Kamis, 05 April 2012

Bagaimana Aku Harus Menjawabnya



“ Ini sudah lebih dari setengah jam berlalu sejak terakhir kali aku tanyakan keputusanmu, Nis, tapi kamu tetap diam saja.” Desahnya tanpa menoleh padaku. Suaranya seakan menghilang bersama angin malam yang berdesau pergi dengan lembut setelah menyapu dedaunan dan pohon pohon rindang yang tumbuh di dekat kami. “Aku tahu ini memang sulit,” lanjutnya, seraya menoleh perlahan kearahku. “Bukan cuma buatmu, Nis, tapi juga buatku. Kalau orang tua kita sampai tahu, dan mungkin seharusnya mereka memang tahu tentang ini, mereka pasti akan mengatakan ini hal yang sulit untuk diputuskan. Tapi setidaknya, aku ingin tahu tangapan kamu dulu, sebagai calon istriku, sebelum yang lain juga angkat bicara tentang ini.”

Dia diam, menatap dan menungguku angkat bicara. Tapi apa yang harus aku katakan? Apakah aku harus mundur dari kuputusanku semula untuk menerimanya sebagai suamiku atau aku harus maju terus dan menerima betapa pahitnya kenyataan ini? Aku tak tahu.

“Kenapa baru sekarang kamu katakan kenyataan ini padaku, Sam, kenapa tidak sejak awal perkenalan kita dulu?” protesku lirih.

Sekarang dia yang diam. Pandangannya juga jatuh, lesu memandang rumput rumput liar yang tumbuh dengan terpaksa di bawah kami berdua. Angin sekali lagi berhembus, membawa aroma kesedihan di hati Sam jatuh tepat di tengah hatiku.

“Entahlah Nis, mungkin di sana kelemahanku. Mungkin aku ini memang pengecut yang tak bisa menerima keadaan dengan baik. Mungkin aku memang yang salah, yang bodoh. Aku ini hina Nis, dosaku terlalu banyak. Sebagai lelaki aku ini memang tidak sempurna Nis, aku nista!”

“ Sam, berhetilah mengutuk dirimu sendiri.” Sergahku. “ Kenapa sekarang kamu jadi begini, Sam.”

“ Bukan sekarang saja aku jadi begini, Nis. Sudah lama aku begini. Inilah asliku…”

“Sam…!”

Kami diam untuk sekali lagi, dan untuk sekali lagi kami larut dalam pikiran kami masing masing. Aku kembali bertanya kepada diriku sendiri, apa yang harus aku katakan? Haruskah aku menikahi orang yang tidak pernah mencintaiku dan mungkin seumur hidupnya tidak akan pernah bisa mencintaiku? Haruskah aku bersuamikan orang yang sudah secara terus terang berkata tidak bisa jatuh cinta pada manusia sepertiku?

Haruskah aku sekarang berdiri tegas di hadapannya dan berkata, baiklah Sam, kamu boleh pergi dengan siapapun yang kamu mau karena aku juga akan pergi dan meminta orang lain menikahiku. Oh, membayangkannya saja aku tak sanggup. Aku terlalu mencintainya. Aku terlalu dalam memendam rasa padanya. Dia lelaki sempurna yang selama ini aku idam idamkan. Dia seorang lelaki ideal yang selama ini aku impikan untuk menjadi ayah dari anak anakku

“Baiklah, Nis, ini sudah terlalu malam. Kita pulang.” Dia bangkit perlahan dari posisi duduknya, kemudian saat telah tepat berada di hadapanku, dia melanjutkan kata katanya. “Jangan merasa terbebani atas nama kemanusiaan untuk memberi jawaban, Nis, karena bukan itu yang aku mau. Kalau akhirnya kamu berkata ya, pastikah itu karena cintamu padaku, Nis, bukan karena keterpaksaan. Kalau kamu memang tidak bersedia untuk aku jadikan percobaan untuk bisa mencintai seorang wanita, itu hak kamu Nis, dan aku tidak mempunyai kekuatan apapun untuk memintamu mencitaiku.

Aku mamang seorang gay, Nis, tapi aku ingin bertaubat, dan kamu adalah wanita yang aku pilih untuk belajar mencitai seorang wanita seperti layaknya lelaki pada umumnya. Bersediakah kamu membantuku menjadi lelaki normal yang mencitai wanita?

