Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juni 2012

Setelah Lampu Hijau Padam


            Dia adalah sahabat baikku sejak kami belum bisa mengeja abc dan melantunkan ayat ayat suci di surau dekat rumah kami. Dina namanya. Seorang gadis keturunan Jawa-Ambon yang berwajah manis. Banyak orang bilang, dia lebih pantas terlahir sebagai keturunan Minang daripada suku manapun yang ada di negeri ini. Tapi apapun kata mereka, apapun dan darimanapun Dina berasal, yang aku tahu hanyalah kalau dia itu orang yang benar benar pantas untuk aku jadikan sahabat. Orang yang tidak hanya bisa mengerti aku, tapi lebih dari itu, dia sangat pantas untuk aku sebut sebagai seorang kakak.


             Tapi hari ini Dina tergolek lemas di sampingku. Kepalanya terkulai lemah di atas pangkuanku. Darah tak henti hentinya mengalir dari setiap bagian tubuhnya. Bibirnya yang kemarin merah ranum dengan senyum cerianya yang khas, hari ini berganti menjadi bibir yang merah karena darah yang tak henti hentinya tersembur dari dalam rongga mulutnya. Bibir itu bergetar hebat, menandakan betapa sakit yang dia rasakan. Hidungnya tak lagi menghembuskan udara seperti yang setiap saat dilakukannya, tapi dari sana, mengalir darah segar yang tak kunjung henti. Matanya tertutup dengan kelopak mata yang terus saja bekedut.


             Satu kali, tiba tiba saja bibirnya berhenti bergetar, dan lehernya yang semula kejang, tiba tiba saja terkulai dengan tanpa daya. Aku tersentak melihatnya, aku tak ingin kehilangan dia secepat ini. Sebuah tamparan keras, sekeras yang aku bisa kulayangkan ke pipinya yang kini hancur terparut aspal hitam.


             “Plak…”


             “Hei, jangan tampar dia…” Seorang dalam ambulan yang mengantarkan kami ke ICU ini berseru keras padaku. Tapi apa perduli mereka? Aku hanya tidak rela kehilangan Dina secepat ini.


             “Plak…!” satu tamparan lagi aku layangkan ke pipinya yang lain saat tidak ada respon darinya dari tamparanku yang semula.


             “Hentikan… jangan tampar dia, sabarlah, tenang…” yang lain lagi berusaha menghalangiku. Tapi aku tetap tidak perduli. Aku lebih membutuhkan Dina daripada ocehan mereka padaku.
Ketika masih belum ada reaksi juga darinya, aku mulai dirasuki perasaan takut yang amat sangat. Aku benar benar takut kehilangan dia. Kugoncang goncangkan tubuhnya sekeras mungkin, tapi belum juga ada reaksi.


             “Din, Dina, bangun Din ..., Dina …, buka mata Din, jangan pergi …. Aku di sini Din …. Dina…., Diiinnn … “ Aku histeris memanggil namanya. Aku ingin berteriak, tapi yang keluar dari dalam kerongkonganku, hanyalah sebuah desis aneh tanpa daya dari pada sebuah teriakan yang kuat. Air mataku mulai membuncah keluar.  Deras mengalir tanpa bisa terbendung. Kurangkul kepalanya yang kini tanpa daya itu dalam pelukanku.


             “DINAAA….!!!”


***


             “Kamu bisa lebih cepat gak sih Din, tumben banget sih kamu bawa motornya kayak keong begini. Ini sudah keburu nih, nanti keretanya keburu berangkat tahu.” Protesku pada Dina saat kami berhenti menunggu lampu lalu lintas menyala hijau.


             “Ya non, bawel…, gak tahu apa kalau lagi rame kayak gini.”


“Biasanya juga gak kayak gini. Noh, ada celah noh, masuk sana, cepetan”


“Ya, iya, bawel banget sih kamu hari ini. Lampu masih merah tuh, mau maen trobos aja.”


“Aku gak minta kamu nerobos lampu merah non, maju aja kedepan, kedekat garis putihnya itu lo, biar gak ada yang menghalangi.”



“Bisa diem gak sih, bawel amat kamu hari ini, kayak mau mati aja.”


