Ck… ck… ck ck ck … ck…. Dua ekor cicak melinta di dinding tak jauh dari tempatku berbaring.

Buset, dua ekor cicak itu sepeti mengejekku. Mereka berlari lari riang berkejar kejaran di tembok kamarku. Tidakkah mereka tahu kalau aku lagi dalam keadaan kacau balau sepeti ini?

Kuraih penggaris besiku di meja belajarku. Plak..!! plak… !!! kuhajar mereka. Tapi keduanya lincah benar. Mereka bisa lolos dari setiap pukulanku. Plak…!! Plak…!!! Mereka terus berlari di sepanjang dinding berusaha meloloskan diri dari pukulan pukulan penggaris besiku.

Cicak cicak itu terus berlari keatas, dan…..

Twing…!!!

Mereka menghilang di balik lubang langit langit kamarku. Dan bersamaan dengan itu pula muncul ide cemerlangku. Mengapa aku melupakan lubang buatan di langit langit kamar itu. Bukankah aku bisa kabur dari sana?

Sedetik kemudian, seluruh kekesalanku tiba tiba sirna. Berganti harapan dan kegembiraan yang amat sangat. Terimakasih cicak cicak yang budiman. Suatu hari nanti, aku pasti membalas kebaikan kalian…..

***

Tepat tiga menit sebelum petandingan dimulai aku sudah tiba di arena. Wajah tengang teman teman satu geng motorku perlahan mengendur waktu mereka melihat kedatanganku. Tanpa banyak bicara, aku mempersiapkan diri di atas sepeda motorku. Sepeda motor ini sengaja aku titipkan di rumah salah satu temanku. Buat jaga jaga kalau kalau aku gak bisa bawa motor ini langsung dari rumah. Dan sukurlah, malam ini terbukti analisaku itu tepat.

Lawanku kali ini rupanya bukan orang sembarangan. Dari penampilan dan gayabicaranya, aku bisa menebak orang ini kira kira berusia 5-6 tahun lebih tua dari aku. Kalau aku sekarang berusia dua puluh tahun, berarti dia berusia setidaknya 25 tahun.

Usia yang cukup matang untuk berdiri di arena trek malam ini. Cukup berpengalaman tentunya. Menyadari kenyataan seperti itu sempat membuatku merasa down beberapa saat. Tapi naluri mudaku berbicara lain. Naluri keegoanku terus menyiramkan racun adrenalin kedalam darahku. Membuat semangat yang sempat meredup itu timbul kembali.

“ Perlintasan malam ini panjangnya lima ratus meter” kata salah seorang diantara kami. “ Tidak boleh menyalaka lampu, tidak boleh menyenggol motor lawan. Ok, kalau sudah siap sekarang hitung mundur dimulai, 4……. 3 …….. 2 …….. 1……… GOOOOOOO……..!!!!”

Motorku dan motornya berderum keras. Sesaat kemudian, aku sudah berada di atas angin rasanya. Tuhuhku serasa terbang bersama laju motor yang aku kendarai ini. Ada perasaan senang, ada perasaan puas, ada jiwa yang serasa terpuaskan. Ada debaran di jantungku, ada adrenalin yang berpacu di aliaran darahku. Aku sangat, sangat menikmati saat saat seperti ini.

Lampu jalanan yang mati setelah ditimpuki teman temanku, lampu motor yang tidak menyala. Ditambah awan gelap yang menutupi gugusan bintang gemintang dan bulan semakin membuat suasana malam ini semakin sempurna. Kegelapan yang sempurna. Tidak pekat benar sebenarnya. Tapi cukup untuk membuat sensasi perlombaan malam ini tak terjabarkan.

Tapi malam ini, rupanya takdir berkata lain padaku.  Saat sedang melaju dengan kecepatan diatas angin, tepat beberapa meter setelah belokan pertama yang mengarah ke pusat industri di kota ini, tiba tiba sebuah raungan panjang di sertai cahaya yang membutakan mata menyambut kami. Aku mendengar pekikan, ada suara keras logam beradu di jalanan. Tapi aku cepat menyadari itu. Aku sadar ada sebuah truk proyek berukuran raksasa yang mejaju lambat di depan kami. Cepat cepat aku banting stir kearah kanan. Arah motorku tak lagi bisa di kendalikan, terus merengsek dengan laju yang sempoyongan. Aku masih sempat melihat pembatas jalan itu sebelum benturan keras antara pembatas jalan dan motorku terjadi. Tapi entah bagaimana tepatnya. Tiba tiba saja, aku sudah merasa tubuhku melayang bebas di udara tanpa beban. Dan sesaat kemudian, semuanya jadi gelap yang sempurna……

***

Hari ini adalah hari ke tujuh setelah kejadian di malam itu. Semua yang ada, yang bisa di ketahui dan diingat tiba tiba jadi begitu pahitnya. Bukan hanya kematian lawan balapan motor liarku yang membuat hatiku miris. Tapi lebih dari itu, dua hari yang lalu, ketika aku terbangun dari komaku selama lima hari, sebuah berita duka yang mendalam yang tak pernah aku kira menghujam telingaku. Ibuku meninggal! Ibuku meninggal akibat serangan jantung mendengar kecelakaan yang aku alami……

Tuhan, andaikan aku engkau perbolehkan untuk kembali ke malam itu, aku ingin meminta padamu : jangan pernah Engkau kirimkan dua ekor cicak itu padaku. Biarlah saja aku tidak menyadari keberadaan lubang di langit langit kamarku. Tuhan, hari ini aku menyadari, bahwa aku kalah, aku lemah, aku gagal. Aku gagal mengukuhkan diriku sebagai sang juara di arena balap liar. Aku gagal menjadi raja jalanan seperti impianku. Tapi di balik semua kegagalanku kali ini, ada hikmah besar yang bisa aku ambil. Tuhan, aku sedih, tapi terima kasih sudah memberiku gagalan dan kesedihan ini…….

di posting pertama kali di http://laranta.blogspot.com/2011/02/aku-adalah-sang-juara-tak-ada-yang.html

READ MORE - Cicak di Dinding : Awal Kegagalanku

Kamis, 30 Juni 2011

Aku, Kartu ATM, Abangku, dan Jodohnya

Siang ini, aku memutuskan untuk mampir sebentar di rumah makan sederhana di depan kantor abangku sebelum aku menemuinya. Lelah rasanya terguncang guncang dalam angkutan umum sejak tadi. Perjalanan 6 jam Bondowoso-Surabaya bagiku memang bukan perjalanan yang cukup menyenangkan.