Besok masih ada waktu untuk menjawabnya, Nis. Sekarang mari kita pulang. Mungkin besok, kamu akan menemukan jawaban yang pasti.”
READ MORE - Bagaimana Aku Harus Menjawabnya

Senin, 02 April 2012

The Last Seconds



( Cerita pendek ini terinspirasi dari film Deep Impact)

Allah mengabarkan, kiamat itu adalah hal yang pasti. Tak bisa di sangkal, seperti kematian dan kelahiran itu sendiri. Di hari itu, diberitakan adalah hari yang penuh huru hara. Di mana setiap manusia berlarian mencari keselamatannya masing masing tanpa memikirkan yang lain selain dirinya sendiri. Allah juga berfirman dalam kitab suciNya, kalau hari itu adalah hari yang datangnya tak terduga, tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang bisa memprediksinya.

“ Benar sayang, itulah kiamat besar.” Tuturku pada Fathir, anak semata wayang kami yang masih empat tahun tapi sudah sangat kritis pemikirannya. “ Yang akan terjadi sebentar lagi itu adalah kiamat kecil, anakku, kiamat yang tidak mematikan semuanya, kiamat yang tidak memusnahkan semuanya, tapi kiamat yang terjadi untuk sebagian kecil saja dari alam ini. Untuk sebagian dari kita dan bukan sebagian dari yang lain. Fathir tahu? Bahkan kematian seseorang itupun bisa dianggap kiamat kecil. Yaitu berakhirnya suatu bagian dari kehidupan, rusaknya satu bagian dari kehidupan, tapi tidak untuk bentuk kehidupan yang lain.”

Aku memandang wajah polosnya yang saat ini diliputi oleh rasa takut yang amat sangat. Aku coba memberinya kehangatan di sisa akhir kehidupan yang tinggal beberapa saat lagi ini. Aku ingin, di detik detik terakhir kehidupan keluarga kecil kami yang berbahagia dan begitu berharga ini, fathir masih bisa merasakan betapa kami menyayanginya.

“ Tapi ayah, kenapa mereka tidak mengajak kita pergi ke tempat aman itu? Kenapa kita yang ditinggalkan? Bukankah kita juga manusia ayah? Bahkan mereka mengajak ternak serta di sana. Tapi mereka tidak mengajak Moli.” Raut wajahnya kian sedih saat mengucapkannya. Di dalam pelukannya, duduk dengan tenang kucing kesayangannya yang berbulu putih bersih, Moli.

“ Kita tidak bisa protes masalah itu, Fathir, semua itu sudah kehendak Allah. Allah-lah yang menentukan, kita masuk ke dalam undian orang orang yang pergi ketempat aman itu atau tidak. Dialah yang sudah menggariskan takdir untuk kita, tugas kita adalah bagaimana untuk menjalani semua ini dengan lapang dada, dengan ikhlas. Bukankah Fathir yang sering mengingatkan ayah dan bunda untuk terus sabar dan ikhlas? Fathir lupa ya….?”

Ada sesungging senyum yang tercipta di sudut bibirnya saat mendengar candaanku itu. Tapi rona kekhawatiran dan rasa ketakutan yang kental tidak juga hilang dari wajahnya. Aku tahu, walaupun dia masih seorang bocah yang bau kencur, tapi dia sudah tahu apa kematian itu. Kematian yang akan kita sambut bersama dalam rumah kami yang kecil ini sebentar lagi.

“ Masih ada waktu setidaknya lima belas menit sebelum benturan pertama terjadi.” Ucapku memecah kesunyian yang terjadi. “ Mari kita laksanakan solat sunnah mutlak dua rokaat saja, setelah itu kita berdoa dan bermunajat kepada Allah, semoga nantinya kita di beri tempat kembali yang indah di sana. Ayo bunda, ayo Fathir.”

Kami berdiri untuk melakukan solat sunnah di kesempatan terakhir ini untuk yang terakhir kalinya. Ada kekhusukan yang sangat yang aku rasakan mengiringi solat kali ini, jauh lebih dalam dari solat solat yang aku lakukan sebelumnya. Apakah ini efek kalau kita tahu bahwa solat yang kita kerjakan itu adalah solat yang terakhir dalam hidup kita? Dari dulu aku ingin merasakan kekhusukan seperti ini. Tapi aku tak pernah bisa. Baru kali ini, di saat saat waktu sudah memasuki waktu waktu kematian seperti ini ternyata aku baru bisa merasakannya dengan sungguh sungguh.

Tak lama setelah solat selesai, saat kami tengah bermunajat padaNya, sebuah guncangan keras sampai ke rumah kami. Benturan pertama sudah terjadi!

Fathir dan istriku berteriak histeris. Mereka berhambur kearahku lalu memelukku erat erat. Tangan mereka bergetar hebat, tangis mereka pecah, tapi aku terus membimbing mereka untuk terus bersahadat dan bersolawat.

“ Jangan putus bersolawat, jangan putus bersahadat…. Ashaduallailahaillallah waashaduannamuhammadorasulullah….. baca terus baca terus….. ya Allah…. Ya Allah….”