“Keburu telat non…”


“Salahmu, bukan salahku kalau sampe telat!”


“Hijau. Cepet kebut!”


Tanpa berkata kata lagi Dina menarik tuas gas penuh penuh. Motor yang kami tumpangi melaju kencang seketika. Tapi bersamaan dengan itu, sebuah sepeda motor menerobos lampu merah dari arah kiri kami. Tak bisa dihindarkan, sepeda yang kami tumpangi membenturnya dengan keras. Aku merasakan tubuhku melayang di udara, berputar putar seperti batu yang dilemparkan dari pelontar dengan kuat. Aku kira aku sudah akan menemui ajalku saat itu juga, tapi Tuhan masih berkata lain. Tubuhku jatuh ke aspal yang keras, dengan bagian punggungku yang sedang menyandang tas besar berisi baju baju yang mendarat terlebih dahulu. Aku mendarat dengan selamat walau dengan berberapa luka lecet yang tak serius dan punggung yang serasa retak. Tapi aku selamat, tidak ada luka fatal yang aku derita.


Aku segera berusaha bangkit walau punggungku terasa sakit sekali. Kulihat sekelilingku, dimana Dina? Aku nanar mencarinya dari posisi dudukku. Dan saat pandanganku terpaku padanya, aku tak percaya dengan apa yang aku lihat.


Dia berada di sana, lebih dari sepuluh meter dari tempatku sekarang. Tubuhnya merah oleh darah yang membentuk garis yang hampir lurus di sepanjang jalan. Aku histeris memanggil namanya, aku ingin dia menoleh kearahku, dan berkata semua baik baik saja. Tapi Dina tetap diam, tak bergeming!


***


Ini adalah hari kelima Dina koma ketika sebuah pertanda baik terlihat darinya. Saat aku sedang menungguinya di ruang ICU seorang diri, ketika tiba tiba jemarinya yang sedang kugenggam bergerak gerak lemah. Kualihkan pandanganku ke arah wajahnya. Matanya sedikit terbuka dengan gerakan yang begitu lemah dan lambat.


Hatiku berdesir bahagia melihatnya. Kuberikan senyum tulus setulus yang aku bisa untuknya. Tak aku sangka, Dina membalas senyumku! Tapi setelah itu, senyum itu memudar, mata itu tertutup dan seluruh tanda fital dalam tubuhnya juga ikut sirna.


“Dina…” panggilku lirih. Dina diam saja, tak lagi menjawab seruanku.


“Dina…” panggilku lagi, tapi tetap tak ada reaksi darinya, walau aku menunggunya sampai sepuluh tahun kemudian.
READ MORE - Setelah Lampu Hijau Padam

Selasa, 10 April 2012

Kuukir Pelangi Untukmu




Haruskah aku ceritakan padamu sudah berapa jauh jarak yang kutempuh untuk kembali berdiri di sini, tempat kita dulu berkumpul menyaksikan pelangi? Atau haruskah aku ceritakan padamu sudah berapa dermaga, berapa lembah dan lautan pasir yang kuarungi untuk mencari tempat yang sama indahnya dengan tempat dulu kita mengukir pelangi persahabatan kita? Aku rasa sekarang itu tidaklah lagi penting kawan. Karena telah kuceritakan kepada seluruh dunia, betapa indahnya pelangi persahabatan kita. Ya, pelangi persahabatan indah yang pernah alam ukir hanya untuk kita. Spesial untuk kita, bukan yang lain.

“Hei lihatlah itu…!” Ani, yang termuda dari kita berseru di sore yang telah layu waktu itu.

“Pelangi…” aku bergumam, dan yang lain setengah berteriak bersamaan.

“Indahnya….!!!”

“Diam diam, aku ingin mengabadikannya…, minggir semua…” Aisyah yang paling heboh diantara kita menyeruak ke depan, menyibakkkan gerombolan kita yang tak memperdulikan gerimis untuk melihat pelangi itu lebih jelas. Kita seperti kumpulan anak TK yang sudah kadaluarsa waktu itu bukan? Tapi itu menyenangkan kawan. Julukan yang diumpatkan pada kita oleh mereka yang sirik akan kebersamaan kita.

