Kamis, 30 Juni 2011

Aku, Kartu ATM, Abangku, dan Jodohnya

Siang ini, aku memutuskan untuk mampir sebentar di rumah makan sederhana di depan kantor abangku sebelum aku menemuinya. Lelah rasanya terguncang guncang dalam angkutan umum sejak tadi. Perjalanan 6 jam Bondowoso-Surabaya bagiku memang bukan perjalanan yang cukup menyenangkan.

Macet, panas, bedesakan, laju kendaraan yang tidak stabil, lagu lagu yang bising dari pengamen jalanan yang jumlahnya tidak bisa dihitung dengan jari, ditambah pedangang asongan yang ribut menawarkan barang dagangannya. Huh,  kenapa angkutan umum di negeri ini sedemikian parahnya ya? Aku membayangkan seandainya saja aku punya kendaraan pribadi. Mungkin tidak seperti ini keadaannya. Mungkin aku bisa lebih tenang. Mungkin aku bisa lebih menghemat tenagaku. Setidaknya, mungkin tidak perlu sebising itu.

Tapi segelas es teh yang menemani semangkok bakso panas di depanku sedikit membuatku bisa melupakan efek dari segala kebisingan itu. Sedikit menurunkan temperatur otakku. Membuatnya lebih bisa berfikir jernih. Sehingga nanti, aku bisa bertemu dengan abangku dengan keadaan yang lebih baik.

***

Dua wanita muda masuk ke dalam warung bakso sederhana ini saat teh di dalam gelasku tinggal separuh. Setelah memesan makanan dan minuman, dan karena semua tempat duduk sudah terisi, maka duduklah mereka berdua di bangku kosong tepat di depanku.

“ Panas bener ya siang ini” kata wanita muda yang pertama. Aku kira dia sekitar 24 tahun usianya. Dengan baju kerja warna biru tua dan lipstik yang natural. Dia cantik, juga manis. Dan aku suka melihat goresan wajahnya.

“ Namanya juga Surabaya. Kayak yang baru aja kamu di sini” kata wanita kedua. Yang ini berpakaian serba hitam dengan rambut hitam yang di sanggul kebagian atas kepalanya. Lipstiknya merah membara, wajahnya tegas, mengingatkan aku pada istri-istri bawel yang matre. Ouh, semoga saja abangku tidak berjodoh dengan orang macam ini, Tuhan.

Wanita pertama hanya mengulas senyum tipis mendengar jawaban teman sekantornya itu. Mungkin sudah terbiasa dia dengan karakternya. “ Ya mbak Ning. Tapi hari ini panas banget rasanya. Mungkin karena pekerjaanku yang numpuk kali ya…..” Timpalnya. Tapi wanita kedua, yang di panggil mbak Ning itu tampak tak begitu peduli, bahkan untuk menoleh dan memberi sedikit senyuman.

Sebentar kemudian, seorang pelayan datang membawa dua mangkok bakso porsi sedang segelas es teh, dan segelas es jeruk. Aku mencoba mengalihkan perhatianku ke layar telepon genggam di tangan kananku. Sebuah pesan aku kirim ke nomor abangku. Mengabarkan kalau aku sudah di warung didepan kantornya.

“ Mas,” kata wanita pertama ketika pelayan itu selesai meletakkan semua barang yang dia bawa keatas meja.

“ Ya..” Pelayan laki laki itu menjawab dengan santun.

“ Tolong, bungkus satu bakso porsi jumbo sama satu es teh di bungkus juga.”

“ Ya mbak.” Jawab pelayan itu “ Cuma itu saja?”

“ Ya mas, makasih ya. “

“ Sama sama mbak. “

Pelayan itu segera berlalu. Tapi belum juga dua langkah pelayan itu pergi, mbak Ning menoleh dengan ekspresi yang kaku kearah wanita  pertama. “ Buat siapa baksonya. Kok bungkus segala?”

Wanita pertama menyungging senyum, “ Buat mas Topek mbak, “ (hatiku berdegup mendengar nama itu di sebutkan, apa mungkin…..)

“ Topek?”

“ Tufik Rahmad Purnomo mbak, kasian dia” kali ini aku yang pasang telinga setegak tegaknya. Itu nama abangku!

“ Ternyata benar ya yang di kantor selama ini. Kamu benar benar naksir dia kayaknya. Tidak salah ?” tanya mbak Ning. Tidak ada lembut di dalam tutur katanya. Buat telingakuku ini mulai gatal rasanya.

Wanita pertama itu senyum saja mendengar komentar mbak Ning. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan tabiat teman sekarntornya itu. “ Biar sudah mbak Ning temen temen mau ngomong apa. Aku sudah dengar semuanya kok. “

“ Walah, Mala, Mala, jadi bener toh yang di omongin temen temen sekantor itu? Sayang kalau kamu memang bener bener jadian ma si Topek. Gitu kok orangnya kamu senengin.”

Aku hampir muntab mendengar kata kata orang yang di panggil mbak Ning ini. Busyet dah dia. Kok sampai segitunya sama abangku. Emang abangku seburuk apa di kantornya kok sampai di cap segitu jeleknya.

“ La kenapa toh mbak Ning, apa salah saya suka sama mas Topek?”

“ Topek itu lo orangnya kere,” timpal mbak Ning. Astaghfirullah, pengen tak jotos orang ini sama aku. Tapi aku masih penasaran, apa yang sebenarnya terjadi sama abangku di kantornya. Jadi aku putuskan untuk diam dulu. Dengarkan dulu.

“ Jangan bilang gitu mbak Ning, jangan pandang orang dari hartanya. “

“ Terus dari apanya? “

“ Dari hatinyalah mbak Ning, Topek orang yang baik. Dia beda sama yang lain. “

“ Halah, tak kasi tahu ya Mala. Sekarang ini, kalau cari calon suami itu yang ada duitnya. Mau makan apa kita kalau suami kita orang kere?”

“ Banyak duitnya tapi temperamennya jelek buat apa mbak Ning. Aku pengen orang yang bertanggung jawab saja kayak Topek itu. Dia itu loh selama ini kerja demi keluarganya. Dia itu kerjanya bagus. Kan kita semua sudah tahu kalau bulan ini dia di promosikan. “

“ Ya, aku tahu “ timpal mbak Ning.” Tapi dia itu lo tidak bisa ngatur uang. Masak tiap bulan uangnya abis terus. Sampe sampe di bela belain puasa segala buat ngirit. Emang kemana uangnya?”

“ Di kirim mbak Ning”

“ Dikirim?” wajah mbak Ning mengkerut kerut.

“ Ya, di kirim kerumahnya di Bondowoso. Buat ibu sama adeknya di sana. Bapaknya kan dah meninggal?”

“ Hah, beneran tah?” timpal mbak Ning dengan nada tidak percaya.

“ Bener mbak Ning. Aku tahu sendri kok. Bahkan pernah aku diminta tolong ma Topek buat transfer ke rekening adiknya di sana. Waktu itu, kalau tidak salah dia lupa bawa dompetnya waktu keluar sama aku. Padahal uangnya di butuhkan hari itu juga sama adiknya. Jadi aku tahu kira kira berapa yang dia kirim kerumahnya tiap bulan.”

“ Gitu tah? Banyak ya yang dia kirim ke rumahnya, sampai sampai dia tidak bisa beli celana sama kemeja baru. Perasaan tiap hari yang di pake itu itu saja.”

Mala tampak merenung. “ kasian dia mbak Ning. Pagi ini dia tidak sarapan. Katanya adiknya lagi butuh tambahan uang buat biaya kuliahnya di sana. Jadi dia harus lebih berhemat lagi. “ Mala menghela nafasnya. Jantungku berdegup kencang. Kali ini bukan karena amarah pada mbak Ning, tapi karena jengkel pada diriku sendiri! Aku jengkel dan marah pada diriku sendiri. Perlahan muncul kesadaran dalam diriku. Betapa selama ini aku sudah menjadi benalu buat abangku sendiri.

“ Siang ini, katanya adiknya mau datang ke sini” Mala melanjutkan kalimatnya.

“ Kenapa? “ tanya mbak Ning. Kali ini dengan nada yang lebih lembut.

“ Kartu ATM adiknya keblokir. Kemarin dia salah masukin pin”

Aku menundukkan wajah dalam dalam. Gemuruh dalam hatiku bertambah besar. Aku tahu, pasti wajahku sudah memerah sekarang. Betapa cerobohnya aku! Betapa malunya aku….

“ Kalau gitu, kasian sama Topek ya. Kalau adiknya ke sini, berarti butuh pengeluaran lagi buat ongkos perjalanannya. Gitu ongkosnya masih Topek juga yang kasi?”

“ Gak tahu aku mbak Ning. Makanya aku beliin bakso buat dia. Kasian kalau siang ini dia tidak makan lagi.”