Guncangan guncangan keras gempa gempa susulan terus terjadi, kami terus bersolawat. Rumah kami bergetar, langit langit rumah kami seakan hendak runtuh saat itu juga. Lampu gantung berayun ayun, dan semua benda yang ada di atas ketinggian mulai berjatuhan. Fathir makin histeris, tapi lafal lafal solawat dan sahadat tidak pernah putus terucap dari mulutnya. Kupeluk dan kucium kening mereka untuk yang terakhir kalinya.

Tak lama kemudian, suara gemuruh air laut yang pasang mulai terdengar. Mulanya pelan, tapi semakin lama semakin keras terdengar. Aku makin erat memeluk mereka. aku ingin, saat badai pasang air laut itu menyapu rumah kami, kami tetap dalam posisi ini. Dalam keadaan berpelukan dan bermunajat kepadaNya.

Suara gemuruh makin keras, bercampur antar suara air pasang dan suara gempa susulan yang datang bertubi tubi. Makin lama makin memekakkan telinga. Fathir histeris menyebut nama sang pencipta, sendang istriku lirih melantunkan sahadat.

“ Ya Allah, segerakanlah ini, dan segerakanlah juga Engkau pertemukan kami di alam berikutnya, kembali sebagai sebuah keluarga yang utuh.” Sebuah doa terakhir kupanjatkan tepat sedetik sebelum tubuh kami tersapu gelombang maha dahsyat itu.
READ MORE - The Last Seconds

Kamis, 29 Maret 2012

Blogger OMDO




Riki baru saja pulang dari masjid saat aku sedang asyik mengetik di laptopku.

“ Akhir akhir ini aku lihat kamu sibuk bener. Lagi ngerjain apaan sih?” cerocosnya tanpa aba aba seraya duduk menjajariku di lantai kamar kos ini. Aku dan Riki berbagi satu kamar kos ini untuk kami berdua. Istilah kerennya, aku dan Riki itu roomate.

“ Biasa, lagi buat postingan di blogku” jawabku tanpa menoleh.

“ Kirain ada tugas kuliah, serius amat sih…”

“ Aku punya target baru, bro!”

“ Apaan tuh?”

“ Aku harus update blog aku setidaknya dua sampai tigak kali dalam seminggu. Keren gak bro?” jawabku sambil menoleh dan nyengir kuda kearahnya.

“ Gila kamu, emang dapet mana idenya kalau update blog sampe sesering itu? Yakin kamu bisa?” tanyanya serius.

“ Maka itu aku harus giat bro, kalau ide, gampanglah, cari sana sini. Kamu kayak meragukan aku aja bro…” jawabku lagi sambil menepuk dadaku sendiri, membanggakan diri.

“ Pantesan kemarin aku lihat kamu tidur sampai malem banget kalau gak salah. Terus pagi paginya hampir telat tuh masuk kuliah pagi. Terus tugas tugas kuliahnya gimana? Gak ketinggalan ne kuliahnya?”

“ Gampang lah bro, semua bisa diatur …”

“ Hm, gitu yah? Salut dah sama kamu. Bukannya blog kamu itu blog dakwah itu ya? Kamu tulis pribadi itu semuanya?”

“ Lah ialah aku tulis pribadi. Maksud kamu aku copas dari blog lain gitu? Sori bro, gak jaman sekarang copas copas plagiat gitu. Kalau ingin dihargai, kalau ingin benar benar puas, tulis sendiri, itu baru namanya blogger sejati….”

“ Oke oke, aku memang salut sama kerja keras kamu buat nulis di blog kamu itu. Aku salut seorang mahasiswa seperti kamu itu masih menyempatkan diri untuk berdakwah. Bener aku salut…” ucapnya bersungguh sungguh. Mendengarnya aku benar benar seperti dilambungkan tinggi tinggi. Senang sekali rasanya ada yang memperhatikan kerja kerasku selama ini.

“ Wah beneran neh?” tanyaku berusaha meyakinkan diri kalau aku tidak baru saja salah dengar apa yang di ucapkan roomateku itu.

“ Bener aku salut, aku bangga sama kamu dalam hal itu. Tapi gini lo bro, kamu itu penulis blog dakwah bukan? Tapi kenapa kegiatan kamu sehari hari itu malah gak sesuai dengan apa yang kamu tulis di blog kamu?”

“ Maksudmu?” aku mengernyitkan dahi.