Macet, panas, bedesakan, laju kendaraan yang tidak stabil, lagu lagu yang bising dari pengamen jalanan yang jumlahnya tidak bisa dihitung dengan jari, ditambah pedangang asongan yang ribut menawarkan barang dagangannya. Huh,  kenapa angkutan umum di negeri ini sedemikian parahnya ya? Aku membayangkan seandainya saja aku punya kendaraan pribadi. Mungkin tidak seperti ini keadaannya. Mungkin aku bisa lebih tenang. Mungkin aku bisa lebih menghemat tenagaku. Setidaknya, mungkin tidak perlu sebising itu.

Tapi segelas es teh yang menemani semangkok bakso panas di depanku sedikit membuatku bisa melupakan efek dari segala kebisingan itu. Sedikit menurunkan temperatur otakku. Membuatnya lebih bisa berfikir jernih. Sehingga nanti, aku bisa bertemu dengan abangku dengan keadaan yang lebih baik.

***

Dua wanita muda masuk ke dalam warung bakso sederhana ini saat teh di dalam gelasku tinggal separuh. Setelah memesan makanan dan minuman, dan karena semua tempat duduk sudah terisi, maka duduklah mereka berdua di bangku kosong tepat di depanku.

“ Panas bener ya siang ini” kata wanita muda yang pertama. Aku kira dia sekitar 24 tahun usianya. Dengan baju kerja warna biru tua dan lipstik yang natural. Dia cantik, juga manis. Dan aku suka melihat goresan wajahnya.

“ Namanya juga Surabaya. Kayak yang baru aja kamu di sini” kata wanita kedua. Yang ini berpakaian serba hitam dengan rambut hitam yang di sanggul kebagian atas kepalanya. Lipstiknya merah membara, wajahnya tegas, mengingatkan aku pada istri-istri bawel yang matre. Ouh, semoga saja abangku tidak berjodoh dengan orang macam ini, Tuhan.

Wanita pertama hanya mengulas senyum tipis mendengar jawaban teman sekantornya itu. Mungkin sudah terbiasa dia dengan karakternya. “ Ya mbak Ning. Tapi hari ini panas banget rasanya. Mungkin karena pekerjaanku yang numpuk kali ya…..” Timpalnya. Tapi wanita kedua, yang di panggil mbak Ning itu tampak tak begitu peduli, bahkan untuk menoleh dan memberi sedikit senyuman.

Sebentar kemudian, seorang pelayan datang membawa dua mangkok bakso porsi sedang segelas es teh, dan segelas es jeruk. Aku mencoba mengalihkan perhatianku ke layar telepon genggam di tangan kananku. Sebuah pesan aku kirim ke nomor abangku. Mengabarkan kalau aku sudah di warung didepan kantornya.

“ Mas,” kata wanita pertama ketika pelayan itu selesai meletakkan semua barang yang dia bawa keatas meja.

“ Ya..” Pelayan laki laki itu menjawab dengan santun.

“ Tolong, bungkus satu bakso porsi jumbo sama satu es teh di bungkus juga.”

“ Ya mbak.” Jawab pelayan itu “ Cuma itu saja?”

“ Ya mas, makasih ya. “

“ Sama sama mbak. “

Pelayan itu segera berlalu. Tapi belum juga dua langkah pelayan itu pergi, mbak Ning menoleh dengan ekspresi yang kaku kearah wanita  pertama. “ Buat siapa baksonya. Kok bungkus segala?”

Wanita pertama menyungging senyum, “ Buat mas Topek mbak, “ (hatiku berdegup mendengar nama itu di sebutkan, apa mungkin…..)

“ Topek?”

“ Tufik Rahmad Purnomo mbak, kasian dia” kali ini aku yang pasang telinga setegak tegaknya. Itu nama abangku!

“ Ternyata benar ya yang di kantor selama ini. Kamu benar benar naksir dia kayaknya. Tidak salah ?” tanya mbak Ning. Tidak ada lembut di dalam tutur katanya. Buat telingakuku ini mulai gatal rasanya.

Wanita pertama itu senyum saja mendengar komentar mbak Ning. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan tabiat teman sekarntornya itu. “ Biar sudah mbak Ning temen temen mau ngomong apa. Aku sudah dengar semuanya kok. “

“ Walah, Mala, Mala, jadi bener toh yang di omongin temen temen sekantor itu? Sayang kalau kamu memang bener bener jadian ma si Topek. Gitu kok orangnya kamu senengin.”

Aku hampir muntab mendengar kata kata orang yang di panggil mbak Ning ini. Busyet dah dia. Kok sampai segitunya sama abangku. Emang abangku seburuk apa di kantornya kok sampai di cap segitu jeleknya.

“ La kenapa toh mbak Ning, apa salah saya suka sama mas Topek?”

“ Topek itu lo orangnya kere,” timpal mbak Ning. Astaghfirullah, pengen tak jotos orang ini sama aku. Tapi aku masih penasaran, apa yang sebenarnya terjadi sama abangku di kantornya. Jadi aku putuskan untuk diam dulu. Dengarkan dulu.

“ Jangan bilang gitu mbak Ning, jangan pandang orang dari hartanya. “

“ Terus dari apanya? “

“ Dari hatinyalah mbak Ning, Topek orang yang baik. Dia beda sama yang lain. “

“ Halah, tak kasi tahu ya Mala. Sekarang ini, kalau cari calon suami itu yang ada duitnya. Mau makan apa kita kalau suami kita orang kere?”