“ Di tambah lontong aja mal, biar lebih ada isinya.” Timpal mbak Ning tiba tiba. Sekarang hatiku luruh. Ada setetes air mata yang mengambang di pelupuk mataku. Aku merasa sangat, sangat tidak berguna sekarang. Sangat bodoh, egois…..! aku benci diriku sendiri….!!! Aku benci…..!!! mbak Ning yang tadi sebegitu bencinya sama abangku saja bisa langsung luluh mendengar kebenaran ini.

“ Ya mbak Ning. Nanti aku pesenin. Kalau di bantu secara materi dia pasti nolak. Kalau gini, mungkin bisa lebih membantu.”

“ Nanti Malam ajak dia makan Malam di rumahku Mal. Aku juga jadi tidak tega dengernya. Emang adeknya itu cowok apa cewek sih.”

“ Cowok mbak.”

“ Sudah kuliah dia ya? Udah besar berarti. Sudah bisa cari uang sendiri seharusnya. Biar Topek bisa lebih mengatur keuangannya. Tidak mau nabung apa dia itu? Kalau mau nikah kan butuh uang.” Kalimat mbak Ning itu terdengar pedas di telingaku. Tapi aku cuma bisa diam saja. Aku sudah runtuh….. aku sudah hancur rasanya…..

“ Dulu Mal, biar aku cewek gini, aku gak pernah minta orang tua buat biaya kuliah. Aku kerja Mal. Nyuci piring di rumah makan. Boro boro mau minta orang tua. La yang mau buat orang tuaku makan sendri saja sudah repot setengah mati carinya. Gimana juga mau nanggung kuliahku…., ini adiknya cowok. Seharusnya Topek bisa kasi dia penjelasan ke adiknya. Emang dia mau nikah umur berapa?”

“ Ya mbak, itu yang juga jadi pikiranku. Topek belum bisa nerima aku katanya karena dia belum siap nanggung hidupku. Dia masih punya tanggungan di rumahnya. Padahal aku sudah bilang sama dia kalau aku mau belajar hidup sederhana. Belajar menerima dia apa adanya.”

“ Orang tua kamu sudah setuju ma hubungan kalian?”

“ Orang tuaku sebenarnya suka ma mas Topek mbak. Mereka bilang jarang ada orang kayak mas Topek jaman ini. Tapi ya itu mbak, mas Topeknya tidak bisa lepas tanggung jawabnya sekarang ini. …….”

Aku bangkit dari tempat dudukku. Ada air mata yang menetes dari mataku. Tapi aku sudah tidak lagi perduli.” CUKUP…..!!!” kataku tegas. Walau aku tahu. Suaraku tidak keluar dengan sempurna.

Kedua wanita itu menganga kaget. “Aku adek mas Topek…….!!!! berhenti bicara tentang aku!!!” Aku berteriak di depan wajah mereka. Tapi sebelum aku bertindak jauh diluar kendali, sebuah tangan dengan cicin yang aku kenali menarik tubuhku menjauh dari sana. Tangan itu, tangan mas Topek.

***

Surabaya sudah kutinggalkan tiga jam yang lalu. Sekarang bus yang aku tumpangi sedang parkir di terminal Probolinggo.

Aku duduk sendiri di salah satu kursi penumpang. Otakku memutar kembali memori tiga setengah jam yang lalu, saat aku sempat bertengkar hebat dengan abangku tadi. Kami bertengkar hebat tepat di depan warung bakso itu.

Aku benar benar kehilangan kendali. Aku merasa aku sangat tidak lagi berguna. Aku merasa kalau aku ini sebernarnya cuma sampah yang bisanya cuma jadi beban orang lain. Aku begitu frustasi tadi. Sampai sampai berusaha menabrakkan diri pada kendaraan yang lewat. Tapi untunglah. Abangku, pria sejati itu bisa mencegahku.

Amarahku mereda ketika  ibu tua pemilik warung bakso itu menyeretku ke dalam ruang tamunya yang berada tepat di belakang warung baksonya. Ada mbak Mala sama mbak Ning juga disana yang bantu abangku menenangkanku.

“ Bang, maafkan adikmu ini ya, aku janji bang, ini adalah uang terakhir yang aku terima dari abang. Bulan depan, cukup abang kirim buat ibu saja. Aku akan berusaha sendiri bang, aku akan jadi seorang lelaki sejati seperti abang.

Bang, makasih sudah jadi inspirasi terbesar dalam hidupku. Terima kasih sudah mengubah aku jadi lebih baik, mbak Mala dan mbak Ning. Tanpa percakapan itu, mungkin aku sekarang tetap jadi seorang pecundang.

Terima kasih Tuhan untuk kejadian hari ini. Terima kasih sudah menegurku. Sekarang aku tahu, tak selamanya menangis itu tanda cengeng. Sekarang aku tahu, kalau menangis itu manusiawi………. Terima kasih untuk hari yang mampu mengubah hidupku ini. Terima kasih untuk segalanya……”

versi lain di http://laranta.blogspot.com/2011/02/aku-abangku-dan-jodohnya.html

READ MORE - Aku, Kartu ATM, Abangku, dan Jodohnya

Selasa, 31 Mei 2011

Tembang Tembang Mi

Aku tau, cepat atau lambat, kabar tentang kematiannya pasti akan sampai juga di telingaku. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini. Tidak juga dalam waktu aku sendiri saja di rumah, benar benar sendiri seperti sekarang.

“ Permintaan terakhir Mi, almarhumah minta kiranya ibu bersedia hadir di pemakamannya….”

Aku terdiam cukup lama mendengar penuturan kedua perwakilan keluarga almarhumah Mi itu. Entah apa yang harus aku lakukan, aku benar benar serperti tidak tahu. Suamiku sedang di luar kota untuk satu bulan ini untuk mengurusi pengiriman barang barangnya ke Bali. Sedangkan ibuku dan anak anakku sedang berlibur ke Surabaya dan akan kembali secepatnya sepuluh hari lagi.

“ Saya akan menghubungi suami saya dulu mas, tunggu sebentar ya…..” kataku, berusaha mencari alasan untuk mengulur waktu, lima belas atau dua puluh menit saja mungkin cukup untuk membantuku mengumpulkan keberanian.

Masih jelas terbayang di mataku bagaimana kelakuan Mi selama berada  di sini. Bagaimana dia mengocok ngocok kartu kartu beraneka ragam gambar itu. Masih aku ingat bagaimana bau deduapaan dan kemenyan yang dia bakar hampir setiap malam di kamar belakang itu. Masih aku ingat, seperti baru kemarin saja semuanya terjadi.

Masih aku ingat juga bagaimana dia bertutur, bagaimana dia menembang tembang gubahannya sendiri. Sebuah tembang yang dia akui terpetik dari dalam hatinya yang terdalam : sebuah tembang tentang kebencian, tentang hati yang tersakiti….

Duh pas sapa se deddie cellep e ate….
Duh pas sapa se deddie terak e mata….
Dhika pon nyengla tak ngarte ka gummah…..
Ate loka pas sapa se nambe’ennah….
Ate loka tak kuat abe’ nika …
Ate loka ebegie….
Ka dhika se pon agebei seksah….
Ka dhika se ngeding neka tape tak perna taresna…..”**


Ya…., tembang itu masih aku ingat sampai sekarang. Dan setiap kali mengingatnya, aku ingin berlari dan berteriak hingga semua kenangan dan bisikan itu hilang dari kepalaku, selamanya!

“ Kenapa kamu nembang seperti itu Mi?” tanyaku suatu hari padanya. Tapi Mi hanya terenyum simpul seperti biasanya. Sebuah senyum yang menyimpan luka. Sebuah senyum dengan tatapan mata penuh kebencian yang mendalam. Tubuhku bergidik setiap kali aku melihat ekspresi wajah Mi itu, bahkan walau itu cuma bayangan dalam ingatanku. Bayangan tentang bagaimana Mi menatap hampa ke sudut ruangan dengan tatapannya yang seolah bisa membakar itu.

“ Kenapa, mbak, tembang yang indah bukan, Mi suka itu……”

“ Indah…..?” tanyaku terdesah pelan. Desahan yang mungkin bahkan aku sendiripun tidak begitu yakin aku telah mengucapkannya. Tapi Mi rupanya tetap mendengarnya dengan jelas. Mi menatapku sejenak, lalu menatap lagi tajam ke sudut ruangan itu.

“ Aku terlanjur sakit Mbak….” Jawabnya, seolah mengerang lewat kalimatnya yang membeku “ Sakit oleh orang orang yang seharusnya menjaga Mi mbak……”

***

“ Bagaimana bu…, “

Pertanyaan kedua utusan  itu mengagetkan lamunanku. Pelan tapi pasti, aku menganggukan kepalaku. “ A…., Aku ikut bersama kalian. Sekarang? “

Keduanya bergumam sukur pada Tuhan. Ada ekspresi lega di kedua wajah mereka. “ Ya, sekarang bu. Kalau mungkin ibu perlu berbenah diri dulu, kami akan mengununggu di sini.”