“ Ok kamu menulis tentang dakwah dan Islam, tapi kenapa kamu sendiri  yang lalai dalam melaksanakan apa yang kamu tulis di sana? Kemarin malam kamu nulis sampai gak solat isyak sama subuh bukan? Kalau kamu terus terus ada di kamar ini dan jarang bergaul lagi seperti dulu, kapan kamu bisa melakukan yang kamu tulis di blog kamu? Menjalin ukhkuah? Menjalin silaturahmi? Menjalankan peranmu sebagai mahluk sosial? Padahal itu kan yang kamu serukan. Tapi kenapa kamu sendiri yang melanggarnya? Seperti kemarin malam juga, waktu Sol datang sama teman temannya ke kamar sebelah, kenapa juga kamu masih harus bergabung dengan mereka? Minum minum sampe teler, nonton film film dewasa? Apa itu? Dakwah macam apa itu?

Bro, lakukanlah sendiri dulu apa yang kamu harus lakukan, baru setelah itu kamu bisa menyerukan hal itu kepada orang lain. Jadikanlah dirimu tauladan bagi orang lain bro, bukan hanya sekedar jadi blogger omdo, blogger omong doang …!”

Mendengarnya aku hanya bisa diam. Kata kata itu telak sekali mengenai pikiran dan jiwaku. Tak ada yang bisa aku sangkal, karena memang demikianlah seharusnya, bukan seperti apa yang aku lakukan selama ini.

“ Sudahlah, daripada aku banyak nyerocos, aku mau makan dulu bro, dah laper ne. sori ya bro, kalau kata kataku gak enak di kamu. Neh kamu dengerin lagu ini aja.”

Riki segera beranjak pergi tanpa memberiku kesempatan untuk membela diri. Tapi buat apa juga aku membela diri. Untuk apa? Toh semua yang dikatakannya adalah kebenaran.

Aku termangu di depan laptopku, sementara sebuah lagu merdu mengalun dari laptop si Riki, tak jauh dari tempatku duduk.

sepohon kayu daunnya rimbun
lebat bunganya serta buahnya
walaupun hidup seribu tahun
bila tak sembahyang apa gunanya 2x

kami bekerja sehari-hari
untuk belanja rumah sendiri
walaupun hidup seribu tahun
bila tak sembahyang apa gunanya 2x

kami sembahyang fardhu sembahyang
sunahpun ada bukan sembarang
supaya Allah menjadi sayang
kami bekerja hatilah riang

oh....oh....oh....oh......

kami sembahyang limalah waktu
siang dan malam sudahlah tentu
hidup dikubur yatim piatu
tinggalah seorang dipukul dipalu

dipukul dipalu sehari-hari
barulah ia sadarkan diri
hidup didunia tiada berarti
akhirat di sana sangatlah rugi

READ MORE - Blogger OMDO

Senin, 26 Maret 2012

But-Chi


 
“ Anas…”

“ Ya,…”

“ Apa benar kamu mencintaiku?”

Hm…., akhirnya pertanyaan itu terlontar juga malam ini. Aku mendesah. Seperti berat sekali harus aku katakan apa yang sebenarnya aku rasakan dan yang sedang terjadi selama ini. Pertanyaan tentang cinta, pertanyaan tentang kesungguhan akan sebuah hubungan seperti ini, sudah kerap kali membuatku gamang. Apakah aku memang benar benar mencintainya? Lebih dari sekedar perasaan seorang kakak kepada adik perempuannya? Lebih dari sekedar perasaan seorang sahabat yang ingin selalu bersama dengan seorang sahabat wanitanya? Aku bahkan masih sering ragu. Seriuskah aku? Nyatakah ini?

Aku bangkit dari posisi membungkukku dan menegakkan posisi dudukku. Kualihkan pandangaku padanya dan kuberikan senyum setulus yang aku bisa. Kuraih kepalanya yang berambut pedek itu, lalu kutarik agar merabah di dadaku. Dia diam saja. Seperti yang sudah sudah selama ini.

“ Apakah itu penting, Dyan?” tanyaku.

“ Entahlah, Nas, aku juga tak tahu itu penting atau tidak. Aku hanya mendengar dari teman teman selama ini, kalau sebenarnya kamu itu mengganggapku lebih dari seorang sahabat.”

“ Hm…, Kadang mereka itu terlalu ikut campur melebihi kapasitas mereka sebagai teman, Dyan. Mungkin saja mereka itu cemburu melihat kedekatan kita selama ini. Biarlah mereka dengan pikiran mereka sendiri, kita jalani aja kehidupan kita seperti ini, sebagai sahabat.”