“Tunggu Aisyah, fotomu tidak lengkap tanpa aku ada di sana…” Ani berteriak seraya berlari kecil ke depan, menembus gerimis yang turun malu malu pada kita.


“Minggir Ani, jelek tau…”

“Fotoin aku sama pelangi itu…!”

“Wajahmu gak akan jelas, jadi siluet saja ntar kalau udah jadi…”

“Itu keren Aisyah, cepetan…”

Aku masih ingat betul bagaimana Aisyah mendengus dengan wajah penuh kesal waktu itu. Wajah yang lucu, yang selalu aku kenang sampai sekarang. Aku jadi penasaran, bagaimana wajah itu sekarang? Apakah sudah mejadi wajah keibuan yang meneduhkan? Atau masih sama imutnya dengan wajahnya saat mengantarkanku ke bandara saat terakhir kita bertemu?. Wajah imut yang berurai air mata.

“Hei lihat, itu keren…”

“Ya… ya … fotonya jadi keren… aku juga mau Aisyah…. Fotoin aku juga…..”

“Gak, enak aja, sana pake punya sendiri sendiri…” Aisyah masih saja sewot.

“Tapi punyaku kameranya jelek Aisyah, ya ya… pake  punya kamu, Aisyah baik deh….”

“Kalau ada maunya, di baik baikin, coba kalau gak….”

“wehehehehhehehe….. hihihiihihihi…. Aisyah baik deh….”

“Udah cepetan sana, udah udah jangan berebut, satu satu,”

“Aku duluan…”

Tak Cuma yang cewek saja yang narsis berfoto waktu itu, bahkan aku, dan semoa orang yang cowokpun ikutan narsis nampang di depan kamera Aisyah. Ada keceriaan yang terukir waktu itu, ada tawa yang membahana, ada hati yang lapang yang tercipta. Bahkan kalian tahu kawan, tawa kalian itu telah menggema dan terus menggaung sampai sekarang dalam relung relung terdalam ingatanku. Tawa yang begitu menyejukkan, yang saat aku mendengarnya untuk sekali lagi, dan lagi, seolah sirna semua beban yang pernah ada di hati ini.

“Hei lihat, fotonya kok sama semua posenya? Ini foto siapa? Yang ini siapa?” Nick tiba tiba histeris kebingungan saat memperhatikan hasil foto yang diambil Aisyah. Dan kalian mulai ribut, mulai mengingat ngingat urutan yang di potret Aisyah tadi, Uni, Selvi, Pipi, Awa, Tia, Budhi, Amin, Aulia, aku dan kita semua mulai ribut seperti anak TK yang meributkan sekawanan semut yang lewat di depan mereka.

“Bagaimana membedakannya?”
“Gak tahu, yang pasti cuma yang jelas, ini cowok, yang itu cewek. Yang cowok semua jadi sama, yang cewek semua juga jadi sama. Kita seolah satu, kita seolah melebur dalam satu bayangan yang sama dalam foto itu.”

“Benar.”

“Bukankah kita memang satu? Bukankah kita memang sesama blogger?”

“Ya benar, karena kita memang tiada beda, tiada senior atau junior, kita dalah sahabat, kita adalah BLOOFERS bukan…”

Ah…, masih aku rasakan keharuan yang tiba tiba menyeruak diantara kita waktu itu. Keharuan yang juga masih bisa aku rasakan sampai sekarang, kawan. Keharuan yang sampai sekarang masih mampu untuk membuat mataku berkaca kaca…

Selembar foto itu sekarang masih kusimpan, kawan. Di sini, tak jauh dari jantung dan hatiku. Selembar foto yang kita beri judul “Kuukir pelangi Untukmu”. Selembar foto yang entah itu foto siapa, hanya yang aku tahu, pastinya dia adalah salah satu dari penggemar lambang etawah berwarna ungu : BLOOFERS





Ditulis secara khusus atas pemintaan dari kang Muhaimmin Tawwa, di persembahkan untuk seluruh BLOOFERS



READ MORE - Kuukir Pelangi Untukmu

Senin, 26 Maret 2012

But-Chi


 
“ Anas…”

“ Ya,…”

“ Apa benar kamu mencintaiku?”