“ Banyak duitnya tapi temperamennya jelek buat apa mbak Ning. Aku pengen orang yang bertanggung jawab saja kayak Topek itu. Dia itu loh selama ini kerja demi keluarganya. Dia itu kerjanya bagus. Kan kita semua sudah tahu kalau bulan ini dia di promosikan. “

“ Ya, aku tahu “ timpal mbak Ning.” Tapi dia itu lo tidak bisa ngatur uang. Masak tiap bulan uangnya abis terus. Sampe sampe di bela belain puasa segala buat ngirit. Emang kemana uangnya?”

“ Di kirim mbak Ning”

“ Dikirim?” wajah mbak Ning mengkerut kerut.

“ Ya, di kirim kerumahnya di Bondowoso. Buat ibu sama adeknya di sana. Bapaknya kan dah meninggal?”

“ Hah, beneran tah?” timpal mbak Ning dengan nada tidak percaya.

“ Bener mbak Ning. Aku tahu sendri kok. Bahkan pernah aku diminta tolong ma Topek buat transfer ke rekening adiknya di sana. Waktu itu, kalau tidak salah dia lupa bawa dompetnya waktu keluar sama aku. Padahal uangnya di butuhkan hari itu juga sama adiknya. Jadi aku tahu kira kira berapa yang dia kirim kerumahnya tiap bulan.”

“ Gitu tah? Banyak ya yang dia kirim ke rumahnya, sampai sampai dia tidak bisa beli celana sama kemeja baru. Perasaan tiap hari yang di pake itu itu saja.”

Mala tampak merenung. “ kasian dia mbak Ning. Pagi ini dia tidak sarapan. Katanya adiknya lagi butuh tambahan uang buat biaya kuliahnya di sana. Jadi dia harus lebih berhemat lagi. “ Mala menghela nafasnya. Jantungku berdegup kencang. Kali ini bukan karena amarah pada mbak Ning, tapi karena jengkel pada diriku sendiri! Aku jengkel dan marah pada diriku sendiri. Perlahan muncul kesadaran dalam diriku. Betapa selama ini aku sudah menjadi benalu buat abangku sendiri.

“ Siang ini, katanya adiknya mau datang ke sini” Mala melanjutkan kalimatnya.

“ Kenapa? “ tanya mbak Ning. Kali ini dengan nada yang lebih lembut.

“ Kartu ATM adiknya keblokir. Kemarin dia salah masukin pin”

Aku menundukkan wajah dalam dalam. Gemuruh dalam hatiku bertambah besar. Aku tahu, pasti wajahku sudah memerah sekarang. Betapa cerobohnya aku! Betapa malunya aku….

“ Kalau gitu, kasian sama Topek ya. Kalau adiknya ke sini, berarti butuh pengeluaran lagi buat ongkos perjalanannya. Gitu ongkosnya masih Topek juga yang kasi?”

“ Gak tahu aku mbak Ning. Makanya aku beliin bakso buat dia. Kasian kalau siang ini dia tidak makan lagi.”

“ Di tambah lontong aja mal, biar lebih ada isinya.” Timpal mbak Ning tiba tiba. Sekarang hatiku luruh. Ada setetes air mata yang mengambang di pelupuk mataku. Aku merasa sangat, sangat tidak berguna sekarang. Sangat bodoh, egois…..! aku benci diriku sendiri….!!! Aku benci…..!!! mbak Ning yang tadi sebegitu bencinya sama abangku saja bisa langsung luluh mendengar kebenaran ini.

“ Ya mbak Ning. Nanti aku pesenin. Kalau di bantu secara materi dia pasti nolak. Kalau gini, mungkin bisa lebih membantu.”

“ Nanti Malam ajak dia makan Malam di rumahku Mal. Aku juga jadi tidak tega dengernya. Emang adeknya itu cowok apa cewek sih.”

“ Cowok mbak.”

“ Sudah kuliah dia ya? Udah besar berarti. Sudah bisa cari uang sendiri seharusnya. Biar Topek bisa lebih mengatur keuangannya. Tidak mau nabung apa dia itu? Kalau mau nikah kan butuh uang.” Kalimat mbak Ning itu terdengar pedas di telingaku. Tapi aku cuma bisa diam saja. Aku sudah runtuh….. aku sudah hancur rasanya…..

“ Dulu Mal, biar aku cewek gini, aku gak pernah minta orang tua buat biaya kuliah. Aku kerja Mal. Nyuci piring di rumah makan. Boro boro mau minta orang tua. La yang mau buat orang tuaku makan sendri saja sudah repot setengah mati carinya. Gimana juga mau nanggung kuliahku…., ini adiknya cowok. Seharusnya Topek bisa kasi dia penjelasan ke adiknya. Emang dia mau nikah umur berapa?”

“ Ya mbak, itu yang juga jadi pikiranku. Topek belum bisa nerima aku katanya karena dia belum siap nanggung hidupku. Dia masih punya tanggungan di rumahnya. Padahal aku sudah bilang sama dia kalau aku mau belajar hidup sederhana. Belajar menerima dia apa adanya.”

“ Orang tua kamu sudah setuju ma hubungan kalian?”

“ Orang tuaku sebenarnya suka ma mas Topek mbak. Mereka bilang jarang ada orang kayak mas Topek jaman ini. Tapi ya itu mbak, mas Topeknya tidak bisa lepas tanggung jawabnya sekarang ini. …….”

Aku bangkit dari tempat dudukku. Ada air mata yang menetes dari mataku. Tapi aku sudah tidak lagi perduli.” CUKUP…..!!!” kataku tegas. Walau aku tahu. Suaraku tidak keluar dengan sempurna.

Kedua wanita itu menganga kaget. “Aku adek mas Topek…….!!!! berhenti bicara tentang aku!!!” Aku berteriak di depan wajah mereka. Tapi sebelum aku bertindak jauh diluar kendali, sebuah tangan dengan cicin yang aku kenali menarik tubuhku menjauh dari sana. Tangan itu, tangan mas Topek.

***

Surabaya sudah kutinggalkan tiga jam yang lalu. Sekarang bus yang aku tumpangi sedang parkir di terminal Probolinggo.

Aku duduk sendiri di salah satu kursi penumpang. Otakku memutar kembali memori tiga setengah jam yang lalu, saat aku sempat bertengkar hebat dengan abangku tadi. Kami bertengkar hebat tepat di depan warung bakso itu.

