Tampilkan postingan dengan label pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendek. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Aku Benci Kalian, Bloofers

Aku menggeram,

“aku benci kalian Bloofers, sungguh! Mulai sekarang jangan cari aku lagi. Dan aku tidak akan mengingat kalian lagi. Aku keluar…..”

Klik keluar dari grup, isi beberapa isian, selesai…..

***

Mataku mengerjap, memandang apa yang dilakukan kakakku.

“ini blogging,” jelas kakakku tanpa aku tanya. “Blogging itu mengasikkan Nan, kamu harus mencobanya suatu saat” kakakku melanjutkan atau lebih tepatnya, mulai nyerocos….

 Aku memandang kakaku lekat. Aku akui memang aku sedikit berbeda dengan kakakku yang satu ini. Kakak lebih terbuka, lebih ceria dan lebih supel dari pada aku. Aku cenderung pendiam tapi pantang menyerah. Aku termasuk orang yang gigih,tapi  itu menurut aku sendiri sih, semacam pendapat pribadi gitu J

 Aku juga jarang bertanya. Aku lebih suka mencari jawaban hal hal yang ingin aku ketahui lewat membaca atau cari infonya di internet. Tapi kakakku, menurut aku juga tipe orang yang kadang suka terlalu banyak bicara. Tapi dia cerdas, kakakku itu tau begitu banyak hal. Dia seperti gak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Ada aja hal yang dia omongin. Dari bola sampe presiden dia tau. Kakak kadang juga sering nyerocos tentang hal hal aneh yang aku gak tau sama sekali. Kemaren dia aku dengar sedang berbicara dengan serius pada seseorang lewat handphone-nya. Entah dengan siapa dia berbicara, aku juga tidak terlalu bisa menangkap apa yang dia bicarakan. Terlalu banyak istilah aneh yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Freemasonry, persaudaraan, lambang lambang pagan, ah, entahlah apa lagi. Terlalu aneh bagi aku. Dan hari ini kakakku nyerocos di depanku masalah blogging. Apa lagi itu?

“ Di blog yang kamu buat, kamu bisa mengisi dengan apapun yang kamu suka. Kamu bisa isi dengan karya kamu Nan, bisa kamu isi puisi puisi kamu, cerpen cerpen kamu. Kakak lihat kamu suka menulis tuh. Jadi mungkin blogging itu cocok buat kamu Nan. Selain itu Nan, kamu juga bisa isi blog kamu dengan apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu rasakan, intinya, singkatnya kamu bisa isi blog kamu itu seperti kamu mengisi buku harian saja Nan. Kamu bebas curhat disana. Kamu kasi info tentang hobi kamu, tentang internet, tentang dunia komputer juga bisa Nan.” Aku mulia tertarik dengan penjelasan dari kakakku ini. Blogging, suatu hal yang baru bagiku, dan aku suka dan selalu tertangtang untuk mencoba sesuatu yang baru.

“Karena semua tulisan kamu itu di unggah di dunia maya, maka setiap orang yang berkunjung dan menggunakan internet, bisa membaca apa yang kamu tulis di blog kamu Nan. Mereka bisa mengomentari tulisan tulisan kamu, memberi penilaian atau sejenis itulah Nan. Maka itu blogging menurut kakak itu seru Nan. Percaya deh, kamu harus mencobanya suatu saat…” kakakku masih berusaha meyakinkan aku dengan penuh semangat.

“Tapi aku sudah punya Facebook dan Twitter kak. Sama aja kan sama blogging?’ tanyaku.

