Jumat, 25 November 2011

Blue Corner

 
Layar facebookku berkedip kedip biru, lalu muncul angka kecil dalam lingkarang merah yang terus bertambah naik nilainya. Tapi aku diam membatu. Tanganku kaku di atas keyboard.

Blue Corner? 

Aku seakan tak percaya. Dien, benarkah kau mengundangku ke Blue Corner malam ini?

***

Sebenarnya aku masih belum begitu percaya ini. Blue Corner? Benarkah? Ataukah aku salah baca? Apakah Dien tadi menuliskan blur corner? Sudut blur? Bukan sudut biru? Benarkah? Aku tak yakin. Begitu banyak yang terjadi, begitu banyak pertanyaan dalam otakkku sekarang. Aku merasakan sensasi yang benar benar membingungkan malam ini. bahagia, tentu, aku merasakannya. Tapi bahagia di balik debaran yang halus dan teramat menyiksa. Kalau nanti Kiran tahu, apa kata dia? Sungguh aku tak mau makin terpuruk di hadapannya. Kiran, bagaimanapun dia adalah putriku, anak yang sangat kusayangi. Hasil pernikahan dan buah cintaku bersama ji, suamiku.

Ji, …

Ji, maafkan aku. Malam ini aku mengigatnya lagi. Ya.., ji, dan setiap kali aku mengingatnya,  air mataku tumpah. Seperti juga saat ini. ketika aku menunggu taksi datang untuk menghadiri undangan, atau tepatnya, kencan pertamaku dengan Dien.

Waktu aku masih muda dulu, saat aku masih bunga desa yang lugu, yang mekar bersama teman teman di desaku, Ji mungkin bukan lelaki pertama yang aku kenal dan mampu menarik perhatianku. Sebelum ji, aku sudah pernah mencintai seorang yang lain secara serius. Aku pernah suka pada beberapa orang yang hadir sebelum ji hadir. Dan aku kira itu manusiawi bukan? Manusiawi kalau sebagai wanita yang normal, aku jatuh hati pada sosok seorang lelaki. Aku kira, hampir setiap orang yang tercipta kedunia ini, pasti pernah mengalami apa yang aku alami dalam hidupnya. Mencinta lebih dari satu orang!

Tapi cuma ji yang mampu membuktikan kalau cintaku ini berharga dan patut di balas dengan cinta yang indah pula. Maka itu, ji mengikatku dalam pernikahan. Membawaku ke istananya yang penuh dengan warna. Ji menjadikan aku wanita yang bangga telah menjadi ibu dari anak anaknya yang lucu. Ibu bagi Kinan dan Kiran. 

Ji mampu membawa keluarga kami menjadi keluarga yang indah. Walau kami hidup dalam kesederhanaan, tapi kami bahagia. Walaupun kami bukan keluarga yang bergelimang harta, tapi setidaknya, hidup kami berkucukupan. Ji, bukan pilihan yang salah untuk aku jadikan sebagai seorang suami. Ji rajin dalam bekerja, ulet dalam usahanya. Dia di senangi oleh teman temannya dipasar. 

Ji terkenal sebagai orang yang menyenangkan dalam lingkungan tetangga kami. Dan ji, sangat menyayangi aku, Kinan dan Kiran. Itu semua, cukup Kiranya bagiku sebagai alasan mengapa aku harus mencintainya, dan menghormatinya sebagai kepala keluarga kami. 

Bertahun tahun suasana itu terus terjalin. Aku, ji, Kinan dan si bungsu Kiran hidup sebagai keluarga yang saling melengkapi. Anak anak kami tumbuh dengan penuh kasih sayang. Semua perhatian yang berusaha aku dan ji berikan tidak membuat mereka merasa kehilangan masa kecilnya. Kami mendidiknya dengan keras sesekali, agar mereka tegar menghadapi gelombang kehidupan ini. 

Tapi, setenang tenangnya lautan, pasti ada juga badai yang datang untuk menguji kapal yang berlayar di atasnya. Seperti rumah tangga kami. Bukan juga tanpa masalah. Tapi kadang, masalah yang kecil, datang menerpa kehidupan kami. Pertengkaran pertengkaran kecil yang kemudian terjadi seiring usia pernikahan kami, mulanya bisa kami selesaikan dengan baik. Tanpa harus ada yang merasa melukai dan terlukai. Tapi semakin lama biduk rumah tangga ini kami lalui, semakin besar pula masalah yang harus kami hadapi, semakin beragam corak dan caranya datang.

Kadang hatiku goyah saat itu, kadang aku seperti kehilangan pegangan dan arah tujuan hidupku. Tapi dalam keadaan seperti itu, ji selalu ada buat aku. Ji selalu ada untuk menggenggam erat tanganku, menuntunku dalam setiap ketidak pastian yang aku rasakan. Ji selalu mampu menghapuskan segala setiap coretan hitam dalam jiwaku akibat goresan gelombang kehidupan itu. Ji selalu ada, untuk memberikan bahunya yang kekar saat aku menangis, memberikan dadanya yang bidang untuk tempatku bersandar kala duka, membuka tangannya lebar lebar untuk mendekapku bila aku kehilangan diriku sendiri. Ji, semakin lama, dia semakin membuatku yakin aku tidak pernah salah telah memilihnya dulu.

Bahagia dan sempurna, merupakan kata kata yang paling tepat untuk menggambaran keadaan keluarga kami saat itu. Tapi, seperti firman Tuhan, ketika sesuatu terlihat begitu sempurna, maka tunggulah ketidak sempurnaanya menampakkan diri. Dan hal inilah yang kemudian menjadi beban pikiranku..

“dinda, kenapa pagi ini dinda kelihatan lesu?” pagi itu ji bertanya padaku. Rupanya keresahan ini, terbaca olehnya di raut wajahku. Hatiku tersentuh. Begitu besarnya tautan hati kami. Jantungku berdegup lebih kencang.

“abang, kenapa bertanya seperti itu?” tanyaku mengalihkan perhatiannya. 

“itu, dinda kelihatan lesu, apa yang dinda pikirkan..”

Aku tersenyum, berusaha semanis  yang aku bisa. “mungkin aku capek aja bang, kerjaan kemaren numpuk, …” kilahku.

Ji tersenyum. Manis sekali, begitu menyejukkan jiwaku. Ji mendekat, meraih kepalaku, lalu mengecup lembut keningku, melambungkan jiwaku ketempat paling sahdu yang pernah manusia rasakan.

“dinda, kalau capek, istirahatlah, nanti abang bantuin kerjaanya…”

“kerjaan abang sendiri sudah banyak bang, rumah tangga masih bisa dinda kerjakan kok …. “

Pagi itu pembicaraan kami berlanjut. Tak seperti biasanya, ji pagi itu kelihatan tidak terburu buru berangkat kepasar mengurusi dagangannya. Dia seperti hendak berlama lama denganku. Pagi itu kami bicara banyak hal, lebih banyak dari yang biasanya kami bicarakan, lebih serius juga rasanya.

“juga tentang Kiran dinda, ingin rasanya aku Kiran itu cepet cepet nikah din. Setidaknya, sekarang ini umurku masih ada….”

“bang ji…” sergahku “ kenapa abang bicara seperti itu bang ….”

“ hidup manusia siapa yang tau dinda, abang bisa pergi kapan saja, bisa sekarang bisa besok atau ….”

“bang ji….! Abang ini ngomong apa sih bang, abang ini masih sehat, gak pantas ngomong seperti itu bang….”

“sekarang ini musimnya orang mati mendadak din…”

“musim? Emang mangga ada musimnya….”

Ji tertawa terkekeh…., aku merasakan wajahku merona sebentar…

“nah itulah din, sebelum tiba waktu abang, abang ingin sekali melihat Kiran menikah …” entah kenapa, mendengar kalimat itu di tuturkan ji, ada sebersit rasa perih yang menjalar di hatiku. Sebentar, sedikit, tapi perih sekali. Tiba tiba saja, selintas, bayangan hidup sendiri tanpa sosok ji di dekatku melintas cepat dan kuat. Menekan jiwaku. “menikahkannya di depan para undangan, melihat calon menantuku seperti apa, h,mmmmm….. “ kali ini ji seperti orang yang sedang menerawang, seolah memandang menembus masa depan “gagahkah? Gantengkah? Kayakah? Atau dari orang yang biasa saja …..”

Aku terdiam. Tak bisa menjawab apa yang ji lontarkan. Pertanyaan itu, telah lama pula muncul dalam benakku. Tapi aku simpan dalam dalam. Mungkin setiap ibu yang memiliki anak perempuan akan bertanya hal yang sama denganku “ tapi apapun pekerjaannya, siapapun dia, semoga dia bisa jadi yang terbaik buat Kiran, buat aku, juga buat dinda, …..”

***

Pagi itu ji berangkat setelah sekali lagi mencium keningku. 

Aku kemudian kembali tenggelam dalam kesibukannku di rumah. Menyapu, ngepel, memasak, sampai mencuci baju seluruh anggota keluarga. Termasuk baju Kinan dan Kiran, karena kedua anakku itu, sudah mampu mandiri saat itu, mereka bedua sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Walaupun terkadang mereka ngotot untuk mencuci baju mereka sendiri.

Saat seluruh pekerjaanku rampung, seorang tetanggaku yang juga bekerja di pasar, datang mengetuk pintu.
“lo, tumben jam segini kamu ke sini. Gak jualan?” tanyaku. wajahnya memerah, seperti sedang terburu buru dan gelisah sekali. Aku kira, dia sedang kepanasan terpanggang matahari dalam pejalanan dari pasar ke sini.

“emmm, …” dia seperti kehabisan kata kata untuk berbicara, atau berusha merangkai kata yang paling cocok untuk diucapkan. “ ini…. ini….”

“kamu ini kenapa, aku ambilkan air dulu ya, kamu minum dulu ya, … kepanasan rupanya kamu ..”

“ gak.. gak usah …., ini tentang bang… bang ji…”

Mendengar nama suamiku di sebut, mendadak seperti ada yang menyentak di otakku. Aku menengang.