Mendengar ucapanku, perlahan Dyan bangkit dari dadaku. Di tatapnya aku dalam dalam dengan pandangan yang langsung tertuju pada mataku. “ Tapi sahabat tidak ada yang berpelukan seperti kita, Nas. Sahabat tidak bergandengan tangan berjam jam saat berjalan di keramaian. Sahabat tidak seperti itu.. Tidak merasakah suasana mesrah seperti yang kamu rasakan malam ini. Sahabat itu seperti Eka dan Maya yang selalu having fun, selalu ada untuk satu sama lainnya, seperti Bayu, Nina dan Angga. Mereka selalu bersama tapi mereka tidak pernah terlihat mesrah seperti yang kamu lakukan kepadaku. Yang aku tahu, seorang sahabat tidak ada yang memeluk sahabatnya dalam diam, juga tidak berusaha menciumnya…”

“ Lalu apakah penting untuk tahu apakah aku mencintaimu?” potongku.

“ Penting Nas, penting sekali. Agar aku tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kita. Apakah kamu menganggapku sahabat, atau seorang kekasih…”

“ Lalu kamu sendiri mengganggapku apa?” sergahku, sekali lagi.

Dyan terdiam, tapi pandangannya nanar. Bibirnya bergetar perlahan menandakan gejolak hatinya yang mulai gusar. Aku jadi seperti tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, mengapa malam ini tiba tiba dia bertingkah seperti ini?. Malam ini, dia seolah olah bukan Dyan yang selama ini aku kenal. Dyan yang lembut dan selalu berhati hati. Apakah urusan cinta dan hati seperti ini bisa membuat seorang wanita berubah drastis?

“ Anas, sebenarnya aku ingin kamu tahu malam ini… ka, kalau, Kalau aku sedang jatuh cinta..”

Deg…! Jantungku seolah berhenti berdetak. Tiba tiba saja seperti puluhan ribu volt telah menyengat jantungku detik itu juga. Ada rasa curiga yang menghantui, ada rasa khawatir yang sangat yang aku rasakan. Benarkah itu? Benarkah Dyan jatuh cinta? Pada siapa? Padakukah? Atau ada orang lain? Tiba tiba malam ini aku rasa menjadi malam yang sangat penting dalam hidupku. Tiba tiba saja udara malam ini aku rasa begitu panas. Panas dan menipis, membuatku serasa sulit untuk bernafas.

Kucoba untuk menahan diri untuk tidak bertindak bodoh di luar apa yang seharusnya aku lakukan. Tapi dari rona wajahku, dari helaan nafasku, aku yakin Dyan sudah membaca apa yang sedang terjadi padaku.

“ Apakah kamu mencintaiku, Dyan?” tanyaku tiba tiba, yang membuatku merasa begitu bodoh sudah menanyakan hal itu secepat ini. Seharusnya aku bisa lebih tenang, tidak tergesa gesa seperti ini. Aku menggerutu dalam hatiku, membuatku semakin merasakan perasaan bersalah dan kesal yang amat sangat pada diriku sendiri.

 “ Kamu mencintaiku bukan, Nas…, Jawab pertanyaanku dengan jujur, Nas.” Kali ini nada yang keluar dari kata katanya lebih terasa seperti sebuah desakan dari pada sebuah pertanyaan biasa.

“ Tadi aku yang bertanya lebih dulu, Dyan. Apakah aku orang yang kamu cintai?”

“ Dalam hal ini seharusnya pria punya kesempatan lebih dulu untuk bicara, Nas.”

Mendengarnya membuatku diam. Aku cuma bisa memandangnya dan membiarkan angin yang semilir di taman Bungkul malam ini membelai hati yang sedang terombang ambing. Aku tahu aku ragu. Ragu untuk mengartikan perasaanku sendiri. Cintakah ini? Atau hanya perasaan kedekatan seorang sahabat? Aku juga ragu, apakah aku orang yang di cintai Dyan? Kalau ya, bagaimana selanjutnya? Apakah ketika nanti aku menjadi pacarnya semua akan berjalan seperti ketika aku menjadi sahabatnya?

Begitu banyak pertanyaan yang tiba tiba muncul. Pertanyaan pertanyaan yang kemudian membuatku ragu. Keraguan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ketakutan : aku takut kehilangan dia. Baik sebagai sahabat maupun sebagai…

“ A.., A… ah, aku tak sanggup mengatakannya. Tolong jangan desak aku.”

“ Berati benar apa yang aku dengar selama ini?” air matanya mulai tumpah, suaranya mulai serak, “ Berarti benar kalau kamu memang mencintaiku Nas?”

“ Dyan, kenapa menangis…” aku berusaha merangkulnya. Tapi Dyan malah menepiskan tanganku.

“ Akhirnya…, akhirnya apa yang aku takutkan… terjadi juga…” tangisnya kini benar benar pecah. Membuatku semakin bingung harus berbuat apa.