Aku benar benar kehilangan kendali. Aku merasa aku sangat tidak lagi berguna. Aku merasa kalau aku ini sebernarnya cuma sampah yang bisanya cuma jadi beban orang lain. Aku begitu frustasi tadi. Sampai sampai berusaha menabrakkan diri pada kendaraan yang lewat. Tapi untunglah. Abangku, pria sejati itu bisa mencegahku.

Amarahku mereda ketika  ibu tua pemilik warung bakso itu menyeretku ke dalam ruang tamunya yang berada tepat di belakang warung baksonya. Ada mbak Mala sama mbak Ning juga disana yang bantu abangku menenangkanku.

“ Bang, maafkan adikmu ini ya, aku janji bang, ini adalah uang terakhir yang aku terima dari abang. Bulan depan, cukup abang kirim buat ibu saja. Aku akan berusaha sendiri bang, aku akan jadi seorang lelaki sejati seperti abang.

Bang, makasih sudah jadi inspirasi terbesar dalam hidupku. Terima kasih sudah mengubah aku jadi lebih baik, mbak Mala dan mbak Ning. Tanpa percakapan itu, mungkin aku sekarang tetap jadi seorang pecundang.

Terima kasih Tuhan untuk kejadian hari ini. Terima kasih sudah menegurku. Sekarang aku tahu, tak selamanya menangis itu tanda cengeng. Sekarang aku tahu, kalau menangis itu manusiawi………. Terima kasih untuk hari yang mampu mengubah hidupku ini. Terima kasih untuk segalanya……”

versi lain di http://laranta.blogspot.com/2011/02/aku-abangku-dan-jodohnya.html

READ MORE - Aku, Kartu ATM, Abangku, dan Jodohnya

Selasa, 31 Mei 2011

Tembang Tembang Mi

Aku tau, cepat atau lambat, kabar tentang kematiannya pasti akan sampai juga di telingaku. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini. Tidak juga dalam waktu aku sendiri saja di rumah, benar benar sendiri seperti sekarang.

“ Permintaan terakhir Mi, almarhumah minta kiranya ibu bersedia hadir di pemakamannya….”

Aku terdiam cukup lama mendengar penuturan kedua perwakilan keluarga almarhumah Mi itu. Entah apa yang harus aku lakukan, aku benar benar serperti tidak tahu. Suamiku sedang di luar kota untuk satu bulan ini untuk mengurusi pengiriman barang barangnya ke Bali. Sedangkan ibuku dan anak anakku sedang berlibur ke Surabaya dan akan kembali secepatnya sepuluh hari lagi.

“ Saya akan menghubungi suami saya dulu mas, tunggu sebentar ya…..” kataku, berusaha mencari alasan untuk mengulur waktu, lima belas atau dua puluh menit saja mungkin cukup untuk membantuku mengumpulkan keberanian.

Masih jelas terbayang di mataku bagaimana kelakuan Mi selama berada  di sini. Bagaimana dia mengocok ngocok kartu kartu beraneka ragam gambar itu. Masih aku ingat bagaimana bau deduapaan dan kemenyan yang dia bakar hampir setiap malam di kamar belakang itu. Masih aku ingat, seperti baru kemarin saja semuanya terjadi.

Masih aku ingat juga bagaimana dia bertutur, bagaimana dia menembang tembang gubahannya sendiri. Sebuah tembang yang dia akui terpetik dari dalam hatinya yang terdalam : sebuah tembang tentang kebencian, tentang hati yang tersakiti….

Duh pas sapa se deddie cellep e ate….
Duh pas sapa se deddie terak e mata….
Dhika pon nyengla tak ngarte ka gummah…..
Ate loka pas sapa se nambe’ennah….
Ate loka tak kuat abe’ nika …
Ate loka ebegie….
Ka dhika se pon agebei seksah….
Ka dhika se ngeding neka tape tak perna taresna…..”**


Ya…., tembang itu masih aku ingat sampai sekarang. Dan setiap kali mengingatnya, aku ingin berlari dan berteriak hingga semua kenangan dan bisikan itu hilang dari kepalaku, selamanya!

“ Kenapa kamu nembang seperti itu Mi?” tanyaku suatu hari padanya. Tapi Mi hanya terenyum simpul seperti biasanya. Sebuah senyum yang menyimpan luka. Sebuah senyum dengan tatapan mata penuh kebencian yang mendalam. Tubuhku bergidik setiap kali aku melihat ekspresi wajah Mi itu, bahkan walau itu cuma bayangan dalam ingatanku. Bayangan tentang bagaimana Mi menatap hampa ke sudut ruangan dengan tatapannya yang seolah bisa membakar itu.

“ Kenapa, mbak, tembang yang indah bukan, Mi suka itu……”

“ Indah…..?” tanyaku terdesah pelan. Desahan yang mungkin bahkan aku sendiripun tidak begitu yakin aku telah mengucapkannya. Tapi Mi rupanya tetap mendengarnya dengan jelas. Mi menatapku sejenak, lalu menatap lagi tajam ke sudut ruangan itu.

“ Aku terlanjur sakit Mbak….” Jawabnya, seolah mengerang lewat kalimatnya yang membeku “ Sakit oleh orang orang yang seharusnya menjaga Mi mbak……”

***

“ Bagaimana bu…, “

Pertanyaan kedua utusan  itu mengagetkan lamunanku. Pelan tapi pasti, aku menganggukan kepalaku. “ A…., Aku ikut bersama kalian. Sekarang? “

Keduanya bergumam sukur pada Tuhan. Ada ekspresi lega di kedua wajah mereka. “ Ya, sekarang bu. Kalau mungkin ibu perlu berbenah diri dulu, kami akan mengununggu di sini.”

“ Ah tidak, kita berangkat saja sekarang. Saya begini saja, kasian Mi kalau saya harus bersolek dulu. Mi akan menunggu terlalu lama….”

“ Ah…, sukurlah bu, kalau begitu mari….. “

Aku bergegas ke dalam mobil yang di bawa oleh dua utusan itu. Aku duduk di kursi belakang dan berpesan agar mereka tidak menggangguku. “ Aku butuh untuk sendiri, aku masih terlalu syok dengar kabar ini… ,” pintaku.