“ Ya jelas beda lah Nan, walau sebenarnya ada samanya sih sedikit, antara blogging, facebook atau twitter. Sama sama menulis di internet. Di facebook kamu bisa membuat catatan untuk menceritakan hal yang lebih dari sekedar dari status. Di twitter juga sama, tapi kan karakternya sangat di batasi Nan. Tapi di blog kamu bebas sebebas bebasnya. Kamu bisa kasi gambar, kamu bisa menulis sangat banyak. Sampe puas nulisnya. Selain itu, tulisan kamu di blog bisa di tampilkan sebagai hasil pencarian oleh google. Ne kakak kasih contoh…”

Kakakku membuka google. “ Ne misal kakak tadi posting di blog kakak tentang… nah yang ini, tentang internet dan pendidikan…., kalau kamu buka google, terus kamu ketik kata kuncinya….. enter….. jreng…  salah satu hasil pencarian dari google langsung menuju pada posting blog kakak tadi bukan? Keren Nan, blogging itu keren….kalau pengunjung google itu meng-klik tautan ini, berarti dia akan membaca apa yang kamu tulis di blog kamu Nan, keren kan? Tulisan kita di baca banyak orang”

Aku tersenyum. Aku rasanya mulai terpengaruh pada penjelasan kakakku ini. Blogging itu keren, blogger tentu kumpulan orang orang keren. Aku tersenyum lebih lebar.

“Gimana Nan? Keren kan. Kakak tau kamu pasti tertarik…. Hebatnya lagi Nan, kalau blogging kamu sukses, kamu bisa cari uang dari blog kamu..”

“wah, ya kah? Gimana caranya?”

Rupanya sekarang aku mulai benar benar tertarik pada dunia blogging. Apa lagi sekarang menyangkut uang. Siapa yang gak tertarik sama uang coba? Aku menajamkan telingaku, siap siap dengerin penjelasan kakakku selanjutnya. Tapi tepat bersaman dengan itu, bel rumah kami berdering.

“Nah Nan, ini kayaknya yang kakak tunggu tunggu sore ini Nan. Ini adalah bagian lain yang mengasikkan dari Bloging Nan.”

“ Tamu itu maksud kakak?” tanyaku

“ Ya Nan. Mungkin itu temen kakak, coba bukain sana, kalau cari kakak, bilang suruh tunggu di teras Nan, kakak mau ambil tikar dulu buat di gelar di depan”

Aku mengerutkan kening. “ Emang banyak yang mau dateng kak? Kok sampe gelar tikar segala?”

“ Nanti kamu lihat sendiri dah Nan, acara kakak sore ini pasti seru. Kopdar Nan….”

Walah apa lagi itu? Satu lagi istilah aneh yang di omongin kakakku. “ apa itu?” tanyaku penasaran.

Kakakku memandang aku sebentar, antara gak percaya dan ingin menjelaskan. Tapi, “ sudah sana buka dulu pintunya, kasian kalau tamunya nunggu terlalu lama, kakak mau ambil tikar dulu.”

“ Apa tadi?” tanyaku, belum juga beranjak dari tempatku. Sementara kakak sudah melangkah ke belakang buat ngambil tikar.

“ Apanya? Buka pintu?” kakakku menoleh.

“ Bukan, acara kakak sore ini sama temen temennya.”

“ Kopdar…”

“ Apa itu?

“ Buka dulu pintunya, nanti kakak kasi tahu…” kakak menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap aku.

“ Gak…!”

“ Nan, bukain pintu dulu, kakak mau ambil tikar ne, kasian tamunya….” Kakak berkacak pinggang, mulai gak sabar sepertinya.

“ itu temen kakak kan? Aku mau googling aja..”

“ Buka pintu nan….”

“ gak….! Aku mau cari arti kopdar di google..”

“ Nan….”

“ Gak, ….. aku mau googling….”

“ Awas kamu nan….”

Brak…..

Kututup pintu kamar, menguncinya dari dalam dan mulai nyalain komputerku. Aman sekarang. Kadang kakakku memang begitu, sok jadi bos menurutku. Dan  itu tidak menyenangkan sama sekali!

***

“ Nan, kamu dah punya blog ya?” tanya kakakku suatu siang. Hm, Kakakku sudah tahu rupanya.

“ Ya, kenapa?”

“ Rame yang dateng berkunjung?”

Aku menggeleng. Lesu.

“ Udah berapa lama?” tanyanya lagi.

“ Sebulan….”