“bang ji? Ada apa dengan bang ji? ….” Tanyaku tak sabar.

“em.. ikut saja aku kepasar ya, bang ji sedang butuh bantuan…”

“ada apa dengan bang ji..” tiba tiba saja aku histeris, seperti sesuatu yang sangat buruk telah terjadi. Jantungku berdegup kencang sepanjang jalan. Berbagai pertanyaan dan terkaan timbul dan tenggelam dalam otakku.

Aku berhambur turun dari sepeda motor dan terus berlari kearah tempat bang ji berjualan begitu tiba di sana. Ada ambulan, banyak orang berkerumun, ada yang menangis, berdesas desus, wajah mereka menegang. Saat aku sudah dalam hitungan langkah, seorang ibu yang aku kenal berjualan di sebelah  ji, berhambur memelukku. Aku kaget. Kaget sekali. Aku menyeruak di antara kerumunan orng orang. Dan saat aku melihat apa yang terjadi, aku berteriak histeris, berhambur kearah tubuh  ji, memeluknya, memanggilnya, lalu suara orang berseru seru, gaduh, dan setelah itu, semua menjadi gelap. Gelap sekali.

***

Hari itu ji pergi untuk selamanya.

“serangan jantung bu, jantung ji berhenti berdetak mendadak” jelas dokter yang memfisumnya saat itu.
Sejak saat itu rasanya duniaku berhenti untuk berputar. Aku kehilangan arah. Sungguh!

Aku seperti hidup dalam kegelapan.  ji pergi menginggalkanku, meninggalkan Kinan, meninggalkan Kiran, menginggalkan keluarga bahagia kami. ji pergi meninggalkan segala impiannya…

“mana janjimu untuk menikahkan Kiran bang…. “ aku meradang, berhari hari lamanya.. “Kiran belum menikah bang, dia putrimu satu satunya bang…., sekarang siapa yang akan menjadi wali nikahnya.. siapa bang… bangun bang, bangun…. Jangan tinggalkan aku bang, jangan tinggalkan Kiran…, “

Aku seperti orang yang kehilangan segala kewarasanku. Aku lebur dalam dunia yang penuh dengan kegelapan. Aku tidak pernah berfikir dan masih belum pernah siap untuk menghadapi keadaan seburuk ini. aku pergi meninggalkan Tuhanku. Aku memprotesnya, meninggalkanNya karena Dia sudah meninggalkan aku, Dia sudah mengambil  ji dari aku. Meninggalkan aku dalam kegelapan yang tanpa batas. Aku meradang, untuk sekali lagi dan lagi…

Pada saat saat seperti itu, yang ada hanyalah pelukan dari Kiran. Dia memelukku dalam pelukan hangatnya. Kiran, putriku yang cantik itu, begitu pandai menenangkan aku. Dia sungguh pandai mengubah setiap kata, mengolahnya seolah seperti seorang koki handal yang mengubah tepung menjadi roti yang siap mengusap setiap rasa laparku. Mengisi jiwaku dengan anggur yang terbaik yang pernah ada.

Juga Kinan, putra sulungku itu. Dia sering mengganggam tanganku dalam genggamanya yang hangat. Menyalurkan ribuan semangat untuk jiwaku yang sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk melanjutkan hidup. Dialah yang menyuapkan suap demi suap nasi ketika aku tidak lagi tahu bagaimana caranya menggenggam sendok. Kinan dan Kiran, mereka selalu ada untukku kapan saja, bahkan di saat aku dalam keadaan yang paling terpuruk sekalipun. Aku bangga memiliki mereka sebagai darah dagingku.

Waktu berlalu dengan cepat dan lambat sekaligus. Aku pernah hilang diantara bilangan waktu. Aku seperti orang yang tidak lagi berjalan bersama jalannya waktu. Aku hampa, aku kosong, jiwaku tak sini. Dia sesekali pergi meninggalkanku untuk menemui ji di alam imajinasi. Palsu dan tidak pernah nyata. Yang membuatku, pada saat seperti itu, semakin terpuruk dalam keputusasaan dan kehampaan.

Semua seperti tak nyata. Seperti mayanya dunia yang kemudian aku kenal. Dunia tak nyata yang bernama facebook.

Ya, facebook, perkenalanku dengannya, mengubah setidaknya sebagian dari hidupku. Sebagian dari jiwaku, mengembalikannya pada nostalgia masa mudaku. Aku, di buatnya seperti masih seorang gadis yang belia. Yang mendambakan seorang pemuda yang akan mempersuntingku. Membuat aku seperti remaja putri yang selalu merasa pantas untuk di cintai dan di perebutkan.

***

Satu tahun sudah ji meninggalkanku. Dan tepat di satu tahun kepergian ji, Kiran melangsungkan pernikahannya. Ya…, akhirnya Kiran menikah juga.

Hari ini perasaanku kembali teraduk. Antara bahagia dan kesedihan yang mendalam. Aku bahagia akhirnya Kiran mendapatkan jodohnya. Menjalin jalinan suci dalam ikatan rumah tangga. Aku berdoa di malam pernikahan mereka, agar mereka bisa bahagia selamanya, bersama selamanya, bisa saling mengisi dalam suka dan duka. Seperti aku dan ji dulu.

Ji, hari ini, dipernikahan Kiran, aku mengingatmu kembali. Dan setiap mengigatmu, air mataku selalu jatuh tak bisa aku tahan. Dan itulah ji, karena itulah aku bersedih. Aku sedih karena dirimu ji. Karena ketidak adaanmu di sini ji, Karena di saat seperti  ini, kamu tak ada di sini ji. Ji, bukankah dulu kau berjanji untuk menikahkah Kiran, menjadi wali di hari pernikahannya? Ji, hari ini Kiran menikah ji, dengan seorang pemuda yang sesuai keinginanmu. Dia mungkin tidak terlalu tampan ji, tapi aku yakin dia adalah orang terbaik yang disiapkan Tuhan untuk Kiran, putri kita tercinta.

Ji, aku bahagia hari ini, tapi rasa sakit akan kehilangan dirimu membuat rasa itu seperti tak pernah lengkap. Tak pernah seperti yang aku inginkan ji. 

Semua kini hanya bisa aku tuangkan lewat dunia maya, dunia yang mereka sebut “Facebook” atau FB, bergitu mereka menyebutnya. Perlahan namun pasti, Fb mulai merasuki kehidupannku. Segala gundahku, segala curhatku, segala benci dan senangku, aku tumpahkan disana. Di hadapan ratusan teman dunia mayaku.

Perlahan, Fb memberiku tempat yang berbeda, tempat yang nyaman, yang aku butuhkan, yang bisa mengerti  aku sepenuhnya. Aku temukan persahabatan di sana, aku temukan canda, aku temukan tempat mencurahkan segala isi hati. Tapi tetap ji, aku tidak pernah menemukanmu di sana.

Ji, aku rindu ……

***

Sebuah taksi berwarna biru langit berhenti tepat di depan rumah ini. Aku beringsut, menyeka air mata, lalu bergegas pergi keluar halaman. 

Sopir taksi itu menanyakan apakah aku yang menelepon taksi tadi?

“Ya pak, ke restoran Blue Safir ya.” 

Sopir taksi itu mengiyakan perkataanku, membukakan pintu dan tersenyum semanis mungkin. Hanya saja mungkin dia tidak bisa menyembunyikan mimik penasaran di wajahnya. Aneh, itu mungkin kesannya terhadapku. Baru kali ini mungkin ada orang yang akan berangkat ke restoran Blue Safir dengan mata yang sembab.

Aku duduk di bangku belakang, dingin dan sendiri. PiKiranku masih di penuhi tanda tanya. Blue Corner di Blue Safir setahuku adalah tempat luar biasa. Tempat itu hanya bisa di pesan oleh orang orang yang berkantong tebal. Untuk pesan tempat itu saja, butuh uang senilai hampir lebih dari satu bulan gajiku. Itu belum untuk pesan makanan dan fasilitas tambahan lainnya. Kabarnya, Blue Corner itu adalah sebuah ruangan dengan view terbaik di kota ini. Bertempat di lantai 16 sebuah gedung bertingkat dengan pemandangan yang terbuka ke salah satu sudut kota yang menhadap ke laut. Tempat paling “hangat” dan paling romantis. Tempat ini biasanya di pakai untuk pertemuan keluarga, perjamuan tamu tamu penting atau sejenisnya.

Dan sekarang Dien mengundangku ke sana. Udangan yang terlalu istimewa untuk orang yang baru benar benar pertama kali ditemui. Dien, siapkah kamu yang sebenarnya?

Dien mulanya hanya sebuah nama diantara begitu banyak nama teman teman dunia mayaku di facebook. Aku tidak begitu ingat bagaimana kami berteman awalnya, entah aku yang add atau sebaliknya dia yang add  aku duluan. Aku sudah lupa. 

Tapi seiring berjalannya waktu, sosok Dien secara perlahan, menjadi sosok yang begitu menyita perhatianku. Dia begitu sopan, hangat, dan terkesan sangat berpendiidikan. Dien, secara garis besarnya, mampu membuat aku merasa nyaman berada di antara orang orang yang tidak aku kenal di dunia maya itu.
Tapi, tidak bisa aku pungkiri, kalau gara gara Dien jugalah aku harus meninggalkan Kiran dan Kinan. Meninggalkan kampung halamanku, bahkan meninggalkan tanah air di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. 
Ya…., semua itu gara gara Dien.

Gara gara dia aku terusir. Disingkirkan oleh anakku sendiri. Dinista oleh keluarga besar yang seharusnya menjaga aku yang sudah renta ini. Dien, semua ini gara gara dirimu…..

Semua berawal dari ketika aku mulai kehilangan kendali dan tidak bisa lagi mengatur waktuku untuk berselancar di dunia maya. Setiap hari, aku duduk didepan computer, menenteng laptop Kiran atau Kinan, online  lewat handphorne. Hanya untuk membuka satu  halaman : Facebook! Sekedar Cuma buat update status, chatting,  atau membalas dan komentar komentar teman teman dunia mayaku. Dan Dien adalah salah satunya. 