Sepanjang jalan, aku masih terus teringat akan Mi. Akan malam malam penuh bau kemenyan dan dupa. Dan juga hio, dupa Cina itu. Mengingat Mi, mengingatkanku juga pada kamar mandi belakang yang tiba tiba saja penuh dengan bunga beraneka warna pada suatu senja yang beranjak malam.

“ Mi, apa yang kamu lakukan dengan bunga bunga itu di kamar mandi….” Tanyaku terkejut.

Mi, tersenyum penuh arti. Dengan tatapan mata yang penuh dengan rasa benci. “ Mi, bicara Mi, kenapa kamu menabur bunga di lantai kamar mandi seperti itu….., ka…kamu gak berbuat yang macam macam kan……”

Mi tersenyum lebih dalam, tatapannya kian membakar. Mi menuntunku. Dia membawa aku ke halaman belakang. Ke bawah pohon bunga kenanga kecil tempat dia menghabiskan hari harinya.

Mi memintaku duduk di sampingnya. Dia memeluk tanganku erat. Seolah tanganku itu, sebuah benda yang bisa menghapus segala luka hatinya.

Mi menyandarkan kepalanya di bahuku,

“ Bolehkah Mi bercerita mbak…..” tanyanya, ketika ayam ayam sudah berlarian santai menuju kandangnya. Tempat di mana mereka akan terlelap malam ini.

“ Bo… boleh Mi…, cerita saja……” jawabku berusaha menahan napas. Mengatur irama detakan dadaku yang tiba tiba berpacu kencang. Entah bagaimana, tiba tiba saja aku merasa yang memeluk tangan itu, yang menyandarkan kepalanya di bahuku itu, bukan lagi Mi, tapi sesosok tubuh tanpa jiwa yang bangkit dari kuburnya untuk membagi duka bersamaku. Dingin, dan semakin dingin saja tangan Mi sore itu.

“ Orang bilang, cinta itu buta mbak, cinta tidak penah mengenal logika…… “ Mi mulai bertutur, mengisahkan kisahnya, “ kata mereka, cinta itu tidak penah mengenal umur, tidak penah mengenal kasta, tidak penah mengenal pada siapa……, cinta itu, tidak penah dipaksakan kan mbak……

Lalu apakah Mi salah kalau Mi cinta pada bapak Mi sendiri…..”

Aku tersentak kaget. Tapi aku harus memastikan kalau aku tidak salah dengar.

“ Siiii…… siapa Mi…..”

“ Bapak, mbak, ayah Mi sendiri…… “ kali ini aku menengang sekurjur tubuhku. Aku ….. aku tidak tau mengapa tiba tiba otakku terasa buntu. Buntu sekali……

“ Bapak kandung Mi, maksudnya…., cinta sebagai anak kan maksud Mi…..” tanyaku dengan debaran jantung yang semakin menggila. Aku berharap Mi akan membuatku lega dengan jawaban yang akan dia lontarkan.

“ Ya, mbak, Mi mencintai bapak kandung Mi sendiri. Cinta seperti seorang gadis mencintai pasangannya, calon bapak dari anak anak yang akan Mi lahirkan.….”

Aku berusaha menarik tangaku dari pelukan Mi. Tapi pelukannya itu terlalu kuat. “ Mmm….mi….” pekikku tertahan.

“ Mi mencitai bapak Mi sendiri, mbak… apa itu salah….? “ Mi mengangkat kepalanya dari bahuku, menatapku dengan mata yang sekarang berkaca kaca, “ Mi mencintai bapak Mi sendiri, Mi ingin bapak menjadi bapak dari anak anak Mi juga, mbak. “ Mi terisak, air matanya perlahan turun ke pipinya yang lembut membeku. Sebeku aku yang tidak tahu harus berkata apa.

“ Mmmmm…. Mi…”

“ Tidak mbak…., jangan katakan Mi salah. Saat ini cuma mbak satu satunya yang Mi harapkan bisa mengerti Mi. Cuma mbak yang bisa membuat Mi tenang… jangan bilang kalau cinta Mi ini salah. Jangan bilang kalau Mi tidak boleh mencitai bapak Mi sendiri….!!!” Mi memekik di depanku. Tanganku masih erat di dalam dekapannya. Dan aku tahu, mataku pasti sedang melotot menahan kaget.

Aku tidak menjawab apapun malam itu. Walau aku tahu sebenarnya apa yang harusnya aku katakan. Tapi dalam keadaan seperti itu, setiap kata seolah olah menjelma asap yang tiba tiba menguap dari dalam tenggorokanku sendiri. Aku tak punya satu katapun untuk Mi dimalam yang menyesakkan dada itu.

***

“ Kita sudah sampai bu…”

“ Ah…, ya….” Desahku. Aku kembali tersadar dari lamunanku.

Aku bergegas turun dri dalam mobil yang membawaku ke rumah Mi itu. Aku membiarkan saja ketika seorang perempuan setengah baya memapahku ke dalam rumah Mi. Limbung rasanya tubuhku ini, serasa hilang tenaga dalam tubuhku seperti menguapnya setiap kata kata dalam tenggorokanku.

Di dalam rumah itu, aku lihat jasad Mi terbaring kuyu di sebuah amben bambu yang tidak begitu tinggi. Wajah Mi membiru, pucat dan pasi. Tapi sesungging senyum Mi yang khas masih terukir di bibirnya yang kini sudah kelu. Tertutup rapat seperti sedang mengabadikan senyuman khasnya itu, senyuman khas seorang Mi, senyum yang mengabadikan sakit hatinya. Senyum yang tiap kali melihatnya, atau mengingatnya, aku selalu begidik. Senyum yang selalu berisi teror, horor nyata yang setiap saat mengganggu hari hariku. Senyum yang selalu mengingatkan aku akan malam malam itu, malam malam Mi bersama kartu kartunya. Malam di mana Mi mengirimkan rasa sakitnya, membaginya dengan orang yang sangat dia cintai, orang yang di pujanya, sekaligus di bencinya sedalam dia mampu.