“ Ah tidak, kita berangkat saja sekarang. Saya begini saja, kasian Mi kalau saya harus bersolek dulu. Mi akan menunggu terlalu lama….”

“ Ah…, sukurlah bu, kalau begitu mari….. “

Aku bergegas ke dalam mobil yang di bawa oleh dua utusan itu. Aku duduk di kursi belakang dan berpesan agar mereka tidak menggangguku. “ Aku butuh untuk sendiri, aku masih terlalu syok dengar kabar ini… ,” pintaku.

Sepanjang jalan, aku masih terus teringat akan Mi. Akan malam malam penuh bau kemenyan dan dupa. Dan juga hio, dupa Cina itu. Mengingat Mi, mengingatkanku juga pada kamar mandi belakang yang tiba tiba saja penuh dengan bunga beraneka warna pada suatu senja yang beranjak malam.

“ Mi, apa yang kamu lakukan dengan bunga bunga itu di kamar mandi….” Tanyaku terkejut.

Mi, tersenyum penuh arti. Dengan tatapan mata yang penuh dengan rasa benci. “ Mi, bicara Mi, kenapa kamu menabur bunga di lantai kamar mandi seperti itu….., ka…kamu gak berbuat yang macam macam kan……”

Mi tersenyum lebih dalam, tatapannya kian membakar. Mi menuntunku. Dia membawa aku ke halaman belakang. Ke bawah pohon bunga kenanga kecil tempat dia menghabiskan hari harinya.

Mi memintaku duduk di sampingnya. Dia memeluk tanganku erat. Seolah tanganku itu, sebuah benda yang bisa menghapus segala luka hatinya.

Mi menyandarkan kepalanya di bahuku,

“ Bolehkah Mi bercerita mbak…..” tanyanya, ketika ayam ayam sudah berlarian santai menuju kandangnya. Tempat di mana mereka akan terlelap malam ini.

“ Bo… boleh Mi…, cerita saja……” jawabku berusaha menahan napas. Mengatur irama detakan dadaku yang tiba tiba berpacu kencang. Entah bagaimana, tiba tiba saja aku merasa yang memeluk tangan itu, yang menyandarkan kepalanya di bahuku itu, bukan lagi Mi, tapi sesosok tubuh tanpa jiwa yang bangkit dari kuburnya untuk membagi duka bersamaku. Dingin, dan semakin dingin saja tangan Mi sore itu.

“ Orang bilang, cinta itu buta mbak, cinta tidak penah mengenal logika…… “ Mi mulai bertutur, mengisahkan kisahnya, “ kata mereka, cinta itu tidak penah mengenal umur, tidak penah mengenal kasta, tidak penah mengenal pada siapa……, cinta itu, tidak penah dipaksakan kan mbak……

Lalu apakah Mi salah kalau Mi cinta pada bapak Mi sendiri…..”

Aku tersentak kaget. Tapi aku harus memastikan kalau aku tidak salah dengar.

“ Siiii…… siapa Mi…..”

“ Bapak, mbak, ayah Mi sendiri…… “ kali ini aku menengang sekurjur tubuhku. Aku ….. aku tidak tau mengapa tiba tiba otakku terasa buntu. Buntu sekali……

“ Bapak kandung Mi, maksudnya…., cinta sebagai anak kan maksud Mi…..” tanyaku dengan debaran jantung yang semakin menggila. Aku berharap Mi akan membuatku lega dengan jawaban yang akan dia lontarkan.

“ Ya, mbak, Mi mencintai bapak kandung Mi sendiri. Cinta seperti seorang gadis mencintai pasangannya, calon bapak dari anak anak yang akan Mi lahirkan.….”

Aku berusaha menarik tangaku dari pelukan Mi. Tapi pelukannya itu terlalu kuat. “ Mmm….mi….” pekikku tertahan.

“ Mi mencitai bapak Mi sendiri, mbak… apa itu salah….? “ Mi mengangkat kepalanya dari bahuku, menatapku dengan mata yang sekarang berkaca kaca, “ Mi mencintai bapak Mi sendiri, Mi ingin bapak menjadi bapak dari anak anak Mi juga, mbak. “ Mi terisak, air matanya perlahan turun ke pipinya yang lembut membeku. Sebeku aku yang tidak tahu harus berkata apa.

“ Mmmmm…. Mi…”

“ Tidak mbak…., jangan katakan Mi salah. Saat ini cuma mbak satu satunya yang Mi harapkan bisa mengerti Mi. Cuma mbak yang bisa membuat Mi tenang… jangan bilang kalau cinta Mi ini salah. Jangan bilang kalau Mi tidak boleh mencitai bapak Mi sendiri….!!!” Mi memekik di depanku. Tanganku masih erat di dalam dekapannya. Dan aku tahu, mataku pasti sedang melotot menahan kaget.

Aku tidak menjawab apapun malam itu. Walau aku tahu sebenarnya apa yang harusnya aku katakan. Tapi dalam keadaan seperti itu, setiap kata seolah olah menjelma asap yang tiba tiba menguap dari dalam tenggorokanku sendiri. Aku tak punya satu katapun untuk Mi dimalam yang menyesakkan dada itu.

***

“ Kita sudah sampai bu…”

“ Ah…, ya….” Desahku. Aku kembali tersadar dari lamunanku.

Aku bergegas turun dri dalam mobil yang membawaku ke rumah Mi itu. Aku membiarkan saja ketika seorang perempuan setengah baya memapahku ke dalam rumah Mi. Limbung rasanya tubuhku ini, serasa hilang tenaga dalam tubuhku seperti menguapnya setiap kata kata dalam tenggorokanku.

Di dalam rumah itu, aku lihat jasad Mi terbaring kuyu di sebuah amben bambu yang tidak begitu tinggi. Wajah Mi membiru, pucat dan pasi. Tapi sesungging senyum Mi yang khas masih terukir di bibirnya yang kini sudah kelu. Tertutup rapat seperti sedang mengabadikan senyuman khasnya itu, senyuman khas seorang Mi, senyum yang mengabadikan sakit hatinya. Senyum yang tiap kali melihatnya, atau mengingatnya, aku selalu begidik. Senyum yang selalu berisi teror, horor nyata yang setiap saat mengganggu hari hariku. Senyum yang selalu mengingatkan aku akan malam malam itu, malam malam Mi bersama kartu kartunya. Malam di mana Mi mengirimkan rasa sakitnya, membaginya dengan orang yang sangat dia cintai, orang yang di pujanya, sekaligus di bencinya sedalam dia mampu.

“ Lihatlah ini mbak,” katanya pada suatu malam, saat aku menemani Mi bermain bersama kartu kartunya. “ Kartu kartu ini adalah teman Mi yang setia. Mereka tidak pernah bohong mbak. Mereka selalu jujur pada Mi. Kartu kartu ini lebih setia dari pada orang orang di luar sana, mbak. Kartu kartu Mi ini tidak munafik seperti mereka. Kartu kartu Mi selalu menolong Mi, mbak, ngasih Mi kebahagian, ngasih Mi kepuasan, hi hihihihihihi….. “ Mi terkekeh sendiri, seolah dia sedang berbicara padaku, dan bercengkrama dengan dunianya sendiri pada saat yang bersamaan.

Mi, selalu menggambarkan betapa dalam sakit hatinya lewat setiap goresan kata yang dia ucapkan, lewat setiap gerik tubuh yang dia ciptakan. Mi seolah punya dunia sendiri, dunia yang hanya dihuni Mi sendiri. Dunia yang hanya bisa di mengerti oleh Mi sendiri. Karena dunia itu, adalah dunia Mi sendiri, tanpa ada orang lain di dalamnya. Dunia Mi dan kartu kartunya. Dunia yang berisi cinta dan rasa sakit yang tak terperikan.

Lalu, Mi menangis sesenggukan sendiri. Tangisan mendalam yang berisi sakit hati, kerinduan dan pendambaan yang baru kali ini aku saksikan. Mi memeluk kartu kartunya, memeluk tangisannya kian dalam.

Aku bergidik. Lagi lagi otakku buntu di depan gadis lugu ini.

“ Mi,…. “ Panggilku. Kuraih pundaknya. Membiarkan Mi menumpahkan segala kegundahannya di bahuku. “ Dunia memang kadang tidak seperti apa yang kita bayangkan Mi, dunia ini kadang terasa sangat kejam, sangat tidak bersahabat…”

Mi menangis membiru.

“ Mi pernah mencintai seorang yang lain mbak.” Katanya malam itu. Aku berfikir, ini mungkin awal dari terbukanya dia padaku. Mungkin ini adalah awal aku bisa masuk ke dalam dunianya. Yang mungkin, bisa jadi awal aku mengangkat Mi dari kesendiriannya.

