Tampilkan postingan dengan label cerita mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita mini. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2012

The Last Seconds



( Cerita pendek ini terinspirasi dari film Deep Impact)

Allah mengabarkan, kiamat itu adalah hal yang pasti. Tak bisa di sangkal, seperti kematian dan kelahiran itu sendiri. Di hari itu, diberitakan adalah hari yang penuh huru hara. Di mana setiap manusia berlarian mencari keselamatannya masing masing tanpa memikirkan yang lain selain dirinya sendiri. Allah juga berfirman dalam kitab suciNya, kalau hari itu adalah hari yang datangnya tak terduga, tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang bisa memprediksinya.

“ Benar sayang, itulah kiamat besar.” Tuturku pada Fathir, anak semata wayang kami yang masih empat tahun tapi sudah sangat kritis pemikirannya. “ Yang akan terjadi sebentar lagi itu adalah kiamat kecil, anakku, kiamat yang tidak mematikan semuanya, kiamat yang tidak memusnahkan semuanya, tapi kiamat yang terjadi untuk sebagian kecil saja dari alam ini. Untuk sebagian dari kita dan bukan sebagian dari yang lain. Fathir tahu? Bahkan kematian seseorang itupun bisa dianggap kiamat kecil. Yaitu berakhirnya suatu bagian dari kehidupan, rusaknya satu bagian dari kehidupan, tapi tidak untuk bentuk kehidupan yang lain.”

Aku memandang wajah polosnya yang saat ini diliputi oleh rasa takut yang amat sangat. Aku coba memberinya kehangatan di sisa akhir kehidupan yang tinggal beberapa saat lagi ini. Aku ingin, di detik detik terakhir kehidupan keluarga kecil kami yang berbahagia dan begitu berharga ini, fathir masih bisa merasakan betapa kami menyayanginya.

“ Tapi ayah, kenapa mereka tidak mengajak kita pergi ke tempat aman itu? Kenapa kita yang ditinggalkan? Bukankah kita juga manusia ayah? Bahkan mereka mengajak ternak serta di sana. Tapi mereka tidak mengajak Moli.” Raut wajahnya kian sedih saat mengucapkannya. Di dalam pelukannya, duduk dengan tenang kucing kesayangannya yang berbulu putih bersih, Moli.

“ Kita tidak bisa protes masalah itu, Fathir, semua itu sudah kehendak Allah. Allah-lah yang menentukan, kita masuk ke dalam undian orang orang yang pergi ketempat aman itu atau tidak. Dialah yang sudah menggariskan takdir untuk kita, tugas kita adalah bagaimana untuk menjalani semua ini dengan lapang dada, dengan ikhlas. Bukankah Fathir yang sering mengingatkan ayah dan bunda untuk terus sabar dan ikhlas? Fathir lupa ya….?”

Ada sesungging senyum yang tercipta di sudut bibirnya saat mendengar candaanku itu. Tapi rona kekhawatiran dan rasa ketakutan yang kental tidak juga hilang dari wajahnya. Aku tahu, walaupun dia masih seorang bocah yang bau kencur, tapi dia sudah tahu apa kematian itu. Kematian yang akan kita sambut bersama dalam rumah kami yang kecil ini sebentar lagi.

“ Masih ada waktu setidaknya lima belas menit sebelum benturan pertama terjadi.” Ucapku memecah kesunyian yang terjadi. “ Mari kita laksanakan solat sunnah mutlak dua rokaat saja, setelah itu kita berdoa dan bermunajat kepada Allah, semoga nantinya kita di beri tempat kembali yang indah di sana. Ayo bunda, ayo Fathir.”

Kami berdiri untuk melakukan solat sunnah di kesempatan terakhir ini untuk yang terakhir kalinya. Ada kekhusukan yang sangat yang aku rasakan mengiringi solat kali ini, jauh lebih dalam dari solat solat yang aku lakukan sebelumnya. Apakah ini efek kalau kita tahu bahwa solat yang kita kerjakan itu adalah solat yang terakhir dalam hidup kita? Dari dulu aku ingin merasakan kekhusukan seperti ini. Tapi aku tak pernah bisa. Baru kali ini, di saat saat waktu sudah memasuki waktu waktu kematian seperti ini ternyata aku baru bisa merasakannya dengan sungguh sungguh.

Tak lama setelah solat selesai, saat kami tengah bermunajat padaNya, sebuah guncangan keras sampai ke rumah kami. Benturan pertama sudah terjadi!

Fathir dan istriku berteriak histeris. Mereka berhambur kearahku lalu memelukku erat erat. Tangan mereka bergetar hebat, tangis mereka pecah, tapi aku terus membimbing mereka untuk terus bersahadat dan bersolawat.

“ Jangan putus bersolawat, jangan putus bersahadat…. Ashaduallailahaillallah waashaduannamuhammadorasulullah….. baca terus baca terus….. ya Allah…. Ya Allah….”