“ Dyan, sudahlah, tidak seharusnya seperti ini. Tidak seharusnya kamu menangis. Kita bisa bicara baik baik bukan…” aku berusaha membujuknya. Aku benar benar tidak tahu harus berbuat apa. Ini untuk pertama kalinya dalam hidupku harus menghadapi seorang wanita menangis di depanku karena cintanya padaku.

“ Tapi aku mencintai orang lain, Nas….”

Deg! Dunia seakan sekarang berhenti berputar, angin seolah berhenti berhembus dan orang orang yang bising di sana, seolah olah sekarang seperti film bisu yang sedang diputar. Bahkan darahkupun seperti berhenti mengalir.

“ Aku sebenarnya tidak ingin kamu tahu tentang ini, Nas. Tapi semua sekarang sudah terlanjur… aku, aku .. aku harus mengatakan kebenarannya…”

“ Siapa orang itu, Dyan?” tanyaku, dengan berusaha keras untuk menyembunyikan seluruh gejolak di hatiku.

“ Mi… Mitha….” Jawabnya di tengah isak tangisnya.

“ Mitha? Dia… dia wanita bukan? Mitha itu mantanku?” tanyaku tak habis mengerti.

“ Ya benar, Nas. Mitha mantanmu itu. Dia kekasihku. Kami sepasang kekasih. Dan karena akulah dia memutuskanmu waktu itu. Anas, temaku yang baik, sabahabatku yang terbaik, aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini….aku harap kamu bisa memahami keadaanku, dan kita…., kita masih bisa bersahabat seperti sedia kala bukan….?”

Dunia sekarang menjadi gelap di mataku. Otakku, tiba tiba terasa sangat sakit dan tersayat sayat. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan? Tiba bita aku ingin sekali berlari dan berteriak. Hingga hilang pedih dan perih yang begitu kejam dengan tiba tiba merenggut segalanya dariku ini.


READ MORE - But-Chi

Selasa, 06 Maret 2012

Tikus

“ AAAAAAAAAAAAA....... Tolong....... Tolong.......” Aku berlari berhambur keluar dari kamar mandi. “ Ayah..... Ayah.....”
“ Ada apa Naila.... ada apa.... Hei hei tenang ayah di sini  .... tenang tenang.... Naila, Naila .....ada apa?”  Ayah mendekapku dalam pelukannya, berusaha menenangkanku yang mulai menangis keras keras.
“ Ayah......  Ayah..... “ aku masih meraung raung ketakutan, sementara ayah terus mendekapku dalam dalam.
“ Cup cup...  ayo sini.. sini,,, duduk dulu di sini.” Ayah membimbingku kearah kursi di ruang tengah. “ ini minum.” Ayah menyodorkan segelas air putih kearahku.
Aku minum banyak banyak dari gelas yang ayah sodorkan kearahku. Perlahan, tangisanku mulai mereda.
“ Ada apa?” Tanya ayah mendesakku.
“ Ti... Tikus...” Jawabku terbata bata. “ A... Ada tikus di kamar mandi...”
Ayah mendesah seraya menghembuskan nafas panjang. “ Hanya tikus?” tanyanya setengah kecewa.
Hah? Kok ayah bilang ‘hanya’ tikus? “ Tikus ayah.. Tikus, tikusnya besar! Besar, hitam, lewat di dikaki Nai!” jawabku histeris sambil menghentak hentakkan kakiku ke lantai.
“ Ok.., Ok... Nai mau apa di kamar mandi?”
“ Nai mau wudu.” Aku masih merajuk. Masih kesal melihat tangagapan ayah yang sepertinya menganggap ini hal biasa saja.
“ Nai belum solat isya’?”
“ Belum...”
“ Kalau begitu, nai  bisa ke kamar mandi sekarang.”
“ gak...”
“ Lo, kenapa? Tikusnya sudah pergi bukan?’
“ Nai takut! Kalau tikusnya kembali gimana?”
“ Ayo sini ayah antar”
“ Gak....!”
“ Terus?”
“ Nai gak mau kekamar mandi..., Nai takut...!”
“ Nai gak mau wudu?” Aku terdiam, hatiku gundah. “ Nai gak mau solat?”
“ Nai takut ayah..., di kamar mandi ada tikus!”
“ Nai lebih takut tikus atau ALLAH?”
Aku terdiam. Pertanyaan ayah seperti sebuah pertanyaan pinalti yang langsung menerobos ke hati dan otakku. Pertanyaan itu seperti mengusik hal kecil yang selama ini sering aku abaikan. Bukan hanya kali ini. Tapi rasanya sudah berkali kali aku mengabaikan perintah untuk solat dengan alasan alasan yang sunguh konyol. Kadang hanya karena sedang asyik ngobrol dan kumpul sama teman teman, aku meninggalkan solat dengan seolah tanpa beban. Kadang karena  sibuk mengerjakan tugas dan pekerjaan waktu solat seakan berlalu begitu saja tanpa aku sadari. Atau ketika akan solat isya’ seperti ini. kadang aku tidak solat isya’ hanya karena tekut ke kamar mandi. Takut kalau ada tikus, ada kecoa ata takut pada bayangan dan gambaran hantu hantu yang tidak jelas keberadaanya.
Pertanyaan ayah malam ini, menyadarkanku dengan telak. Lebih takut pada tikus, pada kecoa pada mahluk sejenis setan dan teman temannya itu atau pada ALLAH? Sang pemilik dan pencipta semua itu? Hatiku bergetar.
“ Ayah berdiri di sini saja.” Rajukku didepan kamar mandi.
“ Ya, sana wudu’, ayah tunggui kamu di sini.”
Tapi belum saja aku selesai berwudu’ sebuah teriakan keras mengema dari pintu kamar mandi.
“ TIKUUUUUSSSSS......!”
Seekor tikus hitam besar melintas tepat di depan kamar mandi. Tikus itu melintas tepat pada jari jari ayah yang sedang berdiri tegap di sana. Tak ayal, ayah yang terkejut melompat lompat menjauh dari kamar mandi sambil berteriak teriak histeris.
“ Ayaaahhhh, tunggu aku...!”
READ MORE - Tikus