Mulanya Kinan dan Kiran serta keluarga besar menganggap itu masih dalam batasan yang wajar. Wajar kalau aku membutuhkan pelarian untuk bisa melupakan ji, atau setidaknya, meringankan beban piKiranku saat aku harus kehilangan orang yang sangat aku cintai. 

Mulanya, semua berjalan apa adanya, mengalir bagai air di mata air, mengalir dengan tenang dan terkendali. Aku online,  tapi masih tidak melupakan siapa diriku sebenarnya, masih bisa untuk melakukan pekerjaan pekerjaan lain yang harus aku lakukan. Aku masih bisa mencuci, bisa memasak, membantu membersihkan rumah walau sekarang sudah ada pembantu yang melakukan semua pekerjaan itu.

Kehidupan ekonomi kami sekarng membaik. Kinan sudah bekerja dan berpenghasilan tetap. Begitu juga dengan Kiran, walaupun dia tidak memiliki pekerjaan, tapi suaminya perlahan namun pasti mulai menduduki jabatan penting di tempatnya bekerja.

Dari sana juga awalnya. Kecemburuan kecemburuan sosial itu mulai terjadi. Gesekan orang orang yang sirik terhadap kehidupanku mulai lambat laun aku rasakan.

Semua berawal dari hal sederhana, dari gunjingan gunjingan tetangga yang tidak suka melihat orang lain merambah sukses. Mereka berargumen tanpa bukti. Mulai dari saat saat belanja di peracangan yang tiap hari lewat di jalan di depan rumah sampai pada arian RT/RW. Bahkan sampai akhirnya seluruh isi pasar juga tau apa yang terjadi menurut versi mereka.

Maka mulailah aku malu. Mulaiah tidak ada tempat buat aku untuk membela diri lagi. Aku tersudut sebagai seorang tua yang beranak dua tapi tidak pernah becus untuk mengurusi kedua anaknya. Maka mulailah aku di kenal sebagai orang tua yang tak tahu diri, yang menumpang di rumah anaknya tapi gak bisa berbuat apa apa buat membalasnya. Maka mulailah aku di kenal sebagai orang yang di pertanyakan kewarasannya karena telah sering mereka melihatku tertawa sendiri di depan rumah dengan handphone atau laptop di pangkuanku. Tidakkah mereka tahu apa itu dunia maya? Tidakkah mereka tahu apa itu facebook? Apa itu chatting? Aku pikir mereka terlalu naïf!

“mereka sudah besar, sudah bisa mengurus diri mereka sendiri” kilahku suatu hari. Tapi mereka tidak mau mendengar. Seolah mereka sudah buta dan tuli. Hanya hati mereka yang penuh dengan prasangka. Penuh dengan iri dan kebencian mendalam akan diriku.

“seharusnya dia sadar..” bisik mereka satu hari di sebuah kenduri. Bahkan mereka sudah tidak perduli kalau aku ada di belakang mereka dan bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

“ya, tidak tahu malu” yang satu lagi menimpali.

“sudah enak jadi orang kaya, tapi gak tau bagaimana berterimakasih”

“kasian anak anaknya, Kinan itu, kerja banting tulang siang malam, itu buat siapa coba. Kinan kan belum punya istri..”

“yang lebih kasian lagi itu sebenarnya suaminya si Kiran, masak di porotin gitu? Katanya sih, kalau minta minta gak diturutin, bisa bisa panas tuh isi rumah berhari hari…”

Dan gunjingan itu terus berlanjut. Dari satu orang keorang yang lain, dari satu rumah kerumah yang lain, hingga suatu hari, semua gunjingan itu, sampai juga ke telinga besanku. Ke rumah orang mertua Kiran yang tenang.

Aku tak berharap banyak mulanya. Cuma aku tahu, kalau mereka itu adalah orang berpendidikan dan terpandang. Setahuku, orang orang seperti itu tidak akan menanggapi gossip gossip murahan yang di hembuskan orang orang yang gak jelas seperti mereka.

Tapi ternyata aku salah. Aku salah….

Ternyata kehidupan tidak memihak kepadaku. Aku mulai terasing bahkan dalam keluargaku sendiri. Aku makin merasa tidak menemukan siapapun untuk berbagi di dunia ini. Bahkan aku mulai merasa kehilangan menantuku satu satunya, kehilangan Kinan kemudian, lalu Kiran! Ya aku kehilangan Kiran kemudian. Aku menangis, aku sedih, aku sendiri. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan…

Aku begitu terpuruk, aku begitu merasa lemah. Dan saat itulah, aku melihat kalau kematian itu mungkin lebih indah dari pada hidup yang aku jalani sekarang ini.

Tapi Dien datang menawarkan kesejukan bagiku. Dia datang dengan tangannya yangterbuka. Siap menyambutku dalam hangatnya persahabatan. Ya…, walau itu hanya lewat dunia maya.

Dien,

***

Aku menyeka air mataku. Ingatanku membawaku pada memori terberat dalam hidupku. Kenangan di mana aku terusir dari rumahku sendiri. Terusir dari tempat dimana aku menghabiskan sebagian besar hidupku. Tempat dimana aku merajut kenangan kenangan indah berasama ji, bersama Kinan dan Kiran. Memori saat Kiran, anakku itu, yang aku cintai, mengusirku dari rumahnya sendiri, dari rumah yang aku berikan padanya atas dasar dia malu punya ibu seperti aku…

Ya, akhirnya,…

Akhrinya aku tahu kalau selama  ini Kiran telah malu punya ibu semacam aku. Ibu yang tidak berguna, ibu yang dipergunjingkan oleh tetangganya. Seorang ibu yang di pandang hina bahkan oleh keluarga mertua dari Kiran sendiri. Aku ibu yang benar benar memalukan di depan matanya.

Malam itu Kinan dan Kiran bertengkar hebat di depan kamarku. Mereka bersama menantuku berdebat panjang tentang aku. Membisikkan argument argument mereka satu sama lainnya. Mereka bertenkar berbisik. Tapi dengan bisikan yang keras, bisikan yang memekakkan telingaku. Bisikan yang  lebih kejam di telingaku dari dengungan seribu lebah beracun.

Tapi ibu tidak tuli, Kinan, ibu tidak tuli Kiran. Ibu tidak tidur,

Ibu mendengar apa yang kalian bicarakan malam itu. Ibu tahu semua itu. Maka jangan salahkan ibu bila ibu pergi di pagi buta itu. Di saat kalian masih tertidur pulas bersama mimpi mimpi indah kalian. Ibu pergi anak anakku, karena ibu tidak lagi ingin menjadi beban di kehidupan kalian. Ibu pergi, atas undangan seseorang.  Seseorang yang selama ini mampu menengkan hati ibu saat hati ini gundah.

Dia adalah Dien, 

Ya, Dienlah yang mendukung kepergianku malam itu. Hanya handphone dan beberapa potong pakaian yang aku bawa serta. Tidak ada yang lain. Di hatiku, aku hanya membawa galau. Galau sekali : meninggalkan anakku dan menyambut uluran tangan dari seorang yang belum kenal sepenuhnya. Aku pergi hanya bergantung pada sebuah janji. Janji Dien untuk membuat aku bahagia, menjadikan aku permata di hatinya. Memberiku kehangatan yang hilang dari hidupku. Kehangatan yang hilang bersama perginya Ji, hilangnya Kinan dan Kiran, kehangatan yang pergi bersama arus air yang berputar di kepalaku. Aku kalut,
Tapi sungguh aku seperti tidak memiliki pilihan lagi. Kalau kalian jadi aku, apa yang akan kalian lakukan? Di saat kalian di kucilkan, di musuhi, di anggap hina, terusir dari kehangatan sebuah keluarga, lalu apa yang akan kalian lakukan? Sedang di sana, di seberang negeri sana, ada orang lain yang mengulurkan tangannya dengan indah untuk menerimamu? Aku juga masih seorang manusia, manusia yang membutuhkan kehangatan dalam hidupnya.

>  malam ini, menginaplah di hotel, besok pagi aku transer semua biaya yang kamu butuhkan.
Itu sms dari Dien, malam itu, ketika aku terisak pergi di tengah gelapnya malam.

>  besok pagi, akan ada orangku menemui kamu, menguruskan semua kebutuhan kamu, dalam waktu dekat, kamu akan terbang ke sini. Aku akan menunggumu,

Aku terisak dalam dalam malam itu, ada desiran hangat di dalam dadaku diantara jutaan sembilu yang begitu tega mengiris persaanku. Aku terggugu dalam diam, aku gontai dalam melangkah. Aku hendak kembali, pulang kerumah dan memeluk mereka semua, kemudian melupakan Dien dan janji janjinya, lalu berpura pura aku tak tahu apa yang sudah terjadi. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa berbuat begitu. Dengan langkah berat, dengan hati yang gontai, sampai akhirnya, di ujung malam itu, di pagi yang masih buta. Aku merebahkan tubuh rentaku di atas dipan hotel. Sendiri, sepi, hanya beraneka suara tak jelas yang berdengung di kepalaku, di sekelilingku, mengutukiku, membuatku lelah, lelah sekali…..

***

Taksi berwana biru itu melambat, lalu berbelok ke dalam halaman sebuah hotel megah entah bertingkat berapa. Tapi setidaknya, hotel ini berlantai lebih dari enam belas lantai. Karena Blue Corner terletak di lantai enam belas, tapi Blue Corner tidak terletak di lantai paling atas dari hotel ini. Aku tidak bisa memikirkannya, bukan waktunya aku kira untuk menebak berapa lantai hotel Blue Safir ini di bangun. PiKiranku sekarang cuma tertuju pada satu hal : benarkah Dien mengundangku ke Blue Corner malam ini? Aku masih bimbang.
Taksi berhenti tepat di depan lobi utama hotel Blue Safir. Aku membayar ongkos taksinya. Tapi sebelum turun, aku minta waktu pada sopir taksi yang budiman itu untuk di izinkan menyeka airmataku dan memperbaiki beberapa bagian make up-ku yang luntur karena air mata. 