Guncangan guncangan keras gempa gempa susulan terus terjadi, kami terus bersolawat. Rumah kami bergetar, langit langit rumah kami seakan hendak runtuh saat itu juga. Lampu gantung berayun ayun, dan semua benda yang ada di atas ketinggian mulai berjatuhan. Fathir makin histeris, tapi lafal lafal solawat dan sahadat tidak pernah putus terucap dari mulutnya. Kupeluk dan kucium kening mereka untuk yang terakhir kalinya.

Tak lama kemudian, suara gemuruh air laut yang pasang mulai terdengar. Mulanya pelan, tapi semakin lama semakin keras terdengar. Aku makin erat memeluk mereka. aku ingin, saat badai pasang air laut itu menyapu rumah kami, kami tetap dalam posisi ini. Dalam keadaan berpelukan dan bermunajat kepadaNya.

Suara gemuruh makin keras, bercampur antar suara air pasang dan suara gempa susulan yang datang bertubi tubi. Makin lama makin memekakkan telinga. Fathir histeris menyebut nama sang pencipta, sendang istriku lirih melantunkan sahadat.

“ Ya Allah, segerakanlah ini, dan segerakanlah juga Engkau pertemukan kami di alam berikutnya, kembali sebagai sebuah keluarga yang utuh.” Sebuah doa terakhir kupanjatkan tepat sedetik sebelum tubuh kami tersapu gelombang maha dahsyat itu.
READ MORE - The Last Seconds

Kamis, 29 Maret 2012

Blogger OMDO




Riki baru saja pulang dari masjid saat aku sedang asyik mengetik di laptopku.

“ Akhir akhir ini aku lihat kamu sibuk bener. Lagi ngerjain apaan sih?” cerocosnya tanpa aba aba seraya duduk menjajariku di lantai kamar kos ini. Aku dan Riki berbagi satu kamar kos ini untuk kami berdua. Istilah kerennya, aku dan Riki itu roomate.

“ Biasa, lagi buat postingan di blogku” jawabku tanpa menoleh.

“ Kirain ada tugas kuliah, serius amat sih…”

“ Aku punya target baru, bro!”

“ Apaan tuh?”

“ Aku harus update blog aku setidaknya dua sampai tigak kali dalam seminggu. Keren gak bro?” jawabku sambil menoleh dan nyengir kuda kearahnya.

“ Gila kamu, emang dapet mana idenya kalau update blog sampe sesering itu? Yakin kamu bisa?” tanyanya serius.

“ Maka itu aku harus giat bro, kalau ide, gampanglah, cari sana sini. Kamu kayak meragukan aku aja bro…” jawabku lagi sambil menepuk dadaku sendiri, membanggakan diri.

“ Pantesan kemarin aku lihat kamu tidur sampai malem banget kalau gak salah. Terus pagi paginya hampir telat tuh masuk kuliah pagi. Terus tugas tugas kuliahnya gimana? Gak ketinggalan ne kuliahnya?”

“ Gampang lah bro, semua bisa diatur …”

“ Hm, gitu yah? Salut dah sama kamu. Bukannya blog kamu itu blog dakwah itu ya? Kamu tulis pribadi itu semuanya?”

“ Lah ialah aku tulis pribadi. Maksud kamu aku copas dari blog lain gitu? Sori bro, gak jaman sekarang copas copas plagiat gitu. Kalau ingin dihargai, kalau ingin benar benar puas, tulis sendiri, itu baru namanya blogger sejati….”

“ Oke oke, aku memang salut sama kerja keras kamu buat nulis di blog kamu itu. Aku salut seorang mahasiswa seperti kamu itu masih menyempatkan diri untuk berdakwah. Bener aku salut…” ucapnya bersungguh sungguh. Mendengarnya aku benar benar seperti dilambungkan tinggi tinggi. Senang sekali rasanya ada yang memperhatikan kerja kerasku selama ini.

“ Wah beneran neh?” tanyaku berusaha meyakinkan diri kalau aku tidak baru saja salah dengar apa yang di ucapkan roomateku itu.

“ Bener aku salut, aku bangga sama kamu dalam hal itu. Tapi gini lo bro, kamu itu penulis blog dakwah bukan? Tapi kenapa kegiatan kamu sehari hari itu malah gak sesuai dengan apa yang kamu tulis di blog kamu?”

“ Maksudmu?” aku mengernyitkan dahi.

“ Ok kamu menulis tentang dakwah dan Islam, tapi kenapa kamu sendiri  yang lalai dalam melaksanakan apa yang kamu tulis di sana? Kemarin malam kamu nulis sampai gak solat isyak sama subuh bukan? Kalau kamu terus terus ada di kamar ini dan jarang bergaul lagi seperti dulu, kapan kamu bisa melakukan yang kamu tulis di blog kamu? Menjalin ukhkuah? Menjalin silaturahmi? Menjalankan peranmu sebagai mahluk sosial? Padahal itu kan yang kamu serukan. Tapi kenapa kamu sendiri yang melanggarnya? Seperti kemarin malam juga, waktu Sol datang sama teman temannya ke kamar sebelah, kenapa juga kamu masih harus bergabung dengan mereka? Minum minum sampe teler, nonton film film dewasa? Apa itu? Dakwah macam apa itu?