Rabu, 29 Februari 2012

Telling

“ Dan inilah juara 1 kita kali ini adalah...” Guru bahasa Indonesia kami diam sesaat, menatap kami satu persatu, dari ujung ke ujung. “ Siapa dia kira kira?” Beliau tersenyum simpul, membuat kami penasaran dan bertanya tanya. Karya siapakah kira kira yang layak dinobatkan sebagai yang terbaik kali ini?
“ Roni!” Seorang dari kami berusaha menebak.
“ Yani, Si ratu puisi...” Yang lain menerka.
“ Sayangnya bukan...” Bu Meli, Guru Bahasa Indonesia kami berseru.
“ Agnes...”
“ Maya...”
Bu Meli masih menggeleng.
Kami diam, semakin penasaran. Bu Meli memang jago membuat suasana mencekam dan sedikit menegangkan. Mirip acara kuis kuis di televisi.
“ Irma...” hei, itu namaku.
“ S.. Saya...?” tanyaku tergagap.
“ Ya irma, kamu ...” Bu Meli tersenyum kearahku, diikuti seisi kelas yang ikut-ikutan menoleh kearahku. Pandangan mereka seolah menembus kepalaku, menusuk langsung tepat pada jantungku. “ Silahkan maju ke depan Irma, kita akan membahas cerpenmu...”
What? Benarkah itu? Aku? Cerpenku?
“ Irma, ayo bergegas, teman teman yang lain ingin tahu apa yang kamu tuliskan dalam cerpenmu” Bu Meli setengah mendesak.
Aku segera maju ke depan kelas dengan langkah yang ragu ragu. Aku masih  seakan tidak percaya, bagaimana cerpen yang aku buat dalam keadaan yang galau itu bisa di nilai baik, bahkan yang terbaik oleh Bu Meli?
Aku mulai membacakan cerpenku dengan perasaan yang campur aduk. Sebenarnya cerita yang aku tuliskan itu sederhana saja. Mirip sebuah surat terakhir dari seorang anak penderita kanker ganas stadium akhir. Dalam cerpenku itu, aku ingin berusaha mengungkapkan bagaimana kira kira perasaan tokoh utamaku itu menghadapi hari hari terakhir hidupnya. Harapan harapannya dan segala yang ingin dia ungkapkan untuk terakhir kalinya sebelum semuanya benar benar diluar kendali dan berakhir.
“ Tak ada yang tahu kapan saat terakhir kita bertemu dengan seseorang.” Tulisku di akhir cerpen yang aku buat. “Ajal adalah sebuah misteri Ilahi. Maka itu, aku ingin berbuat baik kepada semua orang, karena aku tak tahu apakah aku bisa meminta maaf untuk setiap kesalahanku ketika perjumpaan yang terakhir yang misterus itu terjadi.
Tapi menurutku, penderita kanker adalah orang yang dipilih oleh Tuhan untuk tahu kapan dia akan mati, sehingga dia tahu kapan waktunya akan berakhir dan berusaha memperbaiki diri serta meminta maaf kepada setiap orang.”
Aku menyelesaikan tugas membaca cerpenku sendiri di depan kelas dengan air mata yang berderai derai membasahi pipiku. Butuh beberapa saat untuk bisa mengendalikan diriku sendiri dan berhenti dari sesenggukan yang mengguncang tubuhku keras keras.
“ Tulisanmu sangat emosional, Irma. Itu yang ibu suka dari cerpenmu.” Kata Bu Meli setelah aku bisa menguasai diri dan emosiku, “ Kalau boleh tahu, dari mana inspirasi cerpenmu itu Irma?”
Butuh lebih banyak waktu lagi buatku untuk bisa menjawab pertanyaan yang berat itu. Kuhela nafas panjang sebelum akhirnya aku menjawabnya dengan sebuah kalimat singkat.
“ Sebenarnya, saya menulis perasaan saya sendiri, Bu.”
Aku berusaha tersenyum dan menatap dengan tegar seluruh isi kelas sebelum aku menegaskan kepada meraka tentang keadaan yang sebenarnya. “ Saya menderita kanker payudara  stadium akhir, dan cerpen ini adalah perasaan saya sendiri,”
READ MORE - Telling