“ Sebenarnya ada bebearapa trik buat menarik pengunjung ke blog kita Nan. Nanti kakak kasi tau kamu, sekarang kakak mau pergi berkemah dulu sama temen temen.”

“ Lama?”

“ Apanya?”

“ Kemahnya?”

“ Gak, Cuma seminggu aja kok. Kamu googling aja dulu, cari tau gimana caranya biar blog kamu laris.”

“ Males….”

“ tumben, “ kakakku menatapku dengan padangan gak percaya. Mungkin ini memang aneh waktu aku males tanya tanya sama mbah google.

“ Bisaanya kamu semangat cari cari di google. Kenapa sekarang kok ngambek sama mbah?” aku diam  aja. Mood aku lagi jelek sekarang. Mungkin karena mikirin blog aku itu, jadi sedikit stress rasanya. “ Gini aja, coba kamu gabung di facebook di grupnya para blogger. Mungkin itu bisa membantu sementara.”

“ Nama grupnya?”

“bloof, blog of friendship”

***

Ini sudah bulan ketiga aku ngeblog. Sudah sepuluh posting yang aku buat selama ini. Tapi kok gini ya? Blogku sepi sepi aja. Gak ada tanda tanda kemajuan. Aku jadi males mau ngeblog lagi. Blogging gak asik. Gak seperti apa yang kakakku ceritain sama aku.

Padahal aku dah gabungan di bloof seperti apa yang kakak seranin ke aku. Tapi hasilnya sama saja. Mengecewakan!

“ Halo Nan..” kakakku menyapaku sepulang sekolah. Aku lagi di depan tv waktu itu. Lagi nonton film kartun kesuakaanku. Aku cuek aja, habis  males aku sama kakak sekarang. Kakak gak bisa bantu aku blogging. Blog kakak pasti sukses tuh. Buktinya tiap malem dia begadang ngobrol sama temen temennya sesama blogger, apa lagi sama temen temenya di bloof, gak pernah absen kayaknya. Coba blog aku, mana pernah dia ke sana? Tahu namanya aja mungkin gak….

Kakak yang menyebalkan. Grup yang menyebalkan. Aku benci kakakku, aku benci bloofer semua….

“ Kamu kenapa Nan?” tanya kakkaku menyelidik. Aku diam saja, males….

“ Hei Nan, kamu kenapa? Ngambek ya?” dia kenapa sih? Kakak mulai usil dah kalau aku sudah diem begini. Apa gak tau dia kalau aku lagi males? Males ngomong, apa lagi sama kakak.!

“ Andai aku halal bagimu …..
Aku ingin menggenggam dan digenggam tanganmu
Aku ingin menjadi pelipur lara hatimu

Jika aku halal bagimu,
Aku ingin menjadi sandaran dan bersandar di bahumu…..” **

Hei, itu kan puisi yang aku posting di blog aku belum lama ini. Kok kakak tahu? Aku menoleh ke arah kakakku. Mungkin ekpresiku terlihat konyol sekarang.

“ hehehehhehehehe, kenapa Nan, wajah kamu kok jadi memerah gitu? Kayak sapi ompong kamu? “

“ Tau dari mana ?” tanyaku penasaran, surprise juga sebenarnya….

“ ehhehehehehhehehe, kamu posting seminggu yang lalu toh? Di blog kamu? “ inilah aku” itu nama blog kamu bukan?”

Kakak…., aku jadi terharu…. (lebay dah),  aku menundukkan kepala.

Kakak mendekat kearahku, lalu duduk di depanku dan memengang kedua bahuku. Nyata sekali kalau kakak begitu sayang sama aku. Aku saja yang kadang kadang egois. Ah tidak tidak, gak setiap saat kakak begini. Ini pasti ada maksud yang tersembunyi.

“ Nan, kamu tahu kan kalu di dunia ini kita gak bisa hidup sendiri? Gak bisa egois dan mau menang sendiri. “ aih, kakakku mulai nyerocos lagi neh, kali ini apa yang mau dia omongin?