Bro, lakukanlah sendiri dulu apa yang kamu harus lakukan, baru setelah itu kamu bisa menyerukan hal itu kepada orang lain. Jadikanlah dirimu tauladan bagi orang lain bro, bukan hanya sekedar jadi blogger omdo, blogger omong doang …!”

Mendengarnya aku hanya bisa diam. Kata kata itu telak sekali mengenai pikiran dan jiwaku. Tak ada yang bisa aku sangkal, karena memang demikianlah seharusnya, bukan seperti apa yang aku lakukan selama ini.

“ Sudahlah, daripada aku banyak nyerocos, aku mau makan dulu bro, dah laper ne. sori ya bro, kalau kata kataku gak enak di kamu. Neh kamu dengerin lagu ini aja.”

Riki segera beranjak pergi tanpa memberiku kesempatan untuk membela diri. Tapi buat apa juga aku membela diri. Untuk apa? Toh semua yang dikatakannya adalah kebenaran.

Aku termangu di depan laptopku, sementara sebuah lagu merdu mengalun dari laptop si Riki, tak jauh dari tempatku duduk.

sepohon kayu daunnya rimbun
lebat bunganya serta buahnya
walaupun hidup seribu tahun
bila tak sembahyang apa gunanya 2x

kami bekerja sehari-hari
untuk belanja rumah sendiri
walaupun hidup seribu tahun
bila tak sembahyang apa gunanya 2x

kami sembahyang fardhu sembahyang
sunahpun ada bukan sembarang
supaya Allah menjadi sayang
kami bekerja hatilah riang

oh....oh....oh....oh......

kami sembahyang limalah waktu
siang dan malam sudahlah tentu
hidup dikubur yatim piatu
tinggalah seorang dipukul dipalu

dipukul dipalu sehari-hari
barulah ia sadarkan diri
hidup didunia tiada berarti
akhirat di sana sangatlah rugi

READ MORE - Blogger OMDO

Selasa, 06 Maret 2012

Tikus

“ AAAAAAAAAAAAA....... Tolong....... Tolong.......” Aku berlari berhambur keluar dari kamar mandi. “ Ayah..... Ayah.....”
“ Ada apa Naila.... ada apa.... Hei hei tenang ayah di sini  .... tenang tenang.... Naila, Naila .....ada apa?”  Ayah mendekapku dalam pelukannya, berusaha menenangkanku yang mulai menangis keras keras.
“ Ayah......  Ayah..... “ aku masih meraung raung ketakutan, sementara ayah terus mendekapku dalam dalam.
“ Cup cup...  ayo sini.. sini,,, duduk dulu di sini.” Ayah membimbingku kearah kursi di ruang tengah. “ ini minum.” Ayah menyodorkan segelas air putih kearahku.
Aku minum banyak banyak dari gelas yang ayah sodorkan kearahku. Perlahan, tangisanku mulai mereda.
“ Ada apa?” Tanya ayah mendesakku.
“ Ti... Tikus...” Jawabku terbata bata. “ A... Ada tikus di kamar mandi...”
Ayah mendesah seraya menghembuskan nafas panjang. “ Hanya tikus?” tanyanya setengah kecewa.
Hah? Kok ayah bilang ‘hanya’ tikus? “ Tikus ayah.. Tikus, tikusnya besar! Besar, hitam, lewat di dikaki Nai!” jawabku histeris sambil menghentak hentakkan kakiku ke lantai.
“ Ok.., Ok... Nai mau apa di kamar mandi?”
“ Nai mau wudu.” Aku masih merajuk. Masih kesal melihat tangagapan ayah yang sepertinya menganggap ini hal biasa saja.
“ Nai belum solat isya’?”
“ Belum...”
“ Kalau begitu, nai  bisa ke kamar mandi sekarang.”
“ gak...”
“ Lo, kenapa? Tikusnya sudah pergi bukan?’
“ Nai takut! Kalau tikusnya kembali gimana?”
“ Ayo sini ayah antar”
“ Gak....!”
“ Terus?”
“ Nai gak mau kekamar mandi..., Nai takut...!”
“ Nai gak mau wudu?” Aku terdiam, hatiku gundah. “ Nai gak mau solat?”
“ Nai takut ayah..., di kamar mandi ada tikus!”
“ Nai lebih takut tikus atau ALLAH?”
Aku terdiam. Pertanyaan ayah seperti sebuah pertanyaan pinalti yang langsung menerobos ke hati dan otakku. Pertanyaan itu seperti mengusik hal kecil yang selama ini sering aku abaikan. Bukan hanya kali ini. Tapi rasanya sudah berkali kali aku mengabaikan perintah untuk solat dengan alasan alasan yang sunguh konyol. Kadang hanya karena sedang asyik ngobrol dan kumpul sama teman teman, aku meninggalkan solat dengan seolah tanpa beban. Kadang karena  sibuk mengerjakan tugas dan pekerjaan waktu solat seakan berlalu begitu saja tanpa aku sadari. Atau ketika akan solat isya’ seperti ini. kadang aku tidak solat isya’ hanya karena tekut ke kamar mandi. Takut kalau ada tikus, ada kecoa ata takut pada bayangan dan gambaran hantu hantu yang tidak jelas keberadaanya.
Pertanyaan ayah malam ini, menyadarkanku dengan telak. Lebih takut pada tikus, pada kecoa pada mahluk sejenis setan dan teman temannya itu atau pada ALLAH? Sang pemilik dan pencipta semua itu? Hatiku bergetar.
“ Ayah berdiri di sini saja.” Rajukku didepan kamar mandi.
“ Ya, sana wudu’, ayah tunggui kamu di sini.”
Tapi belum saja aku selesai berwudu’ sebuah teriakan keras mengema dari pintu kamar mandi.
“ TIKUUUUUSSSSS......!”
Seekor tikus hitam besar melintas tepat di depan kamar mandi. Tikus itu melintas tepat pada jari jari ayah yang sedang berdiri tegap di sana. Tak ayal, ayah yang terkejut melompat lompat menjauh dari kamar mandi sambil berteriak teriak histeris.
“ Ayaaahhhh, tunggu aku...!”
READ MORE - Tikus