Aku menghela nafas panjang, lalu bergegas keluar dari taksi. Aku coba mengukuhkan hatiku. Menata perasaanku. Sejenak aku terpaku di sana. Hanya diam saja, menatap penuh ketegangan ke arah pintu masuk hotel ini. Aku mendesah. Ingin rasanya tiba tiba aku berbalik saja, masuk lagi ke dalam taksi yang mengantarkanku tadi dan kembali pulang. Ya pulang, mungkin itu jauh lebih baik dari pada melakukan hal  yang bodoh di sini. Bagaimana nanti kalau apa yang ada di dalam Blue Corner bukan seperti apa yang aku bayangkan? Bagaimana nanti kalau di sana ternyata tidak ada Dien yang menungguku? Aku menoleh ke belakang, hendak berhambur masuk lagi kedalam taksi biru tadi. Tapi, taksi itu sudah melaju perlahan, meninggalkan aku di sini berbaur dengan angin malam dan perasan galauku. Aku mendesah, memejamkan mataku dan menguatkan hatiku.

“Ada yang bisa kami bantu bu?” tanya seorang petugas hotel kepadaku yang diam mamatung. Aku mencoba tersenyum, walau sulit sekali rasanya.

“Ouh ya, saya…. Em… begini…” bagaimana aku menjelaskannya?

“Ya, bagaimana?” jelas sekali dia mencoba dengan keras untuk membuatku merasa nyaman.

“Saya, saya mempunyai janji dengan seseorang di hotel ini. Di …. Di .. di Blue …. Blue…..” aku meruntuki diriku sendiri, aku terlihat gugup sekali malam ini, itu pasti!

“Blue Corner maksud ibu?” tanya petugas hotel itu,

“Nah ya itu dia, Blue…. Blue Corner,” aku sedikit lega. Entah sejak kapan tiba tiba nama itu menjadi sejenis nama hantu bagiku. Blue Corner ….

“Oh, kalau begitu mari saya antar bu, kita cek dulu di resepsionis. “

“Oh begitu ya, “

Petugas hotel itu membawaku ke meja resepsionis. Di sana mereka menanyakan beberapa keterangan dan identitasku. Aku panas dingin rasanya. Tak percaya kalau akhirnya ini benar benar terjadi.

“Baik ibu kalau begitu, Bapak Dien sudah menunggu ibu sejak setengah jam yang lalu. Bisa kami antar ibu ke Blue Corner sekarang?”

Aku kelalapan. Dien? Setengah jam yang lalu dia sudah di sini? Aku seakan masih belum percaya juga. Mimpikah ini?

“Bagaimana bu?” resepsionis itu bertanya lagi.

“O… o ….. Ok…. Ok…., bisa, bisa sekarang…”

Dan detik detik menuju Blue Corner adalah detik detik penuh ketegangan dalam hidupku. Aku masih trauma sebenarnya pada kejadian setahun yang lalu. Ya, setahun yang lalu. Hari di mana merupakan hari pertama kau menginjakkan kaki di negeri ini. Negeri yang sama sekali asing bagiku.

Hari itu, setelah beberapa jam penerbangan, akhirnya, sampailah aku di negeri ini. Negeri di mana Dien tinggal. Dari bandara, aku di jemput oleh orang kepercayaan Dien, lalu di antarkan ke sebuah hotel mewah di dekat bandara.

Aku mengiriminya sebuat pesan singkat. Dan tidak berapa lama kemudian, Dien menghubungiku lewat telepon hotel. Dari suaaranya, jelas sekali terpancar kebahagian dan semangat Dien begitu tahu aku ada di sini. Dien meneleponku hampir setengah jam lamanya. Dia menjelaskan beberapa rencana sehubungan kedatanganku di sini.

Dia berencana merekutku sebagai pegawai pada perusahannya. Karena  dia tau, walau begini, aku mempunyai ijasah S1 dan pengalaman kerja yang cukup di masa mudaku dulu. Itu membuatku senang. Dien juga menjanjikan untuk membantuku mendapatkan rumah di negeri itu dengan mudah. Atau setidaknya, kalau pun tidak, aku bisa menempati apartemennya yang ada tak jauh dari bandara ini. Dan tentang itu aku merasa keberatan. Aku lebih suka kalau nantinya bisa mendapatkan rumah sendiri dan menyicilnya dengan gaji yang aku dapatkan dari bekerja di perusahannya.

“Tidak masalah,semua bisa di atur” katanya sebelum akhirnya dia berpamitan dan menutup teleponnya.
Tapi aku tidak pernah menyangka kalau itu adalah telepon pertama dan terakhir yang aku terima dari dia selama aku berada di negeri ini. Karena setelah itu, Dien menghilang, nomor teleponnya tidak bisa di hubungi, facebooknya juga tidak lagi aktif. Dien menghilang, seperti di telan bumi. Entah apa yang ada dalam piKirannya saat itu, atau entah apa yang sebenarnya terjadi kemudian. Aku tidak pernah tau. Yang jelas, tidak ada kabar lagi dari dia setelahnya, tidak melalui facebook atau melalui media lain.

Aku benar benar shock waktu itu. Aku di sini, di negeri asing ini, seorang wanita, seorang diri, tanpa kerabat, tanpa teman, tanpa siapapun yang aku kenal. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku mencari sosok Dien di negeri ini. Aku tidak mempunyai teman yang bisa memberiku keterangan tentang keberadaan Dien, walaupun teman itu juga berasal dari negeri ini. Negeri ini begitu luas, bahkan kota inipun begitu luas untuk menemukan dengan mudah sesorang diantara ribuan orang disini.

Aku putus asa sekali waktu itu. Aku menyesal. Menyesal sekali, mengapa dengan mudahnya aku meninggalkan kampung halamanku, meninggalkan Kiran dan Kinan, anak anaku itu, hanya karena gunjingan tetangga dan janji janji dari seorang lelaki yang baru saja aku kenal? Aku menangis tersedu di kamar hotel itu. Aku merasa aku adalah wanita paling bodoh waktu itu. Aku merasa kalau aku benar benar mahluk yang paling hina waktu itu. Kalau saja aku tidak ingat dosa dan kebesaran Tuhan, pasti aku sudah bunuh diri waktu itu. Tapi sukurlah, masih ada iman yang cukup di dadaku.

Selang beberapa hari kemudian, seorang teman di negeri ini berinisiatif untuk membawaku kerumahnya. Mulanya aku menolak. Aku tidak ingin merepotkan orang lain, apa lagi dia sudah berkeluarga. Tapi atas beberapa pertimbangan dan saran dari teman teman dunia maya yang bersimpati akan kisahku, akhirnya aku menerima juga tawaran itu.

Mulai saat itu, aku tinggal bersama dia di rumahnya yang sederhana. Mengingatkanku pada rumahku sendiri di kampung halamanku. Temanku itu, punya dua anak, laki laki dan perempuan. Mereka masih duduk di sekolah pendidikan dasar di negeri ini. Melihat kedua anak itu, aku jadi teringat akan Kinan dan Kiran sewaktu mereka kecil dulu. Tak terbendung, air mataku tumpah. Aku rindu pada mereka, aku rindu pada Kinan dan Kiran. Mereka pasti mencariku sekarang. Tapi, aku yakin mereka tidak akan menemukan aku di sini. Nomor handphone ku sudah aku ganti dengan nomor operator lokal negeri ini. Penyesalan dalam diriku kian membuncah. Aku semakin merasa buruk dan terpuruk waktu itu.

Sebulan setelah itu, aku mendapatkan pekerjaan yang aku anggap bagus untuk wanita seusiaku. Mulai saat itu, aku mulai juga menata hati, menata kehidupanku. Aku tahu aku pernah terpuruk, aku tahu aku pernah jatuh. Tapi aku sadar, bahwa bagaimanapun hidup ini harus terus di lanjutkan. Bagiamanapun, hidup ini harust terus di perjuangkan, seperti apa yang aku selalu ajarkan pada Kinan dan Kiran.

***

Berbulan bulan lamanya, aku berjuang untuk menata hidupku kembali setelah itu. Kehidupanku mulai membaik kembali. Keluarga temaku itu begitu hangat menerimaku. Mereka benar benar mengganggapku bagian dari keluarga besar mereka. 

Sekali lagi, aku menemukan hidupku setelah sempat meredup. Sekali lagi hidupku berwarna dengan indah. Hingga suatu hari,ketika aku sedang berselancar di dunia maya mengisi waktu kosongku, sesuatu yang di luar dugaan terjadi. Akun facebook  Dien aktif kembali.

Dia menyapaku lewat sarana chating  disana. Aku terpana, seolah tidak percaya. Setelah pergi begitu lama, benarkah sekarang Dien kembali? Aku benar benar shok melihatnya. 

Buru buru aku menutup laptopku, lalu bergegas tidur.

Tapi mataku tidak bisa aku pejamkan sedikitpun. Bayangan Dien, bayangan masa laluku, bayangan JI, semua tiba tiba bercampur aduk, datang dan menjelama di depan mataku. Kemudian bayangan Kinan dan Kiran. Kemudian ingatan akan kampung halamanku. Semua tiba tiaba saja muncul kala itu, seperti kaset film yang di putar ulang. Aku terguncang, dan untuk sekian kalinya, aku kembali tidak bisa membendung air mataku.

Aku menangis sendiri.