Hm…., akhirnya pertanyaan itu terlontar juga malam ini. Aku mendesah. Seperti berat sekali harus aku katakan apa yang sebenarnya aku rasakan dan yang sedang terjadi selama ini. Pertanyaan tentang cinta, pertanyaan tentang kesungguhan akan sebuah hubungan seperti ini, sudah kerap kali membuatku gamang. Apakah aku memang benar benar mencintainya? Lebih dari sekedar perasaan seorang kakak kepada adik perempuannya? Lebih dari sekedar perasaan seorang sahabat yang ingin selalu bersama dengan seorang sahabat wanitanya? Aku bahkan masih sering ragu. Seriuskah aku? Nyatakah ini?

Aku bangkit dari posisi membungkukku dan menegakkan posisi dudukku. Kualihkan pandangaku padanya dan kuberikan senyum setulus yang aku bisa. Kuraih kepalanya yang berambut pedek itu, lalu kutarik agar merabah di dadaku. Dia diam saja. Seperti yang sudah sudah selama ini.

“ Apakah itu penting, Dyan?” tanyaku.

“ Entahlah, Nas, aku juga tak tahu itu penting atau tidak. Aku hanya mendengar dari teman teman selama ini, kalau sebenarnya kamu itu mengganggapku lebih dari seorang sahabat.”

“ Hm…, Kadang mereka itu terlalu ikut campur melebihi kapasitas mereka sebagai teman, Dyan. Mungkin saja mereka itu cemburu melihat kedekatan kita selama ini. Biarlah mereka dengan pikiran mereka sendiri, kita jalani aja kehidupan kita seperti ini, sebagai sahabat.”

Mendengar ucapanku, perlahan Dyan bangkit dari dadaku. Di tatapnya aku dalam dalam dengan pandangan yang langsung tertuju pada mataku. “ Tapi sahabat tidak ada yang berpelukan seperti kita, Nas. Sahabat tidak bergandengan tangan berjam jam saat berjalan di keramaian. Sahabat tidak seperti itu.. Tidak merasakah suasana mesrah seperti yang kamu rasakan malam ini. Sahabat itu seperti Eka dan Maya yang selalu having fun, selalu ada untuk satu sama lainnya, seperti Bayu, Nina dan Angga. Mereka selalu bersama tapi mereka tidak pernah terlihat mesrah seperti yang kamu lakukan kepadaku. Yang aku tahu, seorang sahabat tidak ada yang memeluk sahabatnya dalam diam, juga tidak berusaha menciumnya…”

“ Lalu apakah penting untuk tahu apakah aku mencintaimu?” potongku.

“ Penting Nas, penting sekali. Agar aku tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kita. Apakah kamu menganggapku sahabat, atau seorang kekasih…”

“ Lalu kamu sendiri mengganggapku apa?” sergahku, sekali lagi.

Dyan terdiam, tapi pandangannya nanar. Bibirnya bergetar perlahan menandakan gejolak hatinya yang mulai gusar. Aku jadi seperti tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, mengapa malam ini tiba tiba dia bertingkah seperti ini?. Malam ini, dia seolah olah bukan Dyan yang selama ini aku kenal. Dyan yang lembut dan selalu berhati hati. Apakah urusan cinta dan hati seperti ini bisa membuat seorang wanita berubah drastis?

“ Anas, sebenarnya aku ingin kamu tahu malam ini… ka, kalau, Kalau aku sedang jatuh cinta..”

Deg…! Jantungku seolah berhenti berdetak. Tiba tiba saja seperti puluhan ribu volt telah menyengat jantungku detik itu juga. Ada rasa curiga yang menghantui, ada rasa khawatir yang sangat yang aku rasakan. Benarkah itu? Benarkah Dyan jatuh cinta? Pada siapa? Padakukah? Atau ada orang lain? Tiba tiba malam ini aku rasa menjadi malam yang sangat penting dalam hidupku. Tiba tiba saja udara malam ini aku rasa begitu panas. Panas dan menipis, membuatku serasa sulit untuk bernafas.