Rabu, 29 Februari 2012

Telling

“ Dan inilah juara 1 kita kali ini adalah...” Guru bahasa Indonesia kami diam sesaat, menatap kami satu persatu, dari ujung ke ujung. “ Siapa dia kira kira?” Beliau tersenyum simpul, membuat kami penasaran dan bertanya tanya. Karya siapakah kira kira yang layak dinobatkan sebagai yang terbaik kali ini?
“ Roni!” Seorang dari kami berusaha menebak.
“ Yani, Si ratu puisi...” Yang lain menerka.
“ Sayangnya bukan...” Bu Meli, Guru Bahasa Indonesia kami berseru.
“ Agnes...”
“ Maya...”
Bu Meli masih menggeleng.
Kami diam, semakin penasaran. Bu Meli memang jago membuat suasana mencekam dan sedikit menegangkan. Mirip acara kuis kuis di televisi.
“ Irma...” hei, itu namaku.
“ S.. Saya...?” tanyaku tergagap.
“ Ya irma, kamu ...” Bu Meli tersenyum kearahku, diikuti seisi kelas yang ikut-ikutan menoleh kearahku. Pandangan mereka seolah menembus kepalaku, menusuk langsung tepat pada jantungku. “ Silahkan maju ke depan Irma, kita akan membahas cerpenmu...”
What? Benarkah itu? Aku? Cerpenku?
“ Irma, ayo bergegas, teman teman yang lain ingin tahu apa yang kamu tuliskan dalam cerpenmu” Bu Meli setengah mendesak.
Aku segera maju ke depan kelas dengan langkah yang ragu ragu. Aku masih  seakan tidak percaya, bagaimana cerpen yang aku buat dalam keadaan yang galau itu bisa di nilai baik, bahkan yang terbaik oleh Bu Meli?
Aku mulai membacakan cerpenku dengan perasaan yang campur aduk. Sebenarnya cerita yang aku tuliskan itu sederhana saja. Mirip sebuah surat terakhir dari seorang anak penderita kanker ganas stadium akhir. Dalam cerpenku itu, aku ingin berusaha mengungkapkan bagaimana kira kira perasaan tokoh utamaku itu menghadapi hari hari terakhir hidupnya. Harapan harapannya dan segala yang ingin dia ungkapkan untuk terakhir kalinya sebelum semuanya benar benar diluar kendali dan berakhir.
“ Tak ada yang tahu kapan saat terakhir kita bertemu dengan seseorang.” Tulisku di akhir cerpen yang aku buat. “Ajal adalah sebuah misteri Ilahi. Maka itu, aku ingin berbuat baik kepada semua orang, karena aku tak tahu apakah aku bisa meminta maaf untuk setiap kesalahanku ketika perjumpaan yang terakhir yang misterus itu terjadi.
Tapi menurutku, penderita kanker adalah orang yang dipilih oleh Tuhan untuk tahu kapan dia akan mati, sehingga dia tahu kapan waktunya akan berakhir dan berusaha memperbaiki diri serta meminta maaf kepada setiap orang.”
Aku menyelesaikan tugas membaca cerpenku sendiri di depan kelas dengan air mata yang berderai derai membasahi pipiku. Butuh beberapa saat untuk bisa mengendalikan diriku sendiri dan berhenti dari sesenggukan yang mengguncang tubuhku keras keras.
“ Tulisanmu sangat emosional, Irma. Itu yang ibu suka dari cerpenmu.” Kata Bu Meli setelah aku bisa menguasai diri dan emosiku, “ Kalau boleh tahu, dari mana inspirasi cerpenmu itu Irma?”
Butuh lebih banyak waktu lagi buatku untuk bisa menjawab pertanyaan yang berat itu. Kuhela nafas panjang sebelum akhirnya aku menjawabnya dengan sebuah kalimat singkat.
“ Sebenarnya, saya menulis perasaan saya sendiri, Bu.”
Aku berusaha tersenyum dan menatap dengan tegar seluruh isi kelas sebelum aku menegaskan kepada meraka tentang keadaan yang sebenarnya. “ Saya menderita kanker payudara  stadium akhir, dan cerpen ini adalah perasaan saya sendiri,”
READ MORE - Telling