Hari hari berikutnya aku tidak membuka akun dunai mayaku. Aku merasa takut, takut sekali. Sebuah ketakutan aneh yang berisi harapan. Aku takut kalau apa yang aku lihat itu hanyalah sebuah fatamorgana. Aku takut kalau itu bukan benar benar Dien yang menyapaku. Tapi aku berharap, berharap sekali kalau yang menyapaku beberapa hari yang lalu itu adalah Dien. Aku berharap Dien akan meneleponku, tapi aku sadar, aku sudah dua kali ini mengganti nomer handphoneku. Jadi jelas, hal itu tidak akan terjadi.
Maka itu, tadi pagi aku memberanikan diri membuka akunku lagi. Dan seperti dugaanku, akun Dien juga aktif. Tak berapa lama kemudian, dia menyapaku

+ halo,
Aku merasa tengang. Tapi perlahan kujawab dia,

-  ya,
+ bagaimana keadannya?

Dia menanyakan kabarku. Apa yang harus aku katakan? Haruskah tiba tiba aku marah? Aku sungguh tidak tau. Yang aku lakukan selanjutnya adalah, menuliskan kalimat ini :
- apakah ini Dien?

+ ya ini aku, kenapa? Apa kamu sudah lupa aku?

- Dien, …. Hubungi aku sekarang, ini nomor hapeku.

Aku memberinya nomor handphoneku. Lalu Dien meneleponku sesaat kemudian.

“halo…” suara di seberang sana menyapaku. Jantungku serasa berhenti. Suara itu, suara Dien, ya suara Dien. Suara yang aku rindukan berbulan bulan lamanya. Aku tidak mampu berbuat apa apa lagi saat itu. Handphoneku jatuh tergeletak di lantai. Lalu sejurus kemudian, air mataku jatuh berderai pula. Dengan mata yang sembab, kuraih handphoneku, lalu kuputuskan sambungannya. Dien mencoba menghubungiku lagi, tapi beberapa kali pula aku abaikan.

Dien mulai menuliskan apa yang hendak dia sampaikan di chating facebook. Tapi tanganku tidak sanggup untuk menanggapinya. Layar facebookku berkedip kedip biru dengan angka merah yang terus beratambah nilainya. Tapi aku diam membatu. Tanganku kaku di atas keyboard. Saat itulah aku mendapat undangan dari Dien untuk datang ke Blue Corner malam ini

> aku tau kamu masih di sana, (tulisnya), aku ingin menjelaskan semuanya. Aku akan menunggumu di Blue Corner malam ini. Kamu tahu kan tempat itu. Aku tidak perduli kamu mau datang atau tidak, tapi yang jelas, aku akan menunggumu di sana, sampai kamu benar benar datang menemuiku.

Jantungku berhenti berdetak rasanya,

Blue Corner? 

Aku seakan tak percaya. Dien, benarkah kau mengundangku ke Blue Corner malam ini?

“maaf bu, kita sudah sampai…” sapa petugas hotel itu ramah.

Perlahan aku bangkit dari alam ingatanku, kembali ke alam nyataku. 

Ah, akhirnya, akhirnya aku didepan Blue Corner juga sekarang.

“silahkan bu, saya tingal ibu di sini?”

Petugas hotel itupun kemudian pergi menginggalkan aku disini sendiri. Aku menghela nafas panjang, lalu dengan memantapkan hati, aku membuka pintu Blue Corner. Bayangan Ji, Kinan dan Kiran melintas didepanku bersama dengan terbukanya pintu itu,

Ji, Kinan, Kiran, maafkan aku …..



READ MORE - Blue Corner

Sabtu, 06 Agustus 2011

Ide, di manakah kamu berada

Sudah sepuluh menit aku duduk di depan si lapie di dalam kamarku. Tapi belum ada satu paragrafpun yang tercipta. Sejak tadi, belum juga ada ide yang melintas di kepalaku walaupun aku sudah mencoba untuk berfikir, berhayal, berimajinasi sebisaku.

Tapi semua terasa buntu. Tidak ada ide, tidak ada tema, tidak ada gambaran sedikitpun tentang apa yang harus aku tulis di sini. Padahal dalam otakku ini, aku sudah berangan angan untuk menjadi penulis besar yang bisa menghasilkan karya fenomenal sekelas Gibran, atau setidaknya sebuah seri novel spektakuler sekelas Harry Potter-nya JK Rowling. Aku ingin itu. Setidak tidaknya, aku bisa menyamai Mira W atau Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya. Tapi mulai dari mana? Dari huruf apa? Aku tetap termangu.

Aku membayangkan otak seroang penulis sejati seperti O Solihin atau keluarga Asma Nadia. O Solihin sudah menelurkan berbagai macam tulisan dan buku buku yang mengispirasi banyak orang. Seperti Asma Nadia yang hanya perlu menulis sebuah cerita pendek berjudul Emak Ingin Naik haji saja sudah laku untuk di jadikan film layar lebar. Aku berfikir bagaimana otak mereka berkerja. Mungkin, di setiap sudut otak mereka ide bertebaran. Ide ide besembunyi di sana, tidur di sana, bahkan setiap saat menari dan bernyanyi di setiap relung otaknya. Sehingga setiap saat sang pemilik otak itu memerlukan ide untuk tulisan mereka, ide itu sendiri yang menawarkan diri untuk diwujudkan kedalam tulisan tulisan indah mereka.

Lalu aku bagiamana ya…..

Bagaimana memulai cerita dengan baik? dengan kata apa? Dengan pembukaan apa? Heh…., tidak ada sama sekali gambaran tentang itu.

“ Tulisan itu bebas, dia bebas sebebas bebasnya.” Kata seorang penulis kenamaan dalam bukunya tentang kiat menulis yang baik. Tapi mungkin itulah yang jadi masalah bagi aku. Ide dalam otakku ini, tulisan tulisanku ini juga tulisan bebas. Sebebas burung di angkasa, sehingga saking begitu bebasnya, semua itu beterbangan di angkasa tanpa bisa aku tangkap lagi….. TT

Tapi menyerah bukan tipeku. Aku tidak akan pernah menyerah untuk menulis, aku akan terus berusaha sampai aku bisa mewujudkan apa yang aku inginkan.

“ Bagus!” kata penulis handal itu, masih dalam bukunya yang sama. “Seorang penulis itu pantang menyerah, dia itu akan menulis, sampai kapanpun, sampai sebuah tulisan yang dia garap selesai dan bisa di baca sebagai satu kesatuan yang utuh. Tak perlu bagus, tak perlu panjang lebar untuk pemula. Hanya tulis saja apa yang ingin kamu tuliskan”

Bagus juga kata kata ini, cukup membantu aku untuk lebih bersemangat untuk menulis. Tapi menulis tanpa ide, apa jadinya? Menulis tanpa tahu apa yang harus di tulis bagaimana bisa untuk menulis? Aku menggeram geram sendrian.

“ Beralihlah dari tempat di mana kamu berada ketika kebuntuan menyerang otakmu. Sebenarnya pada saat itu, otakmu itu butuh ruang untuk menenangkan diri.” Tertulis begitu juga di buku itu selanjutnya. Nah ini ide yang cemerlang. Sepertinya memang aku harus keluar dari kamarku dulu, mungkin di luar kamar nanti, aku bisa menemukan ide-ide itu. Mungkin si ide sedang ingin bermain petak umpet denganku. Hmmmm…., harus aku temukan dia.

Aku melangkah keluar kamar. Ada adikku sedang nonton tv bersama ayah. Tapi tidak aku dapatkan si ide sedang duduk bersama ayah dan adikku nonton tv bersama. Aku mendensah, meneruskan perjalananku ke …., hmmmm, kemana enaknya? Kedapur saja. Mungkin dengan mengisi sedikit perutku ini, ide akan menghampiri otakku.

Kubuka kulkas, kulihat isinya, tapi tidak ada seonggok ide yang sedang nongkrong di sana. Tidak ada, ide tidak ada disana. Mungkin di dalam sana terlalu dingin buat si ide nongkrong. Kuraih sebotol minuman ringan, kuamati, munkin saja ide sendang berenang renang di dalam minuman di dalamnya. Kalau memang ada, akan aku tegak sampai habis biar si ide ikut ke dalam perutku. Tapi ide tidak ada disana. Ide tidak suka berenang di dalam minuman dingin juga rupanya.

Di rumah penulis, mungkin ide itu berada di mana saja. Di dalam kulkas, di lemari baju, di meja makan, di kebun belakang, di ruang tamu, bahkan mungkin di dalam kotak P3K. Begitu sang penulis membutuhkan ide, dia tinggal comot saja. Tinggal ambil ide mana yang dia inginkan untuk dia tuangkan di dalam tulisannya. Tapi mengapa ide tidak mau berdiam di rumahku ini? Aku mendesah.

Aku melangkah ke meja makan, dan si ide tidak sedang makan malam di sana. Rupanya di ide tidak sedang lapar malam ini. Aku buka tudung makanan, hanya ada tempe dan tahu yang tersenyum padaku. “ Kalian tahu di mana ide bersembunyi?” tanyaku pada mereka. Tapi mereka tidak bergeming. Mereka diam. Bahkan tadi yang kusangka mereka sedang tersenyum, sekarang tidak lagi, aku baru menyadari, kalau mungkin otakkulah yang mulai gila. Heh….

Malam semakin larut saja, aku semakin lelah rasanya. Sebelum aku masuk kekamar lagi dan berhadapan dengan si lapie yang menuntutku untuk mengetikkan sesuatu diatas lembaran MS Word yang terbuka dengan kursornya yang terus berkedip kedip, aku ingn duduk duduk dulu saja di sini. Membuka buka majalah lama mungkin bisa jadi jalan bagiku untuk menemukan di mana ide itu berada. Atau mungkin si ide sudah memasang iklan di salah satu halamannya, untuk mengabarkan di mana dia berada.

***

Tok tok tok…..
Ada ketukan di pintu depan.

“ ada tamu sepertinya, coba lihat siapa yang datang.” Kata ayah padaku.

Aku bangkit dari tempat dudukku menuju ruang depan. Begitu pintu di buka, nampak seorang dengan pakaian yang rapi berdiri di depan pintu. Aneh, kenapa ada tamu dengan pakaian kantor hampir tengah malam seperti ini?

“ permisi” katanya.

“ ya,” jawabku. “ ada yang bisa saya bantu?”