“ Sini kakak tunjukkan sesuatu.

Kakak bangkit dari duduknya dan mulai melangkah ke depan komputer. Tapi aku tidak beranjak dari tempat dudukku. Aku masih gak ngerti apa yang sebenarnya akan dilakukan kakakku yang aneh itu.

Kakak menoleh, “ Nan, sini, kakak tunjukkan sesuatu ini, mau tau gak?”

Seperti sapi yang sudah di tusuk hidungnya, aku bangkit juga dari tempat dudukku. Kakak menggeserkan kursi kecil agar aku bisa duduk di dekatnya. “Duduk sini Nan,”

Kakak mulai menyalakan komputer, membuka firefox, kemudian login di facebooknya sendiri. Halaman yang di tuju kakak tentu saja, gak lain dan gak bukan adalah halaman bloof, halaman grup yang aku benci  sekali.

“Bagiamana menurut kamu blogger blogger yang bergabung di bloof ini Nan?”

“ Mereka egois, aku gak suka, mereka gak pernah care sama Nan. Mereka cuma mentingin keinginan dan kemauan mereka sendiri, mereka gak pernah tau apa yang Nan mau dari mereka....”

“ Emang Nan ngerti apa yang di maui oleh bloofers yang lain?” kakakku memotong kata kataku.

Aku diam. Aku kesal, kesal sekali. Jadi kakak  memanggilku cuma buat ini? Jadi kakak sekarang lebih membela temen tememnya di bloof dari pada adiknya sendiri?

“ Aku benci kakak! Aku benci bloofers....” aku meradang. Kecewa sekali rasanya punya kakak seperti ini. Aku pergi meninggalkan kakakku sendiri. Pergi ke kamar dan mengunci pintu.

***

“ Nan, lagi ngapain?” mama menghampiri aku yang lagi asik dengan game onlineku di facebook sore itu. Aku diam saja. Males mau ngomong.

“ Nan di tanya mama kok diem aja? Nan lagi marah ya sama kakak?”

Aku diam. Dalam hati aku menggerutu. Mama sudah bahas ini. Pasti mama sudah tau kalau aku lagi berseteru sama kakak. Pasti kakak yang ngadu sama mama. Dasar anak manja. Apa apa mama, ini juga mama yang dilibatin. Anak mama banget sih kakakku itu.

“ Nan, mama tahu kalian sedang marahan sekarang. Mama mendengar kemaren ribut ribut kalian berdua. Nan marah sama kakak kenapa?”

“ Habis kakak tuh ma, sukanya belain temen temennya di bloof, bukannya belain aku. Eh malah kakak belain mereka.”

“ Oh ya? Emang kamu ada masalah Nan sama temen temen kakak di bloof itu? Mereka bloger bukan?”

“ Ya, Nan benci mereka.....”

“ Nan benci anak anak Bloofers? Kenapa?”

“ Mereka egois ma, setiap Nan posting tautan terbaru di grup itu, gak ada yang mau nanggepin tautan Nan itu. Padahal Nan kan juga pengen blog Nan di kunjungi. Bukan cuma blog mereka yang mesti dikunjungi....”

“ Apa Nan pernah berkunjung ke blog mereka? “

Aku diam. Dalam hati kecilku, aku mengakui kalau memang aku gak pernah berkunjung ke blog manapun. Bahkan blog kakak. Oh ya, blog kakak apa ya namanya? Nan gak tau....

“ Apa Nan pernah meluangkan waktu nan buat berinteraksi sama mereka di luar bahas dan sekedar posting tautan blog Nan di sana?

Aku diam. Kemudian menggeleng lesu. Aku menunduk....

“ Apa itu perlu...? “ tanyaku lemah.

Mama tersenyum. Lalu dengan lembut merangkulku.