“ Lihatlah ini mbak,” katanya pada suatu malam, saat aku menemani Mi bermain bersama kartu kartunya. “ Kartu kartu ini adalah teman Mi yang setia. Mereka tidak pernah bohong mbak. Mereka selalu jujur pada Mi. Kartu kartu ini lebih setia dari pada orang orang di luar sana, mbak. Kartu kartu Mi ini tidak munafik seperti mereka. Kartu kartu Mi selalu menolong Mi, mbak, ngasih Mi kebahagian, ngasih Mi kepuasan, hi hihihihihihi….. “ Mi terkekeh sendiri, seolah dia sedang berbicara padaku, dan bercengkrama dengan dunianya sendiri pada saat yang bersamaan.

Mi, selalu menggambarkan betapa dalam sakit hatinya lewat setiap goresan kata yang dia ucapkan, lewat setiap gerik tubuh yang dia ciptakan. Mi seolah punya dunia sendiri, dunia yang hanya dihuni Mi sendiri. Dunia yang hanya bisa di mengerti oleh Mi sendiri. Karena dunia itu, adalah dunia Mi sendiri, tanpa ada orang lain di dalamnya. Dunia Mi dan kartu kartunya. Dunia yang berisi cinta dan rasa sakit yang tak terperikan.

Lalu, Mi menangis sesenggukan sendiri. Tangisan mendalam yang berisi sakit hati, kerinduan dan pendambaan yang baru kali ini aku saksikan. Mi memeluk kartu kartunya, memeluk tangisannya kian dalam.

Aku bergidik. Lagi lagi otakku buntu di depan gadis lugu ini.

“ Mi,…. “ Panggilku. Kuraih pundaknya. Membiarkan Mi menumpahkan segala kegundahannya di bahuku. “ Dunia memang kadang tidak seperti apa yang kita bayangkan Mi, dunia ini kadang terasa sangat kejam, sangat tidak bersahabat…”

Mi menangis membiru.

“ Mi pernah mencintai seorang yang lain mbak.” Katanya malam itu. Aku berfikir, ini mungkin awal dari terbukanya dia padaku. Mungkin ini adalah awal aku bisa masuk ke dalam dunianya. Yang mungkin, bisa jadi awal aku mengangkat Mi dari kesendiriannya.

“ Mi pernah jatuh cinta sama seseorang, mbak. Dia cinta pertama Mi.” Mi mulai berkisah, dalam suasananya yang serak dan dalam. Suara yang aku kenal sebagai suara raga tanpa nafas nafas cinta. “ tapi apa yang dia lakukan sama Mi? mbak tau? Mi sudah memberikan segalanya pada dia. Segalanya mbak…… “ Mi tergugu, aku bergidik. Ada rasa muak yang perlahan menjalari benakku, Muak pada sosok lelaki. Rasa muak yang pernah aku pendam lama, bertahun tahun lamanya.

“ Dia sudah membuat Mi seperti sampah yang tidak pernah di hargai mbak. Mi….., Mi… Mi dijadikan hadiah bergilir setiap malam…… “ Mi meraung dalam tangisannya. Tubuh Mi beguncang. Aku bergetar di seluruh tubuh. Aku merasakan perih dan teriris yang sama dengan yang Mi rasakan. Perasaan seorang wanita yang tersakiti.

“ MEREKA MENJADIKAN MI PELAMPIASAN NAFSU SETAN MEREKA TIAP MALAM MBAK…..  TIAP MALAM….. TIAP MALAM MI SERASA HANCUR MBAK…….“ Mi meraung dalam tangisannya, menumpahkan segala sakit hatinya….

“ Ibu…., Ibu… sabar bu, istighfar….. nyebut bu…..” sepasang tangan keriput menggenggam erat pundakku. Menyadarkanku, membimbing aku kembali kealam sadarku. Tak terasa, tangisanku tumpah di hadapan para pelayat yang hadir.

“ Mari bu, mari ikut saya…” wanita tua itu membimbingku bangkit. Memapahku kedalam bilik kecil yang suram. Bilik di mana Mi menghabiskan hari harinya menjemput ajal.

“ Mi sudah pergi bu, jangan diberati lagi, diikhlaskan saja ya bu….., sebagai neneknya, saya juga merasa sangat kehilangan Mi, cucu perempuan saya satu satunya itu…..” kata kata itu membuat aku serasa luluh. Lalu, tanpa aba aba, aku memeluknya dalam dalam. Memeluknya untuk berbagi tagisan kepedihan ini, tangisan kehilangan ini, tangisan yang seperti tangisan Mi, tangisan yang seerat pelukan Mi di malam itu, malam malam kematian menjemputnya secara perlahan.

“ Lalu salahkah Mi kalau kemudian Mi menilai setiap lelaki itu sama? Mereka hanya datang pada kita pada saat kita di butuhkan saja. Mereka itu datang seperti lalat lalat yang menggerubungi daging yang busuk…., bah……! Mereka itu MENJIJIKKAN…..!!” Kulihat kilatan kebencian yang mendalam di mata Mi malam itu, diantara tetesan air matanya yang bertambah deras. “ Mereka datang hanya untuk mengerubungi seorang Mi yang sudah seperti mayat….!!” Mi kembali melengkingkan kata katanya. Menumpahkan rasa jijiknya penuh penuh. “ Aku BENCI MEREKA…..Mi benci lelaki itu…. MI BENCI……” Mi kembali tergugu, kembali terguncang… kembali meraung raung dalam kehampaannya.

“ Tapi bapak Mi adalah orang yang lain mbak, bapak tidak seperti mereka, bapaklah yang menebus Mi mbak, yang membebaskan Mi dari rumah hitam terkutuk itu…..” aku lihat bulir bulir cinta yang mendalam saat Mi mengucapkan kalimatnya itu. Bulir cinta yang dalam, dalam dan tulus tak terperikan.

“ Itulah sebabnya Mi mencintai bapak Mi sendiri. Tapi karena orang bilang cinta Mi salah, maka bapaklah yang pertama harus mati…..” Mi mendesis, lalu menarik senyumnya yang khas, senyum yang berisi berisi kematian. Senyum yang penuh cinta, cinta tulus yang ternoda kebencian!