“ apa benar ini rumah bapak Author?” aku sedikit kaget. Itu namaku. Ada apa orang ini mencariku hampir tengah malam begini.

“ ya benar, ada apa ya….” Tanyaku penasaran.

“ pak Author ada dirumah malam ini?” tanyanya lembut.

“ ya, saya sendiri” jawabku setengah mengambang.

“ wah kebetulan sekali. Perkenalkan, nama saya ide” aku tersentak. Tak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Salahkah apa yang aku dengar barusan?

“ maaf, siapa …?” tanyaku untuk menghilangkan keraguan.

“ saya ide pak, bukankah bapak sedang mencari saya akhir akhir ini?” aku mengangguk hampir tak percaya dengan apa yang sedang terjadi di depanku. Benarkah ini wujud dari si ide itu?

“ be,,….. benar….” Jawabku tergagap.

“ tenang pak, saya datang ke sini hanya mau menyerahkan cetakan pertama dari karya pertama bapak…….” Bla bla bla…..Si ide itu kemudian berbicara lebih panjang lagi. Tapi aku tidak mendengar apa yang sedang dia jelaskan. Aku lebih direpotkan untuk mencari pengertian dari apa yang sebenarnya terjadi. Apa ini nyata? Apa memang ada ide yang berwujud seperti ini? Apa ide bisa hadir dalam bentuk seorang manusia? Aku menggeleng geleng mengusir pusing yang tiba tiba menyergap keningku.

Si ide menyerahkan sebuah buku ber-cover hitam kearahku. Di halaman sampulnya, tertulis sebuah judul yang di cetak dengan warna emas diatas latar hitam. Benar benar sebuah desain yang mengagumkan. Dan yang lebih mencengangkan lagi, tertulis jelas di sana namaku sebagai pengarangnya.

“ ini adalah buku pertama bapak yang tadi saya ceritakan. File aslinya pasti masih ada di laptop bapak bukan?”

File asli? Laptop?

Aku langsung berlari kekamar. Memeriksa lapieku yang masih terbuka dengan kursor yang berkedip kedip. Tapi halamannya sekarang tidak lagi kosong, tapi penuh dengan deretan kata kata membantuk sebuah cerita. Ini tulisanku? Ini buku pertamaku? Wah….., betapa mengagumkannya!

Aku segera kembali keruang tamu. Tadi aku tinggalkan si ide di sana. Tapi, kemana dia? Kenapa pergi tanpa berpamitan padaku? Bukankah pembicaraan kami belum selesai?

Aku segera berlari ke dalamkamarku lagi. Aku ingin segera membaca apa yang sudah aku tulis di lapie-ku. Benarkah itu benar benar tulisanku?

Tapi alangkah terkejutnya aku ketika aku dapati adikku sendang nongkrong di depan lapieku. Tangannya menekan nekan keyboard lapieku. Astaga……!!! Aku menjerit menyadari apa yang sudah terjadi. Adikku sudah menambahkan huruf huruf secara acak di antara tulisan tulisan yang sudah aku buat. Dia rupanya sudah menekan tombol delete berkali kali, menekan backspace berkali kali juga. Yang ada sekarang, tulisan itu sudah tidak dapat di baca secara utuh lagi.

Aku mengeram marah sekali. Tulisan pertamaku yang berharga ini sudah di rusak oleh anak kecil tidak tahu malu ini. Aku berusaha meraih adikku, anak kecil ini perlu di beri pelajaran…!!!!

Sebuah guncangan mengguncang bahuku keras keras membuat aku membuka mataku dan bangun dari tidurku. Ah…., rupanya aku sudah tertidur waktu membaca majalah tadi.

“ mimpi apa kamu?” tanya ayahku. Beliau memegang bahuku erat erat. Butuh waktu beberapa menit untukku untuk mengumpulkan kesadaranku lagi. Dengan desahan kecil aku berusaha duduk di kursi dengan posisi yang benar.

Mimpi rupanya. Cukup mengagetkan dan sekaligus mengecewakan sewaktu aku sadari kalau halaman MS Word di lapieku masih putih bersih…..

Ide, di manakah kamu berada….
READ MORE - Ide, di manakah kamu berada

Jumat, 22 Juli 2011

Cicak di Dinding : Awal Kegagalanku


Aku adalah sang juara, tak ada yang meragukan itu! Di lintasan hitam di malam yang pekat seperti ini, dari tiga tahun yang lalu, akulah rajanya. Dan belum ada yang bisa membantah dengan bukti yang nyata akan hal ini. Tidak! Tentu saja, sampai seokor cicak di langit langit kamarku yang sedang menggoda pasangannya malam itu mengubah arah hidupku seratus delapan puluh derajat tepat. Dari sang raja, sang juara, menjadi pecundang yang meninggalkan arena perang untuk selamanya. Aku meninggalkan gelanggang ini hanya dengan satu kekalahan yang sangat sangat memalukan (sekaligus membanggakan).

Untuk kalian para sahabat mudaku, kutulis ini agar menjadi ilham buat kita semua. Kisah ini terjadi sembilan tahun lalu, ketika aku beru saja lepas dari bangku SMU.

***

“ Tidak ada kebut kebutan lagi malam ini!!!” ibuku berteriak tepat di mukaku malam itu. Ayah berkacak pinggang dua meter di belakang ibuku. Wajahnya yang mengeras, tak bisa aku lawan lagi.

“ Sekarang masuk ke dalam kamar. Tidur!” ultimatum itu masih terus berlanjut. “ Ibu akan mengunci kamar kamu sampai besok pagi. Dan ingat, kalau kamu gak mau juga berubah dari kebiasaanmu ini, setiap malam kamu akan tidur dengan kamar terkunci dari luar…!!!”

“ Bu, aku…..” aku mencoba membela diriku, tapi satu suara keras dari ibuku, menutup mulutku lagi sebelum aku sempat mengucapkan sepatah katapun juga.

“ Tidak ada pembelaan diri malam ini. Kita akan membicarakannya besok pagi, dengan kepala dingin….” Suara ibu masih saja meninggi. Tapi tak pernah aku sadari, bahwa itulah suara ibu yang terakhir aku dengar.

“ Tapi bu…..”

“ Arif…. !” itu suara ayah, pelan, datar, tapi penuh tenaga dan wibawa. Suara yang belum pernah aku bantah selama ini. Bukan karena aku takut pada ayahku. Tapi lebih dari itu, sikap ayah yang tegas dengan sedikit kata katalah yang membuat jiwaku tunduk setunduk tunduknya pada setiap perkataannya. Dan janjinya untuk memblokir seluruh fasilitas yang di berikannya tadi siang kalau aku gak bisa bersikap baik di depan mereka aku sadari betul bukanlah janji yang sekedar diucapkan saja. Ayah selalu melakukan apa yang beliau ucapkan.

“ Arif, masuk kamar kamu sekarang. Besok kita akan bicara hal ini setelah sarapan.” Kata ayah.

Aku menghela nafas berat. Tidak ada celah aku rasa untuk malam ini. Aku berusaha menurunkan egoku sambil berfikir keras bagaimana caranya aku bisa keluar malam ini tanpa harus ayah dan ibuku tahu. Aku dalah sang juara. Dan aku tidak akan terkalahkan oleh siapapun hanya dengan alasan bodoh seperti ini. Aku harus hadir  di sana. Harus!

***

Aku menghempaskan badan di kasur kingsize-ku begitu pintu di kunci dari luar. Otakku berputar putar memikirkan rencana apa dan bagaimana caranya aku bisa keluar dari kamar ini.

Hal pertama yang aku pikirkan adalah menghubungi teman temanku di luar sana. Setidaknya aku harus mengulur waktu agar aku bisa berfikir cara untuk bisa keluar.

“ Dua jam lagi, “ janjiku pada mereka. Dan sukurlah mereka setuju pertandingan malam ini diundur dua jam.

Tapi apa yang harus aku lakukan selama dua jam waktu yang tesisa ini. Aku berputar putar didalam kamar. Mencari setiap celah dan kemungkinan yang bisa aku lakukan untuk kabur. Jendela bukanlah jalan yang bisa diandalkan. Walaupun aku bisa membuka daun jendelanya, tapi aku tidak mungkin bisa untuk menjebol teralis besi yang terpasang kokoh di bagian dalamnya.

Sh***t……!!!

Aku mengumpat dalam perasaanku yang bercampur baur. Benci, gelisah, marah, dengan adrenalin jiwa mudaku yang terus membuncah. Tangan ini rasanya gatal untuk mencenkram pedal gas dalam dalam. Badan ini rasanya meriang tak karuan. Hanya angin malam yang dingin yang bisa membuat jiwaku tenang malam ini. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana…….

Aku terus berpikir, terus berputar putar. Melolong dan mengiba agar diizinkan keluar malam ini pada ayah dan ibuku sungguh adalah hal bodoh yang bisa aku lakukan. Tapi itu tidak mungkin. Mereka tidak akan bergeming dari keputusannya.

Telapak tanganku mulai mengeluarkan keringat dingin saat waktu menunjukkan pukul 23.16 menit, itu artinya, hanya ada 44 menit sebelum pertandingan dimulai. Ini adalah pertandingan penentuan bagiku. Seorang jagoan lapangan trek dari kota lawan datang malam  ini untuk menentukan aku atau dia yang benar benar pantas untuk menyandang gelar sang raja, sang juara!.

Kuhempaskan sekali lagi badanku ke atas ranjangku. Pukul 23.21 ketika itu, dan pikiranku makin buntu, makin mustahil rasanya aku bisa kabur. Kupejamkan mataku, tapi pikiranku tetap buntu. Tatap tidak ada jalam keluar. Jiwaku mendidih rasanya, badanku panas dan dingin secara bersamaan. Tak terasa, ada setetes air mata yang menggenangi sudut sudut mataku.

Hah…..!!!

Apa ini? Mana ada sang juara sepertiku menangis! Memalukan sekali. Perlahan kubuka mataku. Dengan napas yang berdengus, kucengkram sprai yang menutupi kasurku ini, ingin rasanya kulampiaskan seluruh kemarahanku malam ini.