“ Mi pernah jatuh cinta sama seseorang, mbak. Dia cinta pertama Mi.” Mi mulai berkisah, dalam suasananya yang serak dan dalam. Suara yang aku kenal sebagai suara raga tanpa nafas nafas cinta. “ tapi apa yang dia lakukan sama Mi? mbak tau? Mi sudah memberikan segalanya pada dia. Segalanya mbak…… “ Mi tergugu, aku bergidik. Ada rasa muak yang perlahan menjalari benakku, Muak pada sosok lelaki. Rasa muak yang pernah aku pendam lama, bertahun tahun lamanya.

“ Dia sudah membuat Mi seperti sampah yang tidak pernah di hargai mbak. Mi….., Mi… Mi dijadikan hadiah bergilir setiap malam…… “ Mi meraung dalam tangisannya. Tubuh Mi beguncang. Aku bergetar di seluruh tubuh. Aku merasakan perih dan teriris yang sama dengan yang Mi rasakan. Perasaan seorang wanita yang tersakiti.

“ MEREKA MENJADIKAN MI PELAMPIASAN NAFSU SETAN MEREKA TIAP MALAM MBAK…..  TIAP MALAM….. TIAP MALAM MI SERASA HANCUR MBAK…….“ Mi meraung dalam tangisannya, menumpahkan segala sakit hatinya….

“ Ibu…., Ibu… sabar bu, istighfar….. nyebut bu…..” sepasang tangan keriput menggenggam erat pundakku. Menyadarkanku, membimbing aku kembali kealam sadarku. Tak terasa, tangisanku tumpah di hadapan para pelayat yang hadir.

“ Mari bu, mari ikut saya…” wanita tua itu membimbingku bangkit. Memapahku kedalam bilik kecil yang suram. Bilik di mana Mi menghabiskan hari harinya menjemput ajal.

“ Mi sudah pergi bu, jangan diberati lagi, diikhlaskan saja ya bu….., sebagai neneknya, saya juga merasa sangat kehilangan Mi, cucu perempuan saya satu satunya itu…..” kata kata itu membuat aku serasa luluh. Lalu, tanpa aba aba, aku memeluknya dalam dalam. Memeluknya untuk berbagi tagisan kepedihan ini, tangisan kehilangan ini, tangisan yang seperti tangisan Mi, tangisan yang seerat pelukan Mi di malam itu, malam malam kematian menjemputnya secara perlahan.

“ Lalu salahkah Mi kalau kemudian Mi menilai setiap lelaki itu sama? Mereka hanya datang pada kita pada saat kita di butuhkan saja. Mereka itu datang seperti lalat lalat yang menggerubungi daging yang busuk…., bah……! Mereka itu MENJIJIKKAN…..!!” Kulihat kilatan kebencian yang mendalam di mata Mi malam itu, diantara tetesan air matanya yang bertambah deras. “ Mereka datang hanya untuk mengerubungi seorang Mi yang sudah seperti mayat….!!” Mi kembali melengkingkan kata katanya. Menumpahkan rasa jijiknya penuh penuh. “ Aku BENCI MEREKA…..Mi benci lelaki itu…. MI BENCI……” Mi kembali tergugu, kembali terguncang… kembali meraung raung dalam kehampaannya.

“ Tapi bapak Mi adalah orang yang lain mbak, bapak tidak seperti mereka, bapaklah yang menebus Mi mbak, yang membebaskan Mi dari rumah hitam terkutuk itu…..” aku lihat bulir bulir cinta yang mendalam saat Mi mengucapkan kalimatnya itu. Bulir cinta yang dalam, dalam dan tulus tak terperikan.

“ Itulah sebabnya Mi mencintai bapak Mi sendiri. Tapi karena orang bilang cinta Mi salah, maka bapaklah yang pertama harus mati…..” Mi mendesis, lalu menarik senyumnya yang khas, senyum yang berisi berisi kematian. Senyum yang penuh cinta, cinta tulus yang ternoda kebencian!

***

Sejak malam itu, Mi tidak pernah berhenti bermain bersama kartu kartunya. Mengirimkan rasa sakitnya, mengirimkan ambang kematian pada orang orang yang dia cintai, yang dia benci.

Malam demi malam aku menemani Mi di dalam kamar itu, menemaninya dalam diam. Memperhatikan bagaimana kartu kartu itu terlompat lompat di kedua tangan lugu seorang Mi.

“ Mi sedang mengirimkan kesakitan mbak, sihir halus buat lelaki kejam itu. Mi ingin dia mati pelan pelan, malam demi malam…. “ Mi menyeringai, menunjukkan deretan gigi gigi kematiannya yang kejam.

“ Dan yang ini mbak, ini adalah kematian buat bapak Mi sendiri, kematian perlahan yang sangat manis. Mi ingin bapak mati perlahan, mbak. Dalam hitungan hari sebanyak dia berusaha menemukan Mi. Mi tidak ingin bapak mati dengan susah payah, Mi ingin kematian bapak Mi tidak menyakitkan. Tapi pelan, pelan tapi pasti. Dan di hari dengan tanggal yang sama dengan waktu bapak menemukan Mi, kematian itu akan mencapai ubun ubunnya…. Hi hi hi hi hi hi…..”

Kemudian, malam malam Mi dan aku berikutnya, adalah malam malam di mana bebauan itu terus menyeruak kental mengisi udara di kamar Mi. malam malam di mana bunga bunga beraneka rupa menghiasi kamar mandi kami. Malam berasama menyan, bersama dedupaan, di mana hio mengepul di dalam rongga hidung kami. Hingga sampai malam terakhir, dimana Mi mengirim kematian untuk raganya sendiri.

Aku tak tahu harus menangis atau harus bersukur malam itu. Harus menangis kalau akhirnya Mi juga harus pergi, ataukah harus bersukur bahwa akhirnya aku akan pergi dari kehidupan seorang Mi, dari sosok dengan cinta dan kebencian yang mendalam.

Tapi Mi hari ini sudah benar benar pergi. Dia pergi membawa cinta dan kebenciannya sekaligus. membawa harapan dan keputusasaannya berasama dengannya. Mi pergi bersama setiap kartu yang menemaninya setiap malam. Bersama tembang yang dia nyanyikan tiap malam. Tembang gubahan Mi sendiri, tembang yang selalu sama, setiap malam.

***

Seperti malam malam di mana aku menemaninya menembang dan mengocok kartu, malam inipun rupanya Mi belum bisa membiarkan aku sendiri saja di sini. Malam ini, ketika aku mengetikkan kisah Mi ini sendiri, sebenarnya Mi sedang berada di sampingku. Menemani aku seperti aku menemaninya setiap malam. Walaupun, Mi hadir hanya sebagai sosok suara tanpa raga.

Mi selalu hadir, pembaca yang budiman, di manapun dia diingat, diingat dengan cara apapun, dengan kebencian atau dengan penuh simpati. Perhatikan, saat desau angin atau keheningan di sekitar kita begitu mencekat, atau ketika sekelebat bayangan mendekat di belakang kita. Mungkin disaat itulah Mi akan hadir, Mi hadir bersama senyum kematian dan tembang sihir kartunya yang khas…..

Duh siapa lagi yang akan jadi penyejuk di hati….
Duh siapa lagi yang akan jadi cahaya di mata….
Engkau telah pergi tak tau kemana…..
Hati luka siapa yang akan mengobati….
Hati luka tak kuat diri ini..…
Hati luka ingin kubagi….
Kepada engkau yang sudah membuat siksa….
Kepada engkau yang mendengar tapi tidak pernah cinta…..”**



** Bait tembang terakhir adalah terjemahan dari tembang berbahasa Madura gubahan Mi diatas.



READ MORE - Tembang Tembang Mi

Jumat, 15 April 2011

The smallest, the strongest, the conqueror

Malam itu, pertengahan Desember 2009 pukul 00.02 ketika aku memutuskan pulang dari rumah nenek. Bukan tanpa alasan sebenarnya aku nekad pulang jam segitu. Tapi sungguh, rumah nenek bukan tempat di mana aku bisa tidur dengan nyenyak. Udara dinginnya yang menusuk tulang itu yang membuat aku selalu terjaga sepanjang malam. Walaupun sudah merangkap selimut dan jaket, tapi rasa dingin itu tetap saja seolah olah merasuk dalam tulangku. Lagi pula tidak bebas rasanya kalau harus tidur dengan pakaian setebal ini. Maka itu, pulang mungkin adalah keputusan terbaik buat aku malam ini.

Untunglah ada temanku yang juga hendak pulang dari tempat kerjanya malam itu. Kebetulan juga dia biasanya melintas di depan rumah nenek sekitar tengah malam seperti ini. Jadi aku gak perlu buat pinjam sepeda motor paman untuk pulang, cukup membonceng aja di belakang temanku itu. Badannya yang lebih tinggi dan lebih besar dari aku, bisa jadi tameng buat sedikit menetralkan dinginnya udara malam ini. Ditambah jaket tebal yang aku pinjam dari paman, dan sepeda motor yang di pacu dalam kecepatan tinggi, malam ini jadi sebuah petualangan seru buat aku.