***

Sejak malam itu, Mi tidak pernah berhenti bermain bersama kartu kartunya. Mengirimkan rasa sakitnya, mengirimkan ambang kematian pada orang orang yang dia cintai, yang dia benci.

Malam demi malam aku menemani Mi di dalam kamar itu, menemaninya dalam diam. Memperhatikan bagaimana kartu kartu itu terlompat lompat di kedua tangan lugu seorang Mi.

“ Mi sedang mengirimkan kesakitan mbak, sihir halus buat lelaki kejam itu. Mi ingin dia mati pelan pelan, malam demi malam…. “ Mi menyeringai, menunjukkan deretan gigi gigi kematiannya yang kejam.

“ Dan yang ini mbak, ini adalah kematian buat bapak Mi sendiri, kematian perlahan yang sangat manis. Mi ingin bapak mati perlahan, mbak. Dalam hitungan hari sebanyak dia berusaha menemukan Mi. Mi tidak ingin bapak mati dengan susah payah, Mi ingin kematian bapak Mi tidak menyakitkan. Tapi pelan, pelan tapi pasti. Dan di hari dengan tanggal yang sama dengan waktu bapak menemukan Mi, kematian itu akan mencapai ubun ubunnya…. Hi hi hi hi hi hi…..”

Kemudian, malam malam Mi dan aku berikutnya, adalah malam malam di mana bebauan itu terus menyeruak kental mengisi udara di kamar Mi. malam malam di mana bunga bunga beraneka rupa menghiasi kamar mandi kami. Malam berasama menyan, bersama dedupaan, di mana hio mengepul di dalam rongga hidung kami. Hingga sampai malam terakhir, dimana Mi mengirim kematian untuk raganya sendiri.

Aku tak tahu harus menangis atau harus bersukur malam itu. Harus menangis kalau akhirnya Mi juga harus pergi, ataukah harus bersukur bahwa akhirnya aku akan pergi dari kehidupan seorang Mi, dari sosok dengan cinta dan kebencian yang mendalam.

Tapi Mi hari ini sudah benar benar pergi. Dia pergi membawa cinta dan kebenciannya sekaligus. membawa harapan dan keputusasaannya berasama dengannya. Mi pergi bersama setiap kartu yang menemaninya setiap malam. Bersama tembang yang dia nyanyikan tiap malam. Tembang gubahan Mi sendiri, tembang yang selalu sama, setiap malam.

***

Seperti malam malam di mana aku menemaninya menembang dan mengocok kartu, malam inipun rupanya Mi belum bisa membiarkan aku sendiri saja di sini. Malam ini, ketika aku mengetikkan kisah Mi ini sendiri, sebenarnya Mi sedang berada di sampingku. Menemani aku seperti aku menemaninya setiap malam. Walaupun, Mi hadir hanya sebagai sosok suara tanpa raga.

Mi selalu hadir, pembaca yang budiman, di manapun dia diingat, diingat dengan cara apapun, dengan kebencian atau dengan penuh simpati. Perhatikan, saat desau angin atau keheningan di sekitar kita begitu mencekat, atau ketika sekelebat bayangan mendekat di belakang kita. Mungkin disaat itulah Mi akan hadir, Mi hadir bersama senyum kematian dan tembang sihir kartunya yang khas…..

Duh siapa lagi yang akan jadi penyejuk di hati….
Duh siapa lagi yang akan jadi cahaya di mata….
Engkau telah pergi tak tau kemana…..
Hati luka siapa yang akan mengobati….
Hati luka tak kuat diri ini..…
Hati luka ingin kubagi….
Kepada engkau yang sudah membuat siksa….
Kepada engkau yang mendengar tapi tidak pernah cinta…..”**



** Bait tembang terakhir adalah terjemahan dari tembang berbahasa Madura gubahan Mi diatas.



READ MORE - Tembang Tembang Mi

Jumat, 15 April 2011

The smallest, the strongest, the conqueror

Malam itu, pertengahan Desember 2009 pukul 00.02 ketika aku memutuskan pulang dari rumah nenek. Bukan tanpa alasan sebenarnya aku nekad pulang jam segitu. Tapi sungguh, rumah nenek bukan tempat di mana aku bisa tidur dengan nyenyak. Udara dinginnya yang menusuk tulang itu yang membuat aku selalu terjaga sepanjang malam. Walaupun sudah merangkap selimut dan jaket, tapi rasa dingin itu tetap saja seolah olah merasuk dalam tulangku. Lagi pula tidak bebas rasanya kalau harus tidur dengan pakaian setebal ini. Maka itu, pulang mungkin adalah keputusan terbaik buat aku malam ini.

Untunglah ada temanku yang juga hendak pulang dari tempat kerjanya malam itu. Kebetulan juga dia biasanya melintas di depan rumah nenek sekitar tengah malam seperti ini. Jadi aku gak perlu buat pinjam sepeda motor paman untuk pulang, cukup membonceng aja di belakang temanku itu. Badannya yang lebih tinggi dan lebih besar dari aku, bisa jadi tameng buat sedikit menetralkan dinginnya udara malam ini. Ditambah jaket tebal yang aku pinjam dari paman, dan sepeda motor yang di pacu dalam kecepatan tinggi, malam ini jadi sebuah petualangan seru buat aku.

Sepanjang jalan, udara dingin, dan kabut yang turun menambah serunya perjalanan malam ini. Di kanan kiri jalan, jarang ada lampu penerang jalan. Yang ada cuma kegelapan sempurna yang seolah membutakan mata. Jarak antar sekumpulan rumah dan rumah yang lain juga sangat jauh. Dalam perjalanan dengan kecepatan tinggi seperti ini saja, butuh waktu sekitar 3-5 menit untuk menemukan sekumpulan rumah lagi setelah melewati sekumpulan rumah yang lain. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas di kiri kanan jalan malam itu. Di tambah lebar jalan yang memadai, jadilah malam ini kami seolah sedang dalam road race malam yang menantang dan mendebarkan. Naluri lelaki yang mana yang tidak akan tertantang dalam suasana seperti ini! Adrenalin seolah mengucur seperti darah yang terus mengalir dari jantungku yang berdegup kencang.