Ck… ck… ck ck ck … ck…. Dua ekor cicak melinta di dinding tak jauh dari tempatku berbaring.

Buset, dua ekor cicak itu sepeti mengejekku. Mereka berlari lari riang berkejar kejaran di tembok kamarku. Tidakkah mereka tahu kalau aku lagi dalam keadaan kacau balau sepeti ini?

Kuraih penggaris besiku di meja belajarku. Plak..!! plak… !!! kuhajar mereka. Tapi keduanya lincah benar. Mereka bisa lolos dari setiap pukulanku. Plak…!! Plak…!!! Mereka terus berlari di sepanjang dinding berusaha meloloskan diri dari pukulan pukulan penggaris besiku.

Cicak cicak itu terus berlari keatas, dan…..

Twing…!!!

Mereka menghilang di balik lubang langit langit kamarku. Dan bersamaan dengan itu pula muncul ide cemerlangku. Mengapa aku melupakan lubang buatan di langit langit kamar itu. Bukankah aku bisa kabur dari sana?

Sedetik kemudian, seluruh kekesalanku tiba tiba sirna. Berganti harapan dan kegembiraan yang amat sangat. Terimakasih cicak cicak yang budiman. Suatu hari nanti, aku pasti membalas kebaikan kalian…..

***

Tepat tiga menit sebelum petandingan dimulai aku sudah tiba di arena. Wajah tengang teman teman satu geng motorku perlahan mengendur waktu mereka melihat kedatanganku. Tanpa banyak bicara, aku mempersiapkan diri di atas sepeda motorku. Sepeda motor ini sengaja aku titipkan di rumah salah satu temanku. Buat jaga jaga kalau kalau aku gak bisa bawa motor ini langsung dari rumah. Dan sukurlah, malam ini terbukti analisaku itu tepat.

Lawanku kali ini rupanya bukan orang sembarangan. Dari penampilan dan gayabicaranya, aku bisa menebak orang ini kira kira berusia 5-6 tahun lebih tua dari aku. Kalau aku sekarang berusia dua puluh tahun, berarti dia berusia setidaknya 25 tahun.

Usia yang cukup matang untuk berdiri di arena trek malam ini. Cukup berpengalaman tentunya. Menyadari kenyataan seperti itu sempat membuatku merasa down beberapa saat. Tapi naluri mudaku berbicara lain. Naluri keegoanku terus menyiramkan racun adrenalin kedalam darahku. Membuat semangat yang sempat meredup itu timbul kembali.

“ Perlintasan malam ini panjangnya lima ratus meter” kata salah seorang diantara kami. “ Tidak boleh menyalaka lampu, tidak boleh menyenggol motor lawan. Ok, kalau sudah siap sekarang hitung mundur dimulai, 4……. 3 …….. 2 …….. 1……… GOOOOOOO……..!!!!”

Motorku dan motornya berderum keras. Sesaat kemudian, aku sudah berada di atas angin rasanya. Tuhuhku serasa terbang bersama laju motor yang aku kendarai ini. Ada perasaan senang, ada perasaan puas, ada jiwa yang serasa terpuaskan. Ada debaran di jantungku, ada adrenalin yang berpacu di aliaran darahku. Aku sangat, sangat menikmati saat saat seperti ini.

Lampu jalanan yang mati setelah ditimpuki teman temanku, lampu motor yang tidak menyala. Ditambah awan gelap yang menutupi gugusan bintang gemintang dan bulan semakin membuat suasana malam ini semakin sempurna. Kegelapan yang sempurna. Tidak pekat benar sebenarnya. Tapi cukup untuk membuat sensasi perlombaan malam ini tak terjabarkan.

Tapi malam ini, rupanya takdir berkata lain padaku.  Saat sedang melaju dengan kecepatan diatas angin, tepat beberapa meter setelah belokan pertama yang mengarah ke pusat industri di kota ini, tiba tiba sebuah raungan panjang di sertai cahaya yang membutakan mata menyambut kami. Aku mendengar pekikan, ada suara keras logam beradu di jalanan. Tapi aku cepat menyadari itu. Aku sadar ada sebuah truk proyek berukuran raksasa yang mejaju lambat di depan kami. Cepat cepat aku banting stir kearah kanan. Arah motorku tak lagi bisa di kendalikan, terus merengsek dengan laju yang sempoyongan. Aku masih sempat melihat pembatas jalan itu sebelum benturan keras antara pembatas jalan dan motorku terjadi. Tapi entah bagaimana tepatnya. Tiba tiba saja, aku sudah merasa tubuhku melayang bebas di udara tanpa beban. Dan sesaat kemudian, semuanya jadi gelap yang sempurna……

***

Hari ini adalah hari ke tujuh setelah kejadian di malam itu. Semua yang ada, yang bisa di ketahui dan diingat tiba tiba jadi begitu pahitnya. Bukan hanya kematian lawan balapan motor liarku yang membuat hatiku miris. Tapi lebih dari itu, dua hari yang lalu, ketika aku terbangun dari komaku selama lima hari, sebuah berita duka yang mendalam yang tak pernah aku kira menghujam telingaku. Ibuku meninggal! Ibuku meninggal akibat serangan jantung mendengar kecelakaan yang aku alami……

Tuhan, andaikan aku engkau perbolehkan untuk kembali ke malam itu, aku ingin meminta padamu : jangan pernah Engkau kirimkan dua ekor cicak itu padaku. Biarlah saja aku tidak menyadari keberadaan lubang di langit langit kamarku. Tuhan, hari ini aku menyadari, bahwa aku kalah, aku lemah, aku gagal. Aku gagal mengukuhkan diriku sebagai sang juara di arena balap liar. Aku gagal menjadi raja jalanan seperti impianku. Tapi di balik semua kegagalanku kali ini, ada hikmah besar yang bisa aku ambil. Tuhan, aku sedih, tapi terima kasih sudah memberiku gagalan dan kesedihan ini…….

di posting pertama kali di http://laranta.blogspot.com/2011/02/aku-adalah-sang-juara-tak-ada-yang.html

READ MORE - Cicak di Dinding : Awal Kegagalanku

Kamis, 30 Juni 2011

Aku, Kartu ATM, Abangku, dan Jodohnya

Siang ini, aku memutuskan untuk mampir sebentar di rumah makan sederhana di depan kantor abangku sebelum aku menemuinya. Lelah rasanya terguncang guncang dalam angkutan umum sejak tadi. Perjalanan 6 jam Bondowoso-Surabaya bagiku memang bukan perjalanan yang cukup menyenangkan.

Macet, panas, bedesakan, laju kendaraan yang tidak stabil, lagu lagu yang bising dari pengamen jalanan yang jumlahnya tidak bisa dihitung dengan jari, ditambah pedangang asongan yang ribut menawarkan barang dagangannya. Huh,  kenapa angkutan umum di negeri ini sedemikian parahnya ya? Aku membayangkan seandainya saja aku punya kendaraan pribadi. Mungkin tidak seperti ini keadaannya. Mungkin aku bisa lebih tenang. Mungkin aku bisa lebih menghemat tenagaku. Setidaknya, mungkin tidak perlu sebising itu.

Tapi segelas es teh yang menemani semangkok bakso panas di depanku sedikit membuatku bisa melupakan efek dari segala kebisingan itu. Sedikit menurunkan temperatur otakku. Membuatnya lebih bisa berfikir jernih. Sehingga nanti, aku bisa bertemu dengan abangku dengan keadaan yang lebih baik.

***

Dua wanita muda masuk ke dalam warung bakso sederhana ini saat teh di dalam gelasku tinggal separuh. Setelah memesan makanan dan minuman, dan karena semua tempat duduk sudah terisi, maka duduklah mereka berdua di bangku kosong tepat di depanku.

“ Panas bener ya siang ini” kata wanita muda yang pertama. Aku kira dia sekitar 24 tahun usianya. Dengan baju kerja warna biru tua dan lipstik yang natural. Dia cantik, juga manis. Dan aku suka melihat goresan wajahnya.

“ Namanya juga Surabaya. Kayak yang baru aja kamu di sini” kata wanita kedua. Yang ini berpakaian serba hitam dengan rambut hitam yang di sanggul kebagian atas kepalanya. Lipstiknya merah membara, wajahnya tegas, mengingatkan aku pada istri-istri bawel yang matre. Ouh, semoga saja abangku tidak berjodoh dengan orang macam ini, Tuhan.

Wanita pertama hanya mengulas senyum tipis mendengar jawaban teman sekantornya itu. Mungkin sudah terbiasa dia dengan karakternya. “ Ya mbak Ning. Tapi hari ini panas banget rasanya. Mungkin karena pekerjaanku yang numpuk kali ya…..” Timpalnya. Tapi wanita kedua, yang di panggil mbak Ning itu tampak tak begitu peduli, bahkan untuk menoleh dan memberi sedikit senyuman.

Sebentar kemudian, seorang pelayan datang membawa dua mangkok bakso porsi sedang segelas es teh, dan segelas es jeruk. Aku mencoba mengalihkan perhatianku ke layar telepon genggam di tangan kananku. Sebuah pesan aku kirim ke nomor abangku. Mengabarkan kalau aku sudah di warung didepan kantornya.

“ Mas,” kata wanita pertama ketika pelayan itu selesai meletakkan semua barang yang dia bawa keatas meja.

“ Ya..” Pelayan laki laki itu menjawab dengan santun.

“ Tolong, bungkus satu bakso porsi jumbo sama satu es teh di bungkus juga.”

“ Ya mbak.” Jawab pelayan itu “ Cuma itu saja?”

“ Ya mas, makasih ya. “

“ Sama sama mbak. “

Pelayan itu segera berlalu. Tapi belum juga dua langkah pelayan itu pergi, mbak Ning menoleh dengan ekspresi yang kaku kearah wanita  pertama. “ Buat siapa baksonya. Kok bungkus segala?”