Kucoba untuk menahan diri untuk tidak bertindak bodoh di luar apa yang seharusnya aku lakukan. Tapi dari rona wajahku, dari helaan nafasku, aku yakin Dyan sudah membaca apa yang sedang terjadi padaku.

“ Apakah kamu mencintaiku, Dyan?” tanyaku tiba tiba, yang membuatku merasa begitu bodoh sudah menanyakan hal itu secepat ini. Seharusnya aku bisa lebih tenang, tidak tergesa gesa seperti ini. Aku menggerutu dalam hatiku, membuatku semakin merasakan perasaan bersalah dan kesal yang amat sangat pada diriku sendiri.

 “ Kamu mencintaiku bukan, Nas…, Jawab pertanyaanku dengan jujur, Nas.” Kali ini nada yang keluar dari kata katanya lebih terasa seperti sebuah desakan dari pada sebuah pertanyaan biasa.

“ Tadi aku yang bertanya lebih dulu, Dyan. Apakah aku orang yang kamu cintai?”

“ Dalam hal ini seharusnya pria punya kesempatan lebih dulu untuk bicara, Nas.”

Mendengarnya membuatku diam. Aku cuma bisa memandangnya dan membiarkan angin yang semilir di taman Bungkul malam ini membelai hati yang sedang terombang ambing. Aku tahu aku ragu. Ragu untuk mengartikan perasaanku sendiri. Cintakah ini? Atau hanya perasaan kedekatan seorang sahabat? Aku juga ragu, apakah aku orang yang di cintai Dyan? Kalau ya, bagaimana selanjutnya? Apakah ketika nanti aku menjadi pacarnya semua akan berjalan seperti ketika aku menjadi sahabatnya?

Begitu banyak pertanyaan yang tiba tiba muncul. Pertanyaan pertanyaan yang kemudian membuatku ragu. Keraguan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ketakutan : aku takut kehilangan dia. Baik sebagai sahabat maupun sebagai…

“ A.., A… ah, aku tak sanggup mengatakannya. Tolong jangan desak aku.”

“ Berati benar apa yang aku dengar selama ini?” air matanya mulai tumpah, suaranya mulai serak, “ Berarti benar kalau kamu memang mencintaiku Nas?”

“ Dyan, kenapa menangis…” aku berusaha merangkulnya. Tapi Dyan malah menepiskan tanganku.

“ Akhirnya…, akhirnya apa yang aku takutkan… terjadi juga…” tangisnya kini benar benar pecah. Membuatku semakin bingung harus berbuat apa.

“ Dyan, sudahlah, tidak seharusnya seperti ini. Tidak seharusnya kamu menangis. Kita bisa bicara baik baik bukan…” aku berusaha membujuknya. Aku benar benar tidak tahu harus berbuat apa. Ini untuk pertama kalinya dalam hidupku harus menghadapi seorang wanita menangis di depanku karena cintanya padaku.

“ Tapi aku mencintai orang lain, Nas….”

Deg! Dunia seakan sekarang berhenti berputar, angin seolah berhenti berhembus dan orang orang yang bising di sana, seolah olah sekarang seperti film bisu yang sedang diputar. Bahkan darahkupun seperti berhenti mengalir.

“ Aku sebenarnya tidak ingin kamu tahu tentang ini, Nas. Tapi semua sekarang sudah terlanjur… aku, aku .. aku harus mengatakan kebenarannya…”

“ Siapa orang itu, Dyan?” tanyaku, dengan berusaha keras untuk menyembunyikan seluruh gejolak di hatiku.

“ Mi… Mitha….” Jawabnya di tengah isak tangisnya.

“ Mitha? Dia… dia wanita bukan? Mitha itu mantanku?” tanyaku tak habis mengerti.

“ Ya benar, Nas. Mitha mantanmu itu. Dia kekasihku. Kami sepasang kekasih. Dan karena akulah dia memutuskanmu waktu itu. Anas, temaku yang baik, sabahabatku yang terbaik, aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini….aku harap kamu bisa memahami keadaanku, dan kita…., kita masih bisa bersahabat seperti sedia kala bukan….?”

Dunia sekarang menjadi gelap di mataku. Otakku, tiba tiba terasa sangat sakit dan tersayat sayat. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan? Tiba bita aku ingin sekali berlari dan berteriak. Hingga hilang pedih dan perih yang begitu kejam dengan tiba tiba merenggut segalanya dariku ini.