“ Nan, dunia maya itu gak jauh beda sama dunia nyata Nan. Di dunia maya itu juga ada dan terjadi hukum timbal balik Nan. Kalau kamu mau blog kamu di kunjungi oleh orang lain. Maka rajin rajinlah blog walking ke blog orang lain. Kasi komentar di blog mereka, tinggalin jejak kamu di buku tamunya.  Dengan berkomentar di blog mereka. Itu berarti Nan sudah menghargai jerih payah mereka untuk membuat tulisan di blog itu. Nan senang kan kalau ada yang berkunjung dan berkomentar di blog Nan?”

Aku mengannguk.

“ Nah begitulah juga mereka Nan, mereka juga sama seperi Nan. Mereka juga ingin blognya di kunjungi dan di komentari tulisannya. Maka lakukanlah itu, otomatis mereka akan mengingat Nan, menjadikan Nan teman mereka yang tidak terlupakan dan akan mengunjungi blog Nan tiap ada posting baru. Jangan pernah menuntut orang lain melakukan sesuatu sedang kita tidak pernah melakukan hal itu. Hukum sebab akibat juga berlaku di dunia maya Nan. Kamu mengerti itu Nan?”

Aku menggangguk. Bangkit dari pelukan mama lalu tersenyum.

“ Kakak mungkin bisa memberi solusi lebih dari pada yang mama bisa tentang blogging Nan.”

“ Kakak di mana ma?”

“ di depan komputer.” Mama tersenyum.

“ Blogging?”

“ Ya,”

“ Nan mau menemui kakak ma....”

Mama tersenyum. Maafkan aku kakak, maafkan aku bloofers. Sekarang aku akan jadi teman yang baik buat kalian....

** puisi itu pernah di posting di :


fakta  :
-          Apa jenis kelamin Nan?
-          Umur berapa dia kira kira?
-          Apa jenis kelamin kakak?
-          Berapa usia kakak menurut kalian?

Semua bebas kalian terjemahkan dan bayangkan sendiri ....

Blog resmi Bloof : http://bloofers.      ......org/
READ MORE - Aku Benci Kalian, Bloofers

Kamis, 30 Juni 2011

Aku, Kartu ATM, Abangku, dan Jodohnya

Siang ini, aku memutuskan untuk mampir sebentar di rumah makan sederhana di depan kantor abangku sebelum aku menemuinya. Lelah rasanya terguncang guncang dalam angkutan umum sejak tadi. Perjalanan 6 jam Bondowoso-Surabaya bagiku memang bukan perjalanan yang cukup menyenangkan.

Macet, panas, bedesakan, laju kendaraan yang tidak stabil, lagu lagu yang bising dari pengamen jalanan yang jumlahnya tidak bisa dihitung dengan jari, ditambah pedangang asongan yang ribut menawarkan barang dagangannya. Huh,  kenapa angkutan umum di negeri ini sedemikian parahnya ya? Aku membayangkan seandainya saja aku punya kendaraan pribadi. Mungkin tidak seperti ini keadaannya. Mungkin aku bisa lebih tenang. Mungkin aku bisa lebih menghemat tenagaku. Setidaknya, mungkin tidak perlu sebising itu.

Tapi segelas es teh yang menemani semangkok bakso panas di depanku sedikit membuatku bisa melupakan efek dari segala kebisingan itu. Sedikit menurunkan temperatur otakku. Membuatnya lebih bisa berfikir jernih. Sehingga nanti, aku bisa bertemu dengan abangku dengan keadaan yang lebih baik.

***

Dua wanita muda masuk ke dalam warung bakso sederhana ini saat teh di dalam gelasku tinggal separuh. Setelah memesan makanan dan minuman, dan karena semua tempat duduk sudah terisi, maka duduklah mereka berdua di bangku kosong tepat di depanku.

“ Panas bener ya siang ini” kata wanita muda yang pertama. Aku kira dia sekitar 24 tahun usianya. Dengan baju kerja warna biru tua dan lipstik yang natural. Dia cantik, juga manis. Dan aku suka melihat goresan wajahnya.