Motor yang kami tunggangi benar benar seperti kuda besi yang menderu mendesing memecah kesunyian malam. Seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Jalanan yang selalu berbelok belok, memaksa sesekali motor ini seperti hendak rebah ke tanah ketika kami melewati tikungan. Benar benar sebuah sensasi liar luar biasa yang seperti menyentak alam bawah sadarku untuk terus terjaga menikmati seluruh perjalanan ini. Benar benar seperti pertandingan road race yang dengan sensasi luar biasa. Dalam medan yang yang super ekstrim.

Tapi seluruh sensasi itu tiba tiba saja sirna ketika kami memasuki sebuah perkampungan penduduk. Tiba tiba saja temanku itu membelokkan motornya dengan sangat sangat mendadak. Tiba tiba saja malam yang tadinya sepi sunyi, dengan hanya suara motor inilah satu satunya yang mampu memecah kesunyian itu, jadi hingar bingar dengan puluhan orang tumpah ruah di jalan. Malam itu tiba tiba saja berwarna merah kelam. Malam itu, dinginnya entah bagaimana tiba tiba berubah jadi sangat panas, panas sekali. Malam itu, gelapnya tiba tiba sirna, tergantikan dengan dengan ribuan nyala api yang datang dalam jumlah besar!

Sebenarnya aku bingung dengan semua perubahan ini. Tapi ketika aku bisa meraih kesadaranku lagi, semua di sekitarku terlihat putih. Putih dan pucat. Dan ketika aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua menangis pilu…..

***

Subuh menjelang siang ketika aku duduk merenung di musolah kecil itu seorang diri. Dalam keremangan hari yang belum juga sempurna merekah ini, aku berusaha memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Flash backingatanku, membuat aku meneskan air mata penuh penyesalan.

“tiga hari kamu gak sadarkan diri,” kata ibuku di sela sela tangisannya pagi itu. Ibu bercerita kalau malam itu aku di tolong penduduk desa yang aku lintasi ketika motor yang kami kendari tiba tiba oleng tanpa sebab. Mereka bercerita pada ibuku kalau kami beruda terseret setidaknya 20 meter lebih, sebelum sebuah pohon di pinggir jalan menghentikan laju motor kami.

“tapi kenapa?” tanyaku,

“seekor serangga kecil masuk di mata temanmu. Dia kehilangan matanya sekarang,” ibuku menangis sesenggukan. Aku tahu, dia bukan sekedar temanku, tapi dia sahabatku, sahabat dari masa kecil, dia tetangga kami, anak satu satunya dari keluarga sederhana itu.

Hatiku menangis pilu, air mataku menetes dan terus mengalir. Pilu rasanya seluruh jiwaku. Badanku seperti melayang entah kemana. Yang terbayang di pelupuk mataku, hanyalah raut wajah temanku yang sangat aku sayangi itu. Tapi hanya raut wajah penuh kesedihan, pucat dan pilu tanpa masa depan.

Aku berusaha beristighfar. Menenangkan pikiranku. Aku mengingat Tuhanku. Meminta dalam batinku dengan sangat untuk memberiku sebuah ketabahan, ketabahan buat kami semua. Ketabahan dan kebesaran hati buat temanku, buat keluarganya, buat ibuku, dan hati yang lapang untuk bisa menerima ini.

Tuhan seolah sedang berbicara pada kami semua dengan caranya sendiri. Dia seolah menegur kami dengan kesombongan kami selama ini. Dia seolah ingin berbicara pada kami kalau kami bukanlah mahluknya yang terkuat. Masih ada yang lain yang lebih kuat walaupun mereka di ciptakan tidak sesempurna kami. Serangga kecil yang masuk kedalam mata temanku itu adalah contohnya. Bagaimana dia yang gagah, tampan, dan sehat bisa berubah seketika hanya oleh serangga malam yang tidak pernah di perhitungkan di peradaban manapun itu.

Tuhan sudah berbicara pada kita bahkan lewat ciptaannya yang paling sederhana. Kita menyebut ciptaan tuhan yang setengah hidup itu ‘virus’. Mahluk yang hanya hidup dengan menumpang di kehidupan yang lain.

Tapi bisakah kita mengalahkan mahluk terkecil itu dengan ilmu yang kita miliki sekarang? Bahkan dengan tekhnologi tercanggih sekalipun, kita belum bisa benar benar terbebas dari HIV. Bahkan perlu diingat ketika kita membakar sesama kita hanya untuk menghilangkan virus ebola. Lalu di mana kekuatan dan kesombongan manusia kalau untuk mengalahkan ciptaanNYA saja tidak mampu. Lalu di manakah akal sehat kita ketika kita dengan beraninya menantang Sang Pemberi Kehidupan?

Hatiku kacau, air mataku berderai derai mengingat segala dosa yang sudah aku lakukan. Dalam sesenggukan yang mendalam, kuutarakan kenginginanku pada ibuku, “ bu, aku masih punya dua mata, bolehkah aku berbagi mata dengan dia kalau dokter bisa mengusahakannya? Aku ingin memberikan mata kananku buat dia, yang kiri, aku masih membutuhkannnya.”

Tak ada jawaban dari ibuku. Selain hanya pelukan dan raungannya yang semakin menjadi….

Hari ini, satu bulan setelah kejadian itu, aku beringsut meninggalkan musola kecil ini ketika matahari mulai beranjak meninggi. Aku siap menemui dokter ahli yang bisa memindahkan mata kananku, buat sahabatku yang baik…….


Hikmah :
  1. Kesombongan itu hanya milik Tuhan, sama sekali tidak alasan bagi kita untuk menyombongkan diri, kalau untuk mengalahkan makhluk serendah virus aja gak bisa, bagaimana kita bisa menyombongkan diri?
  2. Persahabatan itu bukan cuma di kala senang saja. Penderitaan akan jadi ujian bagi ketulusan sebuah persahabatan.
  3. Relalah berkorban, untuk siapapun, selama itu berkorban untuk kebaikan….

READ MORE - The smallest, the strongest, the conqueror

Baca juga yang ini