Rabu, 22 Februari 2012

Usir Dia!

Aku tereranjat sambil memekik, “ Astaghfirullah .....”

Tapi semua yang hadir di sana rupanya sudah mengetahui hal itu. Mereka tetap pada tempat berdiri masing masing dengan ekspresi penuh curiga dan rasa jijik yang tidak juga berubah.

“ Tuduhan apa yang kamu tuduhkan padaku itu bu, aku tidak serendah yang kamu katakan, astaghfirullah..., astaghfirullah.....” aku beristighfar berkali kali. Sakit sekali rasanya dada ini dituduh denngan tuduhan yang begitu kejam itu.

Bu RT berdiri dan segera berjalan kearahku. Beliau duduk di tangan kursi yang sedang aku duduki. Di peluknya tubuhku yang rasanya sudah sempoyongan ini. “ Sabar bu, sabar.....,” lirihnya.  “tarik nafas dalam dalam, Istighfar.....”

“ Halah, jangan sok suci sampean bu, la wong saya lihat sendiri. Dengan mata kepala sendiri. Beberapa malam ini ada lelaki yang masuk ke sini kalau malam malam. apa yang kalian lakukan malam malam kemarin? Apa yang dilakukan seorang janda seperti sampean sama lelaki muda kalau bukan mengotori kampung kita. Bener gak bapak bapak ibu ibu.....”

“ Bener.....”

“Usir....”

“ Ya usir aja... memalukan.....”

Aku makin terhuyung di teras rumahku sendiri ini. Udara seakan menipis, membuatku semakin kesulitan untuk bernafas. Aku terus beristighfar. Tidak tahu apa yang harus aku katakan. Otakkku ini, seolah menengang dan tidak bisa berfikir dengan jernih.

“ Sabar bapak bapak, sabar ibu ibu... biarkan bu Salimah menjelaskan dulu... tenang tenang....” Pak RT berusaha menenangkan warga yang sudah terhasut oleh fitnah wanita keji itu.

“ Nah itu dia....” Tiba tiba wanita keji itu berteriak lantang sambil menunjuk sesosok lelaki yang baru saja keluar dari pintu rumahku.

“ Dia? “ tanya pak RT ingin meyakinkan tuduhan itu.

“ Ya dia....” wanita keji itu berkoar sambil melotot kearah lelaki muda yang hanya mengenakan handuk di ambang pintu rumahku.

“ Dia? “ tanya yang lain seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“ Astaghfirullahhaladzim.....” Pak RT dan beberapa yang hadir beristighfar hampir serempak.

“ Dia itu Salim bu, anaknya bu Salimah...” jelas Bu RT.

“ Anaknya?” tanyanya setengah terperanjat. “ Bohong...!!!” protesnya.

“ Kenapa kami harus berbohong bu, itu adalah anak dari bu Salimah. Memang Salim itu kerjanya pergi pagi pulangnya malam malam. maka itu mungkin kita jarang melihat Salim di rumah kalau siang hari...” Pak RT berusaha mejelaskan dengan bijak.

“ Tapi...” wanita itu masih saja ingin berkilah. Wajahnya sekarang memerah, malu tak tertahankan.

“ Maka dari itu bu, kalau ada apa apa, di tanyakan dulu sampai jelas, baru di utarakan. Jangan seperti ini lagi. Bukankah di kampung lama sampean di usir gara gara prasangka sampean dan fitnah fitnah sampean yang meresahkan warga? Berapa lama sampean di kampung ini bu?”

“ Lima hari...” lirihnya, wajahnya tertunduk dalam dalam.

“ Maka benarlah, kalau ada yang bilang, mulutmu harimaumu. Maka jagalah mulutmu baik baik...”
READ MORE - Usir Dia!

Jumat, 10 Februari 2012

Solat Gaya Kodok



“ Hei, mau kemana “ Protesku melihatnya beringsut hendak pergi.

“ sebentar…” ulangnya, tetap lembut.

“ Tapi ini belum selesai bung…” Aku menatap heran, beralih dari wajahnya ke arah papan catur.