“ Namanya juga Surabaya. Kayak yang baru aja kamu di sini” kata wanita kedua. Yang ini berpakaian serba hitam dengan rambut hitam yang di sanggul kebagian atas kepalanya. Lipstiknya merah membara, wajahnya tegas, mengingatkan aku pada istri-istri bawel yang matre. Ouh, semoga saja abangku tidak berjodoh dengan orang macam ini, Tuhan.

Wanita pertama hanya mengulas senyum tipis mendengar jawaban teman sekantornya itu. Mungkin sudah terbiasa dia dengan karakternya. “ Ya mbak Ning. Tapi hari ini panas banget rasanya. Mungkin karena pekerjaanku yang numpuk kali ya…..” Timpalnya. Tapi wanita kedua, yang di panggil mbak Ning itu tampak tak begitu peduli, bahkan untuk menoleh dan memberi sedikit senyuman.

Sebentar kemudian, seorang pelayan datang membawa dua mangkok bakso porsi sedang segelas es teh, dan segelas es jeruk. Aku mencoba mengalihkan perhatianku ke layar telepon genggam di tangan kananku. Sebuah pesan aku kirim ke nomor abangku. Mengabarkan kalau aku sudah di warung didepan kantornya.

“ Mas,” kata wanita pertama ketika pelayan itu selesai meletakkan semua barang yang dia bawa keatas meja.

“ Ya..” Pelayan laki laki itu menjawab dengan santun.

“ Tolong, bungkus satu bakso porsi jumbo sama satu es teh di bungkus juga.”

“ Ya mbak.” Jawab pelayan itu “ Cuma itu saja?”

“ Ya mas, makasih ya. “

“ Sama sama mbak. “

Pelayan itu segera berlalu. Tapi belum juga dua langkah pelayan itu pergi, mbak Ning menoleh dengan ekspresi yang kaku kearah wanita  pertama. “ Buat siapa baksonya. Kok bungkus segala?”

Wanita pertama menyungging senyum, “ Buat mas Topek mbak, “ (hatiku berdegup mendengar nama itu di sebutkan, apa mungkin…..)

“ Topek?”

“ Tufik Rahmad Purnomo mbak, kasian dia” kali ini aku yang pasang telinga setegak tegaknya. Itu nama abangku!

“ Ternyata benar ya yang di kantor selama ini. Kamu benar benar naksir dia kayaknya. Tidak salah ?” tanya mbak Ning. Tidak ada lembut di dalam tutur katanya. Buat telingakuku ini mulai gatal rasanya.

Wanita pertama itu senyum saja mendengar komentar mbak Ning. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan tabiat teman sekarntornya itu. “ Biar sudah mbak Ning temen temen mau ngomong apa. Aku sudah dengar semuanya kok. “

“ Walah, Mala, Mala, jadi bener toh yang di omongin temen temen sekantor itu? Sayang kalau kamu memang bener bener jadian ma si Topek. Gitu kok orangnya kamu senengin.”

Aku hampir muntab mendengar kata kata orang yang di panggil mbak Ning ini. Busyet dah dia. Kok sampai segitunya sama abangku. Emang abangku seburuk apa di kantornya kok sampai di cap segitu jeleknya.

“ La kenapa toh mbak Ning, apa salah saya suka sama mas Topek?”

“ Topek itu lo orangnya kere,” timpal mbak Ning. Astaghfirullah, pengen tak jotos orang ini sama aku. Tapi aku masih penasaran, apa yang sebenarnya terjadi sama abangku di kantornya. Jadi aku putuskan untuk diam dulu. Dengarkan dulu.

“ Jangan bilang gitu mbak Ning, jangan pandang orang dari hartanya. “

“ Terus dari apanya? “

“ Dari hatinyalah mbak Ning, Topek orang yang baik. Dia beda sama yang lain. “

“ Halah, tak kasi tahu ya Mala. Sekarang ini, kalau cari calon suami itu yang ada duitnya. Mau makan apa kita kalau suami kita orang kere?”