READ MORE - But-Chi

Minggu, 15 Januari 2012

Mereka Bertanya Kepadaku Tentang Arti Sebuah Tawa


Mereka memandang, seolah memandangku. Lalu ketika aku tertawa, sebuah pertanyaan mereka lontarkan :

“ Kenapa tertawamu seperti itu?”

Tapi aku cuma diam. Mereka benar-benar ingin tahu rupanya, batinku, karena ini adalah pertanyaan mereka untuk yang kesekian kalinya. Aku tersenyum tanpa mereka tahu. Karena walaupun mereka memandang, dan aku memandang, tapi pandangan kami tidak pernah bertemu. Tidak pernah. Kami terpisah jarak yang jauh sekali, ribun kilometer, bahkan melintas benua dan samudra. Tapi hati kami satu, satu di dalam wadah yang berwarna ungu. Kalian tahu itu bukan?

***

Tak perduli siang serasa panas membara atau malam dengan dinginnya yang serasa menusuk tulang. Aku tetap di sini, menunggu mereka menunjukkkan tanda tanda kalau mereka ada di sana, menanti kehadiranku seperti aku menanti kehadiran mereka.

Biasanya aku bisa duduk bersama mereka berjam jam lamanya. Beceloteh dan bercerita. Kerap kali aku tertawa juga bersama mereka. Menertawakan keadaan dan kebodohan kami sendiri. Tapi, itu dulu. Sekarang, kisah itu tidak ada lagi. Kisah itu berakhir dengan tragisnya secara tiba tiba. Seperti jamur yang tertebas angin saat dia sedang tumbuh menatap matahari lewat celah dedaunan. 

Sekarang, saat matahari sudah meninggi, dan bulan sedang tersenyum dengan hangatnya. Tidak ada lagi canda bersama mereka itu. Tidak ada lagi percakapan konyol tak tentu arah seperti dulu. Yang ada hanyalah suara angin. Angin asing yang berdesing serak di telingaku. Lalu perlahan, aku rasa, aku rindu kalian. Teman, sabahabat sahabatku, kalau aku kembali ke wadah ungu itu lagi, akankah kalian mau menerimaku kembali?

Sebersit ada ragu, tapi rasa rindu ini sudah melebihi segalanya sekarang. Kalau kalian mau menerimaku lagi di sana, hal yang pertama ingin aku jelaskan kepada kalian adalah tentang tawaku yang kalian pertanyakan. 

Bloofers, ah, ya, begitu biasa mereka disebut, tawaku itu terilhami dari sebuah sitkom di televisi yang dulu tayang setiap sore. Aku suka sekali nonton sitkom itu. lucu abis, kalau anak gaul jaman sekarang bilang. Disana, ada salah satu karakter yang suka sekali update status facebooknya. Dan setiap kali dia menggambarkan tawa dengan tulisan, dia selalu menulisnya dengan 


“ Egeg egeg egeg ….”


Sebenarnya aku meniru dia, bloofers, tapi karena jari jari ini terlalu cepat mengetikkannya, maka jadilah spasi antara tiga kata itu hilang. Dan jadilah aku menuliskannya seperti yang sering kalian lihat

“ gegegegegegegegegege…..”

Atau segala turunannya, dengan huruf ‘g’ dan semua vokal yang ada keculi ‘u’. kalian pasti tahu kenapa aku tidak menggunakan ‘u’ sebagai huruf vokalnya, bukan?

Bloofers, sekarang terang siang perlahan telah berganti dengan temaram senja. Tadi sudah aku kirimkan permintaan untuk bergabung lagi bersama kalian. Akankah kalian akan menerima kembali teman kalian yang hilang ini?

Aku masih menunggu…..