“ Caturnya bisa nanti disambung lagi, aku mau solat”

“ Solat?”

“ Ya, solat, sebentar aja..”

“ Solatnya ntar aja kan bisa, kelarin caturnya dulu, setengah jam lagi selesai ini bung..”

“ Setengah jam? Lima menit lagi gak ada jaminan aku masih hidup bung.”

“ Waduh…” 

Aku hanya bisa menggaruk garuk kepala melihatnya berlalu ke dalam rumah. Ada apa dengan dia? Tumben sekali sikapnya seperti ini. Apa ini yang namanya hidayah? Rasanya sebelum siang ini, dia tidak pernah seperti ini. Dia itu tidak jauh beda denganku. Solatnya, solat gaya kodok. Sukanya melompat. Dari duhur bisa bisa melompat ke maghrib atau isyak langsung. Atau kalau lagi kuatnya melompat, bisa bisa berhari hari tidak sembahyang. Nah ini, ada apa dengannya? Hidayah? Apa sebabnya? Apa gara gara catur? Heh, aneh sekali….

Lima belas menit kemudian dia kembali lagi, tapi moodku untuk main catur hilang sudah.

“ Ayo lanjut…” serunya seraya duduk menghadapi papan catur yang sama sekali belum aku sentuh sejak tadi.

“ Gak …”

“ Kenapa?”

“ Males…”

“ Serius ne?”
Aku menoleh kearahnya dengan mimik wajah yang serius. 

“ Oke….” Serunya. “ Kamu dongkol gara gara aku tinggal solat?”

Aku tidak menjawab. Entahlah, tiba tiba malas saja untuk berbicara dengannya.

“ Kamu gak lihat tadi yang di TV itu?”

“ Apaan? “ aku penasaran.

“ Kejadian di Tugu Tani itu?”

“ Kecelakaan itu?”

“ Ya,”

“ Emang kenapa?” aku mulai benar benar penasaran dengan apa yang dia pikirkan.
 
“ Sekarang orang mati itu bisa tiba tiba, kapan saja dan di mana saja bro. orang  orang  lagi melintas di jalan, udah di trotoar, masih aja mati di tabrak mobil nyasar. Lagi enak enak sama keluarga di rumah, mati ketimpa rumahnya yang di goyang gempa. Kamu gak tau tetangga kita itu? Pak Hamdan? Lagi minum kopi di rumahnya tiba tiba jantungnya berhenti berdetak.”

Aku Cuma bisa diam. Entahlah…

“ Kita gak pernah tahu kapan kita mati bro, dan aku gak mau mati koyol. Kalau bukan sekarang, kapan kita mu tobat?”

Aku tergidik,

“ Kamu kapan mau rajin solat? Kapan mau tobat? Tunggu sekarat dulu baru tobat?”
READ MORE - Solat Gaya Kodok

Sabtu, 04 Februari 2012

Aku Rindu

Tiba tiba saja seonggok kerinduan menggelayuti hatiku. Menohok dengan serta merta tepatnya. Aku tercenung, lalu terdiam.

“ Ada apa ?” tanyanya. Yang kemudian juga terdiam dari celotehannya yang ceria. Matanya yang berbinar itu, menatapku penuh tanya.

Ah, bagaimana harus aku menjelaskan padanya kalau sekarang aku dilanda kerinduan?  Aku hanya membalas pertanyaanya dengan senyuman. Berharap dia tidak bertanya lebih jauh lagi.

“ Kenapa senyum?” tuntutnya, “ Ada apa kok tiba tiba ekspresimu berubah seperti itu?”

“ Gak ada apa apa kok, kenapa?” 

“ Pasti kamu lagi memikirkan sesuatu”

“ Prasangka kamu saja kali”

“  Gak, aku yakin kamu lagi memikirkan sesuatu, ada apa? Tadi ekspresimu ceria, sekarang kenapa tiba tiba kamu diam?”

“ Aku rindu,” Sahutku pada akhirnya.

“ Rindu?” tanyanya, seolah tak percaya. “ Pada siapa?”

“ Kamu dengar senandung itu?”

“ Yang mana? Lantunan dari masjid itu?”

“ Ya…”

“ Suara lantunan Solawat bukan?”

“ Ya..”

“ Lalu?”

Aku mendesah, berusaha berdamai dengan seluruh kerinduan dalam hatiku. Kerinduan yang kini mengalir memenuhi ruang dalam seluruh memori ingatanku. Kerinduan itu berkubang di sana, seolah memintaku untuk sekali lagi bernostalgia.

“ Dulu, waktu aku masih kecil, kalau lagi ada perayaan Maulid Nabi seperti ini, biasanya aku hadir di sana….”

“ouh ya, malam ini malam maulid…, ah maaf, teruskan…”

“ Pake sarung, terus ke masjid bareng temen temen. Bersenandung di sana, memuji kebesaranNya dan mengagungkan nama NabiNya, pulangnya bawa nasi bungkusan dari masjid…..”