“ Banyak duitnya tapi temperamennya jelek buat apa mbak Ning. Aku pengen orang yang bertanggung jawab saja kayak Topek itu. Dia itu loh selama ini kerja demi keluarganya. Dia itu kerjanya bagus. Kan kita semua sudah tahu kalau bulan ini dia di promosikan. “

“ Ya, aku tahu “ timpal mbak Ning.” Tapi dia itu lo tidak bisa ngatur uang. Masak tiap bulan uangnya abis terus. Sampe sampe di bela belain puasa segala buat ngirit. Emang kemana uangnya?”

“ Di kirim mbak Ning”

“ Dikirim?” wajah mbak Ning mengkerut kerut.

“ Ya, di kirim kerumahnya di Bondowoso. Buat ibu sama adeknya di sana. Bapaknya kan dah meninggal?”

“ Hah, beneran tah?” timpal mbak Ning dengan nada tidak percaya.

“ Bener mbak Ning. Aku tahu sendri kok. Bahkan pernah aku diminta tolong ma Topek buat transfer ke rekening adiknya di sana. Waktu itu, kalau tidak salah dia lupa bawa dompetnya waktu keluar sama aku. Padahal uangnya di butuhkan hari itu juga sama adiknya. Jadi aku tahu kira kira berapa yang dia kirim kerumahnya tiap bulan.”

“ Gitu tah? Banyak ya yang dia kirim ke rumahnya, sampai sampai dia tidak bisa beli celana sama kemeja baru. Perasaan tiap hari yang di pake itu itu saja.”

Mala tampak merenung. “ kasian dia mbak Ning. Pagi ini dia tidak sarapan. Katanya adiknya lagi butuh tambahan uang buat biaya kuliahnya di sana. Jadi dia harus lebih berhemat lagi. “ Mala menghela nafasnya. Jantungku berdegup kencang. Kali ini bukan karena amarah pada mbak Ning, tapi karena jengkel pada diriku sendiri! Aku jengkel dan marah pada diriku sendiri. Perlahan muncul kesadaran dalam diriku. Betapa selama ini aku sudah menjadi benalu buat abangku sendiri.

“ Siang ini, katanya adiknya mau datang ke sini” Mala melanjutkan kalimatnya.

“ Kenapa? “ tanya mbak Ning. Kali ini dengan nada yang lebih lembut.

“ Kartu ATM adiknya keblokir. Kemarin dia salah masukin pin”

Aku menundukkan wajah dalam dalam. Gemuruh dalam hatiku bertambah besar. Aku tahu, pasti wajahku sudah memerah sekarang. Betapa cerobohnya aku! Betapa malunya aku….

“ Kalau gitu, kasian sama Topek ya. Kalau adiknya ke sini, berarti butuh pengeluaran lagi buat ongkos perjalanannya. Gitu ongkosnya masih Topek juga yang kasi?”

“ Gak tahu aku mbak Ning. Makanya aku beliin bakso buat dia. Kasian kalau siang ini dia tidak makan lagi.”

“ Di tambah lontong aja mal, biar lebih ada isinya.” Timpal mbak Ning tiba tiba. Sekarang hatiku luruh. Ada setetes air mata yang mengambang di pelupuk mataku. Aku merasa sangat, sangat tidak berguna sekarang. Sangat bodoh, egois…..! aku benci diriku sendiri….!!! Aku benci…..!!! mbak Ning yang tadi sebegitu bencinya sama abangku saja bisa langsung luluh mendengar kebenaran ini.

“ Ya mbak Ning. Nanti aku pesenin. Kalau di bantu secara materi dia pasti nolak. Kalau gini, mungkin bisa lebih membantu.”

“ Nanti Malam ajak dia makan Malam di rumahku Mal. Aku juga jadi tidak tega dengernya. Emang adeknya itu cowok apa cewek sih.”

“ Cowok mbak.”

“ Sudah kuliah dia ya? Udah besar berarti. Sudah bisa cari uang sendiri seharusnya. Biar Topek bisa lebih mengatur keuangannya. Tidak mau nabung apa dia itu? Kalau mau nikah kan butuh uang.” Kalimat mbak Ning itu terdengar pedas di telingaku. Tapi aku cuma bisa diam saja. Aku sudah runtuh….. aku sudah hancur rasanya…..