"Bahagia mendatangkan sahabat, 
tapi penderitaanlah yang menjadi pengujinya"


READ MORE - Mereka Bertanya Kepadaku Tentang Arti Sebuah Tawa

Jumat, 15 April 2011

The smallest, the strongest, the conqueror

Malam itu, pertengahan Desember 2009 pukul 00.02 ketika aku memutuskan pulang dari rumah nenek. Bukan tanpa alasan sebenarnya aku nekad pulang jam segitu. Tapi sungguh, rumah nenek bukan tempat di mana aku bisa tidur dengan nyenyak. Udara dinginnya yang menusuk tulang itu yang membuat aku selalu terjaga sepanjang malam. Walaupun sudah merangkap selimut dan jaket, tapi rasa dingin itu tetap saja seolah olah merasuk dalam tulangku. Lagi pula tidak bebas rasanya kalau harus tidur dengan pakaian setebal ini. Maka itu, pulang mungkin adalah keputusan terbaik buat aku malam ini.

Untunglah ada temanku yang juga hendak pulang dari tempat kerjanya malam itu. Kebetulan juga dia biasanya melintas di depan rumah nenek sekitar tengah malam seperti ini. Jadi aku gak perlu buat pinjam sepeda motor paman untuk pulang, cukup membonceng aja di belakang temanku itu. Badannya yang lebih tinggi dan lebih besar dari aku, bisa jadi tameng buat sedikit menetralkan dinginnya udara malam ini. Ditambah jaket tebal yang aku pinjam dari paman, dan sepeda motor yang di pacu dalam kecepatan tinggi, malam ini jadi sebuah petualangan seru buat aku.

Sepanjang jalan, udara dingin, dan kabut yang turun menambah serunya perjalanan malam ini. Di kanan kiri jalan, jarang ada lampu penerang jalan. Yang ada cuma kegelapan sempurna yang seolah membutakan mata. Jarak antar sekumpulan rumah dan rumah yang lain juga sangat jauh. Dalam perjalanan dengan kecepatan tinggi seperti ini saja, butuh waktu sekitar 3-5 menit untuk menemukan sekumpulan rumah lagi setelah melewati sekumpulan rumah yang lain. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas di kiri kanan jalan malam itu. Di tambah lebar jalan yang memadai, jadilah malam ini kami seolah sedang dalam road race malam yang menantang dan mendebarkan. Naluri lelaki yang mana yang tidak akan tertantang dalam suasana seperti ini! Adrenalin seolah mengucur seperti darah yang terus mengalir dari jantungku yang berdegup kencang.

Motor yang kami tunggangi benar benar seperti kuda besi yang menderu mendesing memecah kesunyian malam. Seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Jalanan yang selalu berbelok belok, memaksa sesekali motor ini seperti hendak rebah ke tanah ketika kami melewati tikungan. Benar benar sebuah sensasi liar luar biasa yang seperti menyentak alam bawah sadarku untuk terus terjaga menikmati seluruh perjalanan ini. Benar benar seperti pertandingan road race yang dengan sensasi luar biasa. Dalam medan yang yang super ekstrim.

Tapi seluruh sensasi itu tiba tiba saja sirna ketika kami memasuki sebuah perkampungan penduduk. Tiba tiba saja temanku itu membelokkan motornya dengan sangat sangat mendadak. Tiba tiba saja malam yang tadinya sepi sunyi, dengan hanya suara motor inilah satu satunya yang mampu memecah kesunyian itu, jadi hingar bingar dengan puluhan orang tumpah ruah di jalan. Malam itu tiba tiba saja berwarna merah kelam. Malam itu, dinginnya entah bagaimana tiba tiba berubah jadi sangat panas, panas sekali. Malam itu, gelapnya tiba tiba sirna, tergantikan dengan dengan ribuan nyala api yang datang dalam jumlah besar!

Sebenarnya aku bingung dengan semua perubahan ini. Tapi ketika aku bisa meraih kesadaranku lagi, semua di sekitarku terlihat putih. Putih dan pucat. Dan ketika aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua menangis pilu…..

***

Subuh menjelang siang ketika aku duduk merenung di musolah kecil itu seorang diri. Dalam keremangan hari yang belum juga sempurna merekah ini, aku berusaha memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Flash backingatanku, membuat aku meneskan air mata penuh penyesalan.