Aku diam sejenak, menunduk ketika sebulir air mataku tiba tiba mendesak keluar.

“ Bahagia sekali rasanya….., masa masa itu…. sekarang kapan bisa kembali….”

Dia tersenyum, seolah hendak mengatakan sesuatu, tapi tak tahu harus berkata apa.

“ Sekarang rasanya aku sudah terlalu jauh dari agama, dari Tuhan. Entah sudah berapa tahun yang lalu terakhir aku hadir dalam acara itu.” sebulir lagi air mata tiba tiba jatuh dari mataku. Kerinduan itu seakan semain mendesak dan menyesaki relung dadaku. “ Aku ingin pulang…”

“ Pulang?”

“ Ya, pulang pada masa kecilku, pada kehidupan yang dulu…”

“ Akupun punya kerinduan yang sama…” lirihnya, sambil berusaha memelukku dalam dalam.

READ MORE - Aku Rindu

Selasa, 31 Januari 2012

Mereka Bertanya Tentang Arti Namaku




Malam semakin larut ketika mereka satu persatu memperkenalkan nama asli mereka. Lo, kok nama asli? Memangnya selama ini mereka memakai nama samaran? Seperti mata mata saja. <smile>

“ Kalau kamu Wan, Ridwan itu nama asli kamu?” Tanya Bunda Ti sambil memasukkan KTPnya kembali ke dalam dompet.

Aku tersenyum “ Tunggu ya, ini lihat KTPku..” kusodorkan KTPku pada Bunda Ti.

“ Jadi ini nama asli kamu Wan?” tanyanya sambil memperhatikan tulisan tulisan di KTPku.

“ Ya bund,”

“ Coba lihat.” Mas Anto meraih KTPku dari tangan Bunda Ti.

“ Lalu kalau Ridwan?” 

“ Itu nama kecilku Bund,”

“ Maksudnya?”

“ Kalau yang di KTP itu nama lahirku Bund, kalau Ridwan itu nama kecilku. Muhammad Ridwan”

“ Kok mbulet sih Wan, apa bedanya nama kecil sama nama lahir perasaan sama deh”

“ Gak sama Bund,”

“ Bedanya? Persaan nama lahir sama nama kecilku sama “ mas Anto menimpali.

“ Kalau aku gak sama mas. Ceritanya Bund, wedeh, kayak mau mendongeng aja…” aku nyengir kuda, Bunda Ti dan mas Anto ikutan nyengir kuda juga melihat ekspresiku. Mungkin aku ini lucu ya, aku nyengir aja semua juga ikut nyengir. Gegegegegegeg…..

“ Waktu aku lahir dulu, aku di kasi nama kayak yang tertulis di KTP itu. Tapi karena setiap malam aku suka nangis dan minta ke jalan besar, akhirnya ibu sama bapak bawa aku ke orang pinter. Orang pinternya itu yang bilang kalau aku gak cocok pake nama itu, maka itu harus di ubah. Nama Muhammad Ridwan itu pemberian orang pinter itu. Begitu ceritanya.”

“ Oalah, gitu, “ 

“ Ya, mas, tapi sampe sekarang, yang di tulis di dokumen resmi ya nama yang ada di KTP itu mas, walau nama M. Ridwan juga di akui…”

“ Kayak status sekolah aja ‘diakui’…”

Wagggagagagagagaga….. kami tertawa serempak.

“ Artinya namamu itu apa sih Wan. Kan katanya setiap nama itu punya arti.”

“ Yang mana Bund?”

“ Yang mana aja, nama tua juga boleh..”

Wagagagagagagagag…..

“ Kalau yang di KTP itu Edy Purnomo kan. Kalau Edi sendiri artinya ‘sangat baik, indah, sedap dipandang’,….”

“ Cie…… muji diri sendiri ne ceritanya….” Bunda protes.

“ Lo, gak Bund, asli itu artinya, lihat aku baik kan orangnya, enak di lihat, indah, sedap di pandang, ganteng….”

“ Woooooo…… “

Wagagagagagagagaga…..

“ Kalau Purnomo itu berasal dari kata purnama. Yang berarti ‘bulan purnama’ atau ‘terang’. Jadi kalau di gabungin kira kira artinya ‘orang yang sangat baik, indah, dan sedap di pandang seperti bulan purnama yang terang’”

Yang hadir disana tertawa terkekeh. “ Sak karepmu Wan…” ujar Bunda Ti sambil tertawa lepas.

“ Lo bener lo itu. Namaku itu sangat bagus artinya. Semacam doa dari orang tuaku yang selalu melekat untuk aku.” Ah, berbangga sedikit punya nama yang bagus tidak dilarang bukan… :)

“ Nah kalau Muhammad Ridwan?” yang lain nyeletuk.