“ Dulu Mal, biar aku cewek gini, aku gak pernah minta orang tua buat biaya kuliah. Aku kerja Mal. Nyuci piring di rumah makan. Boro boro mau minta orang tua. La yang mau buat orang tuaku makan sendri saja sudah repot setengah mati carinya. Gimana juga mau nanggung kuliahku…., ini adiknya cowok. Seharusnya Topek bisa kasi dia penjelasan ke adiknya. Emang dia mau nikah umur berapa?”

“ Ya mbak, itu yang juga jadi pikiranku. Topek belum bisa nerima aku katanya karena dia belum siap nanggung hidupku. Dia masih punya tanggungan di rumahnya. Padahal aku sudah bilang sama dia kalau aku mau belajar hidup sederhana. Belajar menerima dia apa adanya.”

“ Orang tua kamu sudah setuju ma hubungan kalian?”

“ Orang tuaku sebenarnya suka ma mas Topek mbak. Mereka bilang jarang ada orang kayak mas Topek jaman ini. Tapi ya itu mbak, mas Topeknya tidak bisa lepas tanggung jawabnya sekarang ini. …….”

Aku bangkit dari tempat dudukku. Ada air mata yang menetes dari mataku. Tapi aku sudah tidak lagi perduli.” CUKUP…..!!!” kataku tegas. Walau aku tahu. Suaraku tidak keluar dengan sempurna.

Kedua wanita itu menganga kaget. “Aku adek mas Topek…….!!!! berhenti bicara tentang aku!!!” Aku berteriak di depan wajah mereka. Tapi sebelum aku bertindak jauh diluar kendali, sebuah tangan dengan cicin yang aku kenali menarik tubuhku menjauh dari sana. Tangan itu, tangan mas Topek.

***

Surabaya sudah kutinggalkan tiga jam yang lalu. Sekarang bus yang aku tumpangi sedang parkir di terminal Probolinggo.

Aku duduk sendiri di salah satu kursi penumpang. Otakku memutar kembali memori tiga setengah jam yang lalu, saat aku sempat bertengkar hebat dengan abangku tadi. Kami bertengkar hebat tepat di depan warung bakso itu.

Aku benar benar kehilangan kendali. Aku merasa aku sangat tidak lagi berguna. Aku merasa kalau aku ini sebernarnya cuma sampah yang bisanya cuma jadi beban orang lain. Aku begitu frustasi tadi. Sampai sampai berusaha menabrakkan diri pada kendaraan yang lewat. Tapi untunglah. Abangku, pria sejati itu bisa mencegahku.

Amarahku mereda ketika  ibu tua pemilik warung bakso itu menyeretku ke dalam ruang tamunya yang berada tepat di belakang warung baksonya. Ada mbak Mala sama mbak Ning juga disana yang bantu abangku menenangkanku.

“ Bang, maafkan adikmu ini ya, aku janji bang, ini adalah uang terakhir yang aku terima dari abang. Bulan depan, cukup abang kirim buat ibu saja. Aku akan berusaha sendiri bang, aku akan jadi seorang lelaki sejati seperti abang.

Bang, makasih sudah jadi inspirasi terbesar dalam hidupku. Terima kasih sudah mengubah aku jadi lebih baik, mbak Mala dan mbak Ning. Tanpa percakapan itu, mungkin aku sekarang tetap jadi seorang pecundang.

Terima kasih Tuhan untuk kejadian hari ini. Terima kasih sudah menegurku. Sekarang aku tahu, tak selamanya menangis itu tanda cengeng. Sekarang aku tahu, kalau menangis itu manusiawi………. Terima kasih untuk hari yang mampu mengubah hidupku ini. Terima kasih untuk segalanya……”

versi lain di http://laranta.blogspot.com/2011/02/aku-abangku-dan-jodohnya.html

READ MORE - Aku, Kartu ATM, Abangku, dan Jodohnya

Baca juga yang ini