Rabu, 22 Februari 2012

Usir Dia!

Aku tereranjat sambil memekik, “ Astaghfirullah .....”

Tapi semua yang hadir di sana rupanya sudah mengetahui hal itu. Mereka tetap pada tempat berdiri masing masing dengan ekspresi penuh curiga dan rasa jijik yang tidak juga berubah.

“ Tuduhan apa yang kamu tuduhkan padaku itu bu, aku tidak serendah yang kamu katakan, astaghfirullah..., astaghfirullah.....” aku beristighfar berkali kali. Sakit sekali rasanya dada ini dituduh denngan tuduhan yang begitu kejam itu.

Bu RT berdiri dan segera berjalan kearahku. Beliau duduk di tangan kursi yang sedang aku duduki. Di peluknya tubuhku yang rasanya sudah sempoyongan ini. “ Sabar bu, sabar.....,” lirihnya.  “tarik nafas dalam dalam, Istighfar.....”

“ Halah, jangan sok suci sampean bu, la wong saya lihat sendiri. Dengan mata kepala sendiri. Beberapa malam ini ada lelaki yang masuk ke sini kalau malam malam. apa yang kalian lakukan malam malam kemarin? Apa yang dilakukan seorang janda seperti sampean sama lelaki muda kalau bukan mengotori kampung kita. Bener gak bapak bapak ibu ibu.....”

“ Bener.....”

“Usir....”

“ Ya usir aja... memalukan.....”

Aku makin terhuyung di teras rumahku sendiri ini. Udara seakan menipis, membuatku semakin kesulitan untuk bernafas. Aku terus beristighfar. Tidak tahu apa yang harus aku katakan. Otakkku ini, seolah menengang dan tidak bisa berfikir dengan jernih.

“ Sabar bapak bapak, sabar ibu ibu... biarkan bu Salimah menjelaskan dulu... tenang tenang....” Pak RT berusaha menenangkan warga yang sudah terhasut oleh fitnah wanita keji itu.

“ Nah itu dia....” Tiba tiba wanita keji itu berteriak lantang sambil menunjuk sesosok lelaki yang baru saja keluar dari pintu rumahku.

“ Dia? “ tanya pak RT ingin meyakinkan tuduhan itu.

“ Ya dia....” wanita keji itu berkoar sambil melotot kearah lelaki muda yang hanya mengenakan handuk di ambang pintu rumahku.

“ Dia? “ tanya yang lain seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“ Astaghfirullahhaladzim.....” Pak RT dan beberapa yang hadir beristighfar hampir serempak.

“ Dia itu Salim bu, anaknya bu Salimah...” jelas Bu RT.

“ Anaknya?” tanyanya setengah terperanjat. “ Bohong...!!!” protesnya.

“ Kenapa kami harus berbohong bu, itu adalah anak dari bu Salimah. Memang Salim itu kerjanya pergi pagi pulangnya malam malam. maka itu mungkin kita jarang melihat Salim di rumah kalau siang hari...” Pak RT berusaha mejelaskan dengan bijak.

“ Tapi...” wanita itu masih saja ingin berkilah. Wajahnya sekarang memerah, malu tak tertahankan.

“ Maka dari itu bu, kalau ada apa apa, di tanyakan dulu sampai jelas, baru di utarakan. Jangan seperti ini lagi. Bukankah di kampung lama sampean di usir gara gara prasangka sampean dan fitnah fitnah sampean yang meresahkan warga? Berapa lama sampean di kampung ini bu?”

“ Lima hari...” lirihnya, wajahnya tertunduk dalam dalam.

“ Maka benarlah, kalau ada yang bilang, mulutmu harimaumu. Maka jagalah mulutmu baik baik...”
READ MORE - Usir Dia!

Baca juga yang ini