Sepanjang jalan, udara dingin, dan kabut yang turun menambah serunya perjalanan malam ini. Di kanan kiri jalan, jarang ada lampu penerang jalan. Yang ada cuma kegelapan sempurna yang seolah membutakan mata. Jarak antar sekumpulan rumah dan rumah yang lain juga sangat jauh. Dalam perjalanan dengan kecepatan tinggi seperti ini saja, butuh waktu sekitar 3-5 menit untuk menemukan sekumpulan rumah lagi setelah melewati sekumpulan rumah yang lain. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas di kiri kanan jalan malam itu. Di tambah lebar jalan yang memadai, jadilah malam ini kami seolah sedang dalam road race malam yang menantang dan mendebarkan. Naluri lelaki yang mana yang tidak akan tertantang dalam suasana seperti ini! Adrenalin seolah mengucur seperti darah yang terus mengalir dari jantungku yang berdegup kencang.

Motor yang kami tunggangi benar benar seperti kuda besi yang menderu mendesing memecah kesunyian malam. Seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Jalanan yang selalu berbelok belok, memaksa sesekali motor ini seperti hendak rebah ke tanah ketika kami melewati tikungan. Benar benar sebuah sensasi liar luar biasa yang seperti menyentak alam bawah sadarku untuk terus terjaga menikmati seluruh perjalanan ini. Benar benar seperti pertandingan road race yang dengan sensasi luar biasa. Dalam medan yang yang super ekstrim.

Tapi seluruh sensasi itu tiba tiba saja sirna ketika kami memasuki sebuah perkampungan penduduk. Tiba tiba saja temanku itu membelokkan motornya dengan sangat sangat mendadak. Tiba tiba saja malam yang tadinya sepi sunyi, dengan hanya suara motor inilah satu satunya yang mampu memecah kesunyian itu, jadi hingar bingar dengan puluhan orang tumpah ruah di jalan. Malam itu tiba tiba saja berwarna merah kelam. Malam itu, dinginnya entah bagaimana tiba tiba berubah jadi sangat panas, panas sekali. Malam itu, gelapnya tiba tiba sirna, tergantikan dengan dengan ribuan nyala api yang datang dalam jumlah besar!

Sebenarnya aku bingung dengan semua perubahan ini. Tapi ketika aku bisa meraih kesadaranku lagi, semua di sekitarku terlihat putih. Putih dan pucat. Dan ketika aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua menangis pilu…..

***

Subuh menjelang siang ketika aku duduk merenung di musolah kecil itu seorang diri. Dalam keremangan hari yang belum juga sempurna merekah ini, aku berusaha memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Flash backingatanku, membuat aku meneskan air mata penuh penyesalan.

“tiga hari kamu gak sadarkan diri,” kata ibuku di sela sela tangisannya pagi itu. Ibu bercerita kalau malam itu aku di tolong penduduk desa yang aku lintasi ketika motor yang kami kendari tiba tiba oleng tanpa sebab. Mereka bercerita pada ibuku kalau kami beruda terseret setidaknya 20 meter lebih, sebelum sebuah pohon di pinggir jalan menghentikan laju motor kami.

“tapi kenapa?” tanyaku,

“seekor serangga kecil masuk di mata temanmu. Dia kehilangan matanya sekarang,” ibuku menangis sesenggukan. Aku tahu, dia bukan sekedar temanku, tapi dia sahabatku, sahabat dari masa kecil, dia tetangga kami, anak satu satunya dari keluarga sederhana itu.

Hatiku menangis pilu, air mataku menetes dan terus mengalir. Pilu rasanya seluruh jiwaku. Badanku seperti melayang entah kemana. Yang terbayang di pelupuk mataku, hanyalah raut wajah temanku yang sangat aku sayangi itu. Tapi hanya raut wajah penuh kesedihan, pucat dan pilu tanpa masa depan.

Aku berusaha beristighfar. Menenangkan pikiranku. Aku mengingat Tuhanku. Meminta dalam batinku dengan sangat untuk memberiku sebuah ketabahan, ketabahan buat kami semua. Ketabahan dan kebesaran hati buat temanku, buat keluarganya, buat ibuku, dan hati yang lapang untuk bisa menerima ini.

Tuhan seolah sedang berbicara pada kami semua dengan caranya sendiri. Dia seolah menegur kami dengan kesombongan kami selama ini. Dia seolah ingin berbicara pada kami kalau kami bukanlah mahluknya yang terkuat. Masih ada yang lain yang lebih kuat walaupun mereka di ciptakan tidak sesempurna kami. Serangga kecil yang masuk kedalam mata temanku itu adalah contohnya. Bagaimana dia yang gagah, tampan, dan sehat bisa berubah seketika hanya oleh serangga malam yang tidak pernah di perhitungkan di peradaban manapun itu.

Tuhan sudah berbicara pada kita bahkan lewat ciptaannya yang paling sederhana. Kita menyebut ciptaan tuhan yang setengah hidup itu ‘virus’. Mahluk yang hanya hidup dengan menumpang di kehidupan yang lain.

Tapi bisakah kita mengalahkan mahluk terkecil itu dengan ilmu yang kita miliki sekarang? Bahkan dengan tekhnologi tercanggih sekalipun, kita belum bisa benar benar terbebas dari HIV. Bahkan perlu diingat ketika kita membakar sesama kita hanya untuk menghilangkan virus ebola. Lalu di mana kekuatan dan kesombongan manusia kalau untuk mengalahkan ciptaanNYA saja tidak mampu. Lalu di manakah akal sehat kita ketika kita dengan beraninya menantang Sang Pemberi Kehidupan?

Hatiku kacau, air mataku berderai derai mengingat segala dosa yang sudah aku lakukan. Dalam sesenggukan yang mendalam, kuutarakan kenginginanku pada ibuku, “ bu, aku masih punya dua mata, bolehkah aku berbagi mata dengan dia kalau dokter bisa mengusahakannya? Aku ingin memberikan mata kananku buat dia, yang kiri, aku masih membutuhkannnya.”

Tak ada jawaban dari ibuku. Selain hanya pelukan dan raungannya yang semakin menjadi….

Hari ini, satu bulan setelah kejadian itu, aku beringsut meninggalkan musola kecil ini ketika matahari mulai beranjak meninggi. Aku siap menemui dokter ahli yang bisa memindahkan mata kananku, buat sahabatku yang baik…….


Hikmah :
  1. Kesombongan itu hanya milik Tuhan, sama sekali tidak alasan bagi kita untuk menyombongkan diri, kalau untuk mengalahkan makhluk serendah virus aja gak bisa, bagaimana kita bisa menyombongkan diri?
  2. Persahabatan itu bukan cuma di kala senang saja. Penderitaan akan jadi ujian bagi ketulusan sebuah persahabatan.
  3. Relalah berkorban, untuk siapapun, selama itu berkorban untuk kebaikan….

READ MORE - The smallest, the strongest, the conqueror

Jumat, 01 April 2011

ibuku dan sepotong terong

Hari ini aku sedang sakit. Dari tadi pagi aku mendekam saja di dalam kamar kosanku ini. Sampai kira kira pukul 10 lewat,  ibu kos yang baik hati itu masuk ke kamarku,

“kamu sakit di? “ tanyanya di ambang pintu kamarku.
“ya bu,“ jawabku sambil berusaha tersenyum.

“jadi gak kerja hari ini?”
“gak kerja bu, tadi saya sudah telepon ke kantor…..”
“sudah minum obat?”
Aku ragu untuk menjawab pertanyaan ini. Ragu karena aku tau, ibu kos aku ini seorang yang sangat perhatian pada anak anak kos yang tinggal disini. Aku takut kalau nanti justru merepotkan beliau.
“sudah minum obat belum…..” tanya ibu kos lagi, kali ini dengn nada lebih mendesak.
“belum bu,” jawabku.
“sudah makan?”
“belum…..” jawabku lagi  “ nanti saya mau minta tolong Anton saja beli nasi sama obat…”
“oh, ya sudah kalau begitu, ibu tinggal masak dulu ya…., kamu gak apa kan ibu tinggal?”
Aku mengangguk. Senang sekali rasanya mendapat perhatian seperti itu saat aku sedang sakit. Ya, walaupun perhatian itu hanya sekedar di tanya tentang keadaan kita. tapi setidaknya, ada orang yang perduli.


***

Siang harinya aku terbangun pukul 12.36. Ada Anton di di ranjangnya. Rupanya dia baru pulang dari kerjanya di stasiun radio.

“napa kamu, “ tanyanya. “ kata ibu kos kamu sakit ya?”


aku nyengir kuda mendengarnya. “ aku gak pulang semalem aja kamu dah sakit, gimana kalau aku tinggal dua hari…. Gagagagagagaga…..” anton tertawa terbahak bahak. Anton memang begitu, selalu saja ceria dan bisa membawa suasana menjadi menyenangkan. karena  itulah, aku betah satu kamar kos sama dia.