“tiga hari kamu gak sadarkan diri,” kata ibuku di sela sela tangisannya pagi itu. Ibu bercerita kalau malam itu aku di tolong penduduk desa yang aku lintasi ketika motor yang kami kendari tiba tiba oleng tanpa sebab. Mereka bercerita pada ibuku kalau kami beruda terseret setidaknya 20 meter lebih, sebelum sebuah pohon di pinggir jalan menghentikan laju motor kami.

“tapi kenapa?” tanyaku,

“seekor serangga kecil masuk di mata temanmu. Dia kehilangan matanya sekarang,” ibuku menangis sesenggukan. Aku tahu, dia bukan sekedar temanku, tapi dia sahabatku, sahabat dari masa kecil, dia tetangga kami, anak satu satunya dari keluarga sederhana itu.

Hatiku menangis pilu, air mataku menetes dan terus mengalir. Pilu rasanya seluruh jiwaku. Badanku seperti melayang entah kemana. Yang terbayang di pelupuk mataku, hanyalah raut wajah temanku yang sangat aku sayangi itu. Tapi hanya raut wajah penuh kesedihan, pucat dan pilu tanpa masa depan.

Aku berusaha beristighfar. Menenangkan pikiranku. Aku mengingat Tuhanku. Meminta dalam batinku dengan sangat untuk memberiku sebuah ketabahan, ketabahan buat kami semua. Ketabahan dan kebesaran hati buat temanku, buat keluarganya, buat ibuku, dan hati yang lapang untuk bisa menerima ini.

Tuhan seolah sedang berbicara pada kami semua dengan caranya sendiri. Dia seolah menegur kami dengan kesombongan kami selama ini. Dia seolah ingin berbicara pada kami kalau kami bukanlah mahluknya yang terkuat. Masih ada yang lain yang lebih kuat walaupun mereka di ciptakan tidak sesempurna kami. Serangga kecil yang masuk kedalam mata temanku itu adalah contohnya. Bagaimana dia yang gagah, tampan, dan sehat bisa berubah seketika hanya oleh serangga malam yang tidak pernah di perhitungkan di peradaban manapun itu.

Tuhan sudah berbicara pada kita bahkan lewat ciptaannya yang paling sederhana. Kita menyebut ciptaan tuhan yang setengah hidup itu ‘virus’. Mahluk yang hanya hidup dengan menumpang di kehidupan yang lain.

Tapi bisakah kita mengalahkan mahluk terkecil itu dengan ilmu yang kita miliki sekarang? Bahkan dengan tekhnologi tercanggih sekalipun, kita belum bisa benar benar terbebas dari HIV. Bahkan perlu diingat ketika kita membakar sesama kita hanya untuk menghilangkan virus ebola. Lalu di mana kekuatan dan kesombongan manusia kalau untuk mengalahkan ciptaanNYA saja tidak mampu. Lalu di manakah akal sehat kita ketika kita dengan beraninya menantang Sang Pemberi Kehidupan?

Hatiku kacau, air mataku berderai derai mengingat segala dosa yang sudah aku lakukan. Dalam sesenggukan yang mendalam, kuutarakan kenginginanku pada ibuku, “ bu, aku masih punya dua mata, bolehkah aku berbagi mata dengan dia kalau dokter bisa mengusahakannya? Aku ingin memberikan mata kananku buat dia, yang kiri, aku masih membutuhkannnya.”

Tak ada jawaban dari ibuku. Selain hanya pelukan dan raungannya yang semakin menjadi….

Hari ini, satu bulan setelah kejadian itu, aku beringsut meninggalkan musola kecil ini ketika matahari mulai beranjak meninggi. Aku siap menemui dokter ahli yang bisa memindahkan mata kananku, buat sahabatku yang baik…….


Hikmah :
  1. Kesombongan itu hanya milik Tuhan, sama sekali tidak alasan bagi kita untuk menyombongkan diri, kalau untuk mengalahkan makhluk serendah virus aja gak bisa, bagaimana kita bisa menyombongkan diri?
  2. Persahabatan itu bukan cuma di kala senang saja. Penderitaan akan jadi ujian bagi ketulusan sebuah persahabatan.
  3. Relalah berkorban, untuk siapapun, selama itu berkorban untuk kebaikan….

READ MORE - The smallest, the strongest, the conqueror

Baca juga yang ini