“ Kalau Muhammad-nya artinya ‘Yang terpuji, di rahmati’, seperti nama Nabi. Kalau Ridwan itu artinya ‘keridhaan’. Ridwan juga nama malaikat penjaga pintu surga dalam ajaran islam bukan? Jadi kalau di gabungin, Muhammad Ridwan itu kurang lebih artinya ‘orang yang terpuji dan diridhai’”

Aku memandang semua yang hadir di sana. “ Namaku indah bukan? Dan semoga aku bisa menjaga keindahan namaku dengan tingkah laku yang baik juga”

“ Amin….” Yang lain menjawab serentak.

“ Nah itu arti namaku, kalau kalian, apa arti nama kalian?”


catatan :
nama yang aku sebutkan disini masih belum termasuk nama panggilanku di beberapa tempat.

Arti kata :
Mbulet                 :    jawa; rumit
Sak karepmu        :    jawa ; (kurang lebih) semaumu saja
Nyeletuk               :    jawa ; menyela pembicaraan

Bagi yang ingin tahu arti namanya silahakan berkunjung ke
http://www.nama.web.id/           


READ MORE - Mereka Bertanya Tentang Arti Namaku

Minggu, 15 Januari 2012

Mereka Bertanya Kepadaku Tentang Arti Sebuah Tawa


Mereka memandang, seolah memandangku. Lalu ketika aku tertawa, sebuah pertanyaan mereka lontarkan :

“ Kenapa tertawamu seperti itu?”

Tapi aku cuma diam. Mereka benar-benar ingin tahu rupanya, batinku, karena ini adalah pertanyaan mereka untuk yang kesekian kalinya. Aku tersenyum tanpa mereka tahu. Karena walaupun mereka memandang, dan aku memandang, tapi pandangan kami tidak pernah bertemu. Tidak pernah. Kami terpisah jarak yang jauh sekali, ribun kilometer, bahkan melintas benua dan samudra. Tapi hati kami satu, satu di dalam wadah yang berwarna ungu. Kalian tahu itu bukan?

***

Tak perduli siang serasa panas membara atau malam dengan dinginnya yang serasa menusuk tulang. Aku tetap di sini, menunggu mereka menunjukkkan tanda tanda kalau mereka ada di sana, menanti kehadiranku seperti aku menanti kehadiran mereka.

Biasanya aku bisa duduk bersama mereka berjam jam lamanya. Beceloteh dan bercerita. Kerap kali aku tertawa juga bersama mereka. Menertawakan keadaan dan kebodohan kami sendiri. Tapi, itu dulu. Sekarang, kisah itu tidak ada lagi. Kisah itu berakhir dengan tragisnya secara tiba tiba. Seperti jamur yang tertebas angin saat dia sedang tumbuh menatap matahari lewat celah dedaunan. 

Sekarang, saat matahari sudah meninggi, dan bulan sedang tersenyum dengan hangatnya. Tidak ada lagi canda bersama mereka itu. Tidak ada lagi percakapan konyol tak tentu arah seperti dulu. Yang ada hanyalah suara angin. Angin asing yang berdesing serak di telingaku. Lalu perlahan, aku rasa, aku rindu kalian. Teman, sabahabat sahabatku, kalau aku kembali ke wadah ungu itu lagi, akankah kalian mau menerimaku kembali?

Sebersit ada ragu, tapi rasa rindu ini sudah melebihi segalanya sekarang. Kalau kalian mau menerimaku lagi di sana, hal yang pertama ingin aku jelaskan kepada kalian adalah tentang tawaku yang kalian pertanyakan. 

Bloofers, ah, ya, begitu biasa mereka disebut, tawaku itu terilhami dari sebuah sitkom di televisi yang dulu tayang setiap sore. Aku suka sekali nonton sitkom itu. lucu abis, kalau anak gaul jaman sekarang bilang. Disana, ada salah satu karakter yang suka sekali update status facebooknya. Dan setiap kali dia menggambarkan tawa dengan tulisan, dia selalu menulisnya dengan 


“ Egeg egeg egeg ….”


Sebenarnya aku meniru dia, bloofers, tapi karena jari jari ini terlalu cepat mengetikkannya, maka jadilah spasi antara tiga kata itu hilang. Dan jadilah aku menuliskannya seperti yang sering kalian lihat

“ gegegegegegegegegege…..”

Atau segala turunannya, dengan huruf ‘g’ dan semua vokal yang ada keculi ‘u’. kalian pasti tahu kenapa aku tidak menggunakan ‘u’ sebagai huruf vokalnya, bukan?

Bloofers, sekarang terang siang perlahan telah berganti dengan temaram senja. Tadi sudah aku kirimkan permintaan untuk bergabung lagi bersama kalian. Akankah kalian akan menerima kembali teman kalian yang hilang ini?

Aku masih menunggu…..




"Bahagia mendatangkan sahabat, 
tapi penderitaanlah yang menjadi pengujinya"


READ MORE - Mereka Bertanya Kepadaku Tentang Arti Sebuah Tawa

Baca juga yang ini