“Tuh di meja ada nasi, sama ikan laut, sama….., sama terong penyet…..”
Mendengar kata terong penyet, nafsu makanku langsung melonjak. Bagiamanapun, diolah seperti apapun, terong tetap jadi sayuran idolaku.


Aku berusaha bangkit dari tidurku. Anton mendekat dan memberikan sepiring nasi yang dia bicarakan tadi. Tak lupa juga dia mendekatkan segelas air putih dan sebungkus obat ke arahku.

“Dari sapa sih ini?” tanyaku.
“ibu kos,” jawab anton pendek.

Tiba tiba ada keharuan menyerbak di dadaku. Terharu aku punya ibu kos sebaik dia. Perhatian sekali walau aku bukan anak kandungnya.

“eh ton,” panggilku saat aku lihat anton bergeges pergi keluar kamar. “mau kemana kamu…”
“mau ke toilet. Napa?
“ bilangin ya sama ibu kos. Makasih dah repot repot buat aku. Jadi terharu aku….”

Tapi anton malah mengurungkan langkahnya keluar kamar. Dia menghampiri aku. Dan sungguh, kata kata yang kemudian keluar dari mulut Anton membuat otakkku berfikir lebih apa yang sejak tadi aku pikirkan,

“aku Cuma mau ngomong ya, terserah kamu mau nanggepinnya gimana. Tapi coba kamu pikirkan. Kamu di kasi perhatian sama ibu kos, di masakin makanan kesukaanmu waktu sakit, di kasi obat, kamu dah sebegitu berterimakasihnya. Sampe sampe kamu terharu sagala. Tapi coba kamu ingat. Sudah berapa kali ibu kamu melakukan ini buat kamu. Berapa kali kamu sakit selama sama ibu kamu. Dan coba ingat, lebih besar mana perhatian yang kamu dapet, dari ibumu apa dari ibu kos? Dari ibu kos mungkin cuma sewaktu waktu, tapi sadar gak kalau ibu kita sudah memperhatikan kita sepenjang hidup kita?

Yang jadi pertanyaan sebenarnya adalah, sudahkah kamu berterimakasih yang sesungguhnya sama ibu kamu……””

Dadaku berdesir, tenggorokanku terasa kering mendadak. Lalu tak terasa, ada setetes air mata kerinduan menetes tak terbendung melewati pipiku.

“ibu…., maafkan anakmu ini......aku kangen ibu…..”

READ MORE - ibuku dan sepotong terong

Selasa, 04 Januari 2011

Lotus

Aku mengenalnya saat aku lagi cari cari artikel di internet, pesanan luna, keponaan aku yang masih kelas tiga sltp. Mulanya bersemangat aja aku carinya, tapi kayaknya susah ne, gak segampang yang aku kira tadi. Jaman sekarang ini, cari artikel yang bener bener pas buat tugas anak kelas tiga sltp aja cukup bikin bosen juga ternyata. Untunglah aku hidup dan sekolah di jaman komputer sama internet masih belum ngetop kayak sekarang ini. Kalau gak, mungkin aku bisa jadi anak yang paling banyak nunggak tugas, atau malah jadi yang paling banyak ngopi kerjaan temen aku ya.....:)

Dari pada aku bete, coba coba mulanya aku buka pesbuk aku. Baca baca status temen temen yang gak karu karuan, gak tau juga apa yang sebenarnya merekan pikirkan. Cukup kasi jempol saja kalau ada status yang cukup menarik. Kalau berminat, aku kasi komen dah seperlunya. Itu kalau status mereka termasuk status yang ringan ringan aja. Kalau status mereka lumayan berat, aku tinggalin aja, malas bacanya. Bikin kepala puyeng aja harus mikir segala. Lain kali mungkin, kalau aku lagi lebih fres dari sekarang, aku bakalan berdebat sama meraka....... ** wagagagagagagaga, kayak orang yang filsuf aja aku ini, pake pengen ngomentari status status yang butuh pemikiran, sejak kapan????

Pesbuk dah aku buka buka, gak ada lagi bahan-bahan seger ne, semua udah aku liat, sudah aku kasi jempol, sudah aku kasi komen komen walau gak nyambung, gegegegegege, biarlah..... :)

Sekarang waktunya kerja lagi, cari artikel lagi buat luna, keponaanku tercinta. Tapi kayaknya, kalau cuma cari artike aja, bakalan ngebosenin ne, buka mirc aja juga kali ya, sekalian chating, sapa tau ada yang nyantol, gegegegegege, ngarep.com dah jadinya aku......

Aku buka mirc, terus masuk ke chatroom Surabaya tercinta. Tapi kok gak ada nick yang menarik buat aku sapa ya, yah, payah! Aku  tinggalin dah mirc kebuka. Lanjutin cari artikel aja dulu dah,

Mulai tanya tanya lagi ma om google. Om google kasi aku daftar hasil terawangannya. Klik tautannya, gak cocok, klik lagi, baca lagi, sekilas, tapi kok kurang ngepas, tutup lagi, buka lagi, ubah kata kunci di mbah google lagi, klik lagi, buka lagi, tapi lagi lagi gak ngepas. Payah! Tambah boring aku ne

Tapi, gak berapa lama kemudian...,
Twing.... Twing....twing.... Icon mirc di task bar kedip kedip. Ada yang sapa aku ne. Coba liat dulu sapa yang sapa aku. Moga aja bukan iklan.

> halo....
Dia tulis di sana. Aku lihat nicknya. Aldila,
Ouh, untunglah bukan iklan. Nick namenya cakep juga, moga aja orangnya sebagus nicknamenya...

> halo juga...
Aku balas dia

> boleh gabungan?
Tanya dia

> boleh lah.., sapa ini???
Tanya aku...

> <-------- nama aku
Jawabnya

> Aldila?

> ya bener

> nak mana?
Tanyaku

> sby, kamu?

> sby juga, sby mana kamu?
Tanyaku

> aku di daerah itc, kamu di mana?

Aku nyengir, daerah itc? Lumayan lah, gak kejauhan....
> aku di rungkut, kamu kerja? Tau kuliah? Tau masih sekolah?

> aku dah kerja kok,

> oh, kerja di mana?

> di itc mas,
   boleh kan aku panggil kamu mas?

>boleh lah, hehehehehehe....
  emang kamu umur berapa?
Tanya aku. Enak juga anak ini diajak ngobrol, pikirku

> udah tua aku...

> tua? Tuanya umur berapa?

> 26, hahahahhahahahhah,
   kamu sendiri?

> halah, masih tua aku non, aku dah 27 sekarang
Jawabku, wah masih muda ne tenyata. Semoga aja bisa nyantol ma aku. Gegegegegege

> hahahahhaha7x
   mas bisa bisa aja, segitu

> kamu juga ada ada saja, masak baru 26 bilang tua

> kalau di desa aku mungkin dah beranak lima mas...

> wahahahhahahhahahah....
   kalau di desa kamu bisa jadi kebang desa non....
   :))
   jadi kamu masih singgle?


Chating aku terus berlanjut sama dia, semakin lama semakin menyenangkan aja ngobrol sama dia. Orangya terbuka untuk hal hal yang memang wajar untuk di bicarakan. Tapi dia gak mau terlalu membuka hal hal yang gak pantas di bicarakan. Termasuk dia tidak bersedia untuk berbicara hal hal yang fulgar. Cewek seperti ini tergolong langka di dunia per-chating-an. Biasanya cewek cewek yang ada di sini cuma cewek cewek yang mencari sensasi aja. Cewek cewek yang cuma pengen exiz aja dan gak mau di bilang ketinggalan jaman. Juga bukan rahasia, kalau di sini, banyak cewek yang chating dengan tujuan materi. Hem...., bukan cewek aja kayaknya, cowok yang chating untuk cuma having fun, yang mau cari kesenangan semata, yang maunya cari dunia, cari biaya kuliah, semuanya ada. Nah, kalau aku ini, aku  termasuk yang tipe apa ya dalam dunia per-chating-an? Kalau ada tipe gak jelas, mungkin aku bisa masuk di dalamnya. Hehehehehehehehehe, tapi biarlah.... Yang penting aku gak terlalu boring sekarang,

Hape aku berdering, ada sms masuk. Sms dari luna, keponakannku tercinta. Hoh...,!! Astaga, kok bisa sampe lupa aku ya kalau aku di warnet buat bantuin keponaan aku cari artikel. Waktunya serius ne. Chatinggnya di tutup aja dulu. Lanjutin cari artikelnya. Tapi sebelum cabut, sayang rasanya lau perkenalan aku sama cewek ini berakhir di sini aja.

> Dila
Sapaku

> ya mas,

> aku harus out ne, boleh minta alamat pesbuk kamu, kalau ada ym lah juga gak apa...
   hehehehehhehehehhehehe......