Wanita pertama menyungging senyum, “ Buat mas Topek mbak, “ (hatiku berdegup mendengar nama itu di sebutkan, apa mungkin…..)

“ Topek?”

“ Tufik Rahmad Purnomo mbak, kasian dia” kali ini aku yang pasang telinga setegak tegaknya. Itu nama abangku!

“ Ternyata benar ya yang di kantor selama ini. Kamu benar benar naksir dia kayaknya. Tidak salah ?” tanya mbak Ning. Tidak ada lembut di dalam tutur katanya. Buat telingakuku ini mulai gatal rasanya.

Wanita pertama itu senyum saja mendengar komentar mbak Ning. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan tabiat teman sekarntornya itu. “ Biar sudah mbak Ning temen temen mau ngomong apa. Aku sudah dengar semuanya kok. “

“ Walah, Mala, Mala, jadi bener toh yang di omongin temen temen sekantor itu? Sayang kalau kamu memang bener bener jadian ma si Topek. Gitu kok orangnya kamu senengin.”

Aku hampir muntab mendengar kata kata orang yang di panggil mbak Ning ini. Busyet dah dia. Kok sampai segitunya sama abangku. Emang abangku seburuk apa di kantornya kok sampai di cap segitu jeleknya.

“ La kenapa toh mbak Ning, apa salah saya suka sama mas Topek?”

“ Topek itu lo orangnya kere,” timpal mbak Ning. Astaghfirullah, pengen tak jotos orang ini sama aku. Tapi aku masih penasaran, apa yang sebenarnya terjadi sama abangku di kantornya. Jadi aku putuskan untuk diam dulu. Dengarkan dulu.

“ Jangan bilang gitu mbak Ning, jangan pandang orang dari hartanya. “

“ Terus dari apanya? “

“ Dari hatinyalah mbak Ning, Topek orang yang baik. Dia beda sama yang lain. “

“ Halah, tak kasi tahu ya Mala. Sekarang ini, kalau cari calon suami itu yang ada duitnya. Mau makan apa kita kalau suami kita orang kere?”

“ Banyak duitnya tapi temperamennya jelek buat apa mbak Ning. Aku pengen orang yang bertanggung jawab saja kayak Topek itu. Dia itu loh selama ini kerja demi keluarganya. Dia itu kerjanya bagus. Kan kita semua sudah tahu kalau bulan ini dia di promosikan. “

“ Ya, aku tahu “ timpal mbak Ning.” Tapi dia itu lo tidak bisa ngatur uang. Masak tiap bulan uangnya abis terus. Sampe sampe di bela belain puasa segala buat ngirit. Emang kemana uangnya?”

“ Di kirim mbak Ning”

“ Dikirim?” wajah mbak Ning mengkerut kerut.

“ Ya, di kirim kerumahnya di Bondowoso. Buat ibu sama adeknya di sana. Bapaknya kan dah meninggal?”

“ Hah, beneran tah?” timpal mbak Ning dengan nada tidak percaya.

“ Bener mbak Ning. Aku tahu sendri kok. Bahkan pernah aku diminta tolong ma Topek buat transfer ke rekening adiknya di sana. Waktu itu, kalau tidak salah dia lupa bawa dompetnya waktu keluar sama aku. Padahal uangnya di butuhkan hari itu juga sama adiknya. Jadi aku tahu kira kira berapa yang dia kirim kerumahnya tiap bulan.”

“ Gitu tah? Banyak ya yang dia kirim ke rumahnya, sampai sampai dia tidak bisa beli celana sama kemeja baru. Perasaan tiap hari yang di pake itu itu saja.”

Mala tampak merenung. “ kasian dia mbak Ning. Pagi ini dia tidak sarapan. Katanya adiknya lagi butuh tambahan uang buat biaya kuliahnya di sana. Jadi dia harus lebih berhemat lagi. “ Mala menghela nafasnya. Jantungku berdegup kencang. Kali ini bukan karena amarah pada mbak Ning, tapi karena jengkel pada diriku sendiri! Aku jengkel dan marah pada diriku sendiri. Perlahan muncul kesadaran dalam diriku. Betapa selama ini aku sudah menjadi benalu buat abangku sendiri.

“ Siang ini, katanya adiknya mau datang ke sini” Mala melanjutkan kalimatnya.

“ Kenapa? “ tanya mbak Ning. Kali ini dengan nada yang lebih lembut.

“ Kartu ATM adiknya keblokir. Kemarin dia salah masukin pin”

Aku menundukkan wajah dalam dalam. Gemuruh dalam hatiku bertambah besar. Aku tahu, pasti wajahku sudah memerah sekarang. Betapa cerobohnya aku! Betapa malunya aku….

“ Kalau gitu, kasian sama Topek ya. Kalau adiknya ke sini, berarti butuh pengeluaran lagi buat ongkos perjalanannya. Gitu ongkosnya masih Topek juga yang kasi?”

“ Gak tahu aku mbak Ning. Makanya aku beliin bakso buat dia. Kasian kalau siang ini dia tidak makan lagi.”

“ Di tambah lontong aja mal, biar lebih ada isinya.” Timpal mbak Ning tiba tiba. Sekarang hatiku luruh. Ada setetes air mata yang mengambang di pelupuk mataku. Aku merasa sangat, sangat tidak berguna sekarang. Sangat bodoh, egois…..! aku benci diriku sendiri….!!! Aku benci…..!!! mbak Ning yang tadi sebegitu bencinya sama abangku saja bisa langsung luluh mendengar kebenaran ini.

“ Ya mbak Ning. Nanti aku pesenin. Kalau di bantu secara materi dia pasti nolak. Kalau gini, mungkin bisa lebih membantu.”

“ Nanti Malam ajak dia makan Malam di rumahku Mal. Aku juga jadi tidak tega dengernya. Emang adeknya itu cowok apa cewek sih.”

“ Cowok mbak.”

“ Sudah kuliah dia ya? Udah besar berarti. Sudah bisa cari uang sendiri seharusnya. Biar Topek bisa lebih mengatur keuangannya. Tidak mau nabung apa dia itu? Kalau mau nikah kan butuh uang.” Kalimat mbak Ning itu terdengar pedas di telingaku. Tapi aku cuma bisa diam saja. Aku sudah runtuh….. aku sudah hancur rasanya…..

“ Dulu Mal, biar aku cewek gini, aku gak pernah minta orang tua buat biaya kuliah. Aku kerja Mal. Nyuci piring di rumah makan. Boro boro mau minta orang tua. La yang mau buat orang tuaku makan sendri saja sudah repot setengah mati carinya. Gimana juga mau nanggung kuliahku…., ini adiknya cowok. Seharusnya Topek bisa kasi dia penjelasan ke adiknya. Emang dia mau nikah umur berapa?”

“ Ya mbak, itu yang juga jadi pikiranku. Topek belum bisa nerima aku katanya karena dia belum siap nanggung hidupku. Dia masih punya tanggungan di rumahnya. Padahal aku sudah bilang sama dia kalau aku mau belajar hidup sederhana. Belajar menerima dia apa adanya.”

“ Orang tua kamu sudah setuju ma hubungan kalian?”

“ Orang tuaku sebenarnya suka ma mas Topek mbak. Mereka bilang jarang ada orang kayak mas Topek jaman ini. Tapi ya itu mbak, mas Topeknya tidak bisa lepas tanggung jawabnya sekarang ini. …….”

Aku bangkit dari tempat dudukku. Ada air mata yang menetes dari mataku. Tapi aku sudah tidak lagi perduli.” CUKUP…..!!!” kataku tegas. Walau aku tahu. Suaraku tidak keluar dengan sempurna.

Kedua wanita itu menganga kaget. “Aku adek mas Topek…….!!!! berhenti bicara tentang aku!!!” Aku berteriak di depan wajah mereka. Tapi sebelum aku bertindak jauh diluar kendali, sebuah tangan dengan cicin yang aku kenali menarik tubuhku menjauh dari sana. Tangan itu, tangan mas Topek.

***

Surabaya sudah kutinggalkan tiga jam yang lalu. Sekarang bus yang aku tumpangi sedang parkir di terminal Probolinggo.

Aku duduk sendiri di salah satu kursi penumpang. Otakku memutar kembali memori tiga setengah jam yang lalu, saat aku sempat bertengkar hebat dengan abangku tadi. Kami bertengkar hebat tepat di depan warung bakso itu.

Aku benar benar kehilangan kendali. Aku merasa aku sangat tidak lagi berguna. Aku merasa kalau aku ini sebernarnya cuma sampah yang bisanya cuma jadi beban orang lain. Aku begitu frustasi tadi. Sampai sampai berusaha menabrakkan diri pada kendaraan yang lewat. Tapi untunglah. Abangku, pria sejati itu bisa mencegahku.

Amarahku mereda ketika  ibu tua pemilik warung bakso itu menyeretku ke dalam ruang tamunya yang berada tepat di belakang warung baksonya. Ada mbak Mala sama mbak Ning juga disana yang bantu abangku menenangkanku.

“ Bang, maafkan adikmu ini ya, aku janji bang, ini adalah uang terakhir yang aku terima dari abang. Bulan depan, cukup abang kirim buat ibu saja. Aku akan berusaha sendiri bang, aku akan jadi seorang lelaki sejati seperti abang.

Bang, makasih sudah jadi inspirasi terbesar dalam hidupku. Terima kasih sudah mengubah aku jadi lebih baik, mbak Mala dan mbak Ning. Tanpa percakapan itu, mungkin aku sekarang tetap jadi seorang pecundang.

Terima kasih Tuhan untuk kejadian hari ini. Terima kasih sudah menegurku. Sekarang aku tahu, tak selamanya menangis itu tanda cengeng. Sekarang aku tahu, kalau menangis itu manusiawi………. Terima kasih untuk hari yang mampu mengubah hidupku ini. Terima kasih untuk segalanya……”

versi lain di http://laranta.blogspot.com/2011/02/aku-abangku-dan-jodohnya.html

READ MORE - Aku, Kartu ATM, Abangku, dan Jodohnya

Baca juga yang ini