> hoho,
   alamat pesbuk aku Aldila ***** (sensor)
   ym aku ***** Aldila @ yahoo.com
   kamu...????

Aku kasi alamat pesbuk sama ym aku, kasi nomer hape aku juga walau dia gak minta. Kali aja dia mau iseng iseng sms aku, sukur sukur kalau dia mau telepon aku. Hah....., ngarep.com lagi ne aku jadinya. Aku bilang terimakasih dan nutup akun mirc aku.

Setengah jam setelahnya, akhirnya aku dapet dua artikel yang setidaknya cukup pas buat tugas luna. Aku tutup semua jendela browser yang aku buka. Terakhir, tinggal halaman pesbuk aku. Aku liat liat sebentar di halaman pesbuk aku. Ada dua pemberitahuan baru, ada satu pesan baru dan satu permintaan pertemanan baru.

Dua pemberitahuan tentang komen temen temen aku. Satu permintaan pertemanan dari.....,

Oh,
Aku terlonjak gembira.....
Dari Aldila.....!!!!!

Tanpa pikir panjang aku buka konfirmasi dia. Buka halaman infonya, terus buka koleksi fotonya. Hem...., menarik juga garis wajah Aldila. Dia mungkin gak cukup cantik kalau di bandingin sama temen temen aku yang lain. Tapi ada aura teduh yang terpancar dari rona wajahnya. Wajah yang ceria sekaligus tegas. Wajah yang ......

Ah sudahlah, aku gak ingin menggambarkan dia. Yang aku ingin sekarang adalah mengatur strategi sebisa mungkin agar aku bisa ketemuan sama dia di dunia nyata. Kopdar istilahnya..... :p

Terakhir aku lihat pesan masuknya, aku sekali lagi terlonjak gembira. Dari Aldila juga ternyata!

"mas, makasih dah mau ngobrol ma Dila. Jarang ada orang di mirc yang kayak mas. Gak marah walau aku gak mau bicara hal hal yang tabu. Kadang kadang mereka itu cuma lelaki buaya darat yang cari kesenangan dari cewek cewek kesepian. Tapi mas bisa menghargai aku. Kalau mas mau konfirmasi permintaan pertemanan dari Dila, Dila ucapin makasih sama mas. Semoga jadi sahabat yang bisa saling mengerti ya mas....."

Entah kenapa hati aku berbunga bunga baca pesan masuk dari Aldila. Dari Dila! Begitu dia memanggil dirinya sendiri. Nama yang bagus. Semoga saja orangnya, tarutama hatinya, sebagus namanya, sehalus tutur katanya. 

***

Mulai saat itu komunikasi aku dan Aldila samakin intens. Mulanya hanya saling komentar status di pesbuk. Terus lanjut chating di e buddy dengan akun pesbuk masing masing. Komunikasi semakin menjadi saat dia konfirmasi aku di yahoo mesengernya. Sampai akhinya, hari itu, setelah tiga bulan lamanya sebuah sms masuk di hape aku,

>> halo lotus,
Ah, aku langsung tau dari siapa sms ini. Ini dari Aldila, aku tau. Di dunia ini hanya dia yang panggil aku lotus. Nama yang gak lazim mungkin buat cowok sekeren aku ( wagagagagagaga......). Tapi dia suka sekali panggil aku pake nama itu. Katanya, aku ini seindah bunga lotus, oh......

'Bunga lotus itu ada di tengah ke suburan mas, dia selalu memberikan warna di setiap pergantian waktu dengan warnanya yang pekat. Bagi Dila, mas sama seperti itu, seperti lotus dengan warna yang pekat. Lotus yang tumbuh di hati....

Mulai hari ini, bolehkah aku panggil mas, lotus?"

Aku tersentuh sekali waktu dia kirim dua paragraf pendek itu di pesan masuk pesbuk aku. Sudah lama sekali rasanya setelah semua berlalu bersama nina, kekasih kecilku itu memutuskan pergi. Dila seperti membawa kenangan dan perasaan bersama nina itu kembali buat aku. Kalau aku lotus, kaulah airnya dilla, kaulah kolamnya, bahkan kau danauku, tempat di mana lotus ini bisa tumbuh dengan subur.....

>> halo juga, Dila, akhirnya kamu sms aku juga ya, ada apa ne gerangan telaga sms si lotus....

Dua menit kemudian sms balasan dari Dila masuk,
>> lotus, mau gak nanti malam nemenin Dila
Douuugggg.......
Hatiku berdegup kencang sekali, lalu serasa berhenti saat membaca sms dari Dila. Mimpikah aku?

>> kamu gak lagi bercanda kan? Atau aku gak lagi mengigau kan?

>> hahahahhaha....,
    kenapa pula lotus? Biasa aja lagi .....
    beneren. Dila minta lotus nemenin Dila nanti malam, ke tempat souvenir ya, Dila mau beli kado buat ulang tahun temen   Dila.

Aku diam karena masih belum bisa sepenuhnya percaya apa yang terjadi. Beneran ne Dila ngajakin aku keluar nanti malam? Kayaknya aku masih belum siap untuk pertemuan ini. Selama ini, image Dila di hati aku begitu sempurna. Walau mungkin memang dia gak sesempurna gambarannya selama ini di hati aku. Atau mungkin memang aku yang berlebihan menilai dia selama ini. Tapi, sungguh aku belum siap untuk menemuinya. Belum ada persiapan sama sekali rasanya,

>> lotus kenapa gak bales sms aku?
     lotus gak mau ya nemenin aku nanti malam? Apa kamu lagi sibuk nanti malam?

Aku terkesiap. Aku timbang timbang lagi permintaan Dila, aku bimbang, ini adalah pertemuan pertama aku sama Dila. Dan bukankah selama ini aku sudah menaruh harapan besar padanya? Ini kesempatan berharga. Haruskah aku lewatkan begitu saja..., ah...., bagaimana ini....

>> ya dilla, aku bisa kok,
     Dila kan sahabat terbaik aku selama ini. (gegegegegegege), btw ketemuan di mana ne nanti malam?
Akhirnya kata kata itu yang aku ketik sebagai balasan sms aku. Ada rasa lega, tapi jantungku berdegup makin kencang,

Dan setelah sms balasan dari dia masuk, sisa hariku jadi sibuk banget. Sibuk beneran atau sekedar terasa sangat sibuk ya? Jadi banyak yang harus aku lakukan. Memang aku gak buka buka lemari baju buat cari cari baju yang cocok buat nanti malam. Tapi pikiran aku yang kerja, mesti pake apa? Pake kemeja atau kaos? Pake celana jeans atau celana kain biasa ya, pake sepatu atau pake sandal aja? Ah ruwet. Aku gak pernah gini sejak dua setengah tahun yang lalu, sejak nina pamit pergi dari kehidupan aku.... Apa nanti Dila gak kecewa kalau ketemu sama aku. Semoga aja aku gak grogi nanti malem. Tapi, huh...., suasananya kok jadi panas dingin kayak gini.

>> dil, nanti enaknya pake baju apa ya :)
Akhirnya aku kirim sms ke dia, satu jam sebelum adzan maghrib berkumandang. Koyol sekali rasanya. Tapi gak apalah, udah terlanjur di kirimin kok... :p

***

Satu minggu sudah berlalu sejak malam itu. Dan entah kenapa, malam ini aku kangen ma dia. Rasanya, kejadian itu sudah setahun berlalu. Sudah lama sekali.

Malam ini, aku buka lagi profil dia di pesbuk sekedar untuk menghilangkan rasa kangen saja. Aku buka buka album fotonya. Ada album foto yang diberi judul "aku dan sahabat2 aku". Ada foto kami di sana. Diantara banyak foto foto dia berama temen temennya yang gak aku kenal. Aku cuma kenal beberapa saja. Itupun baru satu kali bertemu. Tepatnya, di pesta ulang tahun temannya itu. Karena memang, malam itu, Dila juga meminta aku untuk menemaninya ke pesta ulang tahun temannya esok malamnya.

Sudah kelar semua aku buka foto fotonya. Jam sudah lewat tengah malam sekarang. Sebelum di tutup, aku cek dulu dah halaman pesbuk aku. Dan kembali, sebuah kejutan!, Dila ulang tahun!!

Dan akibatnya,  beginilah jadinya. Malam aku gak bisa memejamkan mata sampai lama sekali. Malam panjang sekali rasanya. Dan pikiranku gak mau bersatu sama badanku. Dia berkelana. Jauh kesana, ke tempat di mana kira kira Aldila sedang memjamkan matanya. Terbesit dalam bayanganku bagaimana kiranya mata dengan bingkai wajah yang menawan itu tertutup dengan lembut. Bagaimana kedamaian datang dan bersemayam dalam pahatan wajahnya yang teduh.
Aku membayangkan, memikirkan malam ini apa yang kiranya aku jebak dalam kotak kadoku untuknya besok pagi, sehingga aku bisa melihat senyuman paling menawan dalam wajah itu esok pagi.

Aldila, sungguh, kamu sudah merusak tidurku malam ini. Besok, akan aku pastikan kamu membayarnya dengan memberiku senyuman terindah, dan sebuah jawaban mantab dari lembutnya jiwamu bahwa kamu…..,

Mencintaiku…….

***

Maka, disinilah aku sore ini. Pukul 15.17 menit tepat  ketika aku duduk si sini untuk menunggunya. Aldila pulang sore ini pukul 16.00, masih sekitar 43 menit lagi memang. Tapi untuk urusan yang satu ini aku benar benar gak pengen telat. Aku harus memastikan bahwa keadaan akan berjalan dengan baik baik saja. Aku harus memastikan tempat yang aku booking ini adalah tempat yang paling stategis untuk menyambutnya begitu dia keluar dari toko kontak lens itu. Ada segelas teh telor dan roti panggang khas bandung yang nemenin aku,

Aldila, hem….
Baru kali ini aku merasakan besarnya getaran hati ini  lagi setelah sekian lama aku memutuskan untuk meninggalkan tambatan hatiku yang dulu. Dia, punya hampir semua yang aku inginkan dari seorang wanita. Kecuali satu, Aldila tidak berkerudung. Tapi itu bukan masalah yang serius. Kalau aku bisa membimbignnya dan memberinya pengertian yang baik, aku yakin dia akan bisa aku arahkan untuk bukan hanya sekedar menjilbabi rambutnya, tapi juga menghijapi hatinya. Ya allah, aku mohon bimbinganmu untuk yang satu ini. Bila seandainya aldilla adalah jodohku, maka mudahkanlah kami, bila memang Aldila bukan jodohu, maka jodohkanlah ya allah. Gagagagagagaa, gak gak, bukan begitu maksudku ya tuhan, kalau memang dia bukan jodohku, makan segeralah beri aku alasan untuk meninggalkannya, dan menjadikan dia sebatas teman baikku. Tapi tolong, jangan putuskan tali silaturahmi kami…..

Aku tersentak ketika ada tepukan di punggung aku. Secara reflek aku menoleh kearah tepukan itu. Seorang pria muda yang tampak bersahaja berdiri di dekat punggung kananku. Aku tersenyum, cukup jadi kejutan sebenarnya buat aku bertemu dengan dia di sini. Nando namanya, teman baikku dulu, teman berbagi segalanya dalam masa masa sulit sebagai anak kos,

“wah kamu do, jadi kejutan kita bisa ketemu di sini, gimana kabar ne…..”

Nando tersenyum, dia duduk di kursi tepat di seberangku. “aku baik, lihat…..”

Dia masih begitu, setidaknya begitu kesan pertamaku setelah salam perpisahan terakhir kami tiga tahun yang lalu. Dia tetap bersahaja, dia tetap saja sebagai Nando yang beda di luar, beda di dalamnya. Di luar dia tampak sebagai manusia biasa saja, tapi jauh di dasar otaknya, di relung dalam otaknya yang tidak pernah bisa diselami orang lain, dia menyimpan kecerdasan yang luar biasa. Nando masih sama seperti dulu. Masih Nando yang diam seperti padi yang menyimpan sejuta misteri dengan pemikiran yang berkelebat setiap detik di kepalanya. Nando masih sama seperti Nando yang dulu, yang setiap ucapan dari mulutnya, seperti serangakaian kata kata yang sudah terprogram dan terpikirkan ratusan tahun lamanya. Tapi, tidak ada sama kali kesan sok tau dan sok menggurui dalam bahasa tubuhnya. Nando, seperti baskom ilmu dan kesahajaan alami yang sengaja sudah disiapkan oleh alam untuk hidup di tengah carut marutnya pola pemikiran orang jaman sekarang. Dia, mungkin sudah disiapkan untuk hadir memukau secara alami untuk menunjukkan kepada orang di sekitarnya, bahwa masih ada orang yang bisa benar benar diharapkan. Dan jaDilah, empat puluh satu menit kemudian, Nando jadi orang yang menemani aku menanti pukul 16.00. Seperti dulu, dialah orang yang selama empat tahun menemani aku  menunggu saat saat wisuda.

16.01,
Hatiku berkebit, inilah waktu yang seharusnya Aldila keluar dari pintu itu. Aku mulai gelisah, tapi berusaha menyembunyikannya dari Nando.

16.05,
Ada rasa menyumbat diperut bagian bawahku. Serasa ada dorongan kuat untuk apel ke toilet. Tapi aku tau, ini sebenarnya adalah efek dari gelisahku, dari nervous yang aku rasakan.

16.30
Aldila belum juga tampak tanda tanda akan menampakkan dirinya. Rasanya aku pengen berhambur ke arah pintu itu. Mengintipnya di sana, masihkan dia di sana? Atau adakah pintu lain yang bisa mengantarkannya ke arah lain utuk keluar dari gedung ini?

16.32
Pintu terdorong, Aldila melangkah keluar, berhenti sejenak di ambang pintu, lalu menoleh ke arah arah tertentu seperti sedang mencari seseorang atau sesuatu yang dia nantikan. Jantungku serasa melesat keluar saat itu. Aldila tampak begitu anggun saat dia melangkah dengan senyumannya yang merekah ke tempat aku duduk. Aku tidak bisa mendengar lagi apa yang dikatakan Nando. Semua suara Nando seperti sebuah seuara flash back dari masa lalu. Tapi bukan Nando namanya kalau dia tidak tanggap  keadaan. Nando ikut menoleh kearah belakangnya. Kearah mana pandangan nistaku tertuju.

“lotus?.... Kamu di sini, wah surprise banget ini jadinya…..”

Aku tersenyum, ada kata yang ingin terlontar. Tapi kenapa hanya deraman kecil yang muncul dari tenggorokanku. Aku hanya bisa tersenyum. Aku ingin memberinya senyuman terhangat yang aku punya. Tapi aku yakin, yang muncul hanyalah senyum kecil penuh kegetiran….

Aldila berhenti, anggun berdiri tepat di kanan Nando. Lalu secara ringan, dia menempelkan tubuhnya di sisi Nando. Senyumnya, tatapan matanya, begitu hangat saat tatapan mata mereka bertemu. Aldila melingkarkan tangannya di pundak Nando.

Tiba tiba saja seluruh jiwaku serasa terenggut. Tiba tiba saja, setelah sekian lama aku memandang apa yang Dilakukan Nando selalu adalah hal paling logis di dunia, yang selalu bisa dijelaskan dengan alasan yang kuat, sekarang, untuk pertama kalinya aku tidak menemukan semua itu. Jiwaku memberontak. Otakkku perih, ada rongga yang tak tejelaskan di sana. Di lubuknya yang terdalam,

“lotus, sebenarnya ada kejutan yang ingin aku ceritakan sama kamu selama ini. Kayaknya saat inilah yang paling tepat,…..” Aldila tersenyum padaku.

***

Pukul 00.34 ketika aku tersadar bahwa malam ini akan jadi malam yang panjang lagi dalam hidupku. Malam ini, mungkin untuk pertama kalinya aku tidak bisa menerima kenyataan dari apa yang aku yakini selama ini. Aku dulu yakin, semua akan berakhir dengan baik bila awalnya di mulai dengan sesuatu yang baik. Dulu aku yakin, Nando adalah orang terlogis di dunia, yang bisa di mengerti dengan segala hukum sebab akibat. Dulu aku yakin, bahwa keyakinanku adalah ……

Tapi malam ini semua menyentakku. Malam ini aku tersadar dari mimpi indah selama tiga bulan ini. Mimpi untuk mepersunting Aldila. Malam ini, Aldila telah berubah dalam pikiranku. Malam ini, Aldila sudah mampu mengubahku, menyadarkanku. Aku ini siapa yang berani mengharapkan Aldila yang nyaris sempurna. Malam ini, aku tersadar, kalau sebenarnya Aldila bagiku hanyalah putri kaca. Seperi pajangan di etalase panjang di mall mall mewah yang biasa aku pandang seraya berlalu. Atau terkadang aku hanya berhenti sebentar di depan kacanya, memandang sejenak ke arah benda mengagumkan di hadapanku, meneliti label harganya lalu berlalu sambil bergumam ‘kau terlalu mahal untukku’ dan menanggalkan impianku untuk memilikinya.

“lotus,…” kata Aldila sore tadi, pukul 16. 44 waktu itu, “ sebenarnya aku dari dulu pengen sharing sama kamu tentang tunanganku ini. Aku tau kalau kalau lotus sama mas Nando adalah sahabat erat. Lotus tentu tau banyak tentang mas Nando. Tapi, selalu gak ada waktu yang tepat untuk bicara banyak empat mata sama kamu, lotus……”t. aku  kami...memang dia bukan jodohku, makan segeralah beri aku alasan untuk meninggalkannya,

Lotus?
Masih pantaskah panggilan itu buat aku…….
READ MORE - Lotus

Baca